
CUP!
Cepat-cepat dibukanya mata yang masih terpejam karena merasakan kecupan di bibir kenyalnya. "Allesya.. Kau?" lirihnya tak percaya.
"Kenapa? Kau tidak suka?"
Sean menggeleng cepat. "Bukan se,"
CUP!
Ucapannya terputus karena Allesya kembali mengecup bibirnya.
"Jadi kau menyukainya?"
"Tentu saja," ia menarik tengkuk leher kecil Allesya, memangkas ruang untuk menuruti hasrat menggebu untuk menyumbu bibir manis yang selalu menggoda.
"Ahk! Kak Sean..," des*h Allesya di kala permainan bibir Sean mulai menyusuri tulang rahang dan luruh pada kulit leher yang begitu lembut bagaikan kulit mulus bayi.
Puas bermain-bermain di sana, bibirnya kembali mendaki ke atas dan mendarat pada bibir ranum bagaikan secawan madu yang menumpahkan rasa manis yang begitu memabukkan.
"Allesya aku sungguh menyukai bibirmu," racaunya di sela pagutan lidahnya.
"Aahh.. Kak Sean."
"Allesya..."
"Sean..? Sean..? Kau kenapa?!"
"Aahk..!"
Sean seketika tersentak bersamaan dengan mata yang terbuka, keluar dari lenanya khayalan berbau erotis. Di kala sebuah cubitan memutar sadis perut kerasnya.
"Apa kau sedang mengigau?" Allesya tampak jengkel. "Aku belum selesai mengobatimu tapi kau malah memejamkan mata sambil senyum-senyum," omelnya lagi.
"Eh, b-benarkah?" Sean seketika kikuk. "Ergh! Bisa-bisa otak kotorku bereaksi di saat seperti ini. Bajingan kau Sean. Memalukan," batinnya terus merutuki.
Perlahan Sean menggeser tubuhnya sedikit menjauh sembari tangan mengusap bagian perutnya yang masih terasa nyut-nyutan karena cubitan mantap Allesya. Sumpah demi apapun, saat ini kegugupan tengah menyelubung rapat hatinya. Gugup jika antara pikiran dan raga tak mumpuni untuk bertidak selaras. Dan berakibat terlepasnya kontrol diri akan n*fsu yang selalu terbakar jika berdekatan dengan Allesya. Alhasil sebuah tamparan panas dari Allesya untuk pipinya yang malang.
Sungguh, karismanya sebagai CEO seolah gugur diterpa angin, terbang bersama dedaunan kering yang patah jika berhadapan dengan wanita bermutiara hazel tersebut.
"Sekarang buka bajumu," pinta Allesya yang masih sibuk mengobrak-abrik isi tasnya kembali. Tanpa memperhatikan respon muka Sean.
Dan cobaan apa lagi ini? Mati-matian ia tepis rasa yang terus memberontak tapi Allesya seolah memberi ruang. Buka baju? Sekarang? Di sini? di Mobil? Mau apa coba kalau bukan untuk ehem!
Sean memasang mimik muka terperangah dengan ribuan pikiran mesum menari-nari nakal di otaknya. "Allesya tapi bisakah kita tidak melakukannya di sini? Ini masih siang dan di luar tampak banyak orang yang berlalu lalang," Sean masih gencar dengan pikiran cab*lnya yang semakin menggerayangi.
Allesya semakin mendekat. "Kenapa tidak bisa? Kita bisa melakukan di sini dan sekarang juga, cepat buka bajumu."
"Tapi All."
Ekspresi super datar mendadak terpajang di muka Allesya. "Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan? Aku hanya ingin melihat cidera di badanmu dan mengobatinya."
BLUSH...
Baru kali ini Sean dibuat malu oleh makhluk yang bernama wanita. Bisa-bisanya ia dibuat bodoh oleh bayangan kotornya sendiri yang berkelana terlampau jauh. Ahh..! Ingin sekali ia membuang mukanya yang sudah seperti keledai berekor sembilan.
Wadaow! Sepertinya si Keledai keracunan Drakor. Ahay..!
Menghempas jauh-jauh pikiran sialan itu, jemari dituntunnya melepas satu persatu kancing kemeja hingga otot-otot kokoh terekspos nyata di kala tubuh atasnya tak lagi terbungkus benang.
Muka cantik Allesya tertunduk spontan menyembunyikan rona merah di pipi. "Ya Tuhan, kenapa aku mendadak malu?" jerit batin Allesya yang tak menyangka kalau dia akan semalu itu.
Padahal dari awal ia meminta Sean membuka baju tidak ada pikiran sejauh itu. Gegas ia mengangkat kembali kepalanya. Menutupi rasa malunya dengan memasang sikap sebiasa mungkin.
__ADS_1
"Putar sedikit badanmu Sean, agar aku lebih mudah mengobatinya," titahnya yang langsung dipatuhi Sean.
Reaksi terkejut seketika menyertai muka Allesya disusul tangan menutupi mulut yang reflek menganga ketika mata menangkap sebuah luka bengkak di sertai memar berwarna biru keunguan selebar dua telapak tangan pada bagian tubuh tulang belikatnya.
"Apa ini sangat sakit?" tanya Allesya cemas dengan tangan kembali mengobati. Mengaplikasikan krim dingin pereda nyeri.
"Tidak terlalu sakit, kau tenang saja."
"Bagaimana aku bisa tenang, jelas-jelas luka ini ada karena aku."
"Ini bukan karenamu melainkan karena keinginanku untuk melindungimu."
"Terima kasih, tapi jangan kau ulangi lagi karena aku tidak ingin terlalu banyak berhutang budi kepadamu."
Hening sesaat. Allesya masih fokus mengobati luka Sean. Sementara Sean tampak menggiring mukanya ke samping untuk menjangkau pandang muka Allesya. "Andai aku ada di sampingmu waktu itu, mungkin anak kita masih hidup."
Ucapan Sean sukses mengundang muka Allesya menoleh ke samping hingga kedua ujung hidung mereka tanpa sengaja saling bertabrakan.
Buru-buru Allesya membuat jarak dengan menarik mukanya ke belakang. Menghilangkan kecanggungan dengan menyibukkan diri seperti memasukkan kembali obat-obat luka ke dalam tasnya.
"Maaf," entah sudah sudah berapa kali kata itu terucap dari bibir Sean semenjak pertemuannya kembali bersama Allesya. Seolah seberapa banyak jumlah kata yang terulang tak mampu mewakili rasa penyesalannya.
"Apa kau mempercayai semua perkataan Becca waktu itu?"
"Aku sangat tahu seperti apa dirimu Allesya."
Allesya menghela napas panjang. Mengusir kesusahan hati yang tak bosan mengiringinya. Mungkin tidak ada salahnya jika ia sedikit bercerita kepada pria yang hampir menjadi ayah tersebut.
"Aku tidak pernah berniat menggugurkan janinku. Waktu itu aku bahkan belum menyadari kalau aku sedang hamil," ucapannya terjeda. Menguatkan diri akan himpitan menyesakan dada di kala otak merotasi ulang kenangan pilu.
"Saat aku berada di toilet kampus seseorang mendorongku dari belakang hingga perutku membentur ujung wastafel membuatku merasakan sakit yang luar biasa hingga aku terjatuh pingsan," bebernya lagi.
Sean terkejut tak percaya bahwa kejadian seburuk itu telah menimpa Allesya. "Siapa orang itu?"
Allesya menggeleng lemah. "Aku tidak sempat melihat mukanya. Dan aku sempat kebingungan kenapa alat tes kehamilan dan obat penggugur kandungan bisa berada bersamaku waktu itu."
"Aku sudah terlalu malu."
"Bagaimana dengan orangtuamu?" seolah takkan habis, kalimat pertanyaan terus meluncur dari bibirnya.
Allesya tersenyum hangat. "Aku sangat bersyukur memiliki mereka. Meski putrinya ini telah membawa aib yang memalukan namun tak sedikitpun kasih sayang mereka untukku berkurang. Kepercayaan bahwa putrinya ini bukanlah wanita nakal ditanamnya dalam-dalam di hati. mereka bahkan tak mendesakku untuk memberitahu siapa ayah dari janin yang ku kandung karena aku memang enggan untuk bercerita. Bahkan Kak Vera yang tahu betul kalau kaulah yang menghamiliku memilih tutup mulut demi menjaga perasaan dan privasiku," jelasnya panjang lebar.
"Dan di saat aku butuh sandaran, Erlan datang meminjamkan bahunya. Menemaniku yang tengah rapuh hingga aku menjadi nyaman ketika bersamanya," sambung Allesya kembali.
NYUT..!
Hati Sean tercubit. Setelah ia menoreh luka di hati Allesya, Erlan justru datang membawa obatnya. Di saat dia hanya bisa menyakiti, Erlan justru menyayangi. Wajar saja, jika Allesya melabuhkan hatinya kepada Erlan, pria baik dan ramah.
"Itulah sebabnya kau mencintainya?"
Allesya tersenyum simpul. "Untuk saat ini aku ingin hidup bahagia bersamanya. Menemaninya hingga sembuh, menjaga perasaanku dan yang terpenting menjaga perasaannya," ia memutar mukanya ke arah Sean yang masih membisu. Mengadu pandang yang langsung berbalas. "Kau juga harus tahu hal itu Sean. Jadi aku mohon berhentilah berharap lebih."
GREP!
Kedua tangan tiba-tiba mengepal kuat. Menahan nyeri yang melanda. Lisan yang terucap dari bibir manis Allesya sukses menyabet luka di hatinya.
"Jangan paksa aku untuk berhenti berharap Allesya."
"Asal kau tahu Sean, di sini..," wanita berlensa hazel itu menunjuk dadanya. "Rasa kecewaku kepadamu masih terpatri kuat. Jadi jangan menguras waktumu hanya untuk berharap yang pasti akan berujung sia-sia."
"Kau terlalu yakin dengan pikiranmu Allesya. Apa kau sudah lupa, dulu begitu gigihnya kau membuatku agar membalas cintamu dan akhirnya kau berhasil. Bukankah banyak harapan yang kau selipkan juga di sela usahamu?"
"Kau salah Sean. Aku gagal. Semua usahaku sia-sia hingga membawa posisi kita seperti sekarang ini. Kau harus ingat itu," Allesya menekan ucapannya. Dan Sean terdiam.
"Baiklah, aku rasa percakapan kita sudah cukup. Semoga ini percakapan terakhir di antara kau dan aku. Kau kembalilah menjalani hari-harimu seperti biasa dan aku juga akan melakukan hal yang sama," ia membuka pintu dan membawa tubuhnya keluar dari mobil. Meninggalkan Sean yang terpekur.
__ADS_1
"Apakah ini yang dimaksudkan Erlan waktu itu. Cinta tak harus memiliki. Dan begitupun dengan keinginan untuk membahagiakan seseorang juga tidak selalu harus memiliki," lirihnya.
Meletakkan hati yang masih meremang, ada hal lain yang lebih penting untuk diselesaikan terlebih dahulu. Ia raih ponselnya dan melakukan panggilan. Hanya menunggu beberapa deringan suara seseorang terdengar dari balik telepon.
"Ada apa?"
"Datang ke Paris besok."
"Apa kau sudah gila? Aku sangat sibuk. Aku tidak bisa."
"Baiklah, kalau kau menolak untuk datang akan ku pastikan wanitamu tahu kalau kau diam-diam masih meneguk minuman beralkhohol."
"Bajingan kau."
Tut.
Panggilan berakhir.
Dia kembali melakukan panggilan lagi.
"What's up brow!"
"Datang ke Paris besok."
"Aku tidak bisa Sean karena mukaku masih bengkak saat ini."
"Kalau kau menolak, bersiaplah wanitamu datang membawa tongkat bisbol karena tahu kau masih suka menggoda wanita seksi."
"Please! Jangan lakukan itu. Baik aku akan datang."
Tut!
Panggilan yang ke dua berakhir dan lanjut menelpon seseorang lagi.
"Hallo...?"
"Datang ke Paris besok."
"What?! Ayolah, ini terlalu mendadak. Maaf aku tidak bisa."
"Apa kau ingin tidur di luar karena wanitamu tahu kau masih sering bermain solo di kamar mandi?"
"Hehe, kau jangan bercanda Sean."
"Baiklah kalau kau menolak datang. Aku akan mengadukannya."
"Eeiit! Baiklah aku akan datang."
Tut!
Panggilan berakhir.
"Fyuuh! Semoga apa yang aku lakukan bisa mengurangi kesedihanmu Allesya."
❣
❣
❣
Bersambung~~
Yuhuu.. Author paling polos di NT hadir..☝☝
Tidak bosan-bisan Nofi ngucapin terima kasih karena kalian masih setia menyimak tulisanku ini..
__ADS_1
Jangan lupa tampol tombol Like dan tinggalkan jejak komen di setiap babnya ya. Nofi maksa loh ini.🤭🤭
lop lop you sekebon pisang😘😘