
Enam purnama telah berlalu setelah Sean kembali dari Paris. Selama itu ia menepati apa yang dikatakan selayaknya pria sejati yang telah berucap janji. Sama sekali tak mengusik jalinan hubungan antara Allesya dan Erlan.
Namun selama itu pula, ia kembali tersiksa. Kepercayaan diri saat lidahnya berucap keputusan untuk merelakan Allesya berbahagia dengan Erlan waktu itu justru menyeretnya lebih dalam pada lumpur penderitaan.
Seperti lisan terakhir yang terangkai di depan si Wanita 'Aku pasti akan sangat merindukanmu' dan itupun terbukti. Ia kembali mengalaminya. Bahkan kerinduannya kali ini lebih dalam dari sebelumnya.
Tumpukkan berkas kerja di atas meja seolah tak dibiarkan menipis. Layar komputer yang menyala terang dan menampilkan banyak barisan file data tak diijinkan padam terlalu cepat. Lelahnya raga pun enggan dirasa. Hingga tenaga yang sudah terperas habis di penghujung malam, memaksa ia kembali ke peraduan dan menelan butiran pahit insomnia sebagai pengantar tidur.
Seperti yang dipinta Allesya 'Jalani hari-harimu seperti biasanya', ya, Sean pun menjalaninya. Tanpa Allesya tahu, setelah ia menjauh Sean melewati hari-harinya dengan tidak sehat. Memforsir tubuhnya dengan bekerja dan bekerja, untuk mengalihkan hatinya dari himpitan kerinduan yang sangat menyiksanya.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk," ucap Sean dari dalam.
Bertepatan dengan itu seorang sekretaris muncul dari balik daun pintu.
"Permisi Tuan, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda tapi dia belum membuat janji sebelumnya," lapor Clara si Sekretaris.
"Suruh saja dia masuk."
"Baik Tuan," Clara menunduk sekilas sebelum undur diri.
Tidak membutuhkan waktu lama, tamu yang dimaksud masuk ke dalam ruangan dengan langkah kaki sedikit ragu. Kehadirannya seketika menarik perhatian penuh si Pemilik ruangan.
Muka cantiknya sukses menghempas raut kusut di muka Sean. Terbukti nyata, eksistensi Allesya mampu mengusir suasana buruk hatinya dengan sangat cepat.
Gegas ia ambil satu pijakan yang membawa tubuhnya bangkit dari kursi kebesarannya. Lanjut mengayun kaki mendekati tubuh yang sangat ingin ia dekap.
"Allesya..," lirihnya, tak kuasa menahan hasrat untuk merengkuh tubuh Allesya.
"Jangan lakukan itu Sean!" tegurnya bersamaan kedua tangan menahan dada bidang Sean yang hampir memeluknya.
"Maaf," tersadar hampir lepas kendali, Sean sedikit membuat jarak dengan mengambil satu langkah belakang.
"Apa aku mengganggu pekerjaanmu," tanya Allesya seraya mengedar pandang ke seluruh ruang yang terlihat luas dengan jendela kaca raksasa di salah satu sudutnya, menyuguhkan pemandangan kota London yang terlihat manakjubkan jika dilihat dari lantai 29.
"Sama sekali tidak Allesya. Duduklah dulu. Kau ingin minum apa? Biar aku suruh sekretarisku membuatkannya untukmu."
"Tidak perlu, karena aku tidak akan lama," tolak Allesya. Ia bahkan masih bertahan dengan posisi berdirinya meski Sean sudah mempersilahkannya untuk duduk.
Katakan ada keperluan apa kau datang menemuiku Allesya?"
Wanita bersurai coklat pekat itu tampak mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan menyodorkannya ke arah Sean sebagai jawaban.
Sean menerima benda tipis berbahan kertas tersebut dengan ragu bersamaan kerutan tajam di antara kedua alisnya. Wajah yang sebelumnya tampak cerah seketika berubah suram seolah menggambarkan suasana hatinya yang kembali berawan.
Wedding Invitation, Erlan And Allesya.
__ADS_1
Rangkaian huruf yang begitu indah untuk dibaca namun sukses meremukkan onggokan daging yang berdetak di dalam dada. Dunia Sean seolah berhenti berputar. Seolah tak sanggup lebih jauh menerima kenyataan.
Dari sini sudah terlihat jelas, bahwa Sean belum sepenuhnya iklas untuk melepas. Meski hati dipaksa dengan keras, rasa batin yang terus dikuras, nyatanya semua itu masih tak selaras dengan senyuman palsu yang terus mengulas.
Sean mencoba kembali menguasahi situasi perasaanya dengan menyemat senyuman tipis di bibirnya. "Kau jauh-jauh datang dari Paris hanya ingin mengantar undangan ini langsung kepadaku?" menatap lekat muka Allesya yang masih enggan membalas tatapannya.
"Hm," dengungan serta anggukan samar sebagai jawaban.
Sean sedikit memangkas jarak di antara mereka. Menuntun tangan untuk mengusap lembut pipi putih bersemu merah alami tanpa polesan blush on itu. "Allesya.., kenapa kau lakukan ini kepadaku?" suaranya terdengar lembut.
Entah apa yang tengah dirasakan Allesya, tiada aksi penolakan darinya saat tangan itu membelai lembut pipinya. Tatapan Sean yang semula tak berbalas perlahan mulai bersambut. Allesya mencoba memahami perkataan Sean yang terdengar ambigu baginya. Mendalami lebih dalam makna sorot mata bermutiara biru itu.
"Apa kau tahu kalau aku sudah mati-matian menepati perkataanku? Tak lagi mengusikmu dan Erlan. Meski aku harus menggila karena merindukanmu," masih memainkan tangannya di pipi Allesya.
"Memang seharusnya seperti itu," sahut Allesya terlihat tenang meski tak selaras dengan degub jantungnya yang bergerak cepat.
"Tapi ketika aku bersusah payah menahan keinginanku untuk memilikimu dengan menjauhimu, kau justru datang menemuiku," belaian di pipi berpindah pada usapan lembut di kepala. Menyelipkan helaian rambut Allesya di sela-sela jarinya.
"Rasanya aku ingin sekali menarik kembali semua perkataanku waktu itu karena kau ada di sini sekarang. Kau membuatku kesulitan Allesya. Kenapa kau lakukan itu?" imbuhnya lagi dengan menyelipkan pertanyaan di akhir kalimatnya.
"Aku hanya ingin mengantar undangan, tidak ada maksud lain."
"Jika tidak ada maksud lain, kau bisa saja menggunakan jasa pengiriman untuk mengantarnya bukan? Jadi kau tak perlu repot-repot menemuiku. Kecuali kau memang ingin bertemu denganku."
"Itu karena Erlan yang memaksaku untuk memberikan undangan ini secara langsung kepadamu Sean. Jangan berpikir terlalu jauh," bantah Allesya. Raut mukanya mulai terlihat tidak senang.
Sean menarik tangan yang semula bermain-main di rambut halus Allesya. Menanggapi perkataan Allesya dengan tersenyum simpul, menutupi kesakitan karena hati yang patah. "Aku akan bertanya sekali lagi, apakah kau bahagia bersamanya?"
"Lihatlah aku ketika kau menjawab," pinta Sean, bersamaan tangan menarik dagu tirus Allesya untuk menoleh ke arahnya. Hingga kedua pasang mata kembali bertemu.
Allesya melepas tangan Sean dari mukanya, seiring senyuman tipis terbias di bibirnya.
"Iya aku bahagia," tandasnya, tangan meremas kuat tali tas yang menyilang di dadanya, memantap pikiran bahwa kata yang terucap benar berasal dari hati.
Sean menatap intens kedua manik hazel di depannya secara bergantian, jawaban Allesya kali ini sama sekali tak mampu meyakinkannya. Sorot mata yang dipandang saat ini sudah sedikit berbeda dengan sorot mata yang dilihatnya ketika di Paris. Pancaran isyarat yang terlukis di dalam sana seolah berubah. Sikap Allesya memang masih dingin, namun Sean sudah tak merasakan aura kebencian untuk dirinya.
"Buktikan jika kau memang benar bahagia," pinta sekaligus titah mencelos dari sepasang bibir Sean.
Allesya tersenyum miring. "Aku bisa membuktikannya ketika berada di atas altar pernikahan bersama Erlan."
"Aku ingin kau buktikan sekarang."
"Jangan bercanda Sean."
"Aku tidak bercanda."
"Lama-lama kau seperti anak kecil. Sudahlah sebaiknya kita akhirnya percakapan tak berfaedah ini. Aku rasa urusanku sudah selesai, maaf telah menyita waktumu Sean," tak ingin berlama-lama berhadapan dengan Sean, Allesya memutar tumit dan melangkah pergi keluar ruangan, meninggalkan Sean yang tengah menggalau dengan kertas undangan di tangannya.
"Pria berpenyakitan itu benar-benar nekat menikahi Allesya di saat kondisinya yang masih sakit-sakitan. Apa dia ingin membuat Allesya menjanda di usianya yang masih sangat muda?!" Sean menggerutu. Cemas memikirkan nasib Allesya ke depannya.
__ADS_1
Di ambilnya smartphone dari dalam saku jas kerjanya. Mencari kontak telepon David dan lansung melakukan panggilan.
"Iya Tuan."
"Apa kau sudah menemukan wanita itu?"
"Maaf Tuan, saya belum bisa melacak keberadaannya."
"Kenapa kau bergerak sangat lambat David? Apa semua petunjuk yang kuberikan masih kurang?"
"Maaf Tuan, saya akan terus mencarinya sampai ketemu."
Tut!
Sean memutuskan panggilan secara sepihak.
°°°
Di dalam sebuah mobil yang terparkir di halaman Willson Corp. Ketukan jari pada setir mobil terus berulang, sebagai tanda bahwa ia tengah risau menunggu seseorang keluar dari gedung megah yang menjulang tinggi di depannya.
Hingga akhirnya muka gusar itu berubah lega saat Allesya terlihat keluar melewati pintu utama gedung dan berjalan mendekati mobilnya.
Namun kelegaan yang dirasa tak bertahan lama ketika Allesya masuk ke dalam mobil dengan muka terlihat muram.
"Aku sudah menuruti kemauanmu Erlan, undangannya sudah ia terima." lapornya dengan nada bicara terdengar tak senang.
"Maaf jika aku memaksamu Seanie," Erlan tampak tak enak hati.
"Sungguh kali ini kau sangat menyebalkan," sungut nya.
Erlan malah mendengus geli seraya mengacak rambut Allesya, namun di balik senyumannya berbagai macam prasangka tengah membuatnya bimbang.
"Maaf Seanie, aku hanya ingin memastikan perasaanmu sebenarnya setelah bertemu dengannya kembali," bisik hati kecil Erlan.
🌹
🌹
🌹
Bersambung~~
Please... jangan lupa tampol dahsyat tombol like setelah membaca. Tinggalkan komen agar Author yang nggak solehah-solehah amat ini bisa tahu kalau kalian itu memang ada, bukan makhluk gaib.🤭🤭
Dan Nofi tak lupa mengucapkan kata terima kasih sebesar-besarnya atas dukungan setia kalian pada karya recehku ini.
Meski pembaca kian sepi, tapi tenang Nofi tetap lanjut hingga happy ending.
bye bye..udah jam satu dini hari nih, waktunya berburu roti sobek pulen kembali🤣
__ADS_1
Lop lop you cuperrrr...😘😘😘