
"Erick tolong kau pikirkan kembali. Jabatan HRD Manager terlalu rendah untuk Arthur. Apa gunanya mengambil study di universitas ternama di Amerika jika hanya untuk menduduki kursi level bawah di perusahaan?"
"Itu memang kemauan Arthur sendiri Inggrid. Biarkan dia memilih sendiri apa yang membuatnya nyaman, jangan terlalu memaksa hanya demi menuruti obsesimu," terdengar santai dan tenang, Erick kembali melontar serangkaian kalimat sindiran.
Mimik muka terhenyak terlihat samar karena sindiran Erick. Ia mencoba kembali menguasahi diri. "Bukan seperti itu Erick. Kenapa kau berpikiran seperti itu tentang aku? Menempatkannya pada jajaran tinggi di perusahaan bertujuan untuk memperkaya kemampuan internal diri dalam memanage perusahaanmu kelak. Itulah tujuanku. Kalau bukan Arthur siapa lagi yang akan menggantikanmu menghandle HSN Corporatian kelak?"
"Apa aku tidak salah dengar? Secara tak langsung kau sedang membicarakan perihal hak waris di depan Owner sekaligus Founder HSN Corp yang masih terlihat sehat dan bugar. Kau jangan mengkhawatirkan hal itu, ragaku ini masih sangat mampu merangkul perusahaanku sendiri. Apa mungkin kau diam-diam menyumpahiku agar cepat mati?" sebuah sindiran telak kembali mencelos dari bibirnya. Pria tengah baya yang memiliki aset ketampanan sebelas dua belas dengan Sean itu seolah mengerti jurus pembicaraan Inggrid.
Lagi-lagi Inggrid terhenyak. Entah mengapa pembicaraannya bersama Erick kali ini begitu diwarnai kalimat sindiran yang mencubit hati. Tak ada sisipan kata-kata manis dan menyenangkan yang biasa ia dengar di setiap kalimat Erick.
"A-aku tidak bermasud seperti itu Erick,"
"Belum waktunya membahas hal itu. Lagian aku masih memiliki seorang putra kandung yang lebih berhak atas perusahaan ini kelak," ucapan Erick sukses membuat ekspresi tak percaya memulas muka Inggrid.
"Tapi Erick, apakah kau tidak berpikir kalau hal itu terkesan kemaruk bagi Sean. Mana mungkin bisa ia mengungkung dua perusahaan besar sekaligus? Saat ini dia sudah memegang kuasa penuh perusahaan kakeknya, Willson Corp. Lagian aku yakin putramu itu akan menolak mentah-mentah untuk menjadi pewaris tunggal dari semua kekayaanmu. Dia bahkan sudah menanggalkan marga Hansen di nama belakangnya. Dia sendiri yang mendeklarasi bahwa namanya bukan lagi Sean Hansen melainkan Sean Willson yang berarti dia sudah tidak mengakui kedudukannya sebagai anggota keluarga Hansen," serententan kalimat tak terima mencelos secara beruntun dari sepasang bibir berpoles lipstick merah tersebut.
"Sudahlah Inggrid, kenapa kau sibuk memikirkan hal itu? Apakah mungkin selama ini kau hanya mengincar hartaku dengan mengatas namakan cinta?"
DEG!
Kalimat akhir Erick seolah sukses menguliti Inggrid. Beranjak dari kursi kerja, Erick melangkah menuju pintu keluar meninggalkan Inggrid yang masih mematung. Kejengahan membuat Erick ingin segera mengakhiri percakapan.
Ayunan langkah terpaksa terhenti di pertikungan koridor mansion karena keberadaan Arthur yang sepertinya sudah berdiri di sana dan mendengar semua percakapan antara Erick dan Inggrid.
"Maafkan aku Pa," wajah penuh sesal tergambar jelas di muka Arthur.
"Kau tidak salah. Keberanianmu untuk menceritakan semuanya kepada Papa merupakan keputusan yang sangat tepat," sahutnya dengan tatapan hangat tapi masih menyisihkan ketegasan.
Akan tetapi hati tak dapat berbohong. Kecewa tetaplah ada, bahkan penyesalan turut merongrong semakin dalam. Pikirannya kembali berandai-andai. Andai dulu sebuah kepercayaan tidak semerta-merta ia berikan ke Inggrid mungkin kepercayaan dari insan lain tak koyak begitu saja. Namun berandai-andaipun tiada guna. Tidak dapat mengembalikan semuanya seperti semula. Nasi telah menjadi bubur. Tidak mungkin bisa kembali menjadi nasi.
"Selama ini Arthur terpaksa bungkam karena tidak ingin adikku terusik oleh kegilaan Mama," terangnya.
Erick tersenyum melihat ketulusan dari sorot mata anak tirinya tersebut. "Siapa nama adikmu itu?"
__ADS_1
"Namanya Allesya Pa."
"Allesya?" nama yang sangat familiar membuat Erick mengoreksi jawaban Arthur. "Apakah adikmu bekerja di keluarga Willson?" tanyanya memastikan.
Sepasang mata abu-abu nan teduh menatap muka Erick sang Papa Tiri. Kali ini tatapannya lebih etensif dari sebelumnya. "Iya Pa, apa Papa mengenalnya?" jawabnya sekaligus balik bertanya.
"Iya kami pernah bertemu dan berbicara. Papa tidak menyangka kalau dia adik kandungmu yang juga berarti putri tiriku."
"Tapi sebenarnya dia bukan adik kandungku."
Erick mengernyit, di dalam dahinya mulai tumbuh sebuah tanda tanya besar. "Lalu siapa orang tua aslinya?"
Gelengan lemah sebagai wujud bahwa Arthur tidak memiliki jawaban dari pertanyaan Erick. Membuat pria paruh baya itu kian yakin akan praduganya selama ini tentang latar belakang Allesya sebenarnya.
"Aku yakin di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Apakah ini sebuah jawaban dari takdir yang akan mempertemukan sang Buah hati yang telah lama menghilang kepada kedua orangtuanya?"
Sementara itu di balik sekat dinding ruang yang lain. Sorot mata gelisah di buatnya menyapu acak ubin lantai marmer. Suara gemertak gigitan pada kuku ibu jari seolah menuntut otak untuk lebih bekerja keras dalam berpikir.
Sepasang mata berbingkai maskara tebal menyelidik sekitar, memastikan tidak ada orang selain dia di sana dan ternyata aman. Diambilnya ponsel dari saku celana dan mamasukan password untuk membuka kunci pada layar pipih berukuran 6,68 inci lanjut menelpon seseorang yang di yakini dapat membantunya.
"Aku setuju dengan rencanamu waktu itu. Basmi gulma hingga ke akar-akarnya. Dan segera bawa pergi jauh gadis itu, karena Erick sepertinya akan segera mencari tahu tentangnya," titah Inggrid tanpa memberi kesempatan pada lawan bicaranya untuk membalas karena panggilan langsung diputus secara sepihak.
Meski sedikit, setidaknya kelegaan yang di rasa memberi secercah ruang untuk bernapas panjang. Namun hal itu tidak berlangsung lama, bayang-bayang keterpurukan yang mungkin saja melandanya kembali menghantui. Kemiskinan dan menjadi salah satu penghuni di balik kerangkeng besi penjara seolah membuka lebar sambutan tangan untuk menjadikan bagian darinya.
"Inilah yang aku takutkan jika Erick sampai bertemu dengan Allesya."
°°°
Di sudut kota London lainnya.
BUG!
BUG!
BUG!
__ADS_1
"Arrrggg! Hentikan! Tolong hentikan! Aku akan segera membayar semua hutang-hutangku," Reymundo mengiba agar orang-orang yang bekerja sebagai bodyguard itu menghentikan aksi pukul memukulnya.
Jumlah bodyguard yang tiga kali lipat dari dirinya membuat sebuah kekalahan telak dalam beradu tinju.
Satu tangan terangkat ke atas, menitahkan para anak buah yang rata-rata memiliki muka sangar, tubuh tinggi besar, dempal dan berotot itu menghentikan aksinya. "Kapan kau akan membayar hutang-hutangmu?" tanya seorang pria berpenampilan iconic fashion item bernuasa mafia meski sebenarnya pekerjaan aslinya adalah sebagai bandar judi kasino.
"Beri aku waktu," Reymundo mencoba bernegoisasi di sela menahan rasa sakit pada kekujur tubuhnya.
"Berapa tenggang waktu yang kau minta?"
"Satu bulan," aju Reymundo yang membuat si Pria tergelak lepas kerena permintaan yang baginya terdengar lucu meskipun tidak ada unsur banyolan dari ucapan Reymundo.
"Tiga hari. Aku beri kau waktu tiga hari," tukasnya tegas, menyisihkan rasa kemanusiaan yang memang tidak pantas diberikan kepada mantan narapidana penggila judi tersebut.
"Bagaimana bisa aku mendapatkan uang sebanyak itu dalam tiga hari?" Reymundo tampak keberatan.
"Bawa gadis yang telah kau janjikan itu kepadaku dan ku anggap hutangmu lunas."
"B-baiklah."
Reymundo menyandarkan tubuh babak belurnya pada dinding bangunan pabrik yang telah lama terbengkalai. Berbagai jenis umpatan meluncur bebas hambatan dari mulutnya. Meratapi nasibnya yang selalu jauh dari kata beruntung. Memaki Tuhan karena dianggap tidak pernah berlaku adil.
Kekalahan yang sering dia terima di meja kasino membuatnya harus berurusan dengan hutang piutang yang mencekik leher. Bila ditotalkan, jumlah uang yang gelontorkan di meja judi mencapai 100.000 Pound lebih.
❣
❣
❣
Bersambung~~
Bagi para readers tersayang, Nofi mohon kemurahan hatinya untuk menekan tombol like dan meninggalkan jejak komen ya. Jujur, Nofi gak dapat cuan dari karya ini. Jadi tahu sendirikan alasan apa yang bikin Nofi tetap semangat menulis? Kalian. Iya, dukungan kalian lah yang membuat Nofi tetep lanjut nulis.
Maaf ya telat up, habis kelimpungan gara2 kehabisan internet. Fyuuhh.. Nggal ada internet separuh nyawaku kayak melayang😆😆
__ADS_1