
Deru mesin mobil yang melesat, berhenti cepat di sebuah perkarangan rumah bergaya Eropa modern. Kecemasan yang menggebu memaksa kaki untuk bergerak gegas menuruni mobil.
"Kak Sammy? Kak Sean?" lirih Lilly yang kebetulan juga baru sampai. Bergantian mengamati keberadaan kedua pria itu dengan mimik muka bingung. 'Sebenarnya apa yang terjadi?' batinnya.
TOK! TOK! TOK!
CKLEK!
Tidak perlu menunggu lama, hanya beberapa ketukan pintu langsung bersambut oleh pintu yang terbuka lebar disusul munculnya sosok Loye dari balik pintu.
"Di mana Allesya?" tanya Sean tanpa menunggu basa basi berupa tegur sapa dari Loye yang dianggapnya tidak penting.
"D-dia ada di dalam Tuan, tadi dia tiba-tiba pingsan," terangnya seraya memiringkan tubuh sebagai isyarat mempersilahkan tamu tak di undangnya itu masuk.
Sammy yang entah bagaimana ceritanya bisa berada di sana juga ikut masuk. Sementara Lilly melempar muka penuh tanya ke arah Loye, sayangnya pria itu memilih bungkam, enggan memberi jawaban.
"Dia ada di kamar lantai dua," tunjuk Loye kepada Sean yang terlihat mencari keberadaan istrinya.
Kekhawatiran kian menyapu perasaanya saat ia menemukan Allesya yang tengah terbaring di atas ranjang dalam keadaan pingsan.
"Allesya..., kau kenapa?" mengusap cemas muka Allesya yang terlihat layaknya orang tertidur pulas.
Mata diajak menyusuri, memastikan tidak ada satupun bagian dari tubuh wanita kesayangannya itu tergores ataupun terluka. Hingga garis-garis tipis di dahi mulai bermunculan bersamaan sipitan mata penuh selidik. Sebuah kejanggalan yang tertangkap lensa birunya terletak pada kancing kemeja Allesya yang tidak terkunci dengan benar.
Mata menelisik tanpa sengaja menangkap kulit putih leher Allesya yang terlihat basah. Hingga sentuhan pada ujung jari kian meyakinkan diri bahwa itu adalah jejak cairan saliva.
Percaya dengan praduganya yang diyakini 100% akurat, mencetus gemuruh di dada. Sulutan api amarah mulai membakar, mendorong sensasi panas pada mata yang mulai memerah. Gemeretak suara gigi mengerat geram dan tulang ruas jari karena kepalan tangan terlampau erat, seolah menggugah sisi hewan yang berhasrat menerkam mangsa.
"Sean, ada apa?" tanya Sammy yang merasakan gelagat aneh sahabatnya itu, namun tak diindahkan olehnya.
Secepat kilat, kaki mengayun lebar mendekati Loye yang ternyata sudah menegang karena menyadari bahwa kebusukannya mulai tercium. Dengan mudah, satu tangan mencekik leher kurus yang di saat itu pula Loye kesulitan untuk menelan saliva dan bernapas.
BRAK!
"Arrgg..! "
Rintih Loye saat tubuhnya didorong keras hingga membentur rak kayu kamar dan bersamaan dengan itu pula beberapa koleksi buku dewasa terjatuh dan berserakan di lantai.
"Bajingan! Berani-beraninya kau menyentuh wanitaku!" hardik Sean dengan tatapan mata menyalang, kian mengerat cengkeraman di tangannya.
Terlihat Loye tengah berupaya meronta melepaskan diri, meski kepayahan karena kaki yang sudah tak sepenuhnya menapaki lantai.
"L-lepaskan."
Sammy terkejut melihat tindakan tiba-tiba Sean yang terkesan gila. Lilly yang tak kalah terkejut memilih bersembunyi di belakang tubuh besar si Kakak, Sammy. "Kakak, aku takut, Hiks!"
"Tenanglah."
BUG! BUG! BUG!
Beberapa pukulan berlandaskan amarah itu, melesat kuat pada muka Loye, hingga kaca matanya pecah.
__ADS_1
BRAK!
BUG! BUG! BUG!
Melempar tubuhnya hingga tersungkur di lantai. Loye sama sekali tak mampu membalas maupun menangkis. Serangan Sean sungguh tak terelakkan. Tendangan di kepalanya, membuat pandangannya kabur. Bahkan tiada ruang kesempatan bagi pria yang menjadi sasaran kemurkaan Sean itu untuk melarikan diri.
Ketidak relaan wanitanya disentuh oleh tangan kotor pria lain kian membuatnya naik pitam. Muka babak belur yang menuntut belas kasihan di bawahnya nyatanya tak mampu menyurutkan kobaran api kemarahannya.
"Sean cukup! Kau bisa membunuhnya!" Sammy mencoba menghentikan Sean saat muka Loye sudah memerah karena cekikan di lehernya.
Sean yang sudah gelap mata seolah tuli. Keberangan yang tak terkendali, menyokong kekuatan untuk mencekiknya lebih erat.
"Sean! Hentikan kegilaanmu itu, dia hampir mati!" Sammy menarik kuat tubuh Sean hingga tangan tak lagi mampu menjangkau Loye yang hampir tak bernyawa karena kehabisan oksigen.
UHUK! UHUK! UHUK!
Dengan sangat rakus, Loye meraup udara sebanyak mungkin, mengisi kembali ruang kosong pada kantong paru-parunya.
Belum puas Sean kembali mendekati tubuh terkapar Loye dengan muka garangnya.
"Sean, mau apa lagi kau?" Sammy mencoba menghentikan langkahnya, namun sebuah tampikan tangan sebagai jawaban Sean.
Sean membawa tangannya menyusuri semua saku di tubuh Loye yang memasrah. Hingga sesuatu yang dicari sudah berada di tangannya.
"Katakan berapa paswordnya," titah Sean kepada Loye namun gelengan lemah yang diterima. "Cepat katakan!" desaknya kembali. Kini dengan sebuah bentakan yang menggema menyapu langit ruangan.
"03032003," jawab Loye pasrah.
Sekali lagi, kemurkaan suami Allesya itu kembali membuncah ketika menemukan sebuah rekaman video berdurasi singkat yang menayangkan Loye menjamah tubuh Allesya yang sedang pingsan. Namun di dalam rekaman tersebut terlihat Loye belum sempat melanjutkan aksinya lebih jauh karena kemungkinan kalah cepat dengan kedatangan Sean.
BRAK!
Dalam satu kali bantingan, benda pipih berlogo apel tidak utuh itu hancur berkeping-keping, berserakan di lantai.
"Bajingan kau!"
BUG!
"Aargg..!"
Loye kembali meraung kesakitan ketika satu injakan mendarat di batangnya.
"Cukup Sean!" sergah Sammy, mencegah Sean yang hendak menghajar Loye kembali. "Sebaiknya kau bawa pergi Allesya dari sini. Bajingan ini serahkan kepadaku."
Nama Allesya yang terucap dari bibir Sammy, sontak mengembalikan kesadaran Sean yang semula dikuasai kabut amarah. "Baiklah," dengan gagah, Sean mengangkat tubuh Allesya dan membawanya pergi.
"Sebaiknya kita apakan dia?" tanya Sammy kepada Lilly, ternyata sudah terlihat lebih tenang jika dibandingkan dengan beberapa saat yang lalu yang terkesan takut.
Lilly mengeluarkan gunting dari dalam tasnya. "Kita potong saja belut listriknya, cincang-cincang lalu dikasih makan anjing liar. Jangan lupa, telanjangi dia dan melemparnya ke sungai amazon biar menjadi santapan piranha."
Sammy seketika bergidik, tidak menyangka sang Adik yang terlihat lemah itu mempunyai jiwa psikopat yang terpendam selama ini.
°°°
__ADS_1
"Kak Sean maaf, aku tidak bermaksud membohongimu."
Setalah sadar dari pingsannya satu jam yang lalu, sudah banyak kata maaf yang terucap dari bibir mungil Allesya.
"Sudahlah, sebaiknya kau beristirahat. Aku akan pergi sekarang," tutur Sean.
Kendati rangkaian kalimat yang terucap terdengar hangat dan penuh perhatian namun tak selaras dengan sikap Sean yang terkesan dingin. Kecewa memang masih menaungi dirinya saat ini. Hatinya terus meraung tidak terima dan sangat tidak rela saat mengingat Loye menjamah tubuh istrinya.
Kalau boleh, rasanya ingin sekali ia mengguyur tubuh Allesya di bawah shower, guna menghapus jejak sentuhan kotor Loye di tubuhnya.
"Kak Sean, jangan pergi," memeluk tubuh Sean dari belakang. "Aku benar-benar tidak berniat membohongimu," terangnya kembali.
"Tapi kebenarannya, kau sudah berbohong Allesya," Sean merasakan sebuah gelengan kepala menggesek punggung lebarnya, mengerti bahwa Allesya berniat membantah ucapannya.
"Aku hanya tidak ingin kau cemas jika tahu aku mengerjakan tugas kelompok di rumah Loye."
"Dan akhirnya, kau tetap membuatku cemas," melepas lilitan tangan yang melingkari perutnya. Lanjut memutar tubuh menghadap Allesya. Melayang pandangan dengan tatapan yang sulit diartikan langsung oleh wanita di depannya.
"Kak Sean benar-benar kecewa kepadaku?"
"Aku yakin kau sudah tahu jawabannya."
"Maaf," tertunduk penuh sesal.
Helaan napas panjang terdengar dari bibir Sean. Menenangkan diri dari sisa-sisa abu amarah yang sempat terbakar.
"Aku sangat kecewa kepadamu Allesya. Andai kau mau mendengar ucapanku, hal buruk seperti tadi tidak akan menimpamu. Kau bahkan memilih berdebat denganku demi membela pria bajingan itu. Bayangkan bagaimana jadinya jika aku datang terlambat sedikit saja. Kau pasti sudah, ahh.. sudahlah. Aku memang belum pantas menjadi suami yang baik untukmu, jadi wajar saja jika kau tidak bisa menghargaiku."
"Maaf," sekali lagi, hanya satu kata maaf yang mampu terlisan dari bibir mungil Allesya.
Tersenyum masam. "Kau tidak perlu minta maaf. Anggap saja ini salah satu bentuk hukuman untuk pendosa sepertiku karena telah menyakitimu waktu itu," putaran pada tumit membawanya melangkah pergi meninggalkan Allesya yang terdiam dengan muka terbingkai oleh air mata.
"Kak Sean kau mau kemana? Kau bahkan tidak memelukku seharian. Hiks!"
❣
❣
❣
Bersambung~~
Nofi mohon banget ma kalian, kalau tidak suka dengan alur cerita ini jangan menurunkan rate, cukup tinggalkan saja cerita ini. Untung Rateku bisa naik dengan cepat.
Tau nggak sih, pekerjaanku itu sebagai TKW di Taiwan. bekerja dari subuh, selesai kerja jam 10.30 malam. Bisa bayangin kan gimana capeknya aku? Tapi, aku masih usahain untuk nulis, meski mata dah lengket kayak dilem.
Dibela-belain tidur hampir jam satu dini hari setiap hari hanya untuk up bab, eh ada tangan julid yang nurunin Rate. Kecewa banget aku.
Hadeh. sayang aku lupa mengscreenshot untuk nunjukin ke kalian. Dan skrg alhamdulih dah naik 4,8 yang tadinya cuma 4.2.
Terima kasih ya masih setia nyimak ceritaku.
bye bye🥰🥰
__ADS_1