Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 30


__ADS_3


Masih dalam posisi memangku, tangan kekar itu memutar tubuh kecil si Gadis yang masih membelakangi agar menghadap ke arahnya. Melengahkan netra untuk menikmati paras cantik dengan segala takaran bentuk yang pas. Tidak kurang dan tidak lebih.


Tatapan netra berbeda corak tersebut saling mengunci. Membaca segala rasa dari binar mata yang terpancar terang di balik temaram cahaya sang Dewi Malam.


DEG! DEG!


DEG! DEG!


DEG! DEG!


Dua organ pemompa darah seolah saling beradu tabuh. Membuat tubuh kedua anak manusia yang sedang tenggelam dalam rasa tak biasa bergetar luar biasa. Menuntut raga untuk berlaku lebih jauh seolah sekedar sapuan pandang tidaklah cukup untuk menggambarkan sesuatu yang sedang bermekaran di dalam jiwa.


Sean reflek memejamkan mata, menikmati belaian jari-jari lentik Allesya pada muka tampannya dengan penuh damba. Mengabsen satu-persatu setiap lekuk dan menyimpannya ke dalam memori ingatan, berharap wajah itu, wajah tegas penuh karisma yang telah sukses mempora porandakan sang Pemilik Hati akan terus terpatri di dalam sanubari hingga akhir usia nanti.


Namun keterbuaian Allesya tak dibiarkan lama. Tak ingin terjerat akan pesona si Kakak Tampan yang berujung ***** tidak pada tempatnya, ia segera menurunkan tangannya sehingga membuat Sean kembali membuka mata karena sentuhan hangat si Gadis tak lagi terasa.


"Kak Sean..."


"Hm."


"Bisakah kau melepaskanku?"


Sean menggeleng, menidakkan permintaan Allesya. Justru semakin menciptakan rengkuhan posesif pada perut si Gadis.


"Kak lepaskan," pintanya sedikit mendorong dada bidang Sean.


Tersenyum seraya merekatkan lilitan tangannya, itulah bahasa tubuh Sean sebagai respon bahwa ia benar-benar tidak ingin menuruti permintaan Allesya.


"Kak jangan seperti ini," pintanya.


"Kenapa?" akhirnya suara bariton Sean terdengar.


"Aku malu," balas Allesya sedikit menunduk diikuti semburat merah muda pada pipinya. Kalau dalam situasi seperti ini saja baru dia merasa malu. Allesya.. Allesya... Berbanding terbalik dengan tingkah sehari-harinya yang selalu berisik dan jauh dari kata anteng.


"Kalau malu tenggelamkan mukamu di dadaku," sahutnya seraya menepuk dadanya.


"Nanti Nenek melihat."


"Tidak apa-apa."


"Kak Sean..! Nenek bisa memukulku dengan sapu," sungut Allesya yang kontan mengundang gelak tawa ringan Sean.


Si Gadis cemberut sembari melirik tajam ke arah Sean yang masih sibuk menikmati tawanya.


"Ayolah, ini tidak lucu Kak Sean," ia mengiba.


Perlahan, pria tampannya itu meredakan tawanya hingga menyisakan senyuman tipis.


"Baiklah aku akan melepasmu.., tapi..., kau belum menjawabnya," ucap Sean mengandung tuntutan.


"Hm? Apa yang harus ku jawab?" sepertinya Allesya benar-benar lupa.


Sean menggiring bola matanya ke benda kenyal di bawah hidung Allesya lalu mengusap lembut menggunakan ibu jari. "Ini," balas Sean sontak membuat si Gadis mengulum bibirnya.

__ADS_1


"Tadi aku meminta ijin agar bisa mencicipinya, tapi kau belum juga menjawabnya boleh atau tidak," jujur Sean sudah mati-matian menahan hasrat untuk segera memakan bibir Allesya. Namun kali ini dia benar-benar menunggu ketersediaan si Pemilik.


"Tapi bagaimana dengan perasaanmu?" Allesya mencoba mencari kepastian akan perasaan Sean sebelum mengiyakan permintaan Sean. Tepatnya sebuah permintaan yang sedikit memaksa.


"Biar aku memastikannya terlebih dahulu setelah mencicipinya," rayunya sembari menatap lekat gadis yang mulai terbuai akan pesonanya yang begitu paripurna.


Keterdiaman Allesya dianggap sebagai tanda persetujuan bagi Sean. Tidak ingin membuang waktu, apalagi menyiksa diri lebih lama karena menahan gejolak rasa lakyaknya hantu yang datang tiba-tiba di waktu tak menentu.


Pelan tapi pasti, ruang kosong di antara muka mereka kian terkikis. Ditandai hembusan hangat napas yang saling menyapu kulit. Hingga akhirnya dua pasang bibir berhasil membunuh jarak diikuti mata yang saling terpejam.


CUP!


Satu kecup.. dua kecup.. tiga kecup, Sean masih mendominasi permainan bibir yang selalu menjadi fantasinya. Sapuan lidahnya meninggalkan jejak saliva pada bibir Allesya yang masih mengatup rapat. Mungkin karena tegang dan belum bisa menguasai situasi, si Gadis terlihat terpejam dalam, jari-jari mencengkram kuat kain yang melekat pada dada Sean.


Sejenak Sean menjeda permainan yang baru berdurasi beberapa detik tersebut. Melayang tatapan teduh pada muka polos si Gadis. Tangan besarnya menangkup kedua pipi mulus merona alami, sehingga membuat mata yang terpejam kembali terbuka secara perlahan.


Sean tersenyum hangat. "Nikmati saja. Relax...," bisik Sean bagaikan mantra ajaib yang mampu meluntur ketegangan Allesya si Gadis polos.


Ia tuntun tangan gadis yang sudah terbuai oleh mantra ajaib untuk melingkar ke lehernya.


"Ehh?!" pekik Allesya sedikit tertahan, karena Sean menarik tubuhnya agar lebih menempel sempurna tak bercela. Terlihat aset kembarnya sedikit menyembul karena beradu dada dengan milik Sean yang lebar dan keras. Membuat kedua tubuh mereka dalam posisi intim dan menggoda terutama bagi Sean yang beberapa hari terakhir ini sering berfantasi liar dan menjadikan Allesya sebagai objeknya. Bahkan ia tidak sadar, bayangan Jenny sudah bertransisi ke Allesya.


Bagaimana tidak menggoda bagi pria tampan itu, sedangkan tubuh bagian atas terhimpit aset negara yang masih asri, sama sekali belum pernah terjamah oleh tangan-tangan nakal manusia. Sementara tubuh bagian bawahnya ditekan keras oleh gundukan bukit yang terbungkus kain segitiga bermuda sehingga membuat belut listriknya mulai menggeliat dan terbangun dari tidur.


CUP!


Kepala Allesya sedikit terhuyun ke belakang di kala Sean kembali melesatkan bibirnya. Ia tarik tengkuk itu sehingga menciptakan ciuman lebih dalam dan menuntut.


Sebuah gigitan kecil sukses membuat Allesya membuka mulutnya. Memberi kemudahan akses pada lidah Sean untuk mengobrak abrik rongga mulutnya. Mel*mat dan mencecap rakus bibir atas bawah secara bergantian dan imbang tanpa adanya pilih kasih.


Allesya meremas rambut tebal Sean, menikmati pagutan yang semakin dalam dan memabukan. Begitu pula dengan Sean, hisapannya kian bersemangat di kala Allesya mulai membalas meski masih terkesan kaku.


"Kak..," desah Allesya ketika sebuah tangan mulai menyelinap nakal di balik kain punggungnya. Hati, pikiran, dan raganya tengah berperang saat ini. Antara pasrah akan permainan bibir Sean yang begitu memabukkan atau menolak karena permainan mulai melewati batas.


"Iya sayang," sahutnya tanpa melepas pagutan bibir.


"Kak jangan," Allesya menginterupsi seraya mencekal tangan Sean yang kian nakal menggerayangi kulit punggungnya sontak membuat Sean menghentikan permainan bibirnya di saat itu juga.


"Ah, maaf," ucapnya setelah celetukan Allesya menyadarkannya dari hasrat bercumbu yang mulai terbakar.


"Maaf," ucapnya sekali lagi. Jujur Sean tengah mengutuki dirinya sendiri karena hampir kehilangan kuasa diri.


DEG!


DEG!


DEG!


"Kak suara itu, apa milikmu?" mimik muka menyelidik tergambar jelas di muka Allesya. Karena jarak antara tubuhnya dan Sean sangat dekat, serta didukung dengan suasana malam yang begitu sepi dan sunyi, membuat suara samar-samar deguban jantung milik Sean menyeruak ke dalam indera pendengaran Allesya.


"Coba kau pastikan sendiri," Sean menarik kepala Allesya dan menempelkannya pada dadanya.


DEG!


DEG!

__ADS_1


DEG!


"Kak ini benar-benar suara jantungmu," ujarnya lalu menarik kembali kepalanya dari dada Sean.


"Sepertinya aku akan mendapatkan masalah," Sean menatap muka Allesya dengan sorotan mata penuh makna.


"Hah?! Jangan bilang kalau Kak Sean punya riwayat penyakit jantung? Oh tidak! Jangan mati dulu. Aku bahkan belum berhasil menyeretmu ke atas altar pernikahan," memasang muka syok terlampau berlebihan.


CETAK!


"Aw..! Sakit..," Rintih Allesya setelah mendapat hadiah sentilan di keningnya.


"Apa kau sedang menyumpahiku?" sembur Sean. Sedangkan Allesya masih dalam mode cemberut.


"Kaulah penyebabnya," kalimat Sean terdengar ambigu membuat Allesya sedikit kesulitan mencernanya.


"Karena aku sedang bersamamu, detak jantungku berdegub kencang tanpa ku perintah," sambungnya lagi.


Si Gadis melebarkan mata diikuti kedua alis yang terangkat serta mulut sedikit ternganga. "Apakah itu pertanda Kak Sean mulai menyukaiku?" tebak Allesya berharap jauh dari kata meleset.


Sean mengedikkan bahunya. "Mungkin saja," jawabnya tidak pasti tapi sukses membuat rona muka Allesya lebih berseri dan bercahaya.


"Semoga saja tebakanku benar."


Setelah percumbuan bibir yang berakhir dengan suara deguban jantung hebat Sean. Keduanyapun melanjutkan obrolan ringan seraya menikmati kopi yang tak lagi panas. Hingga akhirnya, tanpa terasa jarum jam sudah menunjukkan angka 10 pertanda malam sudah larut.


"Sebaiknya kau masuk ke dalam sekarang dan aku akan pulang," ucap Sean namun ditunggu-tunggu Allesya tak kunjung merespon.


Pria itu memutar leher untuk mencari tahu kenapa Gadisnya tak bersuara. Padahal beberapa detik yang lalu dia masih berceloteh nyaring seperti burung beo tersedak peluit tukang parkir.


Sean mendengus geli ketika mengetahui penyebab keterdiaman Allesya. Rupa-rupanya gadis itu ketiduran di pundaknya.


Tidak ingin membiarkan Allesya terlalu lama tidur di alam terbuka, ia langsung berinisiatif membopong si Gadis tanpa membangunkannya.


Rumah Allesya tidak terlalu besar. Jumlah ruangannya juga tidak banyak. Sehingga memudahkannya mencari di mana letak kamar Allesya berada. Sean gegas membawa Allesya yang masih terlelap dalam gendongannya menuju ruang kamar yang kebetulan sedang dalam kondisi pintu terbuka.


Dengan sangat hati-hati, ia membaringkan tubuh Allesya di atas ranjang mungil berbalut sprei berumbai dan bermotif kupu-kupu. Kemudian menutupi tubuhnya dengan selimut tebal hingga sebatas dada.


Sean memandang teduh muka Allesya yang tampak damai dalam lelapnya.


"Cantik sekali," lirihnya memuji. Lalu mendaratkan sebuah kecupan dalam di kening Allesya sebelum berniat meninggalkan kamar.


Namun langkah Sean terhenti di kala sepasang lensa birunya tanpa sengaja menangkap sebuah foto tak asing yang bersembunyi di dalam laci yang sedang terbuka sebagian.


Kedua alisnya bertaut hampir menyatu karena penasaran dan menuntunnya untuk melihat lebih jelas foto tersebut. Tangannya terulur guna meraih lembaran foto.


Air mukanya seketika berubah drastis. Dadanya bergemuruh hebat. Kedua matanya memerah serta tangan mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih setelah melihat dengan jelas foto yang disisipi tulisan Ibuku dan Kakakku di baliknya.


"Ternyata dia sudah membodohiku," geramnya lalu beranjak pergi meninggalkan kamar seraya membawa kekecewaan.




__ADS_1


Bersambung~~


...Para readers kesayangan.. Di mohon tekan gambar like setelah membaca setiap babnya ya.. Hukumnya wajib. Maaf kalau Nofi maksa🤣 Lagian cuma like doang kok. Nggak bakal nguras tenaga seperti para Author yang harus mengetik ribuan kata setiap babnya😊 Terima kasih🙏...


__ADS_2