Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 90


__ADS_3


Tidak terasa, satu purnama telah berlalu. Jalinan sepasang kekasih yang sudah terikat oleh janji suci sebuah pernikahan itu memang kian menghangat.


Kesibukannya sebagai CEO, tak dijadikan alasan penghambat untuk mencurahkan segala bentuk perhatian Sean kepada Allesya. Pria tampan bermutiara biru itu seolah tak habis cara untuk membahagiakan wanita yang bagaikan nikotin menyandukan baginya.


Meski, hingga saat ini pelampiasan hasrat mencumbunya masih sebatas bibir saja, namun tak mengurangi rasa pengertiannya akan ketidak siapan Allesya.


Iya, setelah pergulatan di malam yang panas beberapa tahun yang lalu, si Burung kepala botak masih setia menyandang status sebagai biksu suci Tong Sang Cong yang pergi ke barat mencari kitab suci bersama ketiga muridnya, si Monyet Sakti, si Babi Mes*m, dan si Bontot.


Sebuah mobil mewah sudah berhenti di depan bangunan megah University College London (UCL). Sean segera melepas seatbelt miliknya dan tak lupa juga membantu melepaskan milik Allesya.


"Aku bisa melakukannya sendiri Kak, kau itu terlalu berlebihan," gerutunya. Sedikit tidak biasa akan sikap Sean yang seolah menganggapnya sebagai anak kecil yang tidak bisa melakukan sesuatu barang sekecil apapun.


"Tapi bagiku ini tidak berlebihan, Allesya," tak mengindahkan sebuah protesan yang dididapat. "Tunggu sebentar," lanjut keluar mobil, bergerak sigap membukakan pintu untuk Allesya. Memperlakukannya bak lady dari keluarga bangsawan, tangan yang terulur langsung bersambut tangan Allesya.


Kali ini senyuman mengulas manis di mukanya. "Thanks you, my King."


"Anytime, my Queen."


GREP!


Terkesiap, tangan kekar tiba-tiba membelit pinggang rampingnya. "Kak Sean, cepat lepas. Kita sedang berada di depan kampus. Bagaimana jadinya kalau teman-temanku melihatnya?" pekiknya sedikit tertahan, mengedar pandangan ke sekitar, mata dibuat berjaga kalo saja ada orang lain yang melihat kemesraan mereka.


"justru itu yang ku inginkan."


"Kak Sean..," rengeknya memelas.


"Beri aku vitamin dulu sebelum bekerja," pintanya yang sudah sangat dipahami Allesya.


CUP!


Satu hadiah kecupan manis sudah mendarat, namun belum ada kepuasan yang tercetak di muka Sean. "Hanya kecupan di dagu?" tanyanya tak terima.


"Itu karena kau terlalu tinggi kak Sean, aku kesulitan menjangkaunya lebih jauh."


"Kalau begitu biar aku saja," mencium bibir ranum dan kening secara bergantian.


"Sudah kan? Sekarang cepat lepaskan aku."


"Baiklah," menyudahi belitan tangannya. "Segera masuklah, semoga kegiatan belajarmu hari ini menyenangkan."


"Iya sudah, aku masuk dulu ya. Oya, sepertinya hari ini aku akan pulang sedikit terlambat, karena ada beberapa tugas kelompok yang harus aku kerjakan bersama teman-temanku, Kak Sean tidak perlu menjemputku, aku bisa pulang naik taksi," terangnya seraya membetulkan posisi tali tas yang hampir merosot dari bahunya.


"Jam berapa kegiatanmu selesai? Di mana kau akan mengerjakan tugasmu? Dan bersama siapa saja?" membombardir Allesya dengan beberapa pertanyaan sekaligus.


"Mana dulu yang harus aku jawab, Kak Sean?"


"Cepat jawab Allesya," titahnya.


"Iya.. iya.. Aku tidak bisa memastikan jam berapa selesainya. Aku mengerjakan tugas di perpustakaan universitas. Kak Sean tenang saja, juga ada Lilly bersamaku nanti," menjawab semua pertanyaan Sean tanpa ada satupun yang terlewatkan.


"Aku akan tetap menjemputmu."

__ADS_1


"Hm, baiklah. Lagian kau tidak akan mau dibantah," cebiknya. "Ingat, kau jangan buat keributan karena menjemputku langsung ke dalam apalagi membawa mobilmu sampai ke depan perpustakaan," Allesya memberi ultimatum. Tidak ingin hal serupa satu minggu yang lalu terulang kembali, di mana seantero kampus dibuat gempar karena pesona Sean yang terlalu menyilaukan di mata para wanita.


Mengedik kedua bahu dan tersenyum simpul. "Aku tidak janji."


Allesya mendelik. "Lakukan saja, kalau ingin melihatku kurus karena mogok makan!" ancamnya.


Kaki dibawa melangkah, meninggalkan Sean yang masih terkekeh karena ancaman Allesya yang terbilang tidak mungkin. Iya, badan boleh kurus, tapi jangan meremehkan porsi makan Allesya yang sebelas dua belas dengan kuli bangunan.


"Allesya."


Langkah Allesya melambat, mencari tahu pemilik sumber suara yang datang dari samping. Dari jarak yang tak begitu jauh, terlihat seorang pria berpenampilan kutu buku lengkap dengan kaca mata besarnya berlari tergopoh-gopoh dengan beberapa buku tebal di dalam timangan serta tas ransel yang menyentel di pundak.


Balik membalas senyuman dari Loye yang tak kalah ramah. "Hai," melirik ke arah benda yang dibawa Loye. "Biar aku membantumu."


"Tidak perlu, aku bisa membawanya sendiri."


"Ayolah, kau terlihat kepayahan membawanya, berikan sebagian kepadaku," mengambil paksa beberapa buku dari Loye."


"Terima kasih, Allesya."


Bibirnya tersenyum simpul, menanggapi ucapan terima kasih Loye. "Apa ini buku-buku referensi untuk tugas kelompok makalah kita?"


"Benar sekali, untuk berjaga-jaga kalau saja kita tidak menemukan buku referensi yang lengkap di perpustakaan kampus kita," jelasnya.


"Woah! Aku sungguh beruntung bisa satu kelompok denganmu Loye, kau sangat rajin," memuji disertai senyuman kagum.


Binar senyuman serta pujian dari Allesya membuat pria kutu buku itu mendadak salah tingkah, itu bisa dilihat dari gelagatnya yang beberapa kali membetulkan posisi kaca matanya.


Merogoh benda pipih dari saku jas kerjanya lanjut mencari nama Allesya untuk dihubungi.


"Halo Kak Sean?" sapaan dari Allesya langsung terdengar setelah panggilan tersambung.


"Jangan terlalu dekat dengannya, Allesya."


"Kenapa?"


"Karena aku tidak suka, ingat pesanku untuk tidak terlalu dekat dengannya, kalau perlu menjauhlah darinya."


"Tidak bisa Kak, kami malah akan mengerjakan tugas kelompok bersama. Ya sudah, aku matikan telponnya sekarang, ini sudah sampai kelas."


Allesya memutuskan panggilan secara sepihak, tanpa menunggu balasan dari Sean.


"Allesya...!" geramnya setengah tertahan. Kesal karena panggilannya diputus begitu saja.


Dari awal melihat Loye, ketidak suka langsung tumbuh di hati Sean. Di tambah lagi, ia menyadari tatapan Loye ke Allesya bukanlah sekedar tatapan biasa.


Cemburu? Loye bahkan tidak sebanding jika harus bersaing dengan Sean. Barang tentu akan berat sebelah. Namun nyatanya, kecemburan tetap ada. Bagaimanapun juga Loye adalah seorang pria normal. Tidak menutup kemungkinan ia akan membayangkan muka Allesya, menjadikan objek fantasi kotornya, sama halnya dengan Sean.


°°°


"Arthur?" lirih Vera, mendapati sosok pria jangkung sudah berdiri di depan pintu apartemennya. "Untuk apa kau datang kemari?"


Tak berniat menjawab pertanyaan Vera. Ia justru memilih mengamati penampilan Vera yang terlihat cantik dan rapi. Tepatnya sangat seksi, mengenakan gaun yang memamerkan belahan dadanya yang menonjol.

__ADS_1


"Kau mau kemana?"


"Bukan urusanmu Arthur."


"Kencan buta lagi?"


"Sudahlah, kau tak perlu tahu," menarik daun pintu agar tertutup. Sayangnya sebuah tangan jenjang menghalaunya. Tubuh Vera tersentak dan kembali masuk ke dalam apartemen karena ulah Arthur.


BRAK!


Disusul daun pintu yang tertutup.


"Arthur kau ini kenapa? Kau bisa membuatku terlambat," protesnya, melirik sekilas arloji yang melingkari pergelangan tangannya.


"Berhentilah mengikuti acara konyol itu."


Suara decakan terdengar jelas dari bibir Vera. Pertanda dia tidak suka. "Kau tidak berhak melarang kebebasanku karena kau bukan siapa-siapaku Arthur."


Hening sesaat, saling membalas tatapan yang saling bertautan, hingga Vera kembali bersuara.


"Berkencanlah denganku, maka aku akan tetap tinggal di sini," Vera mulai bernegoisasi. Bukan Vera namanya, jika tidak memanfaatkan kesempatan untuk kesenangan hatinya.


Lidah Arthur mendadak kelu, membuatnya diserang kebisuan. Dan Vera tampak tersenyum getir, kebisuan Arthur sudah bisa dijadikan jawaban akan penolakan untuknya.


"Jangankan kencan, aku yakin kau bahkan tidak bisa berciuman atau bahkan bermain di atas ranjang," ledekan Vera terasa pedas. "Menyingkirlah, aku mau pergi."


Terulang kembali, tangan jenjang Arthur menghadang langkah Vera. "Asal kau tahu, aku masih pria normal, Vera. Jangan menyesal karena sekali aku membuktikannya kau tidak akan bisa lari," kecamnya, namun senyuman meremehkan dari Vera yang didapat.


Tersinggung, perasaan itu tiba-tiba merayapi hati Arthur. Sebagai pria, dia merasa harga dirinya direndahkan, membuat otak tak mampu lagi di ajak berpikir secara jernih, membuang sikap sopan dan ramah yang selama ini menjadi karakternya.


"Ahhk..! Arthur! Turunkan aku!" pekik Vera karena tubuh langsingnya mendadak melayang dan mendarat pada bahu kokoh Arthur.


"Aku akan membuatmu menarik kembali perkataanmu," membawa Vera menuju kamar apartemen.


BRAK!


Tidak lupa menutup dan mengunci pintu sebelum menggencarkan aksinya.





Bersambung~~


Nofi sisipin sedikit cerita Arthur dan Vera untuk dijadikan selingan ya, semoga kalian tetap terhibur🤗


Terima kasih atas segala dukungan kalian yang selalu Nofi terima dengan rasa penuh syukur.


Maaf ya jika komenan kalian Selalu lambat Nofi balasnya. Berharap, kalian tidak jengah untuk selalu meninggalkan komen di sertiap babnya.


Wo ai nimen😘😘

__ADS_1


__ADS_2