Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 40


__ADS_3


Di sebuah taman jantung kota London, Hyde Park. Seorang gadis bersurai coklat tengah duduk di salah satu bangku berbahan baku thamrin. Kaki yang menggelantung tak menapak bumi berayun-ayun pelan menyapu udara. Sepasang mutiara hazel mengedar pandang pada pemandangan asri yang tersaji di depan mata, sesekali ia lirik sebuah kalung liontin yang bersemayam di dalam genggamannya dengan hati dibuat tak sabar menunggu kedatangan seseorang.


"Ehem!" Allesya memutar lehernya ke belakang, mencari tahu siapa pemilik deheman yang menyentak pikirannya. Mimik muka terheran sontak mewarnai muka polos itu ketika mengetahui sosok wanita cantik tengah menyapanya. Dia adalah Vera, kekasih baru Sean.


"Sedang menunggu seseorang?" tanya pemilik suara lembut tersebut. Entah hanya ingin berbasa basi atau memang benar-benar ingin tahu.


Memutari bangku lalu menempati sisi kosong di sebelah Allesya. Ia ambil satu gigitan besar hot dogs sembari menunggu jawaban dari gadis yang selalu membuatnya merasakan suatu getaran aneh di dalam dada ketika bertatap muka.


Allesya mengangguk pelan tanpa melepas tautan matanya pada Vera. "Iya," jawabnya lirih. "Kakak bukankah seharusnya berada di kediaman Willson untuk menemani Tante Sarah?" sambungnya lagi. Meski keberadaan Vera mengorek kembali luka hatinya namun ia sebisa mungkin bersikap biasa.


Setelah percakapan terakhirnya dengan Sean dua hari yang lalu, Allesya sudah tak lagi menjejakkan kaki pada lantai mewah mansion keluarga Willson. Sungguh butuh banyak tenaga perasaan yang harus ia siapkan saat berpamitan kepada Henry dan Sarah karena mereka terutama Henry berkali-kali membujuknya agar merubah kembali keinginan untuk berhenti bekerja di sana tanpa mereka ketahui alasan yang membuat ia tetep keukuh dalam berkeputusan.


"Aku kabur dari sana," jawabnya santai seolah tiada beban hidup seraya melahap kembali sisa potongan hot dogs di tangannya. Pemandangan yang sangat kontras memang. Melihat wanita cantik yang selalu mengutamakan kemewahan dalam berpenampilan tengah menikmati makanan pinggir jalan di bangku taman kota sangat jarang dijumpai.


"Maksudnya?"


"Rasanya aku ingin menyerah saja. Aku sudah berusaha keras untuk mengambil hati Sarah, tapi dia terus saja mencarimu. Allesya di mana? Allesya kenapa tidak datang? Suruh Allesya datang sekarang," keluh Vera sembari meniru perkataan, nada bicara serta mimik muka Sarah seepic mungkin.


"Apakah dia baik-baik saja? Apa tadi dia sudah makan? Obatnya sudah diminum juga?" gurat-gurat kecemasan seketika meronai muka cantik alami Allesya. Entah mengapa, baru dua hari tak bertemu Sarah, sebuah kerinduan telah menyelimuti hati. Sebuah kerinduan yang bermula dari rasa sayang yang menguar secara alami, bak seorang putri yang menyayangi sang Ibu.


"Dia baik-baik saja. Jika dibandingkan dulu waktu pertama kali aku bertemu dengannya, sekarang dia sudah lebih jauh berbeda. Sikapnya sudah menyerupai manusia waras lainnya," cerocosnya dengan mulut masih mengunyah.


"Syukurlah."


"Datanglah kesana, setidaknya akan lebih mudah bagiku untuk lebih dekat dengan Sarah jika ada kamu."


Allesya menghela napas panjang, menghempas perasaan sedih yang kembali menyeruak di hati. "Aku tidak bisa."


"Kenapa?" Vera kembali bertanya tanpa ada rasa canggung sedikitpun yang mengganggu meski baru kali pertama ia berbincang dengan Allesya. Rasa nyaman ketika bersama gadis berlenza hazel itu muncul begitu saja tanpa di undang.


"Malah diam," protes Vera karena Allesya tak kunjung bersuara ataupun menjawab. Ia menjejalkan kembali sisa hot dogs yang tinggal satu kali gigitan itu.

__ADS_1


"Apa enak?" sepertinya melihat cara makan Vera lebih menarik perhatian Allesya saat ini.


"Apanya?"


"Hot dogsnya."


"Heyy..! Apa kau bermaksud mengejekku karena tidak menawarimu dan memakannya sendiri?" bibir merah itu mencibir karena sedikit tersinggung.


Alih-alih menjawab, justru sebuah senyuman mengulas manis di mukanya. Tatapan yang menyiratkan sesuatu menyapu muka Vera yang sebenarnya memiliki beberapa kesamaan dengan muka Allesya yaitu pada bentuk hidung, bibir dan mutiara hazel.


Allesya bahkan tak membenci Vera yang jelas-jelas telah mencuri Sean darinya meski tanpa ada unsur kesengajaan sebelumnya. Tidak ada sikap bar-bar menyebalkan atau ulah ajaib seperti halnya yang ia lakukan kepada para kekasih Sean terdahulu agar menjauh dari Pangeran Berkuda Putihnya.


"Kau sangat cantik, makanya Kak Sean menjadikanmu kekasihnya," puji Allesya benar-benar tulus.


Meski sekilas, Vera bisa menangkap jelas sorot mata kecewa di kala gadis yang menjadi teman bicaranya saat ini menyebut nama Sean. "Apa-apaan ini? Apa kau menyukai kekasihku?"


Tubuh yang semula terduduk tegap dibawa bersadar lemas pada bangku taman. Muka yang beberapa hari ini lebih banyak bermuram durja di buat menengadah ke langit, melempar pandangan serta pikiran ke awang-awang. "Sebelas tahun lamanya dan sudah ratusan kali hati ini ia patahkan," curhatnya seraya meremas kain di dada, berharap rasa sakit di dalam sana terbang terbawa hembusan angin musim semi.


Nyuut...!


"Berhentilah memasang muka seperti itu. Kau membuatku terkesan jahat saat ini," cicit Vera namun lawan bicaranya lagi-lagi membisu.


"Ayolah, meski aku wanita jal*ng tapi aku tidak sejahat yang kau pikirkan," Vera geregetan karena kebisuan Allesya.


"Vera kau juga di sini?"


Suara bariton seorang pria menerobos masuk ke dalam indera pendengaran Vera dan begitu juga Allesya. Kedua wanita itu terhenyak serentak lanjut memutar leher ke arah pemilik suara dengan serempak. Sekilas mereka terlihat sangat kompak.


Spontan Allesya beranjak dari posisi duduk menyambut kedatangan Erick, sementara Vera masih setia dengan posisi ternyamannya yaitu duduk bersandar seraya melipat kedua tangan di depan dada serta sebelah kaki bertengger di atas kaki yang lain saling bertumpang tindih.


"Paman Erick? Sedang apa kau di sini?" alih-alih menjawab, Vera justru balik bertanya.


"Aku datang karena ingin menemui seseorang," jawabnya seraya melirik ke arah Allesya dan Vera ber-o ria sebagai respon tanda mengerti.

__ADS_1


Hening sesaat. Erick tampak menilik muka Allesya dan Vera secara bergantian. Kedua wanita itu saling melempar tatapan karena menyadari pandangan Erick yang terkesan menelaah sesuatu.


"Paman..," lirih Allesya menerpa keheningan yang sesaat.


"Iya?"


"Allesya ingin menunjukkan ini?" diulurnya tangan yang tengah memenggenggam kalung liontin dan langsung diterima Erick.


Sebenarnya, tujuan Allesya ingin bertemu dengan Erick kali ini, untuk memastikan sesuatu yang berhubungan dengan peristiwa 17 belas tahun yang lalu. Ia merasa ada kesamaan waktu antara hilangnya anak sahabat Erick dengan waktu di mana Reymundo dan Inggrid membawa bayi Allesya ke rumah.


Jujur, Allesya menaruh harapan lebih bahwa dia adalah anak yang hilang itu. Semoga saja, hatinya terus berdoa.


"Seanie Allesya Damirich," dibacanya sebuah ukiran nama di balik liontin pipih berbetuk tetesan air beraksen sebuah berlian putih pada bagian tengah.


Vera menukik tajam kedua alis di kala mendengar sebuah nama tak asing bahkan sangat ia kenal. Melihat ke arah Allesya dan Erick secara bergilir, berharap bisa menemukan jawaban dari interaksi mereka.


"Kalung ini... apakah milikmu?" tanya Erick kepada Allesya.


"Iya Paman," jawabnya.


Vera seketika tercekat seraya menutup bibir yang menganga dengan jari-jari lentiknya. Rasa tak terkira seolah memberi kejutan luar biasa pada jiwanya. "Apakah mungkin..?" lirihnya tak percaya membuat Allesya sedikit bingung dan bertanya-tanya akan reaksi Vera yang berlebihan.


"Kita harus memastikannya dulu. Vera mumpung kau di sini ikutlah bersamaku juga bersama Allesya,"


"Paman kita mau kemana?" tanya Allesya yang belum bisa memahami situasi seutuhnya.


"Mencari jawaban."




__ADS_1


Bersambung~~


__ADS_2