
Fanne dan Allesya sungguh tak percaya ketika mata kepala mereka menyaksikan langsung sosok seseorang yang datang bertamu ke rumah saat ini. Bagaimana bisa orang yang sudah meninggal hidup kembali, begitulah pikirnya.
"Reymundo? Kau?" suara Fanne tercekat di tenggorokan karena sangking syoknya.
Reymundo terkekeh, lebih tepatnya menyeringai melihat air muka kedua wanita berbeda generasi di hadapannya tampak terkejut. "Kenapa? Kalian terkejut bahwa aku masih hidup?" melangkah melewati bingkai pintu dengan kedua tangan menyelinap ke dalam saku jaket hoodie yang membungkus tubuhnya.
Fanne gegas mendekap tubuh Allesya yang masih dalam mode membatu, membawanya sedikit menjauh di kala Reymundo mencoba mendekat. Seolah, keberadaannya adalah sebuah ancaman bahaya bagi mereka.
"Tenanglah sayang," bisik Fanne ketika merasakan tubuh Allesya bergetar.
"Iya, aku memang masih hidup. Bukankah akan sangat membosankan jika aku mati terlalu cepat?" Reymundo menelisik seluruh ruangan. Hingga pandangannya berhenti pada sebuah foto berbingkai kayu yang tergantung di dinding. Salah satu sudut bibir menyungging, menyirat sebuah makna tak terbaca.
"Apa tujuanmu datang kemari Reymundo?" Fanne mencoba mencari tahu. Meski hati kecil sudah berbisik bahwa kedatangan mantan menantunya tersebut bukan untuk membawa kabar gembira.
"Aku ingin dia," jawabnya santai seraya menunjuk ke arah foto masa kecil Allesya berbingkai kayu yang tengah menjadi objek pandang.
"Tidak! Aku tidak ingin ikut bersamu," sergah Allesya yang tiba-tiba bersuara lantang. Meski terlihat jelas, ia sedang bekerja keras menampik keketakutannya. Bahkan sepasang netra cantik itu sudah mengembun, mengaburkan penglihatan.
"Kau jangan gila Reymundo," Fanne ikut menimpali.
Lagi, suara seringai licik menguar tajam. "Tujuanku merawatmu dulu agar kau bisa menjadi sumber penghasilanku karena aku tidak ingin rugi gadis kecil," Reymundo menyapu tubuh Allesya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.
Ia seolah sedang menilai apakah barang dagangannya layak dijual atau tidak. "Sudah saatnya kau membalas kebaikanku Esya."
"Tujuanmu merawatku bukankah karena aku ini putrimu? Aku ini putrimu -kan Yah? Kenapa Ayah selalu bersikap buruk kepadaku?" dengan segenap jiwa Allesya mengumpul segala keberanian. Sungguh, hati kecil tempat segala rasa bersemayam kini tengah tersayat perih.
Jujur, rasa-rasanya Allesya ingin pingsan saat ini. Keberadaan Reymundo mengulang kembali ingatan peristiwa traumatis, mengorek tanpa belas kasihan luka masa kecilnya.
"Ternyata si wanita tua ini masih merahasiakannya darimu," ujarnya santai dan mendaratkan tubuh pada sofa ruang tamu seraya melirik ke arah Fanne.
Allesya mengerut kedua alisnya di kala otaknya tampak kesulitan mencerna ucapan Reymundo di mana seolah menyiratkan suatu kenyataan yang belum ia ketahui.
"Nek..?" lirih Allesya, melempar tatapan penuh tanda tanya ke arah Fanne.
"Ssstt! Sudah sayang jangan bertanya, tenangkan dirimu dulu. Sebaiknya kau kembali ke kamarmu dulu ya," tutur Fanne, mengalihkan rasa penasaran Allesya yang mulai menuntut jawaban darinya.
"Aku akan membawanya saat ini juga," tukas Reymundo sukses membuat Allesya tercekat dan mengurungkan niat untuk masuk ke kamarnya.
"Cucuku tidak akan kemana-mana. Dan sekarang kau keluar dari rumah ini," suara renta Fanne terdengar tegas dan menentang.
Pria mantan penghuni sel tahanan tersebut beranjak dari duduk, meninggalkan posisi ternyamannya dari atas sofa empuk lalu berdiri tegap dan angkuh di depan Fanne. "Aku sudah berbaik hati karena tidak membiarkan Esya mati waktu itu wanita tua, sekarang sudah waktunya ia membalas budi kepadaku," terangnya disertai tatapan tajam.
Pertanyaan yang sebelumnya belum mendapatkan jawaban, kini Allesya kembali dihadapkan lagi oleh sebuah tanda besar di kepalanya. Menambah tingkat kesangsian yang kian sulit dicerna. Ia bahkan tak mampu meski hanya sekedar menerka maupun menduga.
Sudah berbaik hati? Tidak membiarkannya mati? Balas budi? Apa saja yang tidak dia ketahui selama ini? Serentetan pertanyaan bertumpang tindih tak karuan, menciptakan sebuah kegamangan akan kenyataan yang mungkin akan kembali memahat luka.
"Allesya kau masuk ke kamarmu sekarang," titah Fanne yang langsung dipatuhi si Gadis.
"Aahhkk!" pekik Allesya ketika Reymundo menghadang disertai cengkeraman kuat pada lengan kecilnya.
"Jangan halangi aku untuk membawanya!" ia menyeret kasar tubuh kecil Allesya.
"Tidak! Aku tidak mau. Ayah aku mohon lepaskan aku," rintihnya mengiba.
Ingin sekali ia melawan keras dan membanting tubuh pria yang selalu ia sebut Ayah tersebut. Akan tetapi, keberadaan Reymundo bagaikan iblis jahat yang mampu menyerap semua kekuatan dan keberanian, hanya menyisakan sisi terlemahnya sehingga membuat ia tak mampu berbuat apa-apa.
__ADS_1
"Lepaskan dia Reymundo! Kenapa dia harus membalas budi kepadamu sedangkan kaulah tersangka dari insiden kecelakaan itu?!" sengit Fanne seraya menarik kuat tubuh Allesya agar terlepas dari kekuasaan tangan Reymundo.
"Terserah kau mau berkata apa wanita tua! Esya tetap aku bawa!" lebih kuat dari sebelumnya, pria itu menyabet kembali tangan Allesya dan menyeretnya keluar keluar rumah.
"Ayah, aku mohon lepaskan aku, hiks!" ronta Allesya.
"Menurutlah gadis nakal," Reymundo seolah tak peduli akan ketergoncangan yang tengah dirasakan Allesya. Baginya, ambisi yang sudah sekian lama terencana tetap harus dijalankan. Yaitu menjadikan Allesya sebagai sumber lembaran-lembaran poundsterling yang dapat mensejahterahkan hidup serta memanjakannya dengan kemewahan.
"Lepaskan dia atau aku akan berteriak!" ancam Fanne namun tak diindahkan oleh mantan menantunya tersebut.
"Tolong..! Tolong..!" akhirnya Fanne berteriak guna menarik perhatian para tetangga.
"Tutup mulutmu wanita tua sialan!" hardik Reymundo merasa terancam.
"Tolong..! Tolong..! Ada pencuri di rumahku..!" tak gentar, Fanne kembali berteriak semakin keras dan sukses membuat beberapa tetangga keluar dari peraduannya karena mendengar kerusuhan.
Menyadari eksistensinya terancam, Reymundo gegas memasang kembali penutup kepala hoodie sebelum melontar serentetan kalimat bermakna peringatan keras. "Sialan kau wanita tua bau tanah! Jangan bersenang diri dulu. Aku akan kembali datang untuk membawa gadis ini! Karena dia harus membayar semua yang telah kedua orangtuanya lakukan kepadaku!" tidak ingin menjadi sasaran para tetangga akhirnya dia gegas mengambil langkah cepat, pergi meninggalkan Fanne dan Allesya.
"Woi maling berhenti kau!" teriak salah satu tetangga yang sempat melihat keberadaan Reymundo.
"Sudah jangan mengejar Loye, sepertinya dia tidak akan kembali lagi karena jera," cegah Fanne kepada Loye yang sudah berancang-ancang akan mengejar Reymundo.
"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Loye.
"Kami baik-baik saja karena kalian segera datang tadi. Aku tidak tahu bagaimana jadinya nasib kami jika kalian tidak membantuku. Terima kasih Loye," ucap Fanne penuh syukur dan kelegaan.
"Tidak perlu berterima kasih Nek. Sebaiknya kalian segera masuk ke dalam. Allesya juga terlihat kurang baik saat ini," saran Loye menyadari gelagat Allesya yang terlihat syok.
°°°
Ia sangat paham, si Cucu masih belum bisa menguasahi situasi penuh, akibat syok yang menyerang, tapi bukan berarti tubuh kurusnya tidak memerlukan asupan energi.
"Nek.., tolong ceritakan semuanya. Sebenarnya apa yang tidak ku ketahui?" tak mengindahkan tuturan sang Nenek, sebuah pertanyaan justru terlontar dari sepasang bibir Allesya.
"Makanlah dulu," pinta Fanne.
"Tidak Nek, aku ingin mendengarnya sekarang," kukuhnya.
"Tapi sayang makanlah dulu," terus terang, Fanne keberatan menceritakan semuanya ke Allesya. Dia tidak sanggup melihat cucu kesayangannya tersebut kembali bersedih.
Sorot penekanan tersemat jelas di mata bulat gadis berlensa hazel itu. "Nek, mana mungkin aku bisa menelan semua makanan itu? Allesya mohon ceritakan semuanya sekarang."
"Kenapa kau sangat keras kepala sekali Allesya?"
"Nek..," kukuh si Gadis.
Helaan napas panjang mewakili keengganan Fanne untuk bercerita meski akhirnya ia tetap menuruti permintaan Allesya.
"Baiklah sayang, tapi berjanjilah setelah mengetahui semuanya kau akan tetap menjalani hidupmu dengan bahagia seperti biasanya," Fanne mencoba mengajukan syarat terlebih dahulu.
Tidak mengangguk ataupun menggeleng. Allesya bahkan tak menjawab ajuan syarat dari Fanne. Gadis itu hanya memberi respon dengan tatapan lekat penuh tuntutan, seolah sudah tidak sabar menunggu sang Nenek bercerita.
"Kau.., bukanlah anak kandung dari orang yang selama ini kau anggap sebagai orangtuamu," berat sekali Fanne untuk memulai cerita. Apalagi melihat respon reflek Allesya meremas kuat kain seprai ranjang. Sudah jelas, gadis itu sedang menahan berbagai rasa yang begitu sulit di terima begitu saja.
Sejahat dan seabai apapun Reymundo dan Inggrid terhadap dirinya, tetap saja hati kecil di sana menyimpan setumpuk kasih sayang kepada mereka.
Allesya tidak pernah membenci Reymundo, dia hanya takut. Bukankah hal itu masih berada di garis wajar? Mengingat perlakuan keji Reymundo di masa kecilnya yang begitu suram.
__ADS_1
Begitu juga terhadap Inggrid. Meski kecewa akan sikap pengabaian yang terlampau tinggi, Allesya merindukannya.
"Waktu itu..," Fanne kembali menerawang jauh ke beberapa tahun silam untuk melanjutkan ceritanya. "... sekitar 17 belas tahun yang lalu, Reymundo dan Inggrid membawa pulang seorang bayi mungil terbungkus selimut. Bayi itu adalah kamu sayang. Awalnya, Nenek tidak ada kecurigaan sedikitpun karena mengira mereka sengaja mengadopsimu dari panti asuhan," Fanne menjeda ceritanya, memberi kesempatan bagi Allesya untuk mencerna setiap perkataannya.
Fanne menggenggam tangan Allesya yang tengah mengepal erat. Mencoba memberi kekuatan.
"Hingga suatu hari, ketika Nenek berkunjung, tanpa sengaja mendengar percakapan antara Reymundo dan Inggrid, tepatnya mereka sedang berdebat waktu itu.
Flashback
"Mau kita apakan bayi ini Rey? Aku tidak sudi merawatnya. Kenapa tidak kau tinggalkan saja dia, biar sekalian mati bersama kakek dan neneknya waktu itu."
"Sial! Rencana kita memang gagal. Seharusnya kedua orangtua bayi ini berada di mobil yang sudah aku sabotase itu. Ternyata malah si Kakek dan Neneknya! Tapi setidaknya dengan kehilangan bayi, mereka pasti merasa terpuruk dan menderita."
"Tapi apa kau tidak takut kalau kedua orangtua bayi ini terus mencarinya dan otomatis bisa mengembus kejahatan kita juga? Kau sangat bodoh Rey! Aku menyesal telah mengikuti rencana bodohmu itu!"
"Mereka tidak akan menemukannya, karena tempat kejadian kecelakaan berada di kawasan terpencil jauh dari permukiman penduduk. Tidak ada CCTV yang terpasang di sepanjang sisi kanan kiri jalan. Dan aku juga sudah memastikannya bahwa tidak ada orang yang melihat."
"Terus bayi ini mau kita apakan? Apa sebaiknya kita jual saja? Mengingat kantong kita semakin kering."
"Jangan gegabah, kalau kita jual bayi ini justru mempermudah kedua orangtuanya mendeteksi keberadaannya. Aku yakin saat ini mereka telah memasang berita pencarian bayi mereka di berbagai platform. Sebaiknya kita besarkan bayi ini, aku yakin kelak ia bisa menghasilkan banyak uang dengan menjualnya di rumah bordir."
"Kau memang brengsek Reymundo."
"Anggap saja ini sebuah pembalasan karena kedua orangtua bayi ini telah mendepakku secara tidak hormat dari kursi Direktur Keuangan di perusahaan mereka. Bayi ini harus menebus perbuatan kedua orangtuanya."
Flashback off
"Begitulah ceritanya Allesya. Maafkan Nenek yang tak pernah memberitahumu tentang hal itu. Nenek hanya tidak ingin membuatmu bersedih," ucap Fanne penuh penyesalan. Ia menatap nanar muka Allesya yang menyiratkan sebuah keterpukulan dan kekecewaan yang luar biasa.
"Dan Nenek sangat bersyukur bahwa kau selamat dari kecelakaan itu. Sepertinya Tuhan sangat menyayangimu sehingga mengirimkan mukjizat perlindungannya kepadamu. Dan jangan ditanya kenapa Nenek tidak melaporkan kejahatan Reymundo dan Inggrid ke polisi waktu itu. Itu karena Reymundo memergoki Nenek sedang menguping percakapan mereka dan dia mengancam akan membunuhmu jika aku melapor ke polisi," terang Fanne kembali.
"Nenek...," tak kuasa menahan kesedihan, Allesya berhamburan ke dalam pelukan Fanne yang bersambut. Menumpahkan segala rasa jauh dari kata bahagia.
"Maafkan Nenek sayang, jangan bersedih ya," mengusap lembut pada punggung bergetar Allesya, Fanne sebisa mungkin menghiburnya.
"Allesya sedih Nek, ternyata selama ini Allesya mengaharapkan sebuah pengakuan sebagai anak dari orang-orang yang salah. Ayah dan Ibu ternyata.. ternyata mereka bukan orangtuaku yang sebenarnya. Justru merekalah yang telah memisahkanku dari kedua orangtua kandungku," Allesya sesenggukan seraya berkeluh kesah.
"Sayang.., sudah ya. Kan masih ada Nenek yang selalu menyayangimu," ucapan hangat Fanne membuat Allesya mengurai pelukannya. Netranya yang basah menatap nanar Fanne.
"Tapi Allesya bukan cucu kandung Nenek. Itu semakin membuatku sedih," ucap Allesya dengan suara terdengar bergetar.
"Tapi dari dulu Nenek menyayangimu seperti cucu kandungku sendiri," balas Fanne tersenyum hangat.
Allesya seketika dirundung rasa haru tak terhingga. "Nek.. terima kasih telah menyayangi Allesya selama ini. Allesya juga sangat menyayangi Nenek."
❣
❣
❣
Bersambung~~
Yes..! Satu Bab khusus mengorek asal usul Allesya ya guys. Maaf bila banyak typo. Apalah daya, sekarang sudah jam 1 lebih. Mata dah lengket kayak di lem nggak sempet mau ngoreksi. Ini saja tadi sempet ketiduran juga😆
Makasih ya masih setia di karya recehku. lop lop you super..😘
__ADS_1