
"Sudah ku bilang, kesehatanmu belum pulih sepenuhnya. Kau bahkan baru saja keluar dari Rumah Sakit. Kenapa kau selalu memaksa tubuhmu untuk bekerja Erlan?" omelnya seraya menekuni resep butiran-butiran obat dari Dokter yang akan diberikan ke Erlan.
"Maafkan aku Seanie," bisiknya disusul kedua tangan melingkari tubuh ramping Allesya yang masih membelakanginya. Mengundang muka cantik itu menoleh ke samping untuk menjangkau muka pria tampan yang tengah merengkuhnya.
"Kau selalu saja membuatku cemas Erlan," masih bersungut ria.
"Maaf," mengulang ucapan yang sama.
Allesya mendengus samar, memutar tubuhnya menghadap Erlan. Dan melempar mimik muka cemberut. "Kau hanya bisa berkata maaf tapi tidak mau merubah kebiasaanmu. Selalu mengabaikan kesehatanmu. Kau tak pernah memikirkan perasaanku," gerutunya.
Erlan menarik kedua sudut bibirnya lebih tinggi, menatap muka cemberut Allesya dengan gemas. Baginya, kemarahan wanita di depannya merupakan sebuah bentuk sayang dan perhatian kepadanya. "Justru karena memikirkan perasaanmu, aku gegas pergi ke Inggris untuk menyelesaikan segala urusanku yaitu dengan mendonasikan semua ladang bisnisku yang ada di sana. Jadi mulai sekarang aku hanya fokus dengan bisnisku yang di Paris saja," terangnya membuat kedua alis Allesya terangkat ke atas. Tidak percaya Erlan sampai bertindak sejauh itu.
"Apa kau serius? Bukankah kau telah banyak bekerja keras untuk mewujudkan itu semuanya?" memutus kontak mata dengan Erlan diikuti kepala yang tertunduk. "Aku tidak bermaksud merusak impianmu, maaf," lirihnya merasa tidak enak.
Erlan mendengus geli dan diangkat muka cantik tertunduk dengan menangkup kedua pipinya. "Apa yang kau katakan Seani sayang? Bukankah lebih baik aku mengutamakan kesembuhanku? Lagian aku tidak ingin terus-terusan membuatmu mengkhawatirkanku yang sakit-sakitan ini."
"Berjanjilah kau akan sembuh," tuntutnya menaruh harapan tinggi.
"Aku janji," menatap lekat manik hazel Allesya. Perlahan memangkas jarak ruang di antara muka mereka. Niat hati yang ingin mencicipi bibir ranum itu namun akhirnya urung terlaksana karena Allesya menoleh ke samping sebagai tanda penolakan. "Maaf," ucapnya dan memilih mendaratkan sebuah kecupan singkat di keningnya sebelum memberi sedikit jarak tanpa melepas pandangan dari muka cantik yang tampak bersemu merah merona.
"Seharusnya aku yang meminta maaf," ucap Allesya tak enak hati.
Seutas senyuman terlukis hangat dan penuh pengertian di muka pria bermata teduh tersebut. "Tidak apa-apa, aku bisa memahaminya."
"Tapi percayalah, aku sangat menyayangimu Erlan," pungkasnya meyakinkan, tidak ingin sang Kekasih kecewa.
Erlan mengacak gemas rambut Allesya. "Aku juga tahu itu Seani. Dan asal kau tahu aku juga menyayangimu dan akan mencintaimu hingga di penghujung usiaku. Akan ku buktikan bahwa kau wanita pertama dan terkahir di hidupku."
Suara decakan keluar dari bibir Allesya. "Kau sungguh berlebihan Erlan. Sejak kapan kau pandai sekali menggombal?" cebiknya mengundang gelak tawa pria tampan berlensa abu-abu itu. "Cepat minum obatmu," menyodor sebuah nampan berisi obat dan segelas air putih.
"Suapi aku, aaaa..." Erlan bersikap manja dengan membuka mulutnya.
"Kenapa kau jadi manja sekali seperti Bear si Anjing Pudelmu itu?" mencebik seraya menunjuk si Anjing dengan dagu tirusnya.
GUK!
Seolah merasa menjadi bahan perbincangan si Anjing menggonggong tersinggung, membuat sepasang kekasih itu tergelak bersamaan.
"Terima kasih," ucap Erlan setelah menelan obat dari uluran tangan Allesya.
Allesya melempar senyuman sebagai balasan ucapan Erlan hingga perhatiannya beralih pada ponsel yang bergetar dari dalam saku celananya.
"Seperti Kak Vera sudah menjemputku di bawah, aku akan pulang sekarang," ucapnya setelah melihat isi pesan yang diyakini dari Vera.
__ADS_1
"Ternyata Kakakmu sedang berada di Paris?"
"Iya, kemarin dia datang sambil nangis karena mukanya bengkak setelah makan mi instan," beber Allesya terkikik geli begitu juga dengan Erlan.
"Dari dulu dia memang tak pernah berubah."
"Iya, tapi aku sangat menyayangi Kakakku."
"Kau memang wanita penuh kasih sayang Seani," pujinya tulus dari hati. " Ya sudah, segeralah turun sebelum ia naik ke atas dan mendobrak pintu apartemenku."
"Baiklah, sampai bertemu besok ya," mengambil slimbag yang teronggok di atas meja lalu disampirkan ke bahunya.
"Tunggu," Erlan menghentikan langkah Allesya yang sudah berada di depan pintu. Membawa tubuhnya lebih mendekat lalu mencium hangat kening Allesya. "Berhati-hatilah. Segera hubungi aku jika sudah sampai di rumah, aku mencintaimu," tuturnya.
"Baiklah."
°°°
"Seani, kau yakin tidak ingin ikut aku masuk ke dalam? Kau bisa memilih yang kau suka, aku akan membelikannya untukmu," tanya Vera sekaligus memberi tawaran setelah memberhentikan mobilnya di depan toko pusat yang menjual berbagai jenis model tas mahal dari salah satu brand terkenal asal Perancis Louis Vuitton.
"Tidak Kak, aku akan menunggu di luar sambil menikmati festival street food yang berada di sana," ucapnya seraya menunjuk keramaian yang berada tidak jauh dari tempat mobil terparkir.
"Hmm.. Baiklah. Aku akan segera kembali. Kau jangan pergi terlalu jauh ya. Aku tidak ingin kau sampai tersesat dan kembali menghilang seperti dulu," kelakar Vera yang juga terselip ungkapan perhatian kepada sang Adik.
Terkikik karena ucapan Vera. "Tenang saja Kak, aku bukan anak kecil lagi. Please! Jangan berlebihan," balasnya sebelum Vera keluar terlebih dahulu dari mobil dan meninggalkannya.
"Copet..! Tolong..! Ada pencopet..!" si Korban berupaya mengejar meski tampak kepayahan.
"Hiissh! Yang benar saja. Apa pencopet itu begitu putus asa, bertindak nekat di tempat ramai seperti ini?" gerutunya disusul sebelah kaki sudah dalam posisi siap membegal.
KEDEBUK!
Tubuh besar penuh akan coretan gambar tato itu tersungkur dengan sangat tidak epiknya dalam posisi muka menyosor jalanan keras dan berdebu. Menyebabkan tulang hidung patah serta dua gigi tonggosnya meloncat indah dari sarang.
"Aaarrgg..! Ampun ampun ampun! Sakit!" si Copet mengadu ketika Allesya memiting kuat sebelah tangannya hingga tak mampu berkutik.
"Ini milikmu Nyonya," mengembalikan tas kepada si Pemilik yang masih terlihat tersengal-sengal karena habis berlari.
"Terima kasih Nona. Fyuhh..! Tasku bisa kembali berkatmu," ucapnya penuh syukur.
"Itu memang sudah kewajibanku untuk saling menolong Nyonya," jawab Allesya ramah tanpa menyadari si Pencopet berusaha memanfaatkan kelengahannya untuk melepaskan diri.
"Hai Kau! Jangan kabur!" teriaknya mencapai oktaf 8, melebihi lengkingan suara ikan lumba-lumba.
Diambil sebelah flatshoes yang ia pakai dan siap melesatkan ke arah mangsa incarannya.
__ADS_1
"Allesya..."
DEG!
Gerakan tangan yang sudah terangkat ke udara dan siap melempar sepatunya seketika membatu. Seolah waktu berhenti berputar. Membiarkan si Pencopet kabur dengan langkah yang kian menjauh.
"Allesya... Akhirnya aku menemukanmu."
PUK!
Sepatu yang semulanya masih di dalam kungkungan jari-jarinya langsung terlepas dan terkulai ke atas tanah, seolah suara bariton yang sangat ia kenal sukses menyesap habis tenaganya hingga membuatnya lemah.
DEG! DEG! DEG!
"Tidak, aku pasti salah mendengar. Aku tidak ingin bertemu dengannya," hatinya menjerit. Bahkan hanya mendengar suaranya saja cukup mengorek kembali luka lama yang sudah susah payah ia kubur dalam-dalam.
"Allesya..."
"Tidak! Jangan mendekat!" serunya ketika menyadari suara langkah kaki yang kian mendekat. Ia bahkan enggan membalik tubuhnya meski untuk sekedar melihat si Pemilik suara bariton yang berada di belakangnya.
"Aku sangat merindukanmu," suara itu terdengar bergetar diliputi kesenduan yang mendalam.
NYUT..!
Seonggok daging yang begitu rapuh berdenyut teramat dalam. Mengundang rasa pilu yang begitu kelam. Menyiksa jiwa yang kembali suram. Tak ingin menunjukkan muka muram di bawah langit kota Paris yang hampir bersambut malam, Allesya gegas mengayun kakinya. Mencoba pergi sejauh mungkin.
GREP!
Langkahnya mendadak terhenti. Jantungnya kian betabuh cepat, ketika sebuah tangan besar mencengkeram pergelangan tangannya. "Pakai dulu sepatumu Allesya," ia berjongkok. Meletakkan sebelah kaki tak beralas di atas pahanya. Menyapu debu kotoran di sana dengan tangan kosong sebelum memasang kembali sepatu itu.
Ia kembali membawa tubuh gagahnya untuk berdiri dari posisi jongkok. Menatap lekat muka Allesya yang masih dalam mode mematung. Sungguh, segala rasanya yang telah lama tertahan di dalam jiwa seolah bergumul dahsyat, menuntut untuk dilepaskan.
Otak tak lagi sepenuhnya mampu berpikir jernih. Diraihnya tangan kecil Allesya dan menyeret tubuhnya yang terlihat pasrah ke sebuah sudut kota yang lengang manusia berlalu lalang.
🥀
🥀
🥀
Bersambung~~
Ceritanya semakin membosankan ya? Kok kayaknya semakin sepi aja? Tetap lanjut nggak nih ceritanya??😆
Jangan lupa kasih dukungan like dan komen ya..
__ADS_1
Kalau ada rejeki lebih, vote mingguan dan hadiah bolehlah disumbangkan😍 Terima Kasih🙏