Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 45


__ADS_3


Rotasi waktu masih terus berputar pada porosnya. Detik demi detik telah dilampaui hingga jarum jam sudah menunjuk tegas pada angka 2, menandakan malam telah berganti pagi dini hari.


"Haaah...! Haaahh! Aaahhk..!" erangan dari pelepasan puncak kegiatan panas kembali terdengar untuk ke sekian kali.


Sean benar-benar menggagahi tubuh Allesya tanpa ampun. Meluapkan segala hasrat gairah mengatas namakan kebencian. Memuaskan libido yang sudah bertahun-tahun ia tahan.


Tidak pernah ia merasakan sensasi kenikmatan bercinta seperti ini sebelumnya. Sungguh berbeda, tubuh Allesya bagaikan makanan lezat yang membuatnya ketagihan. Ingin memakannya lagi dan lagi seolah rasa lapar tak jua tergantikan oleh rasa kenyang.


Sempat terbesit di dalam otak akan sebuah pertanyaan. Kenapa semua yang ada pada diri Allesya selalu sukses membuatnya kecanduan. Padahal sudah jelas kegiatan penyatuan tubuhnya bukan berlandaskan cinta melainkan atas dasar wujud pelampiasan sebuah kebencian. Sungguh, berpikir secara jernih begitu payah untuknya saat ini hingga membuatnya kesulitan menemukan jawaban hakiki dari kata hati.


"Hah! Hah! Hah!" tubuh masih dalam posisi menindih tubuh Allesya, ia berusaha mengatur ritme napasnya hingga tubuhnya terguling ke samping karena Allesya mendorongnya agar menyingkir dari atas tubuhnya.


Tangan kurus Allesya menarik selimut yang berserakan guna menutupi tubuh polos yang sudah dipenuhi pola kupu-kupu merah karena keganasan Sean dalam menggarapnya.


Dengan kekuatan yang tersisa kaki dibuat menuruni ranjang. Rasanya ingin sekali ia keluar dari ruangan terkutuk itu.


BRAK!


"Aahhhk!"


Lagi-lagi sepasang kaki kecil Allesya kesulitan menopang tubuhnya sehingga membuat ia terjatuh. Ia tampak meringis dengan sebelah tangan menangkup organ intimnya yang terasa sakit dan sebelah tangan yang lain dibuat mencekal selimut agar tidak merosot ke bawah.


Sean yang melihat Allesya jatuh reflek meloncat dari ranjang dan berniat membantunya. Entah sejak kapan rasa kepeduliannya kembali muncul meski kebencian masih menggiringi hati.


"Menjauhlah! Jangan sentuh aku!" Allesya mendorong tubuh Sean yang sama sekali tak bergeser sedikitpun akan upayanya yang memang lemah.


"Menurutlah!" sentak Sean geram.

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak sudi disentuh oleh pria bajingan sepertimu! Bertindak murahan untuk memuaskan nafsumu!"


Sean tertohok mendengar ucapan Allesya. Posisi yang semula berjongkok dibawanya berdiri. Menjauhi Allesya yang masih terduduk di lantai. Lanjut mengambil celana yang teronggok di lantai untuk dipakai kembali.


Sedangkan Allesya, ia terlihat susah payah membawa tubuhnya untuk berdiri. Dipungutnya pakaian yang berserakan ke setiap penjuru ruangan karena semalam Sean melemparnya dengan sembarangan.


Sean tampak mengernyit ketika lensa birunya tanpa sengaja melihat bagian punggung Allesya yang kebetulan tak terbungkus selimut. Flek bewarna coklat seperti bekas luka bakar sukses menyita perhatiannya. Dari semalam Allesya sama sekali tak diberi kesempatan untuk berpakaian kenapa baru sekarang ia menyadarinya.


Rasa penasaran seolah menuntutnya untuk mengingat sesuatu yang sepertinya terlupakan cukup lama. Kakinya bergerak mendekati Allesya yang tengah sibuk dengan kain yang baru ia pungut.


"Bagaimana kau mendapatkan bekas luka ini?" Allesya terkesiap karena tiba-tiba ia merasakan sapuan tangan Sean di bagian bekas lukanya. Gegas ia beringsut menjauh. Sungguh ia sudah sangat jijik akan segala sentuhan dari pria yang sempat bertahta di hatinya tersebut.


Alih-alih menjawab, gadis yang nyatanya sudah berstatus sebagai wanita itu menampik tangan Sean dengan kasar. Cepat-cepat ia kenakan kembali pakaiannya. Tak berniat untuk segera menjawab pertanyaan Sean.


"Aahhk! Mau apa lagi kau?!" seru Allesya ketika Sean menarik tubuhnya dengan kasar.


"Jawab pertanyaanku," titah Sean menatap tajam netra sembab Allesya. Bahkan hingga saat ini netra itu masih basah karena air mata yang seolah tak urung berhenti karena dorongan kesedihan, kecewa, dan sakit hati yang tertoreh.


Tiada lagi sifat manja dan ceria yang selalu ia persembahkan untuk Sean. Dan mungkin memang tidak akan ada lagi Allesya yang dulu setelah ini. Sepertinya, sudah waktunya ia kibarkan bendera putih sebagai tanda menyerah akan perjuangan cintanya.


Sekali lagi, pria yang baru kali pertama menerima kalimat hinaan dari seorang wanita itu tertohok. Membenarkan perkataan Allesya, dia memang memperk*sanya. Menggagahinya dengan sangat liar dan brutal. Tapi nyatanya dia tidak ingin disalahkan. Sebisa mungkin menempatkan diri pada posisi yang benar. Menguatkan asumsi bahwa hukuman itu sangatlah pantas diberikan kepada Allesya.


Dibukanya daun pintu kamar lebar-lebar yang semula terkunci. "Pergilah! Dan jangan temui aku lagi," usirnya tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Sorot mata kebencian justru semakin membidik tajam. Sean bahkan tak peduli bahwa suasana di luar apartemen masih sangat gelap.


Kaki diajaknya berdiri tegap meski tubuh sudah sangat berasa lemas bak tak bertopang tulang. Allesya memaksa kepala yang terasa berat dan berputar-putar untuk mendongak tegar. Membalas sorot mata kebencian Sean dengan sorot mata kekecewaan yang begitu tinggi.


Sebelum akhirnya kaki benar-benar ia bawa pergi Allesya kembali berucap. "Dulu kau pernah berjanji untuk menjadi pria dewasa yang akan selalu melindungiku dan tidak akan membiarkan orang lain membuatku sedih bahkan menyakitiku. Tapi..," ucapan Allesya terjeda. Mencoba menahan suatu rasa yang hampir saja meledak.


Sementara Sean tampak bergeming namun tukikan tajam terpahat jelas di sepasang alisnya. Berusaha menangkap maksud dari ucapan Allesya yang begitu ambigu untuk dicerna.

__ADS_1


"Tapi.. kau mengingkari janjimu. Nyatanya kau lah orang yang merusakku. Kau lah orang yang paling menyakitiku. Dan juga kau lah orang yang paling membuatku bersedih."


Tes..


Entah sudah berapa liter air mata yang tumpah dari telaga beningnya. Di usapnya kembali bingkai netra basah itu menggunakan tangan yang selalu mengulurkan kebaikan kepada siapa saja. "Aku sangat membencimu Tuan Muda Sean Willson," lolos sudah sebuah kata yang menyimbolkan dari segala rasa yang terikat menjadi satu.


Hingga akhirnya kaki dibuatnya melangkah meninggalkan sosok Sean yang masih membisu. Membawa pulang hati yang patah, harga diri yang hancur, serta kehormatan yang koyak.


"Kapan aku pernah berjanji seperti itu? Aku bahkan tak mengingatnya. Apa dia baru saja mengarang cerita?" ucap Sean di dalam hati dengan tatapan mata tak lepas dari punggung Allesya yang kian menjauh dan menghilang.


°°°


Allesya menyusuri jalanan sepi nan gelap. menembus kabut putih yang menyelimuti kota London di dini hari. Kedua tangannya tampak mengerat kuat kain blouse agar tetap tertutup rapat, menggantikan peran kancing-kancing baju yang diyakini terlepas di saat Sean menarik paksa blousenya.


Gerakan langkah kakinya tergontai-gontai. Rasa-rasanya seluruh tulang pada tubuhnya remuk karena perlakuan kasar Sean di atas ranjang. Di tambah lagi menurunnya kondisi kesehatan serta rasa perih luar biasa pada organ intimnya kian menyiksa. Namun dia menepis kuat segala kesakitan yang ia rasa. Nenek aku harap kau baik-baik saja. Dan kalimat tanda kecemasan itulah yang terus mengiringi di sepanjang langkah Allesya menuju rumah.


Satu jam lebih kaki itu dibawa melangkah hingga akhirnya ia tiba pada sebuah pelataran rumah. Namun niatnya untuk segera masuk ke dalam seketika urung dilakukan karena terhalang oleh police line yang terpasang ketat di depan pintu.


"Kenapa benda ini ada di sini? Nenek..," tiba-tiba pikiran-pikiran buruk merangkak cepat di otaknya.


"Tidak! Tidak! Nenek pasti baik-baik saja," ia mencoba menepis pikiran buruk yang menggerayangi otaknya.


"Allesya..?" tubuhnya terjingkat kaget karena tepukan tangan seseorang mendarat di bahunya.




__ADS_1


Bersambung~~


__ADS_2