
"Erlan, bagaimana keadaanmu? Maaf ya aku baru bisa datang menemuimu," ucap Allesya.
Raut muka menggambarkan sebuah rasa bersalah tengah menundung hatinya.
Pria yang masih duduk bersandar pada headboard ranjang Rumah Sakit itu, membawa bibir pasinya untuk tersenyum. "Keadaanku saat ini seperti yang kau lihat Seanie. Dan untuk apa kau mengucapkan maaf sedangkan kau tidak salah. Justru aku yang harusnya meminta maaf," balasnya dengan jari-jari terus mengusap punggung tangan Allesya.
"Ke mana Sean? Apa kau datang sendiri?" menyadari bahwa keberadaan saudara angkatnya itu tidak ada membuat Erlan penasaran.
Seketika semburat merah buah persik menyapu halus pipi Allesya. Mengingat sebelum berangkat menjenguk Erlan di Rumah Sakit, Sean tidak bermain-main dengan perkataannya. Meski akhirnya pria itu tidak membantunya membersihkan badan karena Allesya terus melayangkan penolakan, tapi sepasang mata birunya tak melepas pengawasannya selama kegiatan mandi berlangsung. Dengan Alasan tak ingin kejadian terjatuh terulang kembali.
Malu dan kesal bercampur jadi satu. Itu yang dirasakan Allesya saat ini.
"Dia sedang mengangkat panggilan telepon di luar."
"Seanie, sebaiknya kau pulang sekarang," tutur Erlan namun gelengan kepala yang dia dapat dari Allesya.
"Aku akan menjagamu di sini sampai kau pulang."
Erlan menghela napas. Tak mampu mengelak, dia memang sangat senang menerima perhatian dari Allesya. Sama seperti sebelumnya, wanita cantik di depannya saat ini memanglah sosok penyayang dan perhatian kepada siapapun. Akan tetapi, ini tidaklah benar, tidak seharusnya ia berbahagia karena kepedulian Allesya yang notabene sudah menjadi istri dari Sean Willson.
"Aku tahu kau masih menaruh kekecewaan besar kepadanya, tapi kau tidak seharusnya bersikap seperti ini Seanie. Kalian bahkan belum melewati malam hari pertama pernikahan, tapi kau justru sudah berada di sini, menemuiku yang merupakan mantan kekasihmu," tutur Erlan mencurahkan segala ketulusan yang datang dari hati. Kendati dia harus menerima hujaman ribuan jarum yang menyisakan rasa sakit yang tak terkira.
"Seperti inikah yang dirasakan Sean ketika mengetahui wanita yang dicintainya akan menikah denganku waktu itu? Ini begitu sakit, dan bisa-bisanya ia terlihat sangat tegar," kesah Erlan di dalam hati.
Sungguh, dia butuh obat saat ini. Bukan obat untuk penyakit ginjal yang dideritanya, melainkan obat untuk hati yang terkoyak oleh takdir cinta yang tak berpihak kepadanya. Adakah orang yang mampu menyembuhkan lukanya? Kalau ada, siapakah dia gerangan?
"Tapi Erlan ... aku belum sanggup," muka sendu dibawa sedikit menunduk.
Erlan mengangkat tangannya, berniat menyentuh muka cantik yang tertunduk lesu itu. Namun belum sempat ujung jari menyentuh kulit muka Allesya, sebuah tangan lain mencengkeramnya, menghentikan pergerakannya.
"Dia wanitaku sekarang, jadi tolong jaga sikapmu," Sean memberi ultimatum tegas bersamaan sorot mata tajam, sebagai pertanda ketidaksukaan jika miliknya disentuh pria lain.
Allesya tertegun, sementara Erlan malah menyungging senyuman di bibir pucatnya. "Kau tak seharusnya cemburu kepada orang yang sebentar lagi akan mati," ujar Erlan. Melepas tangan dari cengkeraman kuat Sean.
"Kalau ingin mati ya mati saja, kau sungguh merepotkan," lisan pedas yang mencelos dari bibir Sean masih ditanggapi oleh senyuman Erlan.
Namun sukses mengundang kemarahan Allesya. "Perkataanmu sungguh kasar, Sean!" serunya.
Memiringkan tubuh ke arah Allesya, membalas tatapan tajam Allesya dengan mimik muka tak terbaca. "Perkataan itu memang pantas ia dapatkan."
Allesya kian bersengut. Tidak suka. Dia sangat tidak suka dengan sikap kasar Sean yang tidak seharusnya ditujukan kepada Erlan yang sedang sakit. Baginya, Erlan sangat butuh kalimat pendongkrak agar dia kembali semangat untuk sembuh. Bukan malah menjoroknya agar terus berputus asa.
Ia memang menaruh iba teramat besar kepada Erlan, si Mantan Kekasihnya. Di saat pria itu butuh teman berkeluh, Allesya malah meninggalkannya. Rasa bersalah tetaplah ada, meski ia bukan pihak yang melakukan suatu kesalahan.
Menghalau amarah yang bisa berpotensi keributan, Allesya mengambil satu pijakan yang membawa tubuh rampingnya berdiri. Melayang tatapan sinis ke muka tampan yang seolah tak merasa bersalah dengan apa yang baru saja dikatakan. "Kau memang manusia tak berhati Sean," cercanya sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan.
Manik biru tak lagi menangkap punggung sang Istri, lalu digiringnya muka ke arah Erlan yang tampak membisu akan rasa bersalahnya karena dialah yang menjadi alasan utama akan perdebatan kecil yang baru saja terjadi antara Sean dan Allesya.
"Hei pria lemah. Berhentilah mengatakan kau akan mati karena penyakitmu itu. Perkataanmu bisa mematahkan hati orang-orang yang selalu berharap untuk kesembuhanmu. Apa kau tahu? Mungkin saja ada seseoang yang tengah berjuang keras untuk kesembuhanmu. Dan dia akan berhamburan ke pelukanmu, menumpahkan air mata kebahagiaan karena mendapat kabar gembira tentang kesembuhanmu."
Helaan napas terdengar pasrah dari bibir Erlan, keputus asaan ditimpal dengan senyuman tipis. "Apa aku tidak boleh menyerah saja? Aku sudah lelah."
__ADS_1
"Ya sudah mati saja sekarang! Buat apa lagi kau berada di Rumah Sakit ini untuk mendapat perawatan?!" Sean langsung memutar tumit, membawa kejengkelan menuju pintu keluar kamar inap.
Di saat tangan sudah menarik handle pintu, bertepatan dengan kedatangan Emily yang terlihat senang. Sesaat dokter muda itu memandang muka Sean dengan tatapan seolah mengisyratkan limpahan syukur tak terkira. "Terima kasih," lirihnya.
Anggukan samar adalah sebagai respon singkat dari Sean, sebelum akhirnya melanjutkan langkah kaki yang sempat tertunda. Mengejar Allesya yang sudah pergi duluan.
Sementara itu, Emily gegas masuk ke dalam kamar, mendekati Erlan yang masih bersandar pada headboard ranjang.
"Erlan ... ," terlampau senang, Emily langsung berhamburan ke pelukan pria berbadan ringkih itu. Di saat itu pula bulir-bulir air mata kebahagiaan yang tertahan seketika membuncah, membasahi bingkai mata almondnya.
Terkesiap dan terheran akan tindakan tak terduga sahabatnya, namun tangan dibiarkan bergerak secara alami membalas pelukan Emily. "Ada apa ini Emily?"
"Aku sangat bahagia Erlan karena kau akan sembuh. Aku sudah menemukan ginjal yang cocokmu. Hiks! Aku sangat bahagia Erlan," Emily terus menumpahkan semua air mata kebahagiaannya ke dalam dada Erlan.
DEG!
Jantung bergetar, bukan perihal ia mendapat donor ginjal yang cocok, melainkan karena sebuah pembuktian dari perkataan Sean beberapa saat yang lalu.
'Apa kau tahu? Mungkin saja ada seseoang yang tengah berjuang keras untuk kesembuhanmu. Dan dia akan berhamburan ke pelukanmu, menumpahkan air mata kebahagiaan karena mendapat kabar gembira tentang kesembuhanmu.'
Potongan kalimat yang kembali melintasi ingatannya kini tengah terjadi di depan mata.
Diurainya pelukan hingga menciptakan ruang jarak di antara mereka, memudahkan netra menyapu muka cantik yang sudah dibasahi cairan bening. "Emily, apakah kau sebahagia itu jika aku sembuh?" sebuah lisan pertanyaan mewakili rasa ingin tahunya.
"Tentu saja Erlan, aku sangat bahagia. Kenapa kau masih menanyakannya?" masih sesenggukan.
"Terus kenapa kau menangis seperti anak kecil?"
Erlan tergelak pelan, pasalnya baru kali ini ia melihat Emily yang selalu bersikap dewasa itu menangis sesenggukan di depannya.
°°°
Di sebuah trotoar jalan raya yang tengah dipadati oleh kendaraan besi yang berlalu lalang.
"Allesya ... berhentilah. Kau mau pergi ke mana? Ayo kembali ke dalam mobil," Sean masih terus membujuk istri kecilnya itu agar bersedia pulang ke kamar hotel bersamanya.
Langit kota Paris sudah sangat gelap, menandakan malam kian larut. Sean tidak akan tega membiarkan istri kecilnya berjalan sendirian di luar.
"Aku ingin sendirian Sean, kau pulanglah duluan."
"Aku akan pulang bersamamu. Kau tanggung jawabku sekarang."
"Bisakah kau mengerti, aku sedang kesal denganmu saat ini?"
"Jangan jadikan mantan kekasihmu sebagai alasan perdebatan di dalam pernikahan kita, Allesya. Itu sangat tidak pantas."
Allesya bergeming. Sesaat ia membetulkan perkataan Sean. Namun ego kembali menguasahi jalan pikirannya. "Aku hanya tidak suka dengan sikapmu tadi Sean. Apa kau tidak kasihan ke Erlan? Perkataanmu tadi pasti menyakitinya."
"Lalu bagaimana denganmu? Sadarkah kamu bahwa sikapmu ini menyakitiku? Aku suamimu Allesya, dan kau istriku."
Allesya kembali terdiam. Ucapan Sean menohok hatinya.
"Jangan temui dia lagi kecuali bersamaku. Kau harus menuruti semua perkataanku. Aku harus tahu ke mana dan bersama siapa kau pergi. Karena kau wanitaku," tuntutan telak dari bibir Sean kembali memancing kekesalan Allesya.
__ADS_1
"Berhenti. Tetap berdiri di sana," Allesya menghalau gerakan Sean yang hendak mendekatinya.
Mata diajak melirik ke arah lampu lalu lintas khusus pejalan kaki yang sedang menyala terang lampu hijau sebagai tanda bahwa para pejalan kaki diperbolehkan menyeberang jalan.
"Tetaplah di sana," Allesya kembali memperingati dan langsung berlari cepat melewati zebra cross.
Sesampainya kaki berada di seberang jalan, lampu penyeberangan pejalan kaki berganti merah. Kendaraan-kendaraan mesin yang sempat berhenti mulai melajukan rodanya. Membuat Sean kesulitan untuk mengikutinya.
Namun nyatanya Allesya belum bisa berpuas diri karena sebuah tindakan Sean yang tak pernah ia duga.
CKIT...!
TIN..! TIN..! TIN..!
"Hei! Anak muda, apa kau ingin mencari mati?!"
Terdengar suara jeritan kelakson dari beberapa mobil serta umpatan salah satu pengendara yang marah karena tindakan nekat Sean menyeberangi jalan ketika banyak kendaraan melintas.
Allesya tampak terkejut dan reflek menutup kedua telinganya dengan tangan disusul mata yang terpejam.
"Buka matamu," Allesya langsung membuka mata saat suara Sean terdengar sangat jelas di depannya.
BUG!
Satu tendangan di kaki melesat cepat sebagai pelampiasan.
"Aargg..! Kenapa kau menendangku?" Sean meringis karena rasa sakit di kakinya.
"Kau sungguh gila Sean! Apa kau ingin membuatku menyandang status janda secepatnya?! Allesya mengumpat karena sangking kesalnya.
"Ayo pulang Allesya," tak mengindahkan kemarahan istri kecilnya, Sean masih keukuh membujuk. Kendati kaki masih terasa cenut-cenut karena tendangan Allesya.
"Tidak mau."
Kaki berbalut flat shoes itu diajak berlari agar menjauh dari Sean. Hingga terjadilah adegan kejar-kejaran di atas trotoar jalan, berselimut syahdunya langit malam. Beriringan hembusan semilir angin pengusir kelam. Andai sedang turun hujan, pasti suasana semakin mendramatis, layaknya scene romantis di film bollywood Kuch Kuch Hota Hai.
Ahay...!
"Kyaaakk! Sean apa yang kau lakukan? Turunkan aku," Allesya memberontak ketika Sean berhasil menangkapnya dan langsung memanggul tubuh kecilnya ala-ala kuli pengangkut beras.
"Aku akan menurunkanmu di atas ranjang."
❣
❣
❣
Bersambung~~
Dah hampir jam 1 pagi nih, Nofi mau bobok cantik dulu.🤣
Jangan lupa nampol dulu tombol like sebelum membaca ya.. komen2 syantieknya juga Nofi tunggu. Terima Kasih. Lop lop you hot super😘😘😘
__ADS_1