Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 70


__ADS_3


"Kalau mau berperang mulut jangan di sini! Di lapangan sana!" sentak Sammy berlagak super galak seperti preman pasar padahal aslinya lembek seperti kotoran hidung setengah kering setengah basah.


Njir..! Ni Author jorok parah!!


Dan tak disangka, dengan tampang bodohnya Becca dan Oliv serentak beranjak dari sofa empuk lanjut menggeser kaki menuju pintu keluar.


"Eeiitt! Kalian mau kemana?!" hardik Sammy, menghalau keduanya untuk pergi.


"K-kami m-mau m-melanjutkan p-perang m-mulut d-di l-lapangan T-tuan," jawab Becca yang mendadak terserang penyakit gagap karena ketakutan.


"I-iya T-tuan, i-ijin k-kan k-kami k-keluar," Sahut Oliv yang latah ikut-ikutan gagap.


"Siapa yang menyuruh kalian keluar?!" bentak Sammy lantang.


Beruntung dinding ruangan yang mereka tempati terpasang alat pengedap suara. Jadi suara kegaduhan yang tercipta takkan terdengar dari luar.


"T-tuan t-tadi y-yang m-menyuruh," jawab Becca.


Sammy seketika tercengang. Ternyata ada yang lebih bodoh darinya, begitu batinya.


Sementara Alvin, rasa-rasanya ingin sekali ia menancapkan gigi-giginya di ubun-ubun Sammy sangking gemasnya melihat kebodohan Sammy yang seolah tak lekang oleh waktu.


Sedangkan Jeffrey masih setia dengan ponselnya dan hanya sesekali melirik ke arah Sammy karena terkejut.


"Kalian cepat kembali duduk," kini ganti Alvin yang menitah.


Layaknya kerbau yang dicocok hidungnya, Becca dan Oliv langsung patuh dan kembali duduk.


"Akui sendiri perbuatan kalian atau memilih pisau ini yang berbicara. ATAU!" ancaman Alvin terjeda diujung penekanan nada tingginya. "Ingin muka kalian bernasib sama dengan dia?!" lanjutnya setelah membuka masker yang dikenakan Sammy, hingga menampilkan muka bengkak yang sudah tak menyerupai manusia umumnya.


Jelas kedua wanita itu seketika tercekat seraya memaksa menelan salivanya yang terasa sangat berat.


Apa yang terjadi dengan Sammy? Terus terang, di dalam hati ia langsung bersumpah serapah, mengabsen satu persatu nama penghuni kebun binatang. Malu sekali.


Sementara Alvin diam-diam mati-matian menahan tawa yang hampir saja tersembur karena melihat ekspresi muka Sammy yang mendadak idiot.


Dan Jeffrey? Jangan ditanya, suasana hatinya sedang sangat buruk karena Jenny masih terus mengirim pesan dilengkapi emotikon mengamuk.


"Apa kalian tahu siapa orang yang membuat mukanya seperti itu?" Alvin menodong ujung pisau ke arah muka Sammy.


"Bangs*t!" lagi-lagi batin Sammy mengumpat karena tegang di kala jarak ujung pisau dengan hidungnya hanya tersisa beberapa inci saja.


Becca dan Oliv mengangguk patah-patah karena rasa penasaran bercampur gugup.


Alvin menyeringai tajam. Suaranya bahkan menggema sampai memenuhi langit-langit ruangan. Membuat suasana semakin mencekam.

__ADS_1


"Kau liat orang itu?" ujung pisaunya berpindah ke arah Jeffrey yang masih berkutat dengan ponselnya, tak menghiraukan kedua sahabatnya yang tengah mendalami peran secara totalitas. Menjadikan dirinya sebagai objek untuk menakut-nakuti kedua wanita itu. "Dia si Psikopat tampan yang tak segan-segan meremukkan muka orang," Alvin kembali menyeringai dalam.


BRAK!


Dan untuk kesekian kali, Sammy mengambil kembali perannya dengan menggebrak meja agar suasana semakin mendramatis. "Aku hanya mencuri kentang goreng miliknya, dia langsung marah dan mukaku dibuat seperti ini," timpalnya menakuti.


"Dia juga beberapa kali menyantap ayam kalkun hidup-hidup dengan cara mencabut sadis bulu-bulu ekornya dan memulai eksekusi dari pantatnya," sambung Sammy memasang muka horor diikuti mata melotot seperti bola pimpong.


"Jadi jangan sekali-kali memancing emosinya. Jadi cepatlah mengaku!" desak Alvin.


"Cepat mengaku! Apa kalian tidak lihat mukanya sudah memerah sekarang?" Sammy memanfaatkan mimik muka Jeffrey yang kebetulan tampak frustrasi karena sang Istri masih saja marah-marah melalui pesan singkatnya sebab Jeffrey pergi ke Paris tanpa berpamitan terlebih dahulu.


"T-tapi kami tidak melakukan apa-apa," kilah Becca.


"I-iya sumpah kami tidak berbohong," Oliv juga masih berusaha mengelak.


"Tolong percayalah kepada kami."


"Iya Tuan, mana mungkin kami berani melakukan tindakan sekejam itu."


"Kami adalah orang baik, jadi kami tak kan tega mencelakai Seanie."


Becca dan Oliv saling bergantian melontarkan kalimat pembelaan diri. Mengesampingkan kebenaran dengan terus menutupi segala kebusukan mereka. Sekilas mereka sempat melupakan ketakutan yang melanda.


"Mulut kalian itu terlalu berisik!" suara gertakan dingin seketika membungkam kedua mulut kedua wanita tersebut.


"Apa kalian pikir semua ucapan mereka tadi hanya bualan saja?" nadanya rendah tapi dalam. Sebuah kalimat tanya namun tersirat akan ancaman.


Becca dan Oliv masih membatu.


Menumpu kedua sikunya di atas paha yang terbuka sembari melempar tatapan tajam mengintimidasi. "Sekarang kalian pilih, akui perbuatan kalian sekarang atau pisau itu melayang," Jeffrey memberi pilihan yang sama seperti Sammy dan Alvin berikan sebelumnya. Bedanya, tidak ada suara bentakan yang menggatalkan telinga maupun gebrakan meja yang mengejutkan. Jauh dari kata berisik.


"Dia yang melakukannya," suara yang terdengar bergetar keluar dari mulut Olivia. Dsusul tangan yang diajak menunjuk ke arah Becca. "Dia yang mendorong Seanie waktu itu," akunya.


Becca seketika terperangah. Namun gegas ia membela diri karena tidak ingin disalahkan sendirian. "Hei! Tapi kau yang mengunci pintu kamar mandinya waktu itu!"


"Itu karena kau yang memintanya! Dan kau mengancamku akan membuatku di drop out dari kampus jika tidak mematuhimu," bantah Oliv lalu mengalih pandang ke arah Jeffrey. "Alat tes kehamilan dan obat penggugur kandungan itu adalah miliknya bukan milik Seanie. Dialah yang sebenarnya ingin membunuh janinnya sendiri karena ketahuan hamil setelah beberapa kali melakukan hubungan kepada beberapa pria," bebernya lebih lanjut.


"Tutup mulutmu wanita j*lang!" sentak Becca tidak terima aibnya dibongkar namun Olive seolah tak gentar dan terus lanjut membeberkan kebenaran.


"Waktu itu Becca tahu jika Seanie pingsan setelah menahan sakit akibat keguguran karena melihat banyak darah yang mengalir di pahanya. Kemudian Becca langsung memanfaatkan kesempatan dengan sengaja meletakkan benda-benda itu bersebelahan dengan Seanie yang sedang pingsan bertujuan untuk merusak pamornya lebih jauh," ungkap Olive kembali.


"Tidak! Itu tidak benar!" bantah Becca.


"Itulah kebenarannya!" sahut Oliv.


"Sudah cukup," suara bariton Jeffrey menitah. Sontak membuat kedua wanita itu kembali bungkam.

__ADS_1


"Apa kau masih ingin membantahnya?" pertanyaan dari mulut Jeffrey tertuju ke Becca.


"A-aku.. Aku..," Becca tampak takut untuk menjawab.


"Cepat jawab."


Becca tertunduk seraya menggeleng pasrah, sebagai tanda tidak ada lagi bantahan darinya.


"Berarti kau mengakuinya?"


Pasrah sudah, akhirnya Becca mengakui perbuatannya. "Iya, aku yang melakukannya."


Jeffrey menyeringai puas. "Apa kalian sudah merekamnya?" ia bertanya kepada Sammy dan Alvin yang masih dalam mode tercengang tak percaya.


"Iya, sudah beres," jawab Sammy dan Alvin kompak seraya mangcungkan jempolnya.


Perhatian Jeffrey teralih ketika tangannya merasa sensasi geli karena ponsel yang dia pegang bergetar. Muka dingin dan angkuhnya seketika menguap. Gelagatnya mendadak berubah lembut di kala Jenny menelepon.


"Halo sayang.."


(...)


"Iya sayang.. Aku akan segera pulang. Aku mohon jangan marah-marah lagi."


Tanpa memutuskan sambungan telepon, Jeffrey beranjak pergi meninggalkan ruangan begitu saja. Menyerahkan urusan selanjutnya kepada Sammy dan Alvin.


"Apa kau liat tadi Sam? Sekali Jeffrey bersuara, kedua wanita ini langsung mengaku," Alvin terheran-heran.


"Dia benar-benar luar biasa," sahut Sammy yang masih tercengang.


"Dia bahkan tidak perlu bekerja keras."


"Kalau tahu begitu seharusnya aku tidak perlu repot-repot menggebrak meja tadi. Hingga sekarang tanganku masih sangat terasa panas," sahut Sammy dengan muka bodohnya.





Bersambung~~


Satu bab khusus tentang Jeffrey, Sammy, dan Alvin ya.. Buat selingan.. biar kagak bosen-bosen amat..🤭


Terima kasih ya.. Masih setia nyimak tulisan ini🥰 Tak bosan-bosannya Nofi mengingatkan untuk tidak lupa menekan tombol like dan meninggalkan jejak komen🥰


Oya, nggak kerasa udah hari senin lagi nih. Alangkah senangnya hati ini, jika ada yang suka rela menyumbang vote mingguan gratisannya🤭🥰

__ADS_1


__ADS_2