
"Kek, kenapa kau membiarkan mereka menemui Mama? Bukankah Kakek tahu jika Sean tidak suka jika mereka menginjakkan kakinya di rumah ini, apa lagi sampai menemui Mama," Sean tampak kecewa dengan sang Kakek yang sering tak mengindahkan permintaannya.
"Cucuku, bisakah kau kurangi sedikit saja rasa kecewa dan bencimu kepada mereka? Terutama kepada Erick, ayah kandungmu?" pinta Henry. Bagaimanapun juga, ia sangat berharap bahwa Sean dan Erick bisa menjalin kembali hubungan sehat.
"Aku akan berhenti membenci jika mereka bisa mengembalikan semuanya seperti sedia kala," tandas Sean lalu memutar tubuhnya meninggalkan Henry yang tengah menatapnya dengan sorot mata sendu.
"Aku hanya ingin melihat kalian akur di akhir usiaku yang sudah senja ini cucuku," gumam Henry setelah tubuh Sean hilang di balik pintu.
Masih berbalut pakaian formal, kemeja putih lengan panjang lengkap dengan vest bewarna coklat serta dasi masih melingkari lehernya, Sean membawa mobil membelah legamnya jalanan raya di malam hari.
Ia terus menunggangi kendaraan roda empatnya tanpa arah tujuan pasti dan hanya mengikut pasrah kemana arah kemudi mobilnya melaju. Yang jelas ia membutuhkan seseorang yang bisa mengobati kecewa pada hatinya.
Akhirnya, tumpangan besi itu berhenti di depan sebuah pelataran kecil berhias tumbuhan berbunga. Semerbak aroma wanginya menyebar menyelimuti malam karena terpaan semilir angin penyejuk jiwa. Entah mengapa, hati kecil seolah menuntun raganya untuk mendatangi rumah sederhana bergaya khas Eropa itu.
Sean menuruni mobil dan langsung menggiring tubuh kekarnya, membelah pelataran dengan 5 langkah kakinya saja.
Ting tong..!
Suara bel berbunyi ketika Sean menekan tombol berlogo lonceng di depan pintu.
CKLEK!
Sean sedikit menyungging kedua sudut bibirnya ketika seorang gadis menyembul dari balik daun pintu yang terbuka.
"Kak Sean? Kau datang lagi?" Allesya tampak heran.
"Aku ingin minum kopi," jawabnya membuat gadis bermanik hazel tersebut tercengang.
"Kak Sean jauh-jauh datang ke rumahku karena hanya ingin minum kopi?" Allesya mencoba mengoreksi pendengarannya.
"Memang apa yang kau harapkan dari kedatanganku ini?"
Allesya menyebik. "Tentu saja Allesya berharap Kak Sean datang untuk menemuiku karena rindu, tapi sayangnya kau datang hanya ingin menumpang ngopi saja," seperti biasanya gadis itu selalu bercicit sesuai dengan apa yang ada di hatinya tanpa melewati penyaringan kata.
Sean mengulum bibirnya, menahan tawanya yang hampir lepas. "Terlalu jujur tapi menggemaskan," batin Sean geregetan.
Sepertinya, inilah jawaban kenapa jiwa menuntun raganya untuk menemui gadis berisik itu. Nyatanya, hanya beberapa detik bertatap muka bisa dengan cepat merubah suasana hati Sean yang sedang galau. Namun apakah hal itu masih berlaku jika Sean mengetahui yang sebenarnya? Entahlah, lagi-lagi hanya waktu yang mampu menjawabnya.
"Apa nenek Fanne ada di dalam?" tanya Sean kepada Allesya. Terlihat beberapa kali melirik ke dalam rumah mencari tahu keberadaan orang yang ditanyakan.
"Nenek sudah tidur di kamarnya."
"Allesya...,"
"Iya Kak?"
"Sampai kapan kau tetap membiarkan aku berdiri di depan pintu?"
"Ah? Maaf, lupa," membuka lebar daun pintu, mempersilahkan si Tamu masuk.
__ADS_1
"Kak Sean, kenapa masih saja berdiri di sana?" heran Allesya karena Sean belum juga berpindah dari depan ambang pintu. Padahal siapa tadi yang baru saja protes karena tidak segera dipersilahkan masuk rumah. Dasar Sean.
"Hmm, buatkan aku kopi, aku tunggu di sana," pinta Sean seraya menunjuk ke arah bangku kosong yang tersedia pada taman mini pelataran rumah.
Rupanya Sean ingin menikmati secangkir kopi di bawah cerahnya langit malam awal musim semi yang di mana suhu lebih hangat.
"Tapi nanti di luar banyak nyamuk," si Gadis mencoba meyakinkan.
"Tidak apa-apa, -kan ada kamu," jawab Sean sekenanya.
"Memang Kak Sean pikir aku ini obat pembasmi nyamuk?" cicit Allesya diikuti bibir mengerucut tajam seperti salah satu tokoh anime kartun jepang Suneo di Film Doraemon.
Tak menghiraukan gerutuan Allesya, pria blonde itu tersenyum sembari membawa tubuhnya mendarat pada bangku kosong yang menjadi incarannya. Mengambil posisi duduk senyaman mungkin.
"Jangan lama-lama kopinya," ucapnya terdengar sangat santai.
"Aku akan menyeduh kopi dengan sangaaaaat lambat dan lamaaaa sekali sampai muka Kak Sean mengeriput di bangku itu," celotehnya mengandung sindiran majas ironi sebelum masuk ke dalam rumah, menyegerakan pesanan kopi sang Tuan Muda Sean.
Sean mendengus geli melihat tingkah Allesya yang sudah beberapa hari ini tanpa ia sadari sukses membuatnya berhasrat untuk menggigit dan mencicipi gadis berbibir manis tersebut.
Sean menengadah muka tampannya ke arah langit. Menyaksikan permadani laut bintang yang memanjakan mata. Sekilas, otaknya memutar kembali memori beberapa tahun yang lalu. Di saat ia masih menimang kebahagiaan utuh bersama kedua orangtuanya, Erick dan Sarah.
Di mana Erick sering membawanya berbaring di atas hamparan rumput berselimut langit malam, mengajarinya berbagai jenis rasi bintang seraya bercerita tentang legenda bersejarah dari kumpulan benda langit yang bersinar terang itu.
Waktu kecil, Sean hanyalah seorang anak lelaki yang selalu mengidolakan sang Ayah, Erick. Sebagai sosok penyayang dan hangat, Erick selalu
mengutamakan kebahagiaan istri dan anak. Mengemban tugas sebagai Ayah yang begitu sempurna di mata keluarga. Akan tetapi, itu dulu sebelum sosok Inggrid menyelinap ke dalam keharmonisan keluarga, berperan sebagai bencana badai yang mempora porandakan ikatan sumpah suci sebuah bahtera rumah tangga.
"Kali ini kopinya tidak terlalu manis seperti waktu itu," lanjut Allesya seraya meletakkan secangkir kopi untuk Sean di atas meja kecil taman, sedangkan cangkir kopi untuknya masih dia pegang.
"Terima kasih," jawabnya lalu mencubit telinga cangkir dan menyeruput isinya dengan hati-hati.
Didaratkan tubuhnya di sebelah Sean dengan tubuh sedikit miring ke kiri agar lebih leluasa memandang muka yang terlihat lebih tampan di balik temaram cahaya bulan.
"Kak Sean kenapa datang kemari?" tanya Allesya setelah menyerupit kopi tanpa mengalihkan pandangan mata dari muka tampan Sean yang selalu ia damba.
"Ingin minum kopi."
"Aku menyesal bertanya."
Sean kembali menyungging sudut bibirnya. "Aku ingin minum kopi dengan ditemani seekor kelinci kecil yang berisik."
"Kau merindukanku?"
"Entahlah," jawabnya sambil mengedar pandangannya pada hamparan bintang di langit cerah.
Seolah tidak ingin membiarkan Sean menikmati sajian alam itu sendirian, Allesya turut menengadahkan muka ke arah langit.
"Mereka sangat cantik," pujinya tertuju pada benda bercahaya yang menggelayut manja pada langit tak bertepi tersebut.
"Tapi kau lebih cantik," puji Sean yang kini muka cantik Allesya yang menjadi titik pandangnya.
__ADS_1
Dengan rona muka bercaya si Gadis membalas tatapan Sean. "Benarkah?" namun sedetik kemudian cahaya mukanya meredup. "Apa gunanya cantik jika cintanya bertepuk sebelah tangan."
Sean kembali menyeruput kopinya lalu meletakan kembali di atas meja diikuti ******* panjang. "Setelah melihat kondisi Ibuku seperti tadi apakah kau akan tetap menyukaiku?"
Pertanyaan Sean seketika membuat Allesya terpekur pada pikiran yang mengulang kembali akan ingatan mendilemanya. "Apakah kau akan membenciku juga jika tahu kebenaran bahwa Ibukulah yang merampas kebahagiaanmu?"
"Kenapa tidak menjawab?" tanya Sean kembali karena belum juga mendapat jawaban dari mulut Allesya.
Gegas menetralkan pikiran mendilemanya Allesya pun menjawab. "Apa yang terjadi pada Tante Sarah tidak dapat dijadikan alasanku untuk berhenti menyukaimu Kak."
Entah mengapa, sebuah perasaan senang dan puas akan jawaban Allesya tiba-tiba muncul di hatinya. Senyuman menyingsing begitu saja pada muka tegasnya.
"Kak, apa kau sangat membenci wanita itu?" pertanyaan Allesya sepertinya berdampak langsung pada suasana hati Sean.
"Jangan bahas wanita itu," tegas Sean yang terlihat jelas gurat-gurat sejuta kebencian di mukanya.
Kegugupan seketika menyerang hati Allesya. Rasa bersalah, takut dan cemas juga turut bersatu mengahantam dan menyiksanya. Membuat ia tersungkur lalu tenggelam ke dalam pusaran pikiran yang sedang kalut.
"Hmm, Kak Sean aku lupa membawa camilan. Aku akan masuk ke dalam sebentar ya," gadis itu berusaha mencari alibi untuk menutupi kegugupannya.
"Aahh! Kak Sean..?" namun ketika ia mulai beranjak tangan kekar Sean menariknya hingga kembali duduk. Kali ini dia tidak lagi duduk pada bangku taman melainkan duduk di atas pangkuan Sean.
"Kak.., biarkan aku berdiri," pinta Allesya berusaha melepaskan lilitan tangan yang melingkari perutnya.
"Diamlah, jangan banyak bergerak," Sean merengkuh tubuh kecilnya dari belakang. Menenggelamkan muka pada ceruk leher mulus yang tak terhalang satupun helaian rambut karena Allesya menggelungnya tinggi ke atas.
"Eeh, k-kak..," ia tercekat ketika benda kenyal menyentuh lehernya. Kecupan hangat dan basah membuat tubuhnya meremang.
"Ahhh! Kak Sean..," desah Allesya ketika Sean menggigit ujung daun telinganya. Gerakan menggeliat reflek muncul begitu saja.
"Kali ini aku akan meminta ijin terlebih dahulu," ujar Sean yang belum dimengerti Allesya sepenuhnya.
"Heh? Ijin untuk apa?"
"Untuk mencicipi yang manis."
❣
❣
❣
Bersambung~~
Lanjut besok ya.. Udah hampir jam 1 pagi nih. Dah nggak kuat melek🤣😵🥱🥱
Jangan lupa tinggalkan jejal like ya para reader kesayangan. Terima kasih🙏🥰
__ADS_1