
"Sayang, jaga diri ya di sana? Patuhi suamimu. Mommy pasti akan sangat merindukanmu," tutur Raffaela kepada Allesya, si Putri Bungsu.
Tak mampu menangkis, bagaimanapun perasaan sedih juga ada. Mengingat akan kembali berpisah dengan sang Putri yang dulu sempat menghilang selama 17 tahun, menuntun titik-titik embun menggenangi netranya.
Dikecupnya berkali-kali muka cantik Allesya. Meluapkan segala kasih sayang seorang ibu untuk putrinya.
"Mommy, Seanie pasti akan sangat merindukanmu, jaga kesehatan selalu ya," tidak berbeda dengan Raffaela, Allesya pun merasakan hal yang sama. Terlintas juga suatu ketidak relaan untuk berpisah dengan kedua orang tuanya, namun sebuah ikatan janji pernikahan memang mewajibkan dia untuk ikut bersama suami.
Raffaela mengurai pelukkannya, berusaha membingkai mukanya yang basah dengan senyuman. "Cepat temui Daddymu," menggeser tubuh ke samping, manampakkan Raffaresh yang sedari tadi berdiri di belakangnya, membawa muka tegasnya, percayalah itu hanyalah sebuah kamuflase dari kesedihan.
Sebenarnya jika dibandingkan dengan Raffaela, justru Raffaresh lah yang paling tak rela berpisah dengan putrinya. Rasanya belum puas ia melerai kerinduan bersama Allesya yang sudah tertanam selama 17 tahun perpisahan.
Allesya berhamburan ke pelukan sang Daddy yang langsung menerima balasan hangat. "Daddy, Seanie juga pasti akan sangat merindukanmu."
Sebesar apapun kesedihan yang terbendung di dalam hati, air mata tak dibiarkan membasahi muka tampannya. Sedari tadi ia lebih banyak diam. Emang hakikatnya seorang ayah memang tidak pandai untuk menangis.
"Iya sayang, Daddy juga akan sangat merindukanmu," suaranya terdengar beratnya. "Bilang ke Daddy, jika anak berandalan itu kembali menyakitimu ya. Biar Daddy kasih pelajaran ke dia," ucapannya membuat Sean yang juga berada di sana berdecak tersinggung.
"Daddy seperti tidak pernah melakukan kesalahan saja, bahkan Daddy dulu lebih parah dari pada aku," sindir Sean terang-terangan, mengungkit kesalahan masa lalu sang Ayah mertua.
Sindiran Sean sukses menarik kerutan di dahi Raffaresh. Muka penuh tanya juga terlihat jelas. Lantas ia menoleh ke arah Raffaela yang terlihat tengah mengulum bibir untuk menahan tawa. "Sayang, kaukah yang memberi tahunya?"
Sementara Allesya tampak bingung, lagi-lagi dia berada di posisi yang tidak mengerti apa-apa.
"Maaf, putra angkatmu itu terlalu pintar merayuku, hingga aku kelepasan," sahutnya. Meski kata maaf yang terlontar namun gurat penyesalan di mukanya sama sekali tak tertera.
"Raffaela..., bersiaplah menerima hukumanmu nanti malam," batin Raffaresh.
Waktu untuk saling mengucapkan kata perpisahan dirasa cukup. Sean dan Allesya sudah berada di dalam mobil yang akan mengantar mereka ke bandara Paris-Charles De Gaulle.
Raffaela mengiringi kepergian mereka dengan lambaian tangan dan senyuman yang terus mengulas hingga badan mobil yang membawa Sean dan Allesya hilang dari pandangan.
"Setelah ini rumah kita pasti kembali sepi. Vera memilih membangun bisnis di London dan begitu juga Seanie yang harus ikut suaminya," kesah Raffaela.
"Haruskah kita membuatkan mereka adik? Satu atau dua lagi kurasa cukup meramaikan kembali rumah kita."
"Jangan bercanda kau Faresh."
°°°
Di ruang perawatan Rumah Sakit. Erlan tampak berkali-kali menghela napas, mengusir perasaan tak nyaman di dada.
Beberapa saat yang lalu, Allesya sempat berpamitan dengannya melalui via telepon. Meski upaya menanam sebuah keihklasan di dalam hati itu masih berlaku namun bukan berarti puing-puing rasa cintanya dapat sirna begitu saja.
"Erlan, biarkan aku pergi sebentar," pinta Emily, berharap Erlan melepas tangannya yang sedari tadi berada di dalam kungkungan jari-jarinya.
Mendilema, itulah yang sedang melanda Erlan. Ia masih mencintai Allesya namun di sela hatinya yang lain mulai tumbuh suatu rasa istimewa untuk Emily, sahabat kecilnya. Dan dia sangat paham perasaan apa itu.
"Emily, maaf jika aku terkesan egois. Maukah kau membantuku melupakan Seanie?" menatap lekat muka wanita yang duduk di sebelahnya.
Sayatan luka di hati menorehkah keperihan teramat dalam. "Apa kau ingin menjadikanku sebagai tempat pelarianmu?" suara Emily bergetar, sebisa mungkin menekan sesuatu yang hampir luruh dari netra.
"Bukan seperti itu Emily," Erlan kian mengeratkan cengkeraman di tangan Emily, cemas jika tiba-tiba wanita itu pergi sebelum pengutaraan isi hatinya selesai.
"Lantas?"
"Aku sepertinya tengah mencintai dua wanita," Kepala Emily mendadak terasa berat. Pengakuan Erlan kian menyiksa perasaannya.
__ADS_1
"Kau menyakitiku Elran," sesuatu yang sudah terbendung akhirnya jebol juga karena tak kuasa menahan lebih lama gejolak batin yang terus mengobrak abrik jiwa.
Tak tega melihat wanita di depannya menangis, tangannya terulur, menarik tubuh Emily ke dalam dekapannya. "Emily maafkan aku."
"Siapa wanita selain Seanie yang kau cintai itu Erlan?"
"Kau."
Tertegun dan tak percaya dirangkumnya menjadi satu. Mendorong lembut tubuh Erlan demi menjangkau pandang muka tampan di depannya, kedua matanya bergerak, menilik seksama garis-garis kesungguhan yang tersuguh di sana. "Erlan...?" lirihnya menuntut kejelasan lebih.
Helaan terdengar dari bibir Elran yang tak lagi terlihat pucat. "Mencintai dua hati bukanlah sesuatu yang baik Emily. Aku ingin hanya satu wanita yang menempati hatiku. Tolong bantu aku."
"Itu sama saja kau menjadikanku tempat pelarian Erlan."
"Itu berbeda Emily karena aku memiliki perasaan lebih kepadamu."
"Hiks! Aku tidak tahu, haruskah aku bersedih atau berbahagia saat ini, Erlan," Emily kian terisak.
Kedua tangan diajak menangkup muka cantik Emily, menuntun mata untuk saling berbalas. Menyalurkan perasaan
"Maafkan aku Emily, maaf. Aku memang pria egois dan serakah. Maafkan aku."
"Hiks! Aku harus bagaimana Erlan?"
"Menikahlah denganku."
°°°
London, kota indah yang menyimpan sepenggal kisah pahit bagi Allesya. Raut suram terus mengiringi perjalanannya menuju kediaman. Remasan tangan pada ujung baju sebagai isyarat akan luka lama yang kembali mendera.
Kendati sebuah tangan kekar Sean tak hentinya memberi ketenangan dalam bentuk rengkuhan hangat lengkap dengan usapan lembut, kegundahan itu tak semerta-merta pergi begitu saja.
Berat helaan napas sebagai wujud upayanya mensusgestikan diri sendiri bahwa semua akan baik-baik saja, kelamnya masa lalu tidak akan kembali. Namun apalah daya Allesya yang hanya memiliki satu hati penyimpan luka. Nyatanya tak semudah itu melupakan rasa pahitnya empedu yang melekat pada permukaan lidah.
Tak kuasa melihat lebih lama muka sedih Allesya yang hampir menangis, ditariknya tubuh mungil itu kedalam dekapan hangatnya.
"Allesya maafkan aku," sesalnya sungguh dari hati, tahu penyebab kemuraman wanitanya.
"Tak seharusnya aku membawamu ke sini. Tunggulah sebentar, aku akan membeli apartemen baru untukmu. Atau jika kau ingin sebuah mansion, aku bisa mencarinya untukmu sekarang ini juga," lanjut Sean, mencoba melakukan sesuatu yang bisa menenangkan hati Allesya.
Melerai lilitan tangan Sean, menengadahkan muka, memudahkan mata menjangkau pandangan Sean. "Tidak perlu, aku hanya perlu sedikit waktu saja agar terbiasa. Lagian mansion terlalu besar untuk ditinggali kita berdua."
"Kau sungguh tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa. Sebaiknya aku menyiapkan air mandi hangat untukmu dulu," tak ingin terlalu lama hanyut dalam goresan luka kenangan lama, Allesya segera mengakhirnya percakapan dengan berjalan menuju kamar mandi.
°°°
Bentangan langit sudah sangat gelap, suasana sunyi mulai menyelimuti, pertanda malam kian larut. Sean yang sedari tadi berjibaku dengan berkas-berkas kerjanya memilih menyudahi kegiatannya. Menata rapi segala rupa yang baru saja ditekuninya sebelum menuju ke ranjang super empuk tempat Allesya terjaga.
"Kenapa kau belum tidur, Allesya? Ini sudah malam," tanya Sean setelah menenggelamkan tubuhnya ke dalam satu selimut yang sama dengan Allesya.
"Entahlah, mataku masih sulit dipejamkan."
Senyuman hangat mengulas bibirnya, lalu membawa tubuhnya sedikit mengukung tubuh terlentang Allesya. Di usirnya anak rambut yang menghalangi pandang ke muka cantik di bawahnya.
"Haruskan kita melakukan sesuatu agar kau bisa tertidur?"
Allesya seketika menegang. "Melakukan apa?"
__ADS_1
"Seperti ini misalnya," mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir ranum Allesya.
"Kak Sean..," lirihnya tersipu, tak mampu berkata lebih.
"Iya sayang."
"Aku..."
"Ssstt... aku akan mengajarimu bagaimana caranya berciuman malam ini," memainkan ibu jarinya pada permukaan bibir yang menyandukan milik Allesya.
"Coba katakan aaaa..." bagaikan seorang tentor profesional, Sean memulai instruksi. "Ayo sayang, katakan aaaa....," kediaman Allesya membuatnya mengulangi instruksi.
"Aaaa...," Allesya mematuhi.
"Pintar, ucapkan sekali lagi."
"Aaaa... hmp..."
Sean langsung mel*mat bibir Allesya yang sudah terbuka, memudahkan lidah untuk langsung bermain ke dalam rongga mulut itu.
Menjeda permainan lidahnya. "Di sini, sesap bagian ini," Sean menuntun Allesya dengan menunjuk bagian bibir bawahnya.
"Aku tidak bisa," lirihnya, lagi-lagi tersipu malu. Semakin ke sini sudah tidak ada bedanya antara Allesya dengan tumbuhan putri malu.
Sean mendengus geli. Sungguh kepolosan Allesya membuatnya gemas. "Kau tinggal membayangkan sedang mel*mat ice cream."
Bergerak ragu, ia melakukan sesuai dengan perintah Sean. Mel*mat bibir bawah kissable itu dan langsung diimbangi oleh Sean.
Terjadilah sebuah pergulatan bibir dan lidah yang saling bertautan, hingga suhu panas merembah ke dalam desiran darah kedua insan tersebut.
Hasrat yang sudah memuncak di ubun-ubun, membawa tangan menjelajahi bagian-bagian sensitif tubuh Allesya. Dua buah peach kenyal menjadi tempat lidah Sean bermuara berikutnya. Memainkan bergantian ujung peach yamg sudah menegang.
Tiada penolakan dari Allesya, justru des*ahan demi des*han yang diterima. Terdengar sangat seksi, membangkit sesuatu yang tertidur di bawah sana. Berdiri tegak dan mengeras seperti batang pohon.
"Ahh.. Kak Sean.."
Suara cecapan dan hisapan lidah turut mengiringi des*han nikmat yang terus mengalun merdu. Sean terus bertindak nakal namun diimbangi dengan kelembutan.
"Ahk! Kak Sean jangan!" Allesya sedikit memekik, menghentikan tangan Sean yang mulai bermain di organ kewanitaannya. "Aku belum siap," mukanya tampak cemas.
Sekali lagi Sean harus kembali pasrah, menganggurkan pistolnya yang sudah siap menembakkan peluru. jujur, hatinya tengah mengerang frutrasi saat ini. Membayangkan ia akan kembali terjaga sepanjang malam karena hasrat tak terlampiaskan.
❣
❣
❣
Bersambung~~
Poor si Sean😆
Maaf jika banyak typo, ini tadi sempat ketiduran padahal masih dalam keadaan ngetik cerita. Jadi upnya sedikit telat kali ini.
Yuhuuu.. udah hari senin lagi nih, boleh dong menyumbang vote gratis mingguannya untuk karyaku ini🥰
Terima kasih atas segala dukungan kalian. Karya ini hidup karena kalian.. iya , kalian yang selalu setia menyimak alur cerita ini dengan senang hati.
lope lope yuuu... super guede..😘😘**
__ADS_1