
Di sebuah bangunan gedung megah menjulang tinggi membelah langit, lantai 29. Tempat singgasana CEO muda bergelut dengan pekerjaannya.
10 jari menari lincah di atas keyboard, mata terpaut lurus pada setiap huruf yang berjajar rapi di dalam layar komputer, berkas-berkas dokumen berserakan di atas meja, menggambarkan jelas situasi dimana seorang Sean tengah fokus pada sumber pundi-pundi pundsterling penambah aset kekayaannya.
Namun apa itu? Suara ******* frustrasi beberapa kali terdengar di sela pekerjanya diikuti gelengan ringan kepala. Rupanya, ia sedang mati-matian berupaya membuang jauh pengusik kosentrasi pikirannya.
Senyum merekah indah, binar cantik mata bulat, wangi surai coklat, tingkah menggemaskan, serta rasa manis bibir si Gadis berisik, Allesya, terus berkelibatan membayangi pikirannya.
Namun, mengingat akan latar belakang Allesya yang sebenarnya turut ambil andil dalam mengalutkan pikiran.
Hati tak bisa berbohong, nyatanya hanya mengingat paras ayu Allesya, debaran tak biasa di dadanya kembali muncul. Akan tetapi, ego dan kekecewaan seolah lebih merajai hati kecilnya saat ini.
Ingin rasanya, ia menolak akan kenyataan bahwa gadis yang mulai mengisi hatinya adalah anak dari wanita perenggut kebahagiaannya dan sang Mama. Wanita yang merebut paksa idola masa kecilnya, sang Ayah.
Tak!
Kosentrasi kian buyar tak karuan, hingga akhirnya ia memilih menutup layar laptop, meyudahi pekerjaannya. Sebenarnya dia berniat lembur hari ini, mengingat masih banyak berkas yang harus ia siapkan agar bisa memenangkan tender proyek terbarunya.
"Allesya...., kenapa kau selalu mengusik pikiranku?!" lirihnya bercampur frustrasi. "Selama ini aku telah kau bodohi. Kau bersikap seolah tidak mengetahui apa-apa," Sean terus berasumsi tak jelas.
Kemana pemikiran bijaknya sebagai CEO selama ini? Sekuat itukah dampak dari kebencian terhadap sang Ibu Tiri, Inggrid? Sehingga mampu memperkelut jalan pikirnya.
Satu pijakan di kaki, membawa tubuhnya berdiri dari kursi singgasananya. Dia mengambil pijakan lain sehingga membentuk beberapa langkah menuju pintu keluar. Menemui Allesya, itulah yang sedang terbenak di otaknya.
Roda mobil terus melaju, meninggal jejak pada pekatnya jalan raya kota yang tengah padat kendaraan. Sean menginjak pedal rem ketika lampu lalu lintas berwarna merah menyala.
Sapuan pandang tertuju lurus ke depan, namun kejengahan karena menunggu lampu hijau menyala membuat ia merotasikan kedua matanya ke arah lain.
Sean membuka kaca jendela mobil di kala matanya tanpa sengaja menangkap dua sosok dikenal yang tak lain adalah Allesya dan Erick. Keduanya tengah duduk di sebuah kafe tak jauh dari persimpangan lampu merah tempat mobil Sean berhenti.
"Ck! Ternyata mereka sudah sedekat itu, dan aku semakin terlihat bodoh. Sungguh pemandangan Ayah dan anak tiri yang harmonis," decihnya ketika melihat Allesya dan Erick tampak saling melempar senyum di sela perbincangan ringan.
TIN! TIN! TIN!
__ADS_1
Jeritan klakson mobil lain menyudahi pengamatan Sean. Hingga akhirnya memilih kembali menancap gas dan melupakan niatnya untuk menemui Allesya. Kali ini ia tak berniat langsung kembali ke mansion melainkan menuju ke apartemen pribadi yang sering ia jadikan tempat penghilang penat dan pikiran berkecamuk tak berkesudahan.
Mobil sudah terparkir cantik di sebuah basement bangunan apartemen di kawasan elit London. Sean bergegas memasuki kotak besi yang membawanya ke lantai 7.
Tidak memakan waktu lama, ia kini sudah berdiri di depan pintu apartemen dan mulai memasukkan beberapa kode angka pada door lock digital.
GREP!
Sean sedikit tersentak ketika sepasang tangan memeluk tubuh gagahnya dari belakang. Ia menggiring muka ke samping untuk mencari tahu siapa pemilik tangan tersebut hingga sebuah helaan jengah terdengar dari bibirnya.
"Kenapa lagi kau menemuiku Vera?"
"Apa begitu caramu menyapa tetanggamu?"
Vera memang tinggal di sebuah apartemen yang berada satu gedung dengan apartemen milik Sean.
"Lepaskan tanganmu."
Alih-alih mengidahkan permintaan Sean, Vera malah semakin mengerat lilitan tangannya. "Ajak aku masuk ke dalam ya?"
Jingga langit senja sudah tenggelam, diikuti badan kota berselimut gelapnya malam. Setelah pertemuan singkatnya bersama Erick, Allesya memilih segera pulang ke rumah.
Awalnya Erick menawarkan diri untuk mengantarnya namun sebuah penolakan halus dia lontarkan. Sebenarnya dia hanya tidak ingin jalinan antara dia dan Erick lebih dekat.
Sekali lagi, perasaan was-was kembali meliputi di sepanjang perjalanan pulangnya. Suara langkah seseorang yang mengikuti terdengar sangat jelas. Namun, lagi-lagi ia tak menemukan sosok makhluk apapun dikala putaran lehernya mengarah ke belakang.
Suasana lingkungan sedang sepi, tidak ada pengguna jalan lain selain dia. Membuat ia semakin cemas. Sesaat ingatan akan perkataan Sean tempo lalu kembali terngiang, bahwa Sean sempat memergoki gelagat aneh seseorang yang tampak membututinya.
Allesya langsung mengambil langkah lebar dan cepat ketika pelataran rumahnya sudah berada di depan mata. Bergegas meraih handle pintu dan masuk ke dalam rumah.
"Fyuuhh..! Akhirnya sampai rumah juga," lega Allesya masih bersandar di depan daun pintu.
"Nenek.., Allesya pulang..," seperti biasa, ia akan berteriak memberitahu Fanne bahwa ia sudah tiba di rumah.
"Iya sayang, segera bersihkan tubuhmu lalu makan malam. Nenek akan menunggumu," sahut Fanne setengah berteriak.
__ADS_1
TOK! TOK! TOK!
Tubuh yang masih bersandar seketika terkesiap di kala seseorang mengetok pintu dari luar. Tangan mengusap sayang dadanya yang masih berdebar karena terkejut.
"Huh! Aku sampai kaget. Untung jantungku buatan tangan Tuhan, coba kalau buatan Cina, pasti tamat," gerutunya.
Tidak ingin membiarkan tamu menunggu terlalu lama di luar, Allesya gegas meraih handle pintu lalu membukanya, sehingga angin malam menerobos masuk diikuti seringai seseorang yang muncul dari balik pintu.
Betapa terkejutnya Allesya ketika melihat siapa tamu yang berkunjung ke rumahnya malam-malam. Sepasang mata cantiknya membelalak diselingi deguban jantung tak terkontrol.
"Selamat malam gadis kecilku," sebuah sapaan terkesan mengintimidasi terdengar mencekam di telinga Allesya.
Seketika bekas luka masa kecil di punggungnya terasa nyeri, seolah mengirim sinyal akan trauma yang masih terpatri kembali mengapung ke permukaan hati. Mengingatkan akan siksaan demi siksaan di masa lalu kelam bagi Allesya kecil.
"Allesya, siapa tamu yang datang?" tanya Fanne di sela langkahnya mendekati Allesya yang masih membatu di depan pintu hingga akhirnya wanita berusia senja tersebut juga tak kalah terkejut. "Kau?!"
❣
❣
❣
Bersambung~~
Mau sedikit curhat nih. Sebenarnya akhir-akhir ini Nofi nulis kayak nggak berasa feelnya gitu loh. Mendengar kabar keluarga di rumah sakit-sakitan terus, buat aku sedikit nggak fokus dalam menulis dan ide gampang banget menguap dari otak. Apa lagi di musim pandemi seperti sekarang, rasanya pingin banget geret koper menuju bandara sekarang juga. Kembali kumpul bersama keluarga. Sedih tahu nggak sih, disini setiap hari Nofi merawat orang sakit tapi Nofi justru nggak bisa merawat keluarga sendiri yang sedang sakit😭
Maka dari itu mohon di maklumi ya, jika ceritanya mulai membosankan. Nofi nggak maksa kok, kalian masih ingin stay nyimak atau kabur ke karya lain yang lebih bagus. Nofi sadar diri kok, karyaku ini sangat jauh dari kata bagus. Tulisannya bahkan amburadul🤭
Tapi Nofi tetap tak lupa mengucapkan terima kasih banyak pada kalian yang masih setia mendukung tulisan remahan rengginangku ini🥰
Okey! Sudah cukup memelow dramanya😆 Yuhuuu... Jangan lupa tinggalkan jejak like dan comment ya..🥰
Vote dan gift kalian mau disumbangkan juga bolehlah..🤭
I Love You All. Teman di dunia halu pelipur lara di masa laluku. Bersyukur banget bisa kenal kalian😘
__ADS_1