Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 117


__ADS_3


...……EPISODE TERAKHIR……...


Allesya melangkah cepat, mendekati Jesslyn yang dari kejauhan terlihat berada di dalam pelukan si Kakak kembarnya, Jaeden. Terlihat juga Jeffrey dan Jenny sedang berupaya mencairkan suasana.


"Heh! Gadis manja! Aku yang terluka tapi kenapa kau yang menangis?!" sentak Jeaven kepada Jesslyn.


"Itu karena Kak Jeav terluka karena Jesslyn. Hiks! Hiks!" gadis kecil itu kian tergugu.


Jaeden yang merasa iba kepada saudara kembarnya, tampak berupaya menenangkan si Adik dengan mengusap sabar punggung yang bergoncang karena menangis. "Tenanglah, Jess," ucapnya.


"Ini hanya luka kecil, jadi nggak usah berlebihan," ketus Jeaven.


"Tapi Kak Jeav, kau berdarah. Hiks! Hiks!"


"Berhentilah menangis, kau sangat berisik!"


"Jeaven, bisakah kau bersikap lembut sedikit kepada Jesslyn? Dia lebih muda darimu," tutur Jenny berusaha melimpahkan kesabaran yang tersisa.


"Tapi dia sangat menyebalkan Mom."


"Jeaven ...!" Jenny mulai gemas bercampur geregetan.


"Kak Jenn, apa yang terjadi?" terdengar Allesya yang baru saja datang bersama Sean.


Sementara Sean gegas mendekati Jesslyn. "Sayang, kenapa kau menangis?" ia berjongkok di depan sang Putri kecilnya.


"Daddy...." gadis kecil itu langsung berhamburan ke dalam pelukan sang Daddy yang sudah berjongkok di depannya. "Kak Jeaven terluka karena Jesslyn. Tadi Jesslyn tidak sengaja membuat Kak Jeaven terjatuh dan tangannya terkena pecahan cangkang kerang. Hiks!" Hiks!" ia mengadu sambil sesenggukkan.


Sean mengulas senyum begitu juga dengan Allesya. "Rupa-rupanya, putri Daddy ini menangis karena merasa bersalah ya?" Gadis kecil itu mengangguk pelan sebentuk jawaban dari pertanyaan sang Daddy tampannya. "Apa kau sudah minta maaf?" tanyanya kembali.


"Sudah, Daddy."


"Pintar."


Kini ganti Allesya yang mendekati Jeaven, bergerak lembut memeriksa luka gores yang tergambar di siku bocah kutub itu. "Jeaven sayang, maaf ya karena putriku kau terluka. Sekarang biarkan Tante mengobati lukamu ya."


"Ini hanya luka kecil. Terima Kasih," tolak bocah yang memiliki paras sebelas dua belas dengan Jeffrey itu beranjak dari atas pasir. Mengibas pasir yang mengotori pantatnya. "Ini bukan masalah, yang jadi masalah justru si Gadis manja itu. Berisik sekali," ketusnya tertuju kepada Jesslyn.


Allesya dan Sean sama sekali tidak tersinggung dengan perkataan Jeaven. Mereka selalu mencoba untuk memaklumi karakter dingin putra semata wayang dari Jeffrey dan Jenny itu. Dan juga sadar diri, bahwa putri mereka memang sering membuat ulah.


"Jeaven, tolong jaga perkataanmu," Jenny mengingatkan sang Putra yang memiliki sifat terlampau dingin itu. Persis dengan Daddynya, bahkan muka mereka seperti foto kopian. Layaknya peribahasa yang mengatakan 'buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.' begitulah potret dari kedua anak manusia berbeda generasi itu.


"Aku memang berkata yang sebenarnya Mom," Jeaven yang mulai jengah mencoba membela diri.


"Pokoknya Mommy tidak mau tahu, sekarang kau harus meminta maaf kepada Jesslyn dan lakukan sesuatu agar dia berhenti menangis. Kalau tidak, Mommy akan melarangmu bermain di sirkuit balap motor," ancam Jenny yang mulai geram.


"Inilah sebabnya aku tidak menyukai anak perempuan. Mereka semua sungguh merepotkan," gerutu bocah tampan itu lalu menggiring ekspresi dinginnya ke arah Jesslyn. "Aku tidak akan meminta maaf kepadamu karena aku tidak salah. Apa yang harus aku lakukan agar berhenti menangis, gadis manja?"


Jesslyn mengurai pelukannya dengan sang Daddy, perlahan dia berpindah, memeluk tubuh Jeaven. "Jesslyn ingin Kak Jeaven menjadi suamiku."

__ADS_1


°°°


Sang Surya telah menggilir peran kepada sang Dewi Malam. Kelamnya langit malam tak lagi bersuram durja karena ditemani taburan jutaan intan berlian yang berkerlap-kerlip. Semua orang sudah terlena di atas peraduan yang tersedia di sebuah vila dekat pantai. Sebuah vila mewah dari Sean yang dulu dijadikan kado ulang tahun untuk Allesya.


Sepasang netra cantik mamandang teduh kedua muka polos Jaeden dan Jesslyn yang sudah terlelap mengarung samudra mimpi. Seiring dengan ingatan masa lalu yang tiba-tiba bertamu.


"Allesya, aku mencarimu ternyata kau berada di kamar anak-anak." Sean langsung memeluk tubuh ramping istrinya dari belakang. "Ini sudah malam, waktunya istirahat," tuturnya.


"Aku masih ingin memandang muka putra dan putri kita, Kak Sean. Coba kau lihat muka mereka yang terlihat damai, sungguh menyenangkan," ucap Allesya.


"Aku merasakan hal yang sama denganmu," ia meletakkan dagunya di ceruk leher istrinya, lalu melayang pandangan ke muka si Kembar. Merasakan sesuatu yang hangat menjalari hatinya.


"Kak Sean, aku tiba-tiba merindukan Nenek Fanne. Dulu aku selalu bermimpi untuk membuatnya bahagia dengan melihatku berdiri di atas altar pernikahan dan memberinya banyak cucu," suara Allesya sesaat tercekat di tenggorokan karena rasa sesak yang mendadak singgah di rongga dada. "Namun sayang, Nenek harus pergi ke surga lebih cepat sebelum mewujudkan impianku itu," tambahnya.


"Percayalah dia sekarang sudah bahagia di surga, Allesya."


"Iya, Kak."


"Apa kau bahagia dengan kehidupanmu sekarang?"


"Sangat. Kehadiran Kak Sean dan si Kembar, sungguh merupakan kebahagiaan tak terbatas bagiku."


"Begitu juga aku, Allesya. Aku sangat bahagia karena bisa memilikimu dan anak-anak."


"Aku mencintaimu, Kak Sean."


"Aku jauh lebih mencintaimu."


"Karena aku merasakan jatuh cinta kepadamu setiap hari."


Allesya menengadahkan mukanya, menatap seksama muka tampan yang kini berjambang tipis itu. "Aku merasa telah menjadi wanita paling bahagia di dunia."


Merengkuh hangat tubuh sang Istri, melabuhkan kecupan cinta di pucuk kepalanya. "Aku sampai bingung, bagaimana caraku menjabarkan perasaanku ini. Getarannya sunggup menakjubkan."


"Itu tidak perlu, karena aku bisa merasakannya. Itu Sungguh menyenangkan. Aku sangat sangat bahagia."


"Dan percayalah, Allesya. Nenekmu sedang tersenyum seksrang karena melihat cucu kesayangannya bahagia."


"Benarkah?"


"Kau harus mempercayai apa yang sekiranya baik."


"Kau benar, Kak Sean."


"Ya sudah, sebaiknya kita kembali ke kamar."


"Ya, kita harus segera beristirahat."


"Tentu saja, tapi setelah aku mendapatkan sesuatu yang sempat tertunda tadi sore."


"Ahhk! Kak Sean!" pekik Allesya karena Sean tiba-tiba menggendongnya ala bridal style.

__ADS_1


"Sudah saatnya kita memberi si Kembar seorang adik."


Ya Tuhan, aku mohon kirimkanlah seorang malaikat penolong untuknya. Dia gadis yang baik, berikanlah kebahagiaan yang melimpah untuknya. Aku sangat menyayanginya


Tanpa Allesya ketahui, inilah doa Nenek Fanne di penghujung napas terakhirnya kala itu. Sebuah doa syarat akan ketulusan dan penuh kasih. Sebuah doa yang didengar oleh Sang Maha Pendengar. Dan dengan cinta pula Sang Agung mengangkat tangannya, mengabulkan untaian doa yang terlisan indah untuk Allesya dengan menghadirkan sosok Sean sebagai pendamping serta sebagai teman hidup, menapaki jalan menuju usia senja. Saling memadu cinta hingga akhir usia. Semoga saja.


Percayalah, Tuhan memberi pelangi setelah hujan badai topan. Memberi rasa manis setelah menelan pahitnya kehidupan. Menyisakan kenangan kelam, bersambut lembaran baru penuh harapan.


Setiap jalan kehidupan sudah tertulis di buku takdir. Dan di setiap halaman memiliki kisahnya tersendiri. Oleh karena itu, manusia sebagai insan harus menjalani takdir tersebut, wajib bersyukur saat nasib baik, dan bersabar saat nasib buruk.


The Love Story Of Sean And Allesya.


...……TAMAT……...


~Sean Willson~



~Allesya Seanie Willson~



~Jeffrey Allison~



~Jenny Allison~



~Sammy~



~Alvin~



~Vera~



~Arthur~



~Erlan~



~Emily~

__ADS_1



__ADS_2