
Di sebuah ruang keluarga. Mutiara biru milik Sean seolah enggan berpaling dari paras ayu yang masih setia dengan bibir mengatup tak bersuara, kendati jari-jarinya terus bergerak di muka Sean dengan handuk dingin di tangannya.
Sean mengangkat tangan besarnya ke atas, menangkup tangan kecil Allesya yang masih menempelkan kompres dingin di pipinya yang memerah akibat tamparan keras Raffaresh tadi.
"Aku sudah tidak apa-apa," ucap Sean seraya menekan jemari lentik itu untuk tetap singgah di mukanya.
Netra cantik yang sedari tadi menghindari tatapan Sean terpaksa bertemu pandang pada akhirnya.
"Diamlah, biarkan aku menyelesaikannya. Lukamu yang sebelumnya juga belum sembuh, sekalian aku obati lagi," balas Allesya lalu menggiring manik hazelnya ke arah tangan yang masih berada di dalam kungkungan jari-jari Sean.
"Sean lepaskan tanganku," pintanya yang tampak menggeliatkan pergelangan tangannya untuk lepas dari kuasa jari-jari besar Sean namun tiada gubrisan.
"Aku menyukainya," ucap Sean. Semakin menempelkan tangan Allesya di muka tampannya. Tak ingin melepasnya begitu saja. "Aku suka ketika tanganmu menyentuh mukaku," tambahnya lagi lalu mengecup hangat telapak tangan yang sedari tadi masih dalam kuasanya.
Dada Allesya bergetar, entah dari perasaan yang seperti apa getaran itu berasal. Apakah rasa cinta yang sudah terpendam dalam di dasar palung kelam itu kembali mengambang ke permukaan jantung hati? Kalau memang begitu, tapi kenapa getaran itu mengundang perih? Hah...Tidak ada yang bisa menerka. Allesya yang bahkan sebagai si Pemilik hati juga belum mampu menguraikan rasa apa itu sebenarnya.
Dengan cepat dan kasar Allesya menarik tangan yang akhirnya terbebas. "Jangan lakukan itu lagi Sean," tegasnya tidak suka.
"Kenapa?" lagi-lagi Sean berlagak bodoh padahal dia sudah tahu alasannya.
"Aku yakin kau sudah tahu jawabannya," Allesya kembali mengompres muka Sean yang ternyata sudah nampak kebiruan. "Jangan banyak bergerak. Kau membuat pekerjaanku tidak cepat selesai, patuhlah sedikit!" sungut Allesya ketika melihat tangan Sean hendak menyentuhnya kembali.
"Jangan marah," ucapan pinta Sean terdengar lembut. Terus menjadikan muka Allesya sebagai objek pemandangannya. Seolah tiada bosan yang menyapa. Kalau boleh ia meminta kepada Tuhan, dia akan meminta agar muka cantik Allesya lah yang ingin dilihat untuk pertama kali di setiap ia membuka mata mengawali pagi.
"Kau yang membuatku marah," membalas sekilas tatapan sean dengan lirikan sinis lalu meletakkan kompres dinginnya. Lanjut mengganti plester luka yang kemarin ia tempelkan di sudut bibir Sean dengan yang baru.
"Maaf."
"Sudah berapa kali kau berucap maaf tapi masih saja kau ulangi."
"Hm, maaf."
"Lagi dan lagi," Allesya mulai sedikit jengkel.
"Kedua orangtuamu pasti sangat membenciku saat ini."
"Bukankah itu lumrah?"
Sean tersenyum masam. "Kau benar."
Allesya terdiam sesaat. Menahan beberapa rangkaian kata yang sudah tersusun di ujung lidahnya hingga waktu mempersilahkan diri untuk kembali berkata. "Bagaimanapun aku seharusnya juga berterima kasih kepadamu. Kau telah membebaskanku dari pandangan buruk orang-orang di kampusku dan memberi hukuman yang setimpal kepada Becca dan Oliv yang telah berbuat jahat kepadaku dan janin yang ku kandung."
__ADS_1
"Tidak perlu berterima kasih, itu memang seharusnya aku lakukan untuk menebus kesalahanku kepadamu dan juga sebagai kewajibanku sebagai Ayah dari calon anakku yang telah disakiti dan..," ucapan Sean terjeda, mengundang muka cantik yang semula sedikit tertunduk mulai berputar ke arahnya. Menunjukkan mimik muka yang seolah menuntut akan kelanjutan kalimat yang terhenti.
"Dan karena aku mencintaimu," sambung Sean. Menyatakan kebenaran yang sebenar-benarnya akan perasaannya.
Namun apa itu? Respon tak mengenakkan kembali diterima pria blonde berlensa biru tersebut. Sebuah senyuman masam, semasam perasan air jeruk lemon tanpa gula terukir transparan di bibir ranum Allesya.
"Dulu-dulu kemana perginya ungkapan cinta itu? Kenapa baru sekarang kau katakan? Asal kau tahu Sean, semuanya sudah berbeda termasuk perasaanku ke kamu. Mungkin dulu aku akan meloncat kegirangan dan tidak bisa tidur semalaman karena ucapan cintamu, tapi tidak untuk sekarang," ucap Allesya.
"Aku tahu."
"Dan ada Erlan yang harus aku jaga hatinya," ucapnya menegaskan.
"Aku tidak akan merusak hubungan kalian, tenang saja," sela Sean yang tahu arah pembicaraan Allesya.
"Baguslah."
"Besok aku akan kembali ke London."
"Kau tidak perlu mengatakannya."
"Tapi aku ingin kau tahu."
"Untuk apa?"
"Agar kau tidak bertanya-tanya kenapa aku tidak datang menemuimu lagi."
"Benarkah?" Sean tampak kecewa. Meski ia sudah berusaha mengiklaskan Allesya berbahagia dengan Erlan, tapi tetap saja percikan harapan akan adanya sisa tempat untuknya di hati Allesya tetaplah terlintas.
"Seanie sayang, apa kau sudah selesai?" suara lembut Raffaela menyelinap masuk ke dalam percakapan Allesya dan Sean. Menarik perhatian keduanya yang mulai tertuju ke arah wanita tengah baya masih memancarkan kecantikan nan anggun di mukanya.
Sean langsung beranjak dari duduknya sebagai bentuk etika sopan santun ketika Tuan rumah datang.
Di belakang Raffaela tampak sosok Raffaresh berdiri, memamerkan muka tak senangnya meski tak separah beberapa saat yang lalu.
"Aku baru saja selesai Mom," jawab Allesya tanpa bertanya balik.
Sementara Sean memilih diam, menggenggam perasaan tak enak hati akan dosa dan kesalahan yang ia tanggung atas perbuatannya.
Raffaela mengalihkan perhatiannya ke Raffaresh dengan sedikit memutar tubuhnya. Mengusap lembut pundak lebar itu diiringi senyuman hangat yang selalu sukses meluluhkan hatinya yang keras. "Bicaralah Faresh," pintanya.
"Mengingat kau adalah putra dari sahabat terbaikku, aku tidak akan memperpanjang permasalahan ini. Aku dan istriku memaafkanmu, meski sangat terasa berat," tutur Raffaresh yang masih terdengar dingin sekali. Kecewa itu masih tetap ada. Bagaiamana bisa langsung hilang begitu saja.
Samar-samar binar kelegeaan seketika terpancar di muka Sean. Pasalnya dia sudah membayangkan bahwa Raffaresh akan menuntutnya lebih jauh karena pernah berlaku tak senonoh kepada putrinya. Namun semuanya diluar ekspektasi. Syukurlah.
__ADS_1
"Berterima kasihlah kepada istriku, kalau bukan karena dia, aku pasti akan menghajarmu sampai mati."
"Faresh...," Raffaela memberi peringatan pada sang Suami yang mulai kembali emosi.
Raffaresh mendengus pelan lewat hidung. Lagi-lagi dia tidak akan mampu membantah Raffaela jika sudah mengeluarkan suara lembutnya.
"Intinya jangan sekali-kali kau ulangi lagi kesalahanmu itu jika tidak ingin remuk di tanganku. Aku yakin kedua orangtuamu pasti belum mengetahui perbuatanmu. Bisa kau bayangkan, bagaimana kecewanya mereka nanti jika tahu hal itu," Raffaresh memberi peringatan keras. Sebelum akhirnya memilih memutar badan untuk meninggalkan ruang keluarga beserta para penghuninya.
"Terima kasih Daddy."
Kaki yang hampir melangkah seketika terurungkan. Raffaresh kembali memutar tubuhnya ke arah seseorang yang baru saja memanggilnya dengan sebutan Daddy. Bukan Allesya yang berucap melainkan Sean.
"Ck! Apa kau dengar barusan Raffaela? Apa dia sedang merayuku?" Raffaresh berdecak tak percaya.
"Apa yang kau katakan Faresh? Bukankah sedari dulu seperti itu caranya memanggilmu," sahut Raffaela mengingatkan. Kali saja suaminya lupa.
Tali persahabatan Raffaresh dan kedua orangtua Sean memang sangat kental. Jadi tak khayal jika ia juga menganggap putra dari sahabatnya seperti putranya sendiri.
Raffaresh menyayangi Sean. Di saat karunia malaikat kecil belum ada di dalam pernikahannya, ia sering membawa jalan-jalan Sean kecil. Tak jarang ia membawa paksa Sean kecil untuk menginap di rumahnya. Ia bahkan membiasakan Sean agar memanggilnya Daddy.
"Tapi bocah berandalan ini sudah lama tak lagi memanggilku seperti itu. Aku sangat kecewa," ketus Raffaresh.
"Tapi yang aku lihat kau malah terlihat senang saat ini Faresh," ucap Raffaela seraya mengurai senyuman tipis. Dia tahu sang suami tengah mempertahankan gengsinya.
"Dad, aku tidak pernah lupa cara memanggilmu. Hanya saja kita sudah sangat jarang bertemu setelah Daddy pindah ke Paris. Kau bahkan selalu mengirim Vera sebagai perwakilan rapat tahunan para penanam saham di perusahaanku. Andai kau sendiri yang datang, pasti kau masih bisa mendengar ketika aku memanggilmu Daddy," sanggah Sean yang mulai angkat bicara.
"Masih saja beralasan. Seharusnya kau bisa sekali-kali datang ke Paris untuk mengunjungiku! Jangan panggil aku Daddy lagi, aku sudah tidak ingin menganggapmu sebagai putra angkatku lagi," sengit Raffaresh. Tepatnya ia sedang mengambek seperti anak gadis saat ini.
"Sudahlah Faresh, jangan marah-marah terus. Aku tidak ingin suami tampanku ini cepat tua seperti kakek-kakek bertongkat," sela Raffaela diselingi sebuah gurauan. Jika dibiarkan terlalu lama perdebatan tidak akan usah hingga matahari tenggelam ke ufuk barat.
Lalu ia menarik paksa tangan sang Suami. Membawa mulut yang masih mengomel-ngomel itu pergi dari ruang keluarga.
🥀
🥀
🥀
Bersambung~~
Tak bosan-bosanya Nofi mengingatkan pada kalian untuk menampol tombol like setelah membaca di setiap babnya🥰 Dan berkomentarlah agar bisa membuat hati Author receh ini senang. Tau nggak sih nyenengin orang itu pahalanya gedeee bingit.🤭
Oya.. terima kasih ya segala dukungan kalian untukku..😍
__ADS_1
Tetap pantau kisah Sean dan Allesya ya.. Please jangan kabur dulu..🥺
Kecup basah untuk kalian😘😘 lop lop you super❤