Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 104


__ADS_3


Ruang kamar perawatan yang tenang seketika dibuat tegang oleh tindakan Marry yang berada di dalam kuasa luar nalar. Kalau saja Arthur dan Vera tidak bergerak cekatan, mungkin bayi yang baru belum genap berusia sehari itu sudah dalam kondisi tak bernyawa.


Deklarasi tegas akan penolakan Vera terhadap tuntutan gila Marry agar Arthur menikahinya sontak merangsang gejolak suasana perasaan yang berubah secara ekstrim padanya. Hingga beberapa petugas medis harus kembali turun tangan dalam menangani keguncangan jiwa Marry dengan cara memberi suntikan obat penenang.


Langkah lemah yang membawa tubuhnya keluar dari ruang dokter psikiater seketika terhenti dikala sebuah sentuhan di bahu membuyar pikirannya dari ketermanguan. "Vera, kau baik-baik saja?" tanya Arthur, tahu betul istrinya masih gamang dalam keterkejutan. Apa lagi setelah mendengar penjelasan dokter tentang penyakit mental yang di alami Marry.


"Apa aku terlihat baik-baik saja? Tindakan Marry tadi membuatku takut," jawaban sekaligus sindiran terlontar lesu dari bibir Vera.


"Maaf."


"Iya, teruslah meminta maaf tanpa menjelaskan semuanya hingga tuntas," tukas Vera.


Arthur menghela napas yang terasa berat. Bukannya tidak ada niat untuk menjelaskan semuanya, hanya saja waktu dan tempat seolah tak diberikan dengan nyaman kepadanya untuk menyelesaikan penjelasannya sedari tadi.


Di sebuah taman belakang Rumah Sakit, Arthur membawa Vera ke sana agar dapat berbicara leluasa tanpa ada gangguan lagi.


"Marry memiliki gangguan bipolar disorder yang sudah merembet ke fase depresif."


"Aku tahu itu Arthur, tadi dokter sudah menjelaskannya, yang aku tanyakan kenapa dia sampai memiliki gangguan seperti itu?" sela Vera tak sabaran.


Arthur mengulas senyuman hangat, menaruh pandang ke muka cantik Vera yang sejak dari kemarin belum dijamah oleh bibirnya. Tersokong hasrat untuk mendaratkan ciuman, namun laju muka yang memangkas jarak tiba-tiba tersendat karena dorongan kecil di dadanya.


"Jelaskan dulu semua baru kau boleh melakukannya," sengut Vera.


Helaan napas pasrah terdengar bersamaan hempasan punggung pada sandaran bangku taman. "Bayi yang baru dilahirkan Merry bukanlah hasil hubungannya dengan mendiang suaminya, Roland. Melainkan hasil korban pemerk*saan. Dia diperk*sa oleh ayah tirinya sendiri. Sementara ibu Marry yang mengetahui tindakan keji suaminya langsung gelap mata dan membunuhnya dengan menaruh racun ke dalam minumannya. Dan hal yang lebih mengejutkannya lagi, ibu Marry ikut meminum racun tersebut setelah mengetahui suaminya meninggal."


Mimik tertegun tak percaya meraup sempurna muka Vera. "Ya Tuhan..," lirihnya seraya menutup bibir dengan jari jemarinya.


"Oke, aku lanjutkan. Belum tuntas kesedihan yang menerpa, ternyata Marry diketahui mengandung anak dari ayah tirinya dan bertepatan dengan rumahnya yang terbakar karena ada korsleting listrik. Ditambah lagi satu-satu orang yang bisa melindunginya yaitu Roland meninggal beberapa bulan yang lalu. Hingga membuat ia mengalami gangguan bipolar berat."


"Lalu kenapa ia terlihat sangat terobsesi kepadamu kalau meninggalnya Roland menjadi salah satu alasan Marry bisa seperti itu? Bukankah itu berarti dia mencintai mendiang suaminya?" tanya Vera mencoba mengorek jawaban dari rasa penasarannya.


Arthur kembali mengulas senyum sebelum memberi obat penasaran Vera. "Apa kau ingat, tadi dokter bilang jika Marry mengalami gejala psikotik, yaitu ia sering berhalusinasi bahwa arwah mendiang suaminya berada di dalam tubuhku. Memang sangat konyol bukan? Tapi itulah hasil diagnosis psikiater. Dan asal kau tahu Vera, selama bersama dia, aku memang lebih memilih menjaga sikap untuk menghindari kejadian seperti di ruang kamar perawatan tadi, sebisa mungkin tidak menunjukkan pertentangan secara terang-terangan. Apa lagi mengingat bahwa ia juga pernah beberapa kali berniat bunuh diri bersama putranya, Danni, membuatku harus berpikir dua kali agar lebih berhati-hati dalam bertutur kata ketika bersamanya," jelas Arthur kembali.


Tubuh Vera mendadak lemas, rasa bersalahpun mulai menerpa perasaan. "Terus apa keputusan yang kau pilih, Arthur?" tanyanya sangat pelan, terpaut oleh rasa khawatir bahwa Arthur akan meninggalkannya demi memenuhi janji.


"Keputusan apa?"


Tertunduk lesu, menyingkirkan rona muka sendu dari pandangan suaminya. "Keputusan untuk memilih menikahi dia atau tidak. Bukankah mendiang suaminya memintamu untuk menjaga anak dan istrinya?"


Arthur tergelak lirih, menarik muka yang semula tertunduk kini melabuh pandang ke arahnya membawa tanda tanya besar. "Apa yang harus aku putuskan, Vera? Aku tidak pernah menjadikan hal itu sebagai pilihan."


Kening Vera menampakkan garis-garis kerutan, bentuk respon dari kalimat Arthur yang terdengar ambigu. "Arthur, aku tidak mengerti."


Dirangkumnya muka cantik itu dengan kedua tangannya. Mengait tatapan lekat namun terkesan meneduhkan. "Bagaimana mungkin aku menikah dengannya sedangkan aku sudah memiliki seorang istri cantik yang selalu menungguku di rumah?"


"Arthur ..."


"Vera ... dengarkan. Aku memang berjanji untuk menjaganya tapi bukan berarti aku harus menikahinya. Lagian aku sudah banyak belajar dari Papa Erick, bahwa kebahagiaan hanya akan terbayang oleh kesemuan belaka jika membiarkan orang ketiga menyusup ke dalam payung bahtera rumah tangga."


"Tapi Arthur bagaimana kalau dia kembali bertindak nekat? Jujur saat ini aku justru mengasihaninya dan anak-anaknya," dorongan emosi rasa iba mendesak air mata untuk melaju lebih deras.


"Apa ini? Kau terlihat rela jika aku menikahi wanita lain. Aku merasa kecewa."


Menggeleng cepat bersamaan melesat ke dalam dada lebar di depannya. "Bukan seperti itu Arthur. Mana mungkin aku rela. Dan aku tidak akan sanggup menerima kenyataan jika itu benar terjadi. Tapi ..."


Membelai surai coklat menguar aroma buah jeruk itu dengan sayang. "Tenang saja, masih banyak alternatif lain yang bisa kita pakai, Vera. Dia bisa sembuh dengan menjalani serangkaian pengobatan dan terapi. Saat ini aku hanya butuh dukunganmu saja, dengan cara menerima kehadiran Marry dan anak-anaknya."

__ADS_1


"Iya Arthur, aku akan selalu mendukungmu."


"Terima kasih istri cantikku, dan kau harus tahu bahwa kaulah tanggung jawabku seutuhnya, Vera."


"Arthur..," Vera tampak terharu.


"Aku sudah menjelaskan semuanya bukan? Jadi aku boleh melakukannya sekarang."


"Tapi masih banyak orang yang lew-."


CUP!


Kalimat Vera terpangkas sebelum sampai titik akhir karena sebuah lum*tan hangat Arthur telah membungkam bibirnya.


°°°


Keesokan hari.


Di belahan bumi lainnya, sepasang anak manusia tengah hanyut dalam kesenangannya, menikmati pasir pantai putih yang menggelitik telapak kaki. Bermain dengan sapuan gulungan ombak di pesisir pantai yang menyisakan buih.


"Aku tidak mengijinkan."


"Ayolah Kak, aku ingin berenang," rengek Allesya, tangan dibawa menggelayut pada lengan berotot Sean.


"Jangan Allesya, di sana berbahaya. Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa. Lagian kau tidak bisa berenang," tutur Sean.


"Kan ada Kak Sean yang menjagaku," cebik Allesya tampak kecewa.


Sean merangkul tubuh Allesya dari belakang, menggiring pandangan lurus ke arah pantai. "Coba kau lihat, hari ini gulungan ombaknya terlihat besar karena kencangnya hembusan angin pantai. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk berenang di sana," tutur Sean, memberi pengertian.


"Jika kau ingin berenang, kita bisa berenang di kolam renang yang berada di vila," imbuhnya lagi.


"Kenapa kau tidak mau?"


"Karena Kak Sean mesvm, di kolam renangpun kau menginginkannya, wek!" ejek Allesya seraya menjulurkan lidahnya. Berlari kecil menjauhi Sean. Meninggalkan jejak kaki di atas pasir pantai yang begitu lembut.


Sean tergelak, membenarkan ejekan Allesya lantas mengambil langkah, menyusul Allesya yang mulai asyik memungut cangkang kerang.


"Kak Sean, aku menemukan cangka kerang terompet," teriak Allesya kegirangan. "Bagaimana menurutmu? Bukankah dia sangat cantik?"


Sean yang sudah berjarak tak jauh dari Allesya, mengamati kerang terompet itu di sela langkahnya. "Iya memang cantik, tapi tak mampu menyaingi kecantikkanmu."


Membeber jaket denimnya di atas pasir sebagai alas duduk. "Kemarilah," lambaian tangannya memberi isyarat agar Allesya mendekat.


Patuh, wanita cantik itu sudah berada di posisi ternyamannya saat ini. Yaitu duduk berada di antara paha Sean yang terbuka, beringsut ke dalam rengkuhan kedua tangan kekar.


"Coba kau tempelkan kerang itu ke telingamu seraya memejamkan mata, dan katakan apa yang kau rasakan," ucap pria tampan itu.


Si Wanita pun menuruti, sesaat kemudian ketakjuban terlihat pada mimik mukanya. "Wah... aku bisa mendengarkan suara angin dan ombak begitu merdu. Saat memejamkan mata aku seperti di ajak terbang."


"Kau memang sangat manis," pujinya, menghadiahi kecupan di pundak putih yang terbuka itu lalu merangkak ke leher mulus yang menggoda.


"Kak Sean, kau membuatku geli," sensasi hangat yang dirasa membuatnya meremang.


"Kamu tau gak, kenapa pemandangan di pantai ini begitu indah?" tanya Sean.


"Karena cuaca sedang cerah," tebak Allesya.


"Salah."

__ADS_1


"Lalu apa?"


"Soalnya ada kamu disampingku."


"Aku sungguh tersipu malu, Tuan Sean Willson," canda Allesya karena senang.


"Aku tahu."


"Kak, kamu tau gak bedanya kamu sama perahu di laut?" Kini ganti Allesya yang bertanya.


"Aku tidak tahu."


"Kalau perahu itu sering menebar jaring jaring, tapi kalau kamu menebar benih-benih cinta di hatiku," Allesya terkikik.


"Aku tidak hanya menebar benih-benih cinta di hatimu, tapi juga benih-benih Sean junior di dalam rahimmu setiap malam, Sayang," selorohnya, tangan tampak menelusup nakal ke dalam kain, bermain dengan usapan lembut di kulit perut Allesya.


"Kak Sean, kau jangan mulai lagi, di sini tempat terbuka," bibit ranum itu memberi peringatan saat tangan Sean sudah mendaki dan bermuara pada puncak gunung yang menggemaskan.


"Tidak ada salahnya kita mencobanya dengan suasana baru," bisik Sean.


Gegas beranjak dari duduk, melepaskan diri dari tangan Sean yang sudah merambat kemana-mana. "Bercandamu itu tidak lucu kak Sean."


"Kau mau kemana lagi, Allesya?"


"Ahk..!" beberapa ayunan tungkai yang baru saja diambil seketika terhenti karena sesuatu tertancap di telapak kaki tak beralasnya.


Terkejut dan cemas, Sean sontak mendekati Allesya yang tampak meringis karena rasa perih yang menyerang kakinya. Bergerak cekatan, memindai sumber kesakitan wanitanya.


"Kakimu terkena pecahan kaca, sebaiknya kita kembali ke vila untuk mengobati lukamu."


"Naiklah ke punggungku," titah Sean tanpa ada penolakan dari Allesya.


"Carlos, Dory, Pedro! Kemarilah," Sean memanggilkan semua yang bekerja di sana saat kaki sudah menjejak di lantai vila.


Bergerak secepat kilat, ketiga bawahan yang dipanggil sudah berdiri dan menghadap di depan sang Tuan.


"Iya Tuan," ucap ketiganya serentak. Mereka bahkan tertegun kompak saat melihat Tuannya tengah menggendong istrinya.


"Susuri seluruh pesisir pantai, pastikan tidak ada benda-benda tajam yang bisa melukai istriku lagi," titah Sean tak main-main membuat ketiga bawahan itu tercengang di dalam hati.


"Baik Tuan."





Bersambung~~


Hayoo..siapa yang kemarin sudah naik darah gara-gara Marry yang nggak tahu malu?


Hayoo.. siapa yang udah geregetan karena Arthur yang kurang tegas dan lembek?


😆😆 Maaf ya, Nofi nggak maksud. Tapi jujur Nofi malah suka bacanya komen2 kalian🥰


Terima kasih🙏


Nofi sayang kalian😘😘

__ADS_1


__ADS_2