
Vera terlihat bersusah payah menahan perih di hati saat mata menyapu pemandangan di depannya. Pria itu, Arthur, tampak menaruh perhatian kepada seorang wanita hamil yang terus saja merengek meminta disentuh perutnya karena mulai merasakan kontraksi namun masih enggan di bawa ke Rumah Sakit dengan dalih itu hanya kontraksi palsu.
Sadar ada hati sang Istri yang tersakiti, Arthur beberapa kali membujuk wanita yang bernama Marry itu untuk sedikit menjaga sikapnya. Sayangnya wanita itu terkesan tak peduli akan pekataan Arthur. Bahkan keberadaan Vera seolah dianggap makhluk astral tak kasat mata.
"Perutku terasa mulas sekali Arthur, tolong usap bagian sini," rintih Marry kian manja dan meminta perhatian.
"Sebaiknya kita ke Rumah Sakit sekarang, kau sepertinya akan melahirkan," tutur Arthur.
Marry menggeleng. "Tidak Arthur, aku yakin ini hanya kontraksi palsu, lagian tanggal HPL juga masih jauh," jawabnya.
"Tapi kau terlihat kesakitan."
"Arthur, maukah kau bermalam di sini kali ini? Tolong temani aku," pinta Marry tanpa ada kesungkanan sedikitpun.
Tak tahan melihat tingkah Marry yang menyebalkan dan berlebihan, lidah Vera sudah terasa sangat gatal ingin menyembur segala ungkapan kekesalan hatinya yang sudah menimbun. "Tidak! Dia adalah suamiku, apa hakmu memintanya bermalam di sini untuk menemanimu?" sentaknya kesal.
Titik-titik embun mulai merembes melewati bingkai netra. "Arthur, bukankah aku berhak mendapatkan perhatianmu? Kau berkewajiban menjagaku saat ini," ucap Marry kepada Arthur tanpa menghiraukan air muka Vera yang sudah memerah karena cemburu.
"Arthur, kenapa dia bisa yakin dengan perkataannya? Sebenarnya apa hubunganmu dengannya? Apa dia tengah mengandung anakmu sehingga dia menuntut sebuah kewajiban kepadamu?" Vera membom bardir dengan serentetan pertanyaan yang sedari tadi belum sempat dijawab oleh Arthur karena rengekan Marry yang seperti anak kecil.
"Vera ... tenanglah dulu," tutur Arthur agar tidak ada kegaduhan yang tercipta. Jujur, pria bermata teduh itu tengah bingunh sekarang.
"Bagaiamana aku bisa tenang Arthur ... kau bahkan belum menjelaskan semuanya," sela Vera.
"Aahhhk! Arthur ketubanku pecah! Sepertinya kali ini aku mau melahirkan," pekik Marry yang kian merintih kesakitan.
°°°
"Kak Sean apa masih jauh?" tanya Allesya, ia melangkah dengan hati-hati dalam mata yang tertutup kain.
"Sebentar lagi sampai, Sayang," bisik Sean, seraya menuntun tubuh mungil si Wanita yang tingginya sejajar dengan bahunya.
"Aku akan membuka penutup matamu," ucap Sean setelah kaki mereka sudah menjejak di tempat tujuan.
Sangat indah, itulah ungkapan pertama dari hati yang berdecak kagum saat netra dihadapkan oleh sajian candle light dinner yang begitu cantik yang terletak di balkon lantai 2, menjorok tepat di bibir tebing pantai berpagar besi kokoh. Ditambah lagi bentangan lukisan panorama alam yang begitu menawan membuat Allesya kian terpesona.
"Kak Sean ... ini ... ?" tanya Allesya menggantung, meminta kejelasan.
"Selamat ulang tahun istri kecilku," melayang tatapan hangat setelah satu kecupan manis mendarat di kening Allesya. "Maaf jika aku terlambat mengucapkan selamat kepadamu," imbuhnya lagi.
Menggeleng cepat, menumpahkan tubuhnya ke dalam dada bidang suaminya dengan keharuan. "Seharusnya aku yang minta maaf karena aku sempat menduga bahwa Kak Sean melupakan hari spesial ini. Lagian Kak Sean belum terlambat, hari belum berganti, bukankah berarti sekarang masih hari ulang tahunku?" sanggah Allesya.
Ditariknya muka dan diajak menengadah ke arah Sean. "Dan selamat hari ulang tahun juga untukmu, suami tampanku. Bukankah kita lahir di tanggal dan bulan yang sama?"
Mengulas senyum di bibir, dan sekali lagi kecupan manis mendarat di kening Allesya. "Aku semakin yakin, bahwa Tuhan memang sudah menulis nama kita dengan tinta emas di kitab jodoh. Dari tanggal lahir yang sama serta nama kita yang juga hampir sama, 'Sean' dan 'Seanie' itu bukanlah hanya sekedar kebetulan, melainkan sebuah takdir yang disiapkan untuk kita."
"Kak Sean ... aku sampai bingung harus berkata apa? Aku terlalu bahagia," ucap Allesya terbuai oleh keharuan.
CUP!
Sean mengecup singkat bibir mungil itu dan membelai lembut kepalanya. "Sebaiknya kita menyantap makan malam terlebih dahulu," melerai pelukannya, lalu menarik kursi untuk Allesya. "Silahkan duduk, my Queen," pria tampan itu mempersilahkan wanitanya untuk menempati kursi yang telah dibukakannya.
__ADS_1
"Terima kasih my King," sambut Allesya.
Menikmati sajian makan malam lezat ditemani gagahnya sang Surya yang tenggelam di balik lautan, mencoret tinta cantik pada bentangan langit bersemburat jingga berpadu pink, bagaikan maha karya lukisan ajaib persembahan alam.
Alunan musik romantis yang menenangkan serta diiringi bauran suara deburan ombak pantai turut melengkapi suasana makan malam romantis mereka.
"Kak Sean, sebenarnya aku sudah menyiapkan sebuah kado untukmu, tunggu sebentar," Allesya beranjak dari kursi dan mengambil langkah menuju ke dalam vila. Selang tidak lama, ia datang dengan menenteng sebuah paper bag kado yang sudah dia bawa sejak dari butik milik Vera tadi.
"Ini untukmu, semoga Kak Sean suka," paper bag yang sudah diletakkan di atas meja, digesernya mendekati Sean.
"Boleh aku buka sekarang?"
"Tentu saja," jawab Allesya antusias.
Sean merogoh ke dalam paper bag tersebut dan menemukan sebuah sall rajutan. Senyumannya mengembang sempurna, saat mata menangkap rangkaian kalimat manis di ujung sall, 'I may not be your first date, kiss or love but i want to be your last everything. Allesya loves Sean.'
"Apa Kak Sean suka? Benda itu memang murah tapi aku membuatnya dengan tanganku sendiri, tentu saja dengan bantuan Kak Vera," Allesya terkikik. "Tapi percayalah, setiap benang yang aku pintal selalu ada hembusan cinta untukmu di sana," imbuhnya lagi.
"Dan percayalah Allesya, semua yang kau buat untukku aku menyukainya. Bahkan semua yang melekat pada dirimu tanpa terkecuali," sahut Sean setelah melilitkan sall buatan Allesya ke lehernya.
Allesya melempar tatapan bertanya dan penuh tuntutan. "Apa Kak Sean tidak ingin memberiku kado?"
Sean menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk bulan sabit yang mempesona. "Tempat kau berpijak saat ini adalah kado untukmu."
Terperangah, takjub, dan senang, semua rasa itu begulung jadi satu. "Jadi vila ini untukku?" ucapnya setengah tak percaya.
"Bukan itu saja tapi semuanya."
Allesya mengernyit bertanda tak paham. "Semuanya?"
Si Tampan itu beranjak dari duduknya, memijakkan kaki tepat di depan Allesya yang masih tenggelam dalam keterpukauannya. Tubuh gagah di ajak sedikit membungkuk disusul tangan kekar terulur ke arah sang Kekasih. "Maukah kau berdansa denganku agar aku dapat memberi tahu pada alam bahwa aku berdansa dengan bidadari?"
Tersipu, Sean begitu pandai melukis semburat merah di pipi Allesya. "Manis sekali," menyambut uluran tangan itu. "Aku tidak akan mampu menolaknya."
Sepasang kekasih dimabuk asmara itu berdansa diiringi alunan merdu lagu romantis, berpayung langit bertabur sejuta bintang. Pancar sinar sang Dewi Malam seolah menyoroti keduanya. Labuhan pandang tak mengelak untuk terus berpautan.
"Apa kau menyukainya?"
"Sangat."
"Bagaimana dengan pulau ini?"
"Indah."
"Tapi tak seindah dirimu."
Allesya membingkai senyuman manis di Mukanya, membuat Sean enggan menyudahi tatapan memuja akan pesona kecantikan wanitanya.
"Cara menatapmu membuatku malu," Allesya menurunkan pandanganya.
"Lihat aku, Allesya," pinta Sean, tak suka binar cantik manik hazel Allesya lepas dari pandangannya.
"Kak Sean ... ."
__ADS_1
"Iya Sayang."
"Jantungku rasanya mau loncat."
Sean mendengus geli, merasa lucu saja dengan apa yang di dengar. "Kenapa bisa begitu?"
"Kak Sean lah penyebabnya."
"Akupun juga merasakan hal yang sama."
"Kak Sean ... ."
"Iya ada apa lagi?"
"Aku sepertinya kehabisan asupan oksigen. Bisakah kau membantuku?"
Kali ini Sean tergelak lirih. Tahu betul ranah pembicaraan istri kecilnya. "Apa kau butuh CPR?"
Tangan dibawa menggelayut manja pada leher Sean, senyuman sensual di bibirnya seolah menyiratkan sebuah ajakan untuk menyalur hasrat. "Iya, aku membutuhkannya sekarang."
"Memohonlah," tantang Sean, tahu bahwa wanitanya itu sudah menginginkan sentuhannya di atas ranjang.
"Suamiku, tolong manjakan aku," ucap Allesya setengah berbisik setengah mendes*h.
"Sekali lagi."
"Hmm ... ayolah," mengecup bibir Sean.
Sudah tak tahan. Tindakan Allesya sungguh menggoda dan terkesan seksi. Merangsang desiran darah yang menyusup ke sendi-sendi. Mendongkrak hasrat gairah secepat aliran listrik.
"Manis sekali," puji Sean dan langsung melahap bibir mungil berpoles liptint itu dengan rakus. Tanpa melepas pagutan bibir, tangan kekarnya menggendong tubuh istri kecilnya ala-ala bridal style menuju ke dalam vila.
Hingga terjadilah penyatuan raga di malam yang panas penuh gairah berdasarkan cinta.
SEAN WILLSON
ALLESYA
ARTHUR
VERA
❣
❣
__ADS_1
❣
Bersambung~~