Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 38


__ADS_3


Sean yang semula masih melempar pandangan ke sembarang tempat kini teralih ke muka Allesya yang kian terlihat cantik karena bias cahaya malam. "Sebenarnya apa tujuanmu masuk ke dalam keluargaku?"


Kening mengerut dan disusul netra menatap lekat mata biru Sean yang menyiratkan sebuah rasa kecewa kepadanya. "Maksud Kak Sean apa? Allesya tidak mengerti."


Kejengahan meliputi dirinya ketika melihat tampang sok tak mengerti Allesya yang menurutnya hanyalah sebuah kepalsuan. "Kau sudah sangat tahu, bahwa aku sangat membenci orang-orang yang berhubungan dengan wanita jal*ng itu, tapi kau yang tak sadar diri malah berani-beraninya mendekatiku dan masuk ke dalam keluargaku. Katakan, apa ibumu yang mengirimu ke sini?" cercanya.


Kalimat tuduhan Sean sukses membuat Allesya tertegun. Bergegas menggeleng cepat kepalanya menormalkan kembali alur napas yang sempat tercekal di tenggorokan. "Kak, apa kau... Sudah mengetahuinya?" suaranya bergetar. Ketakukan akan kesalahpahaman tak berujung mulai merangkak ke hati.


"Iya, aku sudah tahu kau anak dari wanita itu," sela Sean cepat dan terkesan dingin.


Sekali lagi, gelengan kepala sebagai wujud mentidak benarkan ucapan Sean kembali ia berikan. "Tidak Kak. Bukan seperti itu, aku bisa menjelaskannya..,"


"Tidak perlu di jelaskan lagi," pungkasnya tanpa memberi kesempatan bagi Allesya untuk menjelaskan yang sebenarnya.


Meraih tangan besar yang terkepal, Allesya masih mempertahankan kegigihannya. Bening mutiara hazel menyirat sebuah kesungguhan ia torehkan untuk meyakinkan Sean.


"Tidak, Kakak harus mendengarkan penjelasanku dulu, aku tidak bermaksud membohongimu. Aku juga baru mengetahui bahwa Ibuku adalah penyebab hancurnya keluargamu," jelasnya.


Melepas jari-jari cantik yang membelenggu tangannya, Sean berdecih seolah penjelasan Allesya tiada guna dan tidak mampu meluluhkan hatinya yang mengeras. "Kau tetaplah anaknya dan aku tidak bisa membiarkan segala hal berbau busuk tentangnya masuk ke dalam hidupku dan keluargaku," tegasnya.


"Kak, kau juga harus tahu bahwa aku sebenarnya bukan..,"


"Berhentilah menginjak kakimu di rumah ini. Besok kau tidak perlu datang lagi karena peranmu akan digantikan Vera," tukasnya. Menutup hati dan telinga akan penjelasan Allesya.


Allesya seketika tercekat mendengar keputusan Sean. Bagaimana bisa ia berkeputusan semudah itu. Apa lagi nama Vera terlontar tegas dari bibirnya membuat dada kian bergemuruh menyakitkan.


Dengan sisa puing-puing ketegaran hati yang mulai retak, ia kembali bersuara. "Kak, bukankah beberapa hari yang lalu kau bilang memiliki perasaan yang sama denganku? Dan ciuman malam itu, bukankah sebagai bukti bahwa hubungan kita sudah menuju ke jenjang yang lebih serius. Tapi kenapa kau malah membawa wanita lain sebagai kekasihmu?" sebisa mungkin ia menahan cairan bening agar tidak terjun bebas dari netra yang sudah memanas dan memerah.


"Jangan menaruh harap terlalu tinggi pada sesuatu yang harusnya tidak ada?"


"Kenapa? Apa ada yang salah?" tatapan nanar kian terpancar. Setiap untaian kalimat yang terucap oleh Sean sungguh begitu menyakitkan.


"Karena perasaanku waktu itu adalah kesalahan dan langsung menghilang di saat malam itu juga."


GREP!

__ADS_1


Sean terkesiap di kala sepasang tangan melingkari perutnya. Seonggok daging di dalam dada kian bertabuh ketika Allesya menempelkan sebelah telinga pada dada bidangnya.


"Aku masih mengingatnya. Suara itu juga masih bisa ku dengar. Detak jantung yang bertalu-talu hebat masih ada di dalam sini. Apakah kau masih tetap mau menyangkal akan perasaanmu?" mendengarkan dan merasakan seksama simponi yang di ciptakan oleh seonggok daging yang bersarang di dalam dada bidang itu, Allesya mencoba mengorek kebohongan dari lidah Sean.


Allesya tercekat disusul sebuah ringisan kesakitan di kala tangan besar Sean mencengkeram kuat kedua bahunya diikuti sebuah dorongan kecil sehingga lilitan tangan pada perut terlepas.


"Iya, deguban jantung ini memang masih ada, bahkan semakin kuat," ia menyeringai sinis. "Itu karena rasa benciku kepadamu, rasa-rasanya aku ingin sekali melemparmu jauh ke laut agar kau tidak lagi datang menemuiku."


Tes..


Tak kuasa menahan sesuatu yang sudah tergenang sedari tadi, akhirnya mencelos juga bulir-bulir kesedihan yang sudah menggunung di dalam hati.


"Kemarin Kak Sean membuatku seolah menjadi orang paling bahagia di dunia. Kau buat aku melambung tinggi membawa cinta, namun setelah itu kau hempaskan tubuhku ke bumi membawa hatiku yang telah kau luluh lantakkan," menangis tapi tak terisak, itulah yang terjadi pada Allesya saat ini. Sakit? Tentu saja sakit. Terluka? Jangan ditanya lagi karena semua sudah begitu jelas.


"Tidak! Aku tidak akan menyerah begitu saja untuk memperjuangkan cintaku, aku yakin suatu saat Kak Sean akan benar-benar mencintaiku," seolah kobaran api semangat membakar segala kesedihan yang membawa keputus asaan, ia kembali gigih pada pendiriannya.


"Ck! Kau itu terlalu bodoh!" berdecak sinis lalu mendekatkan muka pada telinga Allesya. "Asal kau tahu, semua wanita yang menggilaiku selalu bersedia membuka lebar kakinya di depanku dengan suka rela. Jika kau ingin aku menerimamu, kau harus melakukan hal yang serupa. Melayani dan memuaskanku di atas ranjang dengan tubuhmu," bisiknya merendahkan.


Begitu berat menyibak bibir yang tertutup rapat, membuat lidah kelu untuk berkata. Kalimat frontal Sean sukses membuat Allesya bungkam seribu kata. Netra basah masih enggan berpaling dari muka tampan pria yang bertahta di hatinya. Melempar sorot mata tak percaya.


"Jangan temui aku lagi atau aku akan melempar paksa tubuhmu di atas ranjang!" gertak Sean.


BUG!


Kotak kado yang sedari tak lepas dari genggaman Allesya berakhir pada layangan keras dan mendarat tepat di punggung Sean.


"Dasar pria mesum menyebalkan...!"


°°°


Langkah gontai tak bersemangat menghiasi sepanjang perjalanannya menuju rumah. Ia usap cairan bening di kedua sudut mata yang basah. Menghirup rakus udara bebas biaya dari Tuhan hingga memenuhi rongga paru-paru lalu menghembuskannya perlahan. Menghempas segala prasaan tak menyenangkan yang mengungkung posesif dan kembali menata hati sebelum membuka pintu rumah. Berharap sang Nenek tak menyadari raut muka bersedihnya.


Tidak seperti biasanya isi ruangan begitu gelap. Tangan menggerayangi dinding di dekatnya mencari tombol saklar lampu sembari berteriak. "Nenek.. Allesya pulang..,"


Happy birthday to you..


Happy birthday to you..

__ADS_1


Happy birthday to you..


Lampu ruangan menyala terang diikuti sebuah lagu ulang tahun yang terlantun merdu dari sepasang bibir Fanne.


Mata beriris hazel itu membulat karena terkejut namun sedetik kemudian binar bahagia terpancar indah penuh haru. "Nenek..," mendekati Fanne yang terlihat tengah membawa sebuah kue tart berukuran mini di tangan.


"Iya sayang.. Tiup dulu lilinnya," Allesya mengangguk cepat menuruti saran sang Nenek.


"Eeits! Make a wish dulu," mulut yang sudah siap meniup tetiba terurung karena selaan Fanne.


"Oiya, hampir lupa," sahutnya lalu menangkup kedua tangan di depan dada seraya menunduk dengan mata terpejam. Melangitkan doa kepada Tuhan.


Ya Tuhan, Allesya tidak ingin meminta banyak. Hanya satu, berikan sebuah hati sekuat baja dalam menghadapi segala ujianmu hingga menemukan sebuah payung keteduhan yang dinamakan kebahagiaan.


Fuuhh...!


Api berliuk tenang di atas lilin bersumbu langsung padam dalam satu kali tiupan kecil.


"Nenek.. Terima kasih," Fanne sedikit menyingsing sebelah tangan ke atas agar kue tidak terjatuh karena badan kecil Allesya berhamburan kedalam pelukannya.


Tangan lain yang menganggur, mengusap sayang punggung Allesya. "Tidak ada yang bisa Nenek beri di hari yang spesialmu ini, hanya sekadar ucapan tulus dari dalam hati. Selamat Ulang Tahun cucuku, selamanya kau tetap cucuku. Berjanjilah kau akan hidup bahagia meski kelak Nenek sudah tidak bisa bersamamu lagi," tutur Fanne diikuti netra yang mulai basah.


Melerai pelukan dan menatap lekat muka yang yang sudah dipenuhi garis-garis tanda usia senja. "Tidak Nek, kau tidak boleh berkata seperti itu. Kau akan tetap bersamaku. Kau harus menyaksikan langsung kebahagiaanku berjalan di atas altar pernikahan bersama pria yang ku cintai hingga aku memberikan banyak cicit menggemaskan untukmu, berjanjilah Nek," ucap Allesya penuh harapan.


"Iya sayang..."


"Janji?"


"Iya Nenek berjanji," jawab Fanne gemas.





Bersambung~~

__ADS_1


Ternyata hari ultah Allesya dan Sean sama ya🥰


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen di setiap bab ya, agar Nofi lebih semangat nulisnyanya dan tentunya bisa bertegur sapa dengan kalian. Love you😘😘


__ADS_2