Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 42


__ADS_3


Di salah satu Rumah Sakit yang terletak di pusat kota London, terlihat paramedis tengah sibuk dan bergerak cepat dalam menangani korban kecelakaan lalu lintas yang baru saja datang bersama dua mobil ambulance dan polisi lalu lintas.


Dengan cekatan beberapa perawat menurunkan brankar lipat dari dalam mobil dengan lampu sirene yang masih menyala. Terlihat satu orang korban pria berbalut jas kerja berlumuran darah tengah tak sadarkan diri dengan kondisi yang bisa membuat orang bergidik ngeri ketika melihatnya. Dan satu korban wanita terkulai lemas dengan luka-luka serius namun masih dalam keadaan setengah sadar.


Mengejar waktu yang kian terkikis, tangan para medis mendorong ranjang beroda berisi para korban tersebut menuju intalasi gawat darurat untuk mendapat pertolongan pertama.


Sementara itu di tempat kejadian kasus kecelakaan maut. Seorang reporter terlihat tengah menyiarkan sebuah laporan peristiwa di depan bidikan lensa kamera.


Telah terjadi sebuah kecelakaan maut di Belgrave Middleway dekat Edgbaston, London pada pukul 12.30 waktu setempat. Kecelakaan terjadi karena sebuah mobil Mercedes-benz bewarna hitam melaju dengan kecepatan tinggi menuju Borough Market mengalami kehilangan kendali sehingga keluar jalur dan menabrak mobil box logistik bermuatan penuh dari arah berlawanan.


Peristiwa memakan 1 korban berjenis kelamin pria dan 1 korban berjenis kelamin wanita. Kedua korban diduga anggota keluarga dari perusahaan terkemuka di Inggris, Willson Corporation. Hingga laporan di turunkan, korban saat ini telah di evakuasi dan sedang mendapatkan pertolongan pertama di Rumah Sakit terdekat.


Belum diketahui secara pasti apa yang menyebabkan mobil keluar dari jalur dan masih dalam investigasi polisi. Untuk sementara, hanya itu yang dapat saya sampaikan, kembali ke studio.


°°°


Sorot sayu tengah menghiasi mata bulat nan cantik Allesya. Badan diajak bergumul di bawah selimut tebal mencari kehangatan. Bukan kerena suhu udara di luar yang sedang dingin, melainkan karena kondisi kesehatannya yang sedang menurun.


Di waktu yang sama Fanne masuk ke dalam kamar dengan sebuah nampan berisi sepiring bubur labu kuning dan obat. Di letakkannya piring di atas meja lalu menyibak pelan selimut yang membungkus Allesya. "Sayang, Nenek bawakan bubur untukmu, makanlah dulu agar kondisi segera membaik,"


Allesya membuka mata yang terasa berat karena hujaman rasa sakit di kepala. Perlahan dibawa tubuh lemasnya bersandar pada headboard ranjang. "Baiklah Nek," senyum tipis masih tampak mengulas di bibirnya.


Fanne mengambil piring berisi bubur yang ia letakkan di atas meja dan menyuapkannya ke Allesya dengan sangat telaten.


"Cukup Nek, Allesya sudah kenyang," ucap Allesya setelah melahap 4 suapan bubur.


"Baiklah. Ini obatnya, harus diminum," Fanne lanjut memberikan obat.


"Terima kasih Nek," ucapnya setelah meminum obat yang diberikan Fanne.


"Ya sudah kembalilah beristirahat ya sayang," tutur Fanne.


Tubuh yang sudah beranjak dari bibir ranjang sontak kembali terduduk karena sebuah tangan menariknya agar tidak pergi. Ia merasakan suhu panas ketika Allesya memeluk tubuhnya.


"Nek...," lirihnya.


"Iya sayang, apa ada sesuatu yang membebani pikiranmu?"


"Nek.., jika Allesya bisa bertemu kembali dengan orangtua kandungku kelak, Nenek harus tetap ikut bersama Allesya ya."


"Iya sayang, Nenek akan tetap bersamamu, sekalipun telah tiada Nenek akan tetap melihatmu dari surga. Menyaksikan senyuman kebahagiaanmu," di usapnya bahu sang Cucu yang beberapa hari ini terlihat resah.

__ADS_1


"Jangan berbicara seperti itu Nek, Allesya nggak suka," sungutnya namun Fanne malah tersenyum lebih lebar melihat muka cemberut Allesya yang masih terlihat cantik meski sedang sakit.


"Nenek sangat berharap hasil tes DNAmu dan Vera kemarin cocok agar kau bisa berkumpul kembali dan merasakan hangatnya kasih sayang dari orangtuamu yang telah lama tak kau dapatkan," ucap Fanne yang menaruh harapan tinggi.


Sungguh di hari tuanya yang entah sampai kapan kaki masih bisa berpijak di bumi ia ingin sekali melihat cucu angkatnya tersebut bahagia.


"Iya Nek, semoga saja."


Suasana hangat terus menyelimuti kedua manusia berbeda generasi tersebut. Hingga akhirnya Allesya harus melerai pelukannya di kala ponsel yang terletak di atas meja kamar berdering nyaring.


"Kak Vera..," lirihnya ketika melihat nama Vera menghiasi layar ponsel dan gegas menerima panggilan telepon tersebut.


"Halo...?"


(...)


"Baik Kak," mendengar nada bicara Vera yang terkesan panik, ia gegas membawa tubuh lemahnya keluar kamar dan menyalakan TV sesuai yang disarankan Vera dari balik telepon.


"Ada apa Allesya?" melihat gelagat aneh cucunya, Fanne turut mengekori menuju depan TV.


Wajah yang semula terlihat tidak sehat kian bertambah pucat pasi di kala mendengar seorang reporter menyampaikan berita tentang kecelakaan di saluran TV. Untuk beberapa saat dia seperti kehilangan kesadaran. Tubuhnya membeku sulit untuk bergerak hingga tampilan gambar di layar TV memperlihatkan sebuah mobil yang masih dalam posisi terbalik. Jantung seolah berhenti berdetak, ia tatap nanar sebuah mobil dalam kondisi hancur. Seketika nyalinya menciut melihat hampir semua bagian tubuh mobil ringsek.


"Bukankah itu mobilnya Kak Sean?" tatapan terus terpaut pada layar TV yang masih menyala. Meyakinkan diri bahwa dia tidak salah mengira.


Allesya yang terlihat kalut dan cemas tiba-tiba melangkah tergesa mengambil tas dan ponselnya lalu memutar tumit menuju pintu keluar. Namun belum sampai ia membuka handle pintu, Fanne mencegahnya.


"Allesya, kamu sedang sakit. Tunggu kamu sembuh dulu baru menemuinya," tutur Fanne tak kalah cemas.


"Tidak Nek, Allesya harus memastikannya sendiri," keukuhnya tak ingin dihalangi. Ia turunkan tangan Fanne yang masih memegang lengannya lalu meneruskan niat yang sempat tertunda sesaat.


Bertepatan dengan terbukanya daun pintu, ternyata seorang pria sudah berdiri di luar. Betapa terkejutnya Allesya dan Fanne ketika kembali melihat keberadaan Reymundo yang tengah menyeringai iblis. Seolah tiada rasa jera yang menakutinya untuk datang kembali.


Merasa adanya ancaman bahaya, Fanne berniat menutup kembali daun pintu dengan cepat, namun ternyata tindakan perlindungan diri itu gagal karena tangan kekar mencekal daun pintu dan melangkah melewati bingkai pintu.


BRAK!


Kedua wanita yang tengah dirundung kepanikan tersebut terjingkat di saat Rey menutup kasar daun pintu.


"Mau apa lagi kamu datang kembali Reymundo?!" hardik Fanne seraya membawa tubuh Allesya menjauh dari Reymundo.


"Aku datang untuk menepati perkataanku, yaitu untuk membawa gadis ini," ia tarik tubuh Allesya dengan kasar.


Dengan sisa kekuatan yang tersisa, Allesya memberontak untuk melepaskan diri. Sungguh rasa sakit di kepala yang kian berdenyut membuat ia kesulitan untuk melawan.

__ADS_1


"Lepaskan dia atau aku akan kembali berteriak seperti malam itu!" ancam Fanne.


"Lakukan saja," tersenyum remeh dengan sebelah tangan masih dibuat mencekal tubuh lemah Allesya.


Membutikan bahwa tidak pernah bermain-main dengan ucapannya, Fannepun berteriak keras. "Tolong..! Ada mal.."


"Kau itu terlalu berisik wanita tua!"


BUG! BUG! BUG! BUG! BUG!


Tidak ingin kejadian di malam itu terulang lagi, ia mengambil sebuah palu dari balik jaket. Tanpa terselip secuilpun rasa belas kasihan, ia menghantam kepala Fanne menggunakan senjata tumpul berkepala besi tersebut secara bertubi-tubi dan tanpa ampun.


Tiba-tiba teriakan Fanne terhenti dan berganti sebuah erangan. Tubuh rentanya terkulai tak berdaya disertai suara rintihan karena kesakitan. Cairan segar bewarna merah mengucur deras dari tulang tengkoraknya yang pecah.


"Tidaaakk..! Nenek! Lepaskan aku!" Seolah mendapat pasokan kekuatan baru, Allesya kembali meronta sekuat tenaga meski kondisi tubuh benar-benar masih jauh dari kata sehat. Namun tindakan itu justru membuat cengkeraman tangan Reymundo kian kuat.


Diraihnya sebuah vas bunga yang kebetulan bisa terjangkau oleh tangan. Dan..


BRAK!


"Arrgg..! Kau benar-benar ingin mencari mati gadis jal*ng!" makinya seraya menangkup kepala yang baru saja menjadi sasaran hantaman vas bunga. Ia meringis kesakitan akibat sebuah benturan keras yang baru saja ia terima.


Menyadari tubuhnya terlepas dari cengkeraman tangan Reymundo, Allesya langsung berhamburan memeluk Fanne yang tergeletak di atas lantai. "Nek..! Bertahanlah Nek! Allesya mohon jangan tinggalkan Allesya," Allesya terisak kuat di kala melihat kondisi Fanne yang memprihatinkan.


"Nek..! Aku akan membawaku ke Rumah Sakit, kau harus bertahan," dengan bersusah payah ia mencoba mengangkat tubuh Fanne. Tidak menghiraukan keberadaan Reymundo.


Namun belum sempat tubuhnya berdiri, sebuah tangan membekap mulut dan hidungnya menggunakan sapu tangan dari belakang. Rasa pusing tiba-tiba menyerang, membuat pandangan berubah gelap dan akhirnya pingsan.


"Allesya...," dengan kesadaran yang hanya tersisa seujung kuku, Fanne memanggilnya.


Ingin sekali ia berteriak mencari pertolongan di kala melihat Reymundo membawa Allesya pergi. Namun ia sungguh sudah tak berdaya. Suaranya tercekat di tenggorokan. Jatuh sudah bulir-bulir kesedihan dan keputus asaan dari netranya, disusul sebuah himpitan kuat di dada yang sangat menyesakkan.


"Ya Tuhan, aku mohon kirimkanlah seorang malaikat penolong untuknya. Dia gadis yang baik, berikanlah kebahagiaan yang melimpah untuknya. Aku sangat menyayanginya," ia langitkan sebuah doa ketulusan dan penuh kasih sayang sebagai penutup di penghujung napas terakhirnya.





Bersambung~~


Terima kasih masih betah mantengin cerita ini sampai dibela-belain mata merah. Hayo.. merahnya karena apa? Sakit kah? Emoseh? Atau sedih karena baca cerita yang nggak jelas🤭?

__ADS_1


Sabar ya.. Orang sabar jodohnya cakep😘


__ADS_2