Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 73


__ADS_3


Hari telah berganti esok. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Sean akan kembali ke London hari ini meski dengan berat hati. Iya, berat hati untuk kembali jauh dengan Allesya. Sang Pengobat mujarab bagi hati yang tengah terjangkit malarindu.


Mengingat perusahaan yang ditekuninya tidak bisa dibiarkan terlalu lama oleh pimpinannya. Menuntut tangan dan otaknya agar segera menjamah berkas-berkas yang sudah dipastikan menggunung di atas meja kerjanya saat ini.


Meski ia telah menitah David untuk kembali ke London duluan, menghandle beberapa urusan perusahaan yang masih bisa dijangkau oleh statusnya sebagai Personal Assistant untuk sementara waktu, tapi bukan berarti ia bisa lepas tangan akan kewenangannya begitu saja.


"Dad, Mom.., aku pamit kembali ke London sekarang."


Sebelum menuju bandara Charles De Gaulle Paris, Sean menyempatkan diri mengunjungi kembali kediaman keluarga Damirich. Dan di sinilah dia sekarang, berdiri di depan Raffaresh dan Raffaela, sahabat karib kedua orangtuanya yang sedari dulu sudah menganggap Sean layaknya putra mereka sendiri.


"Buat apa kau berpamitan segala? Kau tidak bertujuan mengunjungi kami ketika awal tiba di Paris, jadi kau juga tidak perlu berpamitan ketika ingin kembali," sela Raffaresh ketus.


Dia memang masih kecewa. Kecewa akan perbuatan kasar Sean terhadap Allesya dan kecewa karena merasa dilupakan sebagai orang yang selalu ingin dianggap sebagai Ayah oleh Sean. Meskipun begitu rasa benci tak dibiarkan menjajah hatinya. Tidak akan. Raffaresh bukan orang yang akan membuang waktu berharganya untuk membenci terlalu lama, begitu juga dengan Raffaela.


Tidak terbesit ketersinggungan di hatinya dikala lidah Raffaresh berucap tak mengenakkan. Dia tahu, semua kalimat ketus yang didengar tidak semerta-merta berasal dari sepenuh hati. Bibir yang mengulas senyum dia jadikan sebuah respon balik akan sikap pria baya yang dulu sering mengajaknya memborong mainan hingga ruang mobil terasa sesak. "Maaf Dad," hanya itu yang mampu terucap.


Perhatian Sean yang semula tertuju ke kedua orangtua angkatnya seketika berpidah kepada sosok sang Pujaan hati yang datang dari arah berlawanan. "Allesya..," lirihnya.


"Mom, Dad, Seanie pergi menjenguk Erlan dulu ya," pamitnya kepada Kedua orangtuanya, tak menghiraukan eksistensi Sean yang jelas-jelas berdiri gagah di depannya.


Acuh sekali, membuat Sean seolah tak dianggap.


Bergantian Allesya mencium pipi Raffaela dan Raffaresh dengan adil sebelum melempar senyuman tipis dan memutar tumit lalu melangkah melewati Sean yang sedari tadi mengamatinya.


"Allesya..." suara bariton Sean terdengar memanggil disusul sebuah tangan menarik tubuhnya agar langkahnya terhenti.


Muka cantik hanya berpoles BB Cream dan sapuan lipgloos bewarna merah jambu di bibir itu sedikit berputar ke belakang. Melihat tubuh gagah Sean yang sudah berada sangat dekat dengannya.


"Allesya, aku akan kembali ke London sebentar lagi," Sean kembali memberitahukan.


"Terus?"


"Katakanlah sesuatu."


"Tapi tidak ada yang ingin aku katakan."


"Kalau begitu dengarkan aku saja."

__ADS_1


"Kau membuang waktuku Sean."


"Allesya.. dengarkan aku sebentar," Sean meminta dengan sedikit paksaan.


"Hah..! cepat katakan," akhirnya Allesya pun menuruti permintaan Sean.


Raffaresh dan Raffaela yang memang sudah peka akan suasana yang tengah menyelimuti di antara Sean dan Allesya tampak saling melempar pandang sekilas. Memberi ruang kesempatan untuk sepasang anak muda itu untuk saling berbalas kata.


"Aku tidak akan mengusik kebahagiaanmu bersama Erlan, tapi maaf aku tidak bisa menuruti permintaanmu untuk berhenti berharap apalagi melupakanmu Allesya. Jadi suatu saat nanti jika aku menemukan sedikit saja cela di hatimu, ijinkan aku untuk membuktikan semua perasaanku yang ada di sini," ungkapnya dengan jari telunjuk menunjuk tegas ke arah dada lebarnya.


Itulah keputusan yang dipilih Sean. Andai saja Allesya tidak bahagia dengan kekasihnya saat ini sudah pasti dia akan menggunakana cara yang sama seperti yang dipakai Allesya terdahulu. Yaitu melibatkan sebuah kegigihan pantang menyerah dan menggunakan cara-cara gila lainnya untuk mengejar cinta Allesya.


Akan tetapi kenyataannya Allesya terlihat sangat bahagia bersama Erlan dan dia tidak ingin menjadi pihak egois yang hanya mementingkan perasaan sepihak.


"Apa masih ada yang ingin kau katakan?" tanya Allesya, mengabaikan ucapan Sean sebelumnya, menyangkal perasaanya yang nyata sempat limbung.


"Aku pasti akan sangat merindukanmu."


"Bukankah kau biasa mengobati rindumu dengan mengencani setiap wanita dari sudut kota? Ayolah, jangan membuat susah dirimu sendiri Sean. Kau tinggal mengulang kembali kebiasaanmu itu," sindiran pedas berhasil menampar hati kecil Sean.


Lemas yang dirasa membuat lima jari yang semula melingkari pergelangan kecil tangan Allesya perlahan terbuka satu persatu. Membiarkan si Wanita kembali mengambil langkah, pergi meninggalkan Sean dengan gumpalan rasa sesak yang menghimpit dadanya.


Sementara itu di dalam kendaraan, ada hati yang tengah diliputi kegamangan. Sebuah rasa kecewa yang selama ini telah tertanam hingga berakar tunggang mulai goyang. Adanya kehadiran sosok tampan itu seolah mendobrak kembali perasaan lama yang terkunci.


"Tidak, perasaan itu tidak boleh kembali," lirihnya bersamaan remasan tangan pada kain di dadanya. Menghalau kenyerian yang terus merambah.


°°°


Bandar udara Heathrow, London.


Seorang supir pribadi bergerak cekatan menyambut Tuannya yang terlihat dari jauh sudah berjalan menuju lobi utama bandara setelah turun dari pesawat. Gegas ia buka pintu mobil lalu mempersilahkan sang Tuan masuk.


"Silahkan Tuan."


"Terima kasih."


Jalanan kota London tampak dipadati oleh kendaraan besi yang berlalu lalang, membelah pekatnya jalan raya. Sean mengajak sepasang lensa birunya untuk melihat suguhan pemandangan di luar jendela kaca mobil dengan tatapan menerawang jauh.


Sungguh, rasa-rasanya ia ingin sekali berteriak kepada si Supir untuk bergegas memutar balik mobil yang ditumpanginya menuju ke bandara. Kembali ke Paris dan menyeret paksa tubuh Allesya untuk ikut bersamanya. Kemudian memeluk, mencium, atau bahkan mengungkungnya agar tetap berada di bawah kuasanya.

__ADS_1


"Aku benar-benar sudah menggila karena seorang wanita," lirihnya terdengar frustrasi.


Demi menghempas segala kegusaran hati yang kian merajalela, ia merogoh ponsel yang terletak di dalam saku celananya. Melakukan panggilan ke sebuah nomor.


"Iya Tuan," sapa David dari balik telepon setelah permintaan panggilan tersambung.


"Jelaskan sampai mana pencarianmu."


"Ini saya baru saja keluar dari bangunan itu Tuan. Saya masih mendapatkan sedikit petunjuk kecil dari penjaga bangunan," lapornya.


"Apa itu?"


"Wanita itu memiliki bekas luka bakar di tangannya kirinya Tuan."


"Tentang keberadaannya?"


"Maaf Tuan, saya belum menemukan info lebih lanjut."


"Teruskan pencarianmu."


"Baik Tuan."


Tut.


Panggilan berakhir.


"Hanya ini yang bisa aku lakukan agar Allesya bisa berbahagia lebih lama bersama Erlan," gumamnya.


🤍


🤍


🤍


Bersambung~~


Terima kasih masih setia menyimak kisah Sean dan Allesya hingga di bab ini🥰


Meski cerita berjalan lambat dan agak ngebosenin, tapi Nofi usahain ada progres di setiap babnya.

__ADS_1


Yuk nyenengin Author dengan cara wajib menampol gambar like. Tinggalkan komen cangtip... jika berkenan sumbangkan Vote dan hadiahnya..🤣🤣 Nofi kayak maksa ya? Tapi jujur Nofi nggak maksa kok. Cuma mendesak sedikit aja🤣


__ADS_2