Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 31


__ADS_3


Malam bersambut pagi. Pendar cahaya Sang Dewi Malam berganti hangatnya sinar sang Penguasa Siang, menggugah para penghuni bumi untuk bangkit dari Negeri Kapuk. Memulai kembali kisah perjalanan hidup yang harus terus berlanjut meski begitu banyak jalan yang berkelok menjerumuskan, jalanan terjal melelahkan, sandungan batu menjatuhkan, hantaman kerikil menyakitkan, serta aral badai yang melintang. But life must go on. Itulah keharusan bagi setiap makhluk bernyawa.


Sepasang alis tampak mengernyit karena terusik oleh silau sinar mentari menerobos nakal melalui cela jendela kaca tak tertutup selambu. Netranya menyipit tajam di kala bias cahaya menembus paksa iris hazel yang bersembunyi di balik kelopak mata setengah terbuka.


Gadis berlensa hazel menggeliat, meregangkan otot-otot tubuhnya. Sesekali ia menguap seraya mengucek matanya yang masih terasa berat. Meraup semua kesadarannya yang masih tertinggal di dunia mimpi.


Sesaat ia termenung diikuti bola mata menyapu langit-langit kamar. Teringat bahwa kemarin terakhir kali ia masih berada di bangku taman pelataran rumah dan ketiduran di pundak lebar Sean.


"Kenapa aku bisa berada di kamar? Apakah aku mimpi berjalan sehingga masuk sendiri ke kamar? Hmmm.. Atau Nenek yang menggendong dan membawaku ke kamar?" senyuman hambar tiba-tiba terbit di muka bantal Allesya. "Ah! Kalau Nenek yang menggendongku, harusnya pagi ini telingaku sudah sakit karena suara erangannya gara-gara kejang pada pinggangnya," Allesya memasang mimik muka menerka-nerka.


"Apa mungkin Kak Sean yang menggendongku kemari?" Seringai ala-ala putri malu mendadak menghiasi mukanya. "Berarti tadi malam aku tidak hanya sekedar bermimpi, aaahh!" ia cekikikan sendiri. Menenggelamkan mukanya ke dalam selimut.


Di tambah lagi, ingatan akan drama ciuman mereka yang begitu manis serta sebuah pengakuan dari arti deguban jantung Sean semalam semakin membuat Allesya kegirangan seperti gadis kecil yang baru saja dibelikan boneka oleh sang Mama.


Masih berada di atas ranjang mungilnya. Ia berguling kesana dan kemari. Berputar-putar seperti gangsing. Melompat-lompat layaknya seekor kelinci. Meluapkan rasa bahagia karena cinta bersambut kasih pada akhirnya.


"Ah! Sudah hampir jam 7, aku harus siap-siap," melompat dari ranjang dan langsung meluncur ke kamar mandi.


Namun sedetik kemudian ia kembali keluar dari kamar mandi seraya berlari kecil, mencari ponselnya di antara tumpukan selimut dan bantal yang berserakan di atas ranjang.


"Ini dia ketemu," serunya bersemangat seolah habis menemukan peta harta karun. Sepertinya kedekatannya dengan Sean semalam telah menjadi asupan gizi nutrisi baginya untuk mengawali paginya lebih ceria.


Setelah mengirim pesan singkat berupa ucapan selamat pagi kepada pria dewasa pujaan hatinya. Allesya meletakkan ponsel di atas nakas kecil dan kembali ke ruang tempat ritual bersih-bersih tubuh dilaksanakan


°°°


"Nek.. Allesya berangkat dulu ya..," suara lumba-lumbanya terdengar nyaring dan bersahaja.


"Sayang, bekal sarapannya ketinggalan," seru fanne ketika menyadari bekal yang sudah Allesya siapkan masih teronggok cantik di atas meja makan.


Langkah yang sudah berada di ambang pintu terpaksa terhenti, lalu memutar balik tubuh untuk menjangkau kotak bekal sarapan.


"Huufft..! Hampir saja aku lupa membawanya, aku tidak ingin Kak Sean menjadi kurus karena melewatkan sarapan paginya," racaunya. "Nek, kalau begitu Allesya berangkat ya..," pamitnya kembali yang lagi-lagi harus mengurungkan langkah ketika Fanne kembali bersuara.

__ADS_1


"Sayang.., pakai jaketmu yang benar," tutur Fanne yang sontak membuat sang Cucu memperhatikan penampilannya.


"Pffftt! Jaketnya terbalik," ia menahan tawanya karena melihat tingkahnya sendiri. Gegas ia melepas jaket varsitynya dan kembali mengenakannya dengan benar.


Fanne hanya menggeleng kepala melihat polah cucu Gadisnya tersebut. "Sebenarnya ada apa denganmu sayang? Kau terlihat sangat bahagia pagi ini, sampai-sampai kau tidak menghiraukan penampilanmu," ucap Fanne, kali ini ia ganti menunjuk ke arah kaos kaki yang dikenakan Allesya.


"Isshh...," Allesya meringis seraya menepuk jidatnya. Rupa-rupanya, kaos kaki yang ia kenakan juga terbalik.


"Allesya.. Allesya..," Fanne menghela napas sambil memandangi si Gadis yang tengah sibuk duduk di lantai seraya membenahi kaos kakinya.


"Sudah, kali ini tidak ada yang salah lagi -kan?"


"Perfect!" sahut Fanne seraya mengangkat jari telunjuk dan ibu jari dibentuk melingkar sebagai lambang OK.


CUP!


"Bye-bye Nenek..," satu kecupan di pipi Fanne sebelum akhirnya Allesya meluncur melewati ambang pintu rumah.


"Hati-hati sayang..!" ucap Fanne setengah berteriak.


"Iya Nek..!" Sahutnya yang sudah menginjak pelataran rumah.


°°°


Jarak Allesya yang sudah mendekati ke kediaman Willson sontak mempercepat ayunan langkah ketika melihat mobil Sean akan keluar melewati gerbang mansion.


"Kak Sean..! Tunggu dulu.., bekal sarapanmu belum dibawa..! Kak Sean..!" pekik Allesya mencoba mengejar mobil Sean meski akhirnya menyerah karena roda mobil mewah itu terus berputar semakin cepat, menjauh, dan terkesan acuh akan teriakannya.


"Apa aku datang kesiangan?" masih ngos-ngosan ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Kurasa tidak, aku malah datang lebih awal pagi ini. Apa Kak Sean tadi tidak mendengar teriakanku?" monolognya seraya memandang iba bekal sarapan yang masih menggantung di tangannya.


Akhirnya, ia melangkah gontai memasuki gerbang raksasa yang sudah terbuka.


"Paman Baul, ini untukmu. Tolong di makan ya," Allesya menyerahkan bekal sarapan yang seharusnya untuk Sean kepada Baul, si Security.

__ADS_1


"Terima kasih Allesya," ucapnya penuh syukur. Kebetulan sekali ia memang belum sempat sarapan pagi ini.


"Sama-sama Paman," balasnya tak bersemangat.


°°°


Pantulan bayangan tubuh Allesya pada kaca spion mobil kian mengecil dan tak terlihat. Badan mobil yang awalnya melaju cepat mendadak berhenti karena pijakan kaki pada pedal Rem.


Pekik suara klakson kendaraan lain terdengar bersaut-sautan seolah sedang mengajukan protes kepada mobil Sean yang berhenti secara tiba-tiba. Terdengar juga suara umpatan pengendara lain karena tindakan sembrono Sean hampir menyebabkan kecelakaan beruntun.


Tak menghiraukan bising kegaduhan dari luar mobil. Sean lebih memilih tenggelam dalam pikiran berkecamuknya. Menyugar rambutnya dengan kasar diselingi kefrustasian yang hampir membuatnya gila.


BUG! BUG! BUG!


Sean melayangkan beberapa kali pukulan keras pada kemudi tak berdosa guna meluapkan segala emosi jiwa yang membuatnya dilema.


"Tidak! Perasaan ini adalah sebuah kesalahan," masih dirubung kefrustasian ia mati-matian menampik keras perasaan yang membuat jantungnya berdegub tak karuan sampai saat ini.


GREP!


Remasan kain di dadanya bertujuan membunuh rasa terhadap Allesya namun ternyata upayanya berakhir sia-sia.


"Gadis itu telah membohongiku. Aku tidak akan memaafkannya."





Bersambung~~


...Ayo biasakan tinggalkan jejak like dan comment pada setiap bab setelah membacanya ya para readers. Biar ini cerita nggak sepi kayak kuburan🤣 Sumbangkan vote dan gift juga kalau berkenan🤭...


...Intinya, dukungan para Readers adalah penyemangat berharga bagiku untuk terus menulis🥰...

__ADS_1


...Terima kasih.. Lop Lop you superrr...


...💜💙💚💛🧡❤...


__ADS_2