
Duduk di atas kursi kerja yang dibawa menghadap ke arah dinding kaca raksasa. Melepas pandang di mana jalanan raya kota yang tengah dipadati kendaraan berlalu lalang menjadi sorotannya.
"Ada kabar buruk Tuan, rencana kita kali ini gagal. CEO Galton Corp yang kita jadikan pion tumbal untuk menghancurkan Sean Willson justru mendapat serangan balik berupa gugatan dan terancam pidana," lapor seorang pria berpenampilan rapi lengkap dengan jas kerja dan dasi.
Memutar kursi hingga 180 derajad, memperlihatkan sorot mata dingin penuh dendam dan kecewa yang terbingkai dalam satu naungan rasa kebencian. "Segera singkirkan CEO Galton Corp sebelum ia nekat membocorkan bahwa dibalik pencurian rancangan desain tersebut ada campur tangan kita," titahnya tak tersirat sedikitpun sisi kemanusiaan pada setiap kalimatnya.
"Kerjakan rencana berikutnya," imbuhnya lagi.
"Baik Tuan," sebuah anggukan kecil diberikan sebelum memutar tubuh untuk undur diri.
"Kau harus menerima balasan setimpal atas semua perbuatanmu, Sean Willson," gumamnya berliput seringaian licik di bibirnya.
°°°
Di sebuah private room, Bumpkins Restaurant. Ekspresi tak senang terus membingkai muka Sean di acara pertemuan bersama seorang koleganya. Keberadaan empat wanita penghibur, kian menciptakan perasaan tidak nyaman.
"Untuk apa kau memanggil para wanita ini Tuan Derick?" lisan pertanyaan dilontarkan kepada pria paruh baya yang tampak menyambut senang tuangan red wine dari seorang wanita berpenampilan terlampau seksi.
"Tidak ada salahnya kita membahas bisnis sambil bersenang-senang Tuan Sean, agar pembicaraan kita tidak terkesan kaku," timpalnya teramat santai.
"Maaf, sepertinya saya tidak bisa melanjutkan pembicaraan bisnis kita kali ini."
Saat ini bayangan muka cantik Allesya seolah menyokongnya untuk bergerak dan keluar dari situasi yang seharusnya tak membawanya lebih dalam.
Tiba-tiba Sean merasakan ada yang salah pada dirinya. Sensasi panas menjalar di sekujur tubuhnya, jantung bergerak cepat seiring cairan peluh yang mulai menyembul dari setiap pori-pori kulitnya. Gairah hasrat yang menggebu menuntut raga untuk pelepasan.
"Sial! Sepertinya seseorang meletakkan sesuatu ke dalam minumanku," batinnya mengumpat.
Pandangan bergerak ke arah Tuan Derick dan mulut siap menggelontor tuduhan kepadanya. Namun ternyata, pria paruh baya itu sepertinya juga telah dalam kuasa pengaruh obat yang sama. Pria itu bahkan sudah siap bertempur dengan salah satu wanita di tempat.
"Jauhkan tanganmu!" menyentak seorang wanita yang sudah mulai beraksi memanfaatkan situasi, menjamah tubuh kekar Sean yang seksi dan menggiurkan di matanya.
Sean bisa saja melampiaskan dorongan hasratnya kepada para wanita yang tersuguh di depan matanya saat ini juga kalau mau. Apa lagi wanita itu tampak suka rela membuka lebar-lebar kakinya, sungguh menggoda. Namun mati-matian ia tangkis keinginan itu. "Tidak! Aku harus segera pergi dari sini," batinnya.
Gila! melihat aksi mes*m Tuan Derick yang sudah bercinta dengan seorang penghibur di depannya menimbulkan perasaan jijik yang tak terkira. Susah payah, diajak tubuhnya untuk berdiri dan keluar dari tempat terkutuk itu. Mengacuhkan para wanita yang sudah bermimpi untuk bercinta dengan pria gagah setampan Sean meski harus berujung kandas.
°°°
__ADS_1
Pekatnya malam berhias kilauan jutaan bintang di langit luas tak terhalau awan. Sang Dewi Malam pun berpendar terang, menerangi di tengah kegelapan. Kabut tipis di malam awal musim dingin sudah menyelimuti kota London yang selalu ramai di sepanjang hari. Jarum pendek jam dinding sudah menunjuk tegas di angka 8.
Duduk di atas sofa empuk berteman keresahan yang mematri. Dirongrong kecemasan yang terus menyusup ke cela hati. Setelah kejadian buruk tadi siang, sang Suami yang sedari pergi membawa rasa kecewa tak jua kembali.
"Kak Sean apa kau semarah itu? Tidak seperti biasanya jam segini kau belum pulang," keluhnya.
"Biasanya kau selalu memelukku dan memanjakanku, hiks!" rintihnya kembali.
Baru sehari tak merasakan perlakuan hangat Sean, ia sudah merindukannya. Sudah tak ingin membantah maupun membohongi dirinya sendiri, bahwa jiwa dan raganya sudah menerima sepenuhnya setiap sentuhan cinta Sean, sang Pangeran Berkuda Putihnya, julukan yang dulu pernah ia sematkan kepada pria pencuri hatinya.
Riwayat permintaan panggilan telepon yang tak kunjung tersambung sudah berderet memenuhi layar ponsel. Sungguh Allesya tak menyangka, bisa semudah itu menggila hanya karena ditinggal Sean dalam beberapa jam saja.
Kegelisahannya sempat terurai lega saat pintu apartemen yang sedari tak lepas dari sorot pandangnya mulai terbuka dan disusul tubuh Sean muncul dari balik daun pintu.
Akan tetapi kelegaan itu hanya berlaku untuk kesekian detik saja. Cemas, ia mendekati prianya yang bergelagat tak beres. "Kak Sean kau kenapa?" mulut bertanya seraya menilisik penampilan kacau di depan mata.
"Pergi, jangan mendekat," usir Sean, berjalan melewati Allesya.
Tak mengindahkan ucapan Sean, Allesya malah menarik tangan kekar berbalut jas kerja itu. "Kak Sean, kau kenapa?"
Rasanya ingin sekali ia menerkam Allesya saat ini. Menggagahinya di atas ranjang, melepas gejolak libido yang tengah berkobar. Namun kembali ia halau kuat keinginannya itu.
"Kak Sean, kau kenapa?" lirihnya di sela isak tangis sendu. Kaki memaku, hanya mata yang mampu melabuh pandang pada punggung Sean yang menghilang di balik pintu kamar tamu.
°°°
Tertatih ia berjalan menuju kamar mandi. Berniat menghilangkan efek obat di dalam tubuhnya dengan guyuran air hangat. Mati-matian ia menahan gejolak hasrat yang menggebu dahsyat. Sensasi panas menjalar rata ke seluruh tubuh, pusing di kepala serta ngilu pada organ peranakannya terangkum mejadi satu untuk beradu.
Tiga jam kemudian, Sean baru keluar dari kamar mandi setelah dirasa tubuhnya terbebas dari efek obat l*knat yang hampir membuatnya lupa diri.
"Allesya," lirihnya. Tiba-tiba teringat oleh bayangan Allesya yang menangis karena bentakannya.
Berselimut rasa bersalah, menuntun kaki berayun keluar kamar mencari di mana istri kecil kesayangannya itu berada.
Tubuh kecil meringkuk di atas ranjang tanpa berbalut selimut, membiarkan hawa dingin menggerayangi kulit lembutnya. Terlihat begitu rapuh di depan mata Sean. Sedih juga ikut mendera ketika muka lelap Allesya masih terbingkai oleh sisa jejak air mata.
"Maaf Allesya, aku hanya tidak ingin menyakitimu." bisiknya, menghampus jejak cairan bening itu disusul kecupan hangat di kening.
Sean menyelimuti tubuh kecil Allesya, membelai sayang kepalanya sebelum pergi menuju ruang kerja, menyelesaikan pekerjaan yang tertunda gara-gara drama obat perangsang beberapa saat yang lalu.
__ADS_1
Waktu terus merangkak pelan. Simponi malam kian terdengar jelas di suasana berliput sepi. Di saat banyak insan mulai terlelap, Allesya justru kembali dari mimpi singkatnya. Merasa ada yang kurang, yaitu pelukan hangat Sean yang tak di dapatkan malam ini.
Mata memicing, membiasakan bias cahaya menembus retina. Tangan meraba sisi ranjang di sebelahnya yang ternyata kosong. Tidak ada Sean di sana.
°°°
Sean masih berjibaku dengan komputer lipat kesayangannya. Hingga kosentrasinya pecah saat tubuh Allesya muncul dari balik daun pintu ruangan dan perlahan melangkah mendekatinya.
"Kenapa kau bangun, Allesya? Malam sudah larut, kembalilah beristirahat," sebuah pertanyaan terangkum jadi satu dengan sebuah tuturan.
Mengabaikan nasehat suaminya, memilih mencari jawaban yang terus mengusiknya sedari tadi. "Kau harus menjelaskannya kepadaku," pintanya, lebih tepatnya terdengar seperti tuntutan.
Melepas kaca mata kerjanya, diletakkan di atas meja. Melihat kesedihan di muka Allesya, rasa bersalah kembali mencuat. "Maaf, aku tadi terpaksa membentakmu."
"Kau menyakitiku," mata mulai mengembun.
Menghela napas panjang. Sungguh tak tega melihat mata Allesya yang sudah berkaca-kaca. "Aku tadi masih dalam pengaruh obat perangsang. Saat aku bertemu dengan kolegaku, sepertinya seseorang memasukkan obat itu ke dalam minumanku," terangnya.
Tertegun mendengar ungkapan Sean. Entah mengapa Allesya justru merasa bersalah. "Kenapa kau lebih memilih menyiksa dirimu, Kak?"
Sean memasang muka penuh tanya.
"Aku tidak ingin menyakitimu, Allesya."
"Seharusnya kau datang kepadaku tadi."
❣
❣
❣
Bersambung~~
Terima kasih masih setia menyimak kisah Sean dan Allesya🥰
Terima kasih atas segala dukungan kalian🥰
Jangan lupa tinggalkan like dan komen ya.. jujur,.meski Nofi balas komennya telat2, tapi seneng banget aku bacanya🥰
__ADS_1
Lop lop you segede gunung😘😘