
Di bandara internasional Soekarno-Hatta, Indonesia. Sean, Allesya, dan juga David si Asisten telah mendarat dengan selamat sampai tujuan setelah menempuh perjalanan selama hampir 16 jam, kendati pesawat yang ditumpangi harus melakukan manuver berputar-putar di langit yang biasa sebut Holding Pattern karena terjadi cuaca buruk di bandara tujuan.
"David, kapan jadwal pertemuanku dengan CEO Paramudya Corp?"
"Besok pukul 10 pagi Tuan. Untuk hari ini anda dan Nona Allesya bisa terlebih dahulu beristirahat untuk mengurangi jet lag," lapor David langsung mendapat anggukan kecil Sean.
Sebelum melanjutkan ayunan tungkainya, Sean memutar leher ke belakang. Hingga gelengan kepala dan decakkan lidah ia tunjukan kepada sumber suara yang sedari tadi terdengar sangat berisik.
Jeffrey, Sammy, Alvin, dan Lilly juga ikut dalam perjalanan bisnis menuju negara yang terkenal dengan julukan Negeri Seribu Pulau itu.
Jeffrey dan Sammy memang kebetulan ada serangkai urusan terkait dengan pelebaran sayap bisnis Allison Corp yang berada di Indonesia. Sementara Alvin, dia diseret paksa oleh Sammy untuk mengawasi adiknya yang sangat rajin membuat onar dan mudah menghilang seperti tukang Ghosting tersebut.
Kenapa Lilly bisa datang bersama mereka? Karena ia terus merengek seperti anak kecil, bahkan hingga mogok makan hanya karena ingin merasakan hangatnya udara tropis di Indonesia, menikmati makanan khas yang sering ia tonton melalui channel di youtube seperti tempe, gudeg, rendang, gado-gado, sate, soto, dan masih banyak yang lainnya.
"Sammy kau itu sungguh kampungan. Segera menyingkirlah!" sentak Alvin, risih dengan gelayutan lemas Sammy di punggungnya. Ia seolah tengah memanggul beban berton ton.
"Perutku mual karena terlalu tegang. Penerbanganku kali ini sungguh mengerikan," keluh Sammy, mukanya terlihat pasi. "Aku rasa nyawaku sebagian masih tertinggal di pesawat."
"Ck! Tubuhmu saja yang besar, tapi nyalimu kecil," cebik Jeffrey yang masih kesal. Tepatnya ia harus menanggung malu karena selama masih dalam pesawat, Sammy terus histeris.
"Coba kau lihat adikmu itu, dia bahkan terlihat sangat menikmatinya," puji Alvin kepada Lilly yang terlihat cengengesan karena habis mendapat pujian.
"Dia itu memang manusia up normal," cebik Sammy kepada Lilly.
BUG!
"Aw! Kenapa kau menendangku?!" sengit Sammy karena ulah jahil Lilly. Lemasnya mendadak menguap karena kesal, tubuh yang reflek beranjak dari punggung Alvin tampak sedikit membungkuk, menjangkau kaki yang terasa nyut-nyutan.
"Berdirilah dengan benar Kak Sam. Lihat Kak Alvin tampak kesulitan menopang tubuhmu yang seperti gorila obesitas itu," celetuk Lilly tak kalah sengit.
"Dasar anak pungut," gerutunya, Lilly seketika mendelik tajam.
"Kau itu yang anak pungut!"
"Aku akan memotong uang sakumu!" ancam Sammy.
"Aku tinggal merajuk ke Kak Daisy dan menceritakan hobi mesummu kepadanya," Lilly balik mengancam.
Sammy kembali melemas namun batinnya menjerit frustasi, mengasihani diri sendiri karena mempunyai adik terlampau menyebalkan seperti Lilly.
"Bisakah kalian berhenti bertikai? Berisik!" sela Jaffrey dengan khas mimik muka juteknya, melenggang pergi mengikuti Sean dan Allesya yang sudah lebih dulu menuju lobi bandara.
Sementara Alvin, menarik Lilly dan merangkul pundaknya. "Lebih baik kau menjadi adikku saja, ayo kita pergi sekarang," ajak Alvin.
Lilly melingkari perut Alvin dengan manja. "Bolehkah Lilly menjadi istri ke duamu saja?" selorohnya dengan kedipan mata ala-ala kuda kelilipan batu erupsi gunung vulkanik.
TAK!
"Aw! Sakit..! Kak Sammy..!" pekik Lilly kesakitan karena sebuah jitakan maut melayang di kepalanya.
"Siapa yang mengajarimu menjadi pelakor cilik? Dasar genit!" cerca Sammy tak habis pikir.
"Kak Sammy menyebalkan!" dengusnya, berlari kecil dan berganti hinggap di lengan Jeffrey si Manusia kutub. "Kak Jeffrey...," panggilnya manja.
__ADS_1
"Turunkan tanganmu dari tubuhmu jika kau masih sayang dengannya," nada dingin itu nengingatkan.
Sementara Sammy yang juga mengekori terlihat mengelus dada. "Alvin, ambil saja adikku. Aku ihklas," ucap Sammy, mengundang gelak tawa Alvin.
Sementara itu, di salah satu sudut lobi bandara lainnya. Sepasang netra mengintai dari balik kaca mata hitamnya. Bidikan tajam terus menghunus ke arah sasaran dari kejauhan.
Drrtt...! Drrtt...! Drrtt...!
Getaran pada ponselnya menyegerakan tangan penuh tato itu untuk meraihnya.
"Halo Bos?"
( ... )
"Siap Bos!"
( ... )
"Anda tinggal menerima kabar gembira dari saya."
Seringaian licik terpahat dalam pada bibir berbingkai bulu kumis tebal itu. Otak sudah siap menggalang rencana-rencana jahat untuk menyelesaian misi pencetak pundi-pundi dolarnya.
°°°
Hotel Mulia Senaya, Jakarta.
Manik hazel Allesya menyapu sekeliling ruang kamar tipe presidential suite yang dibalut dengan interior klasik dengan sentuhan warna keemasan di berbagai sisinya. Furnitur yang digunakan juga terkesan elegan.
"Kamar ini cantik sekali," ia berdecak kagum. Sean tersenyum hangat.
Terkesiap, saat sebuah sentuhan lembut melingkari perut rampingnya tanpa permisi. Kelopak netra mengerjap dalam, menerima sensasi kecupan hangat pada kulit lehernya.
"Kau ingin beristirahat sekarang atau nanti?" tanya Sean yang kini juga melayang pandang sejurus dengan pandangan Allesya.
"Aku sudah mendapatkan istirahat yang cukup selama masih di dalam pesawat."
"Baiklah, kalau begitu kita bisa bermain sebentar."
Mulai merayap nakal, tangan besar Sean menelusup pelan di balik kain celana yang terdalam. Menyibak rumput halus di sekitar rawa lembah penyimpan segunung nikmat surgawi.
"Aahh..! Kak apa kau sudah mencuci tangan terlebih dahulu?" Allesya menggeliat, tangannya mencoba menghalau saat jari itu menjajah ke dalam lubang intimnya.
"Sudah Sayang," bisik Sean pada sebelah telinga yang sudah memerah itu.
Semakin dalam dan cepat, Sean memainkan jari-jari panjangnya dengan lihai di dalam sana. "Sentuh punyaku juga, Allesya," satu tangan menuntun tangan istrinya, memberi tugas yang sama pada belalainya yang sudah mengeras sekeras batu. Kepala kian bersandar pasrah pada pundak kurus wanitanya, karena pijitan lembut di bawah sana merangsang denyutan yang melenakan.
SREK!
"Aahk! Kak nanti ada yang lihat, malu," seru Allesya saat Sean menurunkan celananya hingga sebatas paha, membiarkan tubuh kecil itu tetap memunggunginya.
"Tenang saja, dinding kacanya tidak tembus pandang," jawab Sean dengan suara paraunya, bersamaan tangan berperan menurunkan celana dan mulai memposisikan miliknya.
"Aah.. hmm.. ahh.. Kak Sean!" lenguhan seketika terdengar saat benda besar menerobos ke dalam organ kewanitaannya.
"Hmm.. milikmu sungguh menyandukan, Sayang."
__ADS_1
Sepasang anak manusia itupun tenggelam dalam penyaluran hasrat gairah bercinta, seraya menikmati pemandangan indah di balik dinding kaca. Jiwa menapaki satu persatu anak tangga menuju puncak bercinta yang memabukkan. Tiap hembusan napas terbang bersama gelora penyatuan raga di bawah ikatan suci sebuah pernikahan.
°°°
Langit kota Metropolitan mulai meredup, mengantar hari menjelang senja terbenam. Allesya dan Sean baru saja keluar dari Mall Senaya City yang terletak tidak jauh dari hotel tempat mereka menginap. Menuju ke mobil jemputan pribadi yang sudah terparkir menunggu sang Tuan.
Lenggang kaki berhenti, berganti gerakan tangan yang memindai satu persatu barang bawaannya. Kerutan di dahi seolah menjelaskan bahwa ada kekecewaan yang dirasa, ternyata ada satu barang belanjaan yang tak terbawa.
"Apa yang kau cari Allesya?" tanya Sean keheranan.
"Sepertinya ada barang yang tertinggal di dalam Kak Sean," jelas Allesya.
"Baiklah, kau masuk dulu ke dalam mobil ya. Aku akan masuk ke dalam sebentar."
"Iya Kak."
Sean pun melenggang masuk ke dalam bangunan mall.
BRAK!
"Ahhk! Astagfirullah..!"
Belum sempat tangan menarik handle pintu mobil, pekikan seseorang menghalang niatnya. Segera ia memutar leher untuk mencari sumber keheranannya. Sisi kemanusiaannya seketika muncul saat mata menangkap seorang wanita muda dengan balutan jilbab di kepalanya terjatuh tidak jauh dari tempatnya berpijak.
"Nona, apa kau baik-baik saja?" Allesya membantu wanita berjilbab tersebut berdiri.
"Saya tidak apa-apa, terima kasih," ucapnya, mencoba berdiri dengan bantuan yang terulur.
Sesaat kedua wanita yang tak saling kenal itu terkesima saat muka saling bersitatap. Saling larut dalam kekaguman akan pesona kecantikan yang tersaji di depan mata masing-masing.
"Nona, apa masih ada yang sakit?" dengan lembut Allesya bertanya, menunjukkan sikap perhatian. "Tadi kenapa kau bisa terjatuh?"
"Saya baik-baik saja Nona, tadi ada anak kecil bermain skuter listrik dengan tidak hati-hati dan menabrak saya," terangnya.
"Ahk!" wanita berjilbab itu kembali memekik lirih, saat kaki merasa sakit untuk dibuat berdiri dengan benar.
"Nona, sepertinya kau terluka."
"Allesya, apa yang sedang terjadi?" Sean yang baru saja datang dengan sebuah paper bag di tangannya kembali dibuat keheranan.
"Nona?"
"Tuan?"
Ucap Sean dan si Wanita berjilbab hampir bersamaan setelah mata saling bertemu. Seolah menggambarkan situasi bahwa mereka saling mengenal.
"Kak Sean, apa kau mengenalinya?" tanya Allesya dengan muka penuh tanya.
❣
❣
❣
Bersambung~~
__ADS_1