
Selenggaraan konferensi pers tengah berlangsung di sebuah auditorium. Pemimpin tertinggi dari industrial fashion termuka, Willson Corp tengah duduk di depan para wartawan dan perwakilan media massa yang datang untuk meliput sebuah klarifikasi yang tentunya akan menjadi bahan berita trending.
Satu persatu pertanyaan yang dilontarkan kepadanya mampu dijawab dengan tegas, jelas dan lugas.
Sean menyampaikan sebuah klarifikasi permasalahan dengan statemen yang mampu membungkam para juru warta. Ia menolak keras akan tuduhan miring perihal kasus penjiplakan rancangan desain milik Galton Corp yang dilakukan oleh Willson Corp.
Ditambah lagi beberapa bukti kuat dan nyata bahwa semua rancangan desain produk yang dirilis oleh pihak Willson Corp adalah murni dari ide kreatif sendiri dan bukan hasil plagiat sukses melempar balik tuduhan pencemaran nama baik kepada Galton Corp.
Bukti itu berupa rekapan tanggal kapan rancangan desain itu dibuat serta rekaman CCTV yang memperlihatkan kegiatan rapat pembahasan rencana peluncuran yang ternyata sudah dilaksanakan pada jauh-jauh hari sebelum Galton Corp meluncurkan produk-produk yang ditengarai telah dicontek Willson Corp.
Jadi sudah jelas bukan? Willson Corp tidak mungkin memiliki jiplakan rancangan desain jika produk yang akan dijiplak saja belum release waktu itu.
Willson Corp bahkan kembali membantah tuduhan tersebut dengan menunjuk beberapa cela perbedaan rancangan produk miliknya dengan produk milik Galton Corp. Pemilihan material bersifat luwes dan berbeda serta karakter finishing yang hanya dimiliki Willson Corp sangat mumpuni mendepak keras isu yang nyatanya sudah merugikan nama baik perusahaan ternama di benua Eropa tersebut.
Tidak hanya sampai disitu, Willson Corp juga balik mengklaim bahwa Galton Corp telah mencuri rancangan desain milik mereka berdasarkan pengakuan seorang saksi sekaligus penghianat perusahaan yang tak lain dan tak bukan asisten desainer produk yang bekerja di Willson Corp.
Konferensi pers yang berlangsung 20 menit itu diyakini hampir sembilan puluh sembilan koma sembilan sembilan persen mampu membawa mentas Willson Corp dari tudingan miring dari Galton Corp.
°°°
Di sebuah bangunan rumah bergaya eropa modern, tepatnya tempat di mana Loye tinggal.
"Loye, kenapa Lilly belum juga datang? Apa dia lupa kita harus segera menyelesaikan makalah kelompok kita?" tanya Allesya sembari mata mengedar ke arah ratusan koleksi buku-buku yang tertata rapi di rak besar sudut ruang baca pribadi. Mencari beberapa buku yang dibutuhkan.
Allesya dan Lilly memang memutuskan mengerjakan tugas kelompok mereka di rumah Loye kali ini, karena pria berpenampilan kutu buku memiliki banyak referensi buku di rumahnya.
"Dia pasti masih dalam perjalanan kemari," menyodorkan secangkir teh chamomile kepada Allesya. "Minumlah dulu sembari menunggunya datang."
"Terima kasih," menerima cangkir dari tangan Loye.
"Ini buku apa?" sebuah buku sejenis majalah dengan gambar wanita berpose seksi sebagai sampul seketika menarik rasa penasaran Allesya.
"Jangan!" sentakan disusul sebuah sabetan tangan pada buku yang dipegangnya, membuat Allesya sedikit terjinjit kaget.
"Kau mengagetkanku, Loye!" sungutnya karena seruan Loye yang terlalu tiba-tiba.
"M-maaf, kau cari buku yang lain saja," mengalihkan perhatian Allesya dan menyimpan buku tadi ke dalam laci bersama koleksi buku-buku bergambar serupa lainnya. Ia terlihat gugup seolah ada suatu rahasia di dalam buku tersebut. "Minum dulu tehnya, selagi masih hangat," lanjutnya berusaha menguasai situasi.
Tak ingin banyak berdebat, dan lagi pula ia memang tidak mau tahu perihal buku apa itu. "Hah! Kau saja yang mencari bukunya, aku ingin menikmati minumanku dulu."
Mendaratkan bokongnya pada sofa siku yang menghadap dinding kaca, memberi keleluasaan bagi mata menikmati pemandangan di luar. Teh chamomile yang hampir dingin mendesak bibir untuk mensesapnya dengan segera.
__ADS_1
"Loye, kamu tinggal sendiri di sini?"
"Aku tinggal bersama kedua orangtuaku, tapi mereka sedang berada di luar kota sekarang," jelasnya.
"Apa kau ingin nambah tehnya?" lanjutnya lagi dengan pertanyaan saat melihat cangkir teh milik Allesya hampir tandas.
"Tidak, terima kasih," jawabnya diikuti kernyitan di dahi.
"Apa kau baik-baik saja, Allesya?" tanya Loye menyadari gelagat temannya yang tampak aneh.
"Entahlah, tiba-tiba aku merasa pusing," menghempas denyutan di kepala dengan gelengan. Kerjapan mata berulang-ulang, menjernihkan pandangan yang mulai kabur.
Bergerak lemah, diraihnya ponsel dari saku celana. Mata menyipit saat pandangan yang kian payah diajak mencari nomor telepon seseorang yang pertama kali ia ingat.
"Halo?"
"Kak Sean... tolong jem."
Belum sempat kalimat terucap hingga akhir, tubuh Allesya limbung, diikuti pandangan gelap dan langsung tak sadarkan diri. Mengabaikan panggilan Sean dari balik telepon yang masih tersambung.
Loye seketika panik, melihat Allesya tiba-tiba pingsan. "Allesya? Kau kenapa? Sadarlah!" menepuk-nepuk pelan pipi Allesya.
"Allesya...? Apa kau benar-benar sudah pingsan? Ah.. ternyata semudah ini membuatmu tak berdaya," seringaian penuh makna seketika tercetak samar di muka Loye.
Ekspresi panik ternyata hanya sebuah kamuflase dari niat terselubungnya. Ia lanjut membawa tubuh Allesya ke dalam kamar pribadinya yang terletak di lantai dua. Sebelumnya tidak lupa ia memutuskan panggilan yang masih tersambung di ponsel Allesya dan sekaligus meng-non active-kannya.
°°°
Biasanya, sebuah pelukan dan kecupan selalu ia jadikan rutinitas wajib sebagai penyambut awal pagi. Namun, perdebatan singkat yang terjadi di antara mereka kemarin menggiring sebuah keengganan untuk melakukannya kali ini. Dengan dalih, menghargai perasaan Allesya. Kendati perhatian dan perlakuan hangat masih ia sematkan untuk Allesya.
"Hah! Sampai kapan hukuman ini berlangsung?" keluhnya.
Dering ponsel menguar nyaring, menyegerakan Sean untuk menjamahnya. "Allesya? bukannya dia masih mengerjakan tugas kelompok?" lirihnya dengan muka penuh tanya.
Gegas mencari tahu akan pertanyaannya, menerima panggilan telepon tersebut. "Halo?"
Seketika muka Sean berubah pasi, suara teriakan seseoang di balik panggilan yang masih tersabung seolah menyerukan bahwa Allesya sedang tidak baik-baik saja di sana. Bayangan-bayangan buruk mulai merambah pikirannya, menambah tingkat kecemasan terhadap wanitanya tersebut.
"Allesya?! Kau kenapa?! Allesya?! panggilnya namun tiada sahutan yang terdengar. Kepanikan kian menyeruak saat sambungan telepon terputus, dan nomor tidak dapat dihuhungi kembali.
Satu hentakan kaki membawanya beranjak, melesatkan tubuhnya keluar dari ruang kantornya. Bertepatan dengan keberadaan Sammy yang baru saja tiba dengan sebuah gulungan kertas berupa desain konstruksi untuk projek baru Willson Corp.
"Sean?" panggil Sammy. Pandangan menuruti arah Sean berjalan yang melewatinya tanpa membalas panggilannya.
__ADS_1
"Sean, kau mau kemana? Kau ada janji bertemu denganku!" panggil Sammy kembali.
Langkah lebar yang di ambil mendadak berhenti, memutar tumit lalu mendekati Sammy. "Coba telepon adikmu dan tanyakan di mana dia saat ini?"
"Untuk apa?"
"Telepon sekarang!"
"Iya... iya," Muka ketekuk mengiringi jari-jari Sammy menggeser layar ponselnya. "Meminta tolong dengan menitah selalu tidak ada bedanya," gerutunya lirih. Setara dengan suara bayi semut.
"Lilly kau di mana sekarang?"
"Aku berada di luar sekarang Kak. Ada apa?"
"Oow..?" melirik ke arah Sean, jujur dia bingung mau bicara apa lagi ke Liliy, si Adik.
Terlalu lama, Sean menyabet paksa ponsel Sammy yang masih tertempel di telingan.
"Di mana Allesya? Kau bersamanya bukan?" tanya Sean langsung pada poinnya.
"Ee?" dari seberang terdengar bingung.
"Ini aku suaminya Allesya."
"Ah Kak Sean? Anu, itu.. Allesya sekarang berada di rumah Loye untuk mengerjakam tugas kelompok kami, dan aku masih dalam perjalanan menuju kesana, Kak," terangnya.
Batin Sean menggeram kecewa, karena Allesya tidak memberitahunya kalau pergi ke rumah Loye. Yang dia tahu, Allesya akan menyelesaikan kelompoknya di kampus. Dan apa ini? Apakah Allesya sudah membohonginya? Apa jangan-jangan dia ada hubungan spesial dengan pria itu?
Sekali lagi segala pikiran buruk tentang Allesya berbondong-bondong mendatanginya. Namun dengan tegas ia tepis pikiran yang jauh dari penyelesaian masalahnya saat ini.
"Beri aku alamat rumah Loye."
❣
❣
❣
Bersambung~~~
Terima kasih ya, masih mau nyimak karyaku ini. Bosen ya? Jangan! Nggak boleh! Nofi maksa!🤣
Ya uwes.. Ya sudah.. Nofi mau bobok cantik dulu ya, berburu yang enak-enak di sana🤣
__ADS_1
Lop you seng uakeh😘😘😘😘😘
°°°