Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 99


__ADS_3


TING TONG..! TING TONG..!


"Ah.. Kak Sean sebentar."


Allesya terpaksanya menghentikan kesenangan bayi besarnya yang sedang menghisap tampungan susu belum bereproduksi miliknya.


"Biarkan saja, Allesya," tak mengindahkan permintaan istri kecilnya karena dua biji kecil nan lucu itu terlalu sayang jika harus dilepas begitu saja dari pagutan bibirnya.


TING TONG..! TING TONG..!


"Kak Sean lepaskan dulu, sepertinya ada tamu," mencoba bebas dari kungkungan posesif itu namun malah lum*tan rakus di bibir yang didapatnya kali ini.


Tarikan di tengkuk leher kian memperdalam pagutan basah dan menggoda. Lilitan kekar di pinggang, menambah keintiman hangat oleh dua tubuh yang saling menempel sempurna.


"Kak Sean, hmp! Kak.. hmp!"


Seolah tiada lagi hari esok untuk menyesap manisnya madu di bibir yang menyandukan itu, sorongan hasrat yang berkobar urung menjeda barang sedetikpun cumbuan nakalnya.


TING TONG..! TING TONG..!


"Argg..! Sakit Allesya..!" mengerang kesakitan saat cubitan maut mendarat pada perutnya. Gairah yang menggebu terpaksa harus tertahan.


"Apa Kak Sean tidak dengar sedari tadi bel pintu berbunyi?" ketusnya.


"Siapa yang datang malam-malam seperti ini? Mengganggu saja," menggerutu kesal. Ditambah lagi burung yang sudah terbangun mulai meronta, mengepakkan sayapnya menuntut sebuah kebebasan.


Jari-jari bergerak cepat memasang kembali kancing piyamanya. Hingga gerak lincah jarinya terhenti seiring dengan garis-garis kernyitan di kening, sadar sebagian kancingnya telah raib entah minggat ke mana. "Hiish! Kau membuat kancing bajuku menghilang," sungutnya. Melempar lirikan tajam ke Sean.


"Maaf aku lepas kendali," ucap Sean yang nyatanya tak sepenuhnya menyesal, yang ada dia sedang kesal.


Gegas diraihnya jaket sweater yang tergantung di salah satu sudut ruangan guna menutupi piyama tak layak pakainya. Membawa tungkai menuju suara jeritan bel bermuasal.


Terperangah saat mata menangkap seonggok daging bernyawa berdiri di depan pintu dengan muka basah karena menangis. "Kak Vera? Kau kenapa?" Allesya keheranan.


"Allesya," memeluk sang Adik, menumpahkan segala kesedihan yang tertampung sepanjang hari.


"Bawa dia masuk dulu, Allesya," tanya Sean yang ternyata membututi si Istri kecil. Niat awal ingin menyembur kekesalannya namun urung terlaksanakan karena situasinya berbeda.


Allesya menanggapi perintah Sean dengan anggukan kecil. "Kak, sebaiknya kau masuk dulu ya," menuntun tubuh Vera duduk di sofa apartemen.


"Kak Vera, sebenarnya ada apa? Kau kenapa seperti ini?" seolah turut merasakan kesedihan sang Kakak, netra cantiknya mulai berkaca-kaca.


Sahutan kejelasan tak kunjung didengar, tubuh bergoncang karena tergugu itu justru kembali memeluk Allesya. Sementara Sean memilih diam menjadi penonton yang baik, dengan bersandar pada bibir dinding pembatas, membiarkan kedua manusia sedarah dan sekandung itu saling berinteraksi dari hati ke hati.


Usapan penenang terus mendarat di punggung Vera. "Ya sudah, Kak Vera tenangkan dirimu terlebih dahulu lalu berceritalah," tutur Allesya.


"Allesya, bisakah malam ini aku menginap di tempatmu?" tanya Vera di sela sesenggukannya.

__ADS_1


Melirik ke arah sang Suami, setidaknya ia harus meminta ijin untuk segala hal adalah kode etik yang harus diterapkan di dalam hubungan rumah tangga bukan?


"Bawa saja dia ke kamar khusus tamu," tutur Sean sebagai jawaban lirikan penuh makna Allesya dan langsung mendapat balasan senyuman tipis dari bibir ranum favoritnya tersebut.


"Kak Vera aku antar ke kamar ya," ucap lembut Allesya kepada Vera.


"Kau temani aku malam ini ya, tidur bersamaku," pinta Vera.


Sekali lagi, Allesya melirik ke arah Sean yang ternyata sudah menampakkan reaksi tidak suka, meski tidak disadari Vera. Wanita itu tahu, prianya tengah mengajukan protes melalui mimik mukanya. Allesya mengulum senyum, merasa lucu melihat ekspresi masam Sean.


Sepasang suami istri itu seolah saling melempar batin melalui sorot mata.


"Apakah kau tega membiarkan aku tidur sendirian malam ini?"


"Cuma semalam saja Kak, lagian kasian Kak Vera. Ia terlihat sangat sedih."


"Aku tidak mengijinkan."


"Kak Sean."


"Pokoknya tidak."


"Kak..."


"Hah! Terserah kau saja!"


Begitulah kira-kira isi kalimat perang batin mereka.


°°°


"Kak Vera, apa kau sudah sedikit tenang?" tanya Allesya setelah selang beberapa lama mengantar sang Kakak ke kamar khusus tamu.


Vera mengangguk tak bergairah, mengusap jejak cairan bening yang melandai di pipi putihnya. "Sudah mendingan."


"Maukah Kak Vera bercerita tentang masalah apa yang sedang Kak Vera hadapi?"


Menarik napas sangat dalam lalu menghebus perlahan melalui hidung. Menghempas rasa sesak yang menyumpal di dada. Menyiapkan hati untuk bercerita tentang rangkaian permasalahannya hari ini. Namun Vera sepertinya kalah oleh luapan emosinya, sepasang netranya kembali mengembun siap untuk menangis.


"Arthur.. Hiks!" kalimatnya tercekat di tenggorokan akibat bayangan ingatan Arthur bersama anak kecil dan wanita hamil yang dilihatnya tadi kembali berputar-putar di otaknya. "Dia memiliki seorang anak dan istri lain di belakangku," ungkap Vera sesenggukan.


Jangka malam kian terkikis. Allesya memandang sendu muka Vera yang terlena dalam lelap. Setelah menangis cukup lama, si Kakak akhirnya kelelahan dan ketiduran di dalam pelukan sayang si Adik.


Perlahan dan tidak ingin mengganggu kedamaian Vera, wanita itu melepas pelukannya dengan sangat pelan dan hati-hati lalu membawa tubuhnya menuruni ranjang.


Mengingat muka masam si Bayi besar tadi, mendorong tungkai kembali ke kamar pribadinya untuk tetap tidur bersama si Raja hati yang diyakini masih terjaga.


"Kenapa kau kembali?" ketus Sean setelah kembalinya Allesya ke dalam kamar. Lanjut berkutat dengan iPadnya dengan posisi bersadar pada headboard.


Atensi yang semula terpaut pada benda pipih di tangan seketika beralih kepada Allesya yang sudah duduk di atas pangkuannya seraya menggelayut manja pada lehernya. "Uhh.. ternyata bayi besarku ini sedang marah ya?" goda Allesya, tersenyu nakal.

__ADS_1


"Aku bukan bayi besar, Allesya?" sungutnya.


"Kau itu bayi besar yang setiap saat meminta susuku," Allesya terkikik.


Buruknya suasana hati Sean seketika menguap begitu saja karena candaan meluncur dari bibir mungil Allesya.


"Kau tahu, aku susah tidur jika tidak memelukmu."


"Iya, aku tahu. Makanya aku tetap kemari bukan? Aku juga sama denganmu. Susah tidur jika tak memelukmu, Kak Sean."


"Dasar nakal."


"Tapi kau suka -kan?"


CUP!


Menyapu bibir tipis itu dengan bibirnya ranumnya. Mel*mat sekilas dan mengehentikannya.


"Kak Sean tadi sedang mengerjakan apa?"


Sean memutar tubuh Allesya yang masih duduk di atas pangkuannya untuk memunggunginya. Mengambil benda pipih besar yang terkulai di atas ranjang dan ditunjukkan ke istri kecilnya.


"Tadi aku sedang menghitung kekayaanku," memperlihatkan kurva pendapatan perusahaan yang tertera di dalam iPad.


"Waah..! Suamiku ternyata sangat kaya. Uangmu sangat banyak dan tidak akan habis hingga tujuh keturunan," Allesya berdecak kagum.


Mendengus geli dan memberi kecupan di leher Allesya. "Apa kau senang?"


"Tentu saja aku senang. Setidaknya aku tidak akan mati kelaparan," celetuk Allesya. "Apa Kak Sean tidak ingin menyumbang sebagian kekayaanmu?" imbuhnya lagi.


"Asal kau tahu, ada banyak lembaga pendidikan yang dinaungi oleh Willson Corp. Setiap bulannya perusahaanku mendonatur sebagian pendapatan untuk mereka," terang sean yang kian membuat muka terkesima Allesya terpancar sempurna.


"Aku sangat bangga kepadamu, Kak Sean. Kau patut mendapatkan penghargaan."


"Kalau begitu beri aku penghargaan itu sekarang, di sini, di atas ranjang, melanjutkan kegiatan kita tadi yang sempat tertunda," bisik Sean, kedua tangan sudah bermain pada gundukan kembar.


"Hmmp.. Kak Sean... aah..!"





Bersambung~~


Terima kasih masih setia nyimak kisah Sean dan Allesya..


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya..

__ADS_1


Vote dan Gift bolehlah disumbangkan juga😆


wo ai nimen😘😘


__ADS_2