
"Nona?"
"Tuan?"
Ucap Sean dan si Wanita berjilbab hampir bersamaan setelah mata saling bertemu. Seolah menggambarkan situasi bahwa mereka saling mengenal.
"Kak Sean, apa kau mengenalinya?" tanya Allesya dengan muka penuh tanya.
Muka tampan itu mengulas senyum ke arah Allesya. "Kami memang pernah bertemu," jawabnya, lalu kembali menggiring atensi ke arah wanita berjilbab itu. "Ternyata kau masih mengingatku, Nona?" tanyanya.
Wanita cantik berhijab satin pasmina tersebut tersenyum tipis. Sesekali ia memutus kontak mata dengan Sean. Menjaga pandangan dengan sedikit tertunduk. Menghindari pengaruh pancaran pesona di depannya, kendati hatinya tidak akan mungkin beralih dari suami, sang Raja yang bertahta di hatinya.
"Iya Tuan, saya masih ingat."
Sean tergelak lirih. "Tentu saja kau masih ingat, karena gara-gara aku, suamimu cemburu karena salah paham," selorohnya.
Allesya menukik tajam kedua sudut alisnya, menyiratkan pikiran yang mulai menerka berbagai alasan kenapa Sean bisa berada di posisi penyebab kesalah pahaman pada suami si Wanita berhijab itu. 'Apakah Sean menyentuhnya terlampau intim? Atau mungkinkah Sean mencium wanita itu? Ah ... Itu tidak mungkin.' otaknya terus berkutat pada terkaan tak pasti.
Wanita cantik berparas anggun itu kembali mengulas senyum, seolah membenarkan perkataan lawan bicaranya. Hingga sebuah mobil yang baru saja berhenti di depan mengharuskannya mengkahiri percakapan di antara mereka.
"Nona, biar saya bawakan barang belanjaan anda," ucap Dirga, si Supir pribadi yang baru saja keluar dari mobil.
"Terima kasih Pak," balasnya ramah, membiarkan Dirga mengambil alih belanjaannya namun langkah tak dibuat langsung melenggang dari tempatnya berdiri. Senyuman ramah kembali terbit dari parasnya, melabuh pandang ke arah Allesya yang masih larut dalam kebisuan. "Nona, terima kasih atas bantuannya tadi, semoga kita bisa kembali bertemu," ucapnya langsung mendapat senyuman dari Allesya.
"Tuan, saya permisi dulu," pamitnya kepada Sean.
Melangkah pelan seraya menahan sakit, wanita berhijab itu berlalu dan memasuki mobil yang sudah menjemputnya. Selang tidak lama, Sean dan Allesya juga memasuki mobil jemputan mereka.
Allesya membawa tubuhnya ke posisi duduk tegap menghadap ke Sean yang masih berkutat dengan layar iPadnya. "Kak Sean?"
"Hm?" dengungan terdengar meski atensi tak lepas dari alat kerjanya.
"Siapa wanita cantik itu?"
"Kau penasaran?"
Allesya mengangguk. "Iya."
"Hanya penasaran saja?"
"Iya."
Sean mematikan layar pipihnya, lanjut membawa tubuhnya berputar ke arah Allesya. Ia melempar tatapan seolah mampu membaca pikiran di dalam kepala kecil wanitanya. "Yakin?"
Sebuah des*han kasar beriringan dengan hempasan tubuh pada sandaran bangku mobil. Rasanya percuma saja jika dia menutupinya dari Sean. Muka masam seketika terbit ke dalam gelengan kepala. "Kak Sean tahu itu."
__ADS_1
"Kenapa?"
Allesya melempar lirikan tajam lengkap dengan kerucutan di bibirnya. "Kenapa? Kau masih tanya?" mendengus kesal, melipat kedua tangan di depan dada.
Tergelak samar, Sean memilih untuk tidak segera memberi tanggapan berupa lisan akan perkataan Allesya.
"Dia wanita cantik dan anggun, kau pasti terpesona dengannya tadi," cicitnya.
Rupanya, Allesya sedang cemburu.
"Dari mana kau tahu aku terpesona dengannya Allesya?"
"Dari caramu menatapnya."
"Apa ada yang salah dengan caraku menatapnya?"
"Ada."
"Seperti apa?"
Allesya menggunakan dua jarinya untuk menunjuk matanya dan mata Sean secara bergantian. "Seperti ini, tatapan matamu seolah enggan berpaling darinya tadi," dengusnya masih dalam mode kesal.
"Aahk! Kak Sean!" pekiknya karena tangan besar menarik tubuhnya, untuk lebih merapat.
CUP!
Sean menghadiahi sebuah lum*tan manja di bibir ranum sang Istri.
"Bagaimana aku bisa terpesona dengan wanita lain sedangkan ada yang lebih cantik di dekatku," ucap Sean, kembali memagut bibir Allesya.
"Astagfirullah ... sabar Udin ... ini ujian," batin si Supir menjerit.
"Kak, tapi kau belum menjawab pertanyaanku tentang siapa wanita itu," ia kembali mengingatkan setelah Sean menarik bibirnya.
"Dia itu istri dari rekan bisnisku di Indonesia. Namanya Aura."
"Terus?"
"Apanya lagi?"
"Kak Sean...!" rengek Allesya.
Sean tergelak. "Iya ... iya ... di London dulu, kami pernah tanpa sengaja bertabrakan dan suaminya salah paham."
Sean pun menceritakan semua tanpa terkecuali demi mengobati rasa penasaran Istri kecilnya.
°°°
Hari berikutnya, Sean bersama David datang ke gedung pencakar langit Pramudya Corp sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan.
__ADS_1
"Selamat datang di Pramudya Corp Tuan Sean Willson," bukannya Damaresh, justru Kaivan si Asisten yang memberi sambutan ramah akan kedatangan tamu penting yang sudah sangat ditunggu.
Sementara Damaresh selaku pemilik kursi tahta tertinggi di perusahaan hanya menyematkan senyuman tipis yang hampir tak terlihat di bibirnya.
Sean membalas sambutan Kaivan dengan anggukan ringan, sebelum menggiring mukanya ke arah rekan bisnisnya yang memang terlahir minim ekspresi dan irit kata itu. "Kau masih sama seperti dulu, Damaresh. Mahal senyum," selorohnya.
"Senyumku milik istriku," sahutnya sebelum mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dan langsung bersambut. "Silahkan duduk, Sean," ucapnya mempersilahkan.
"Terima kasih."
Damaresh melirik sekilah ke arah jam yang melingkari pergelangan tangannya. "Langsung saja kita memulai membahas tujuan pertemuan kita kali ini."
"Baiklah," Sean mengambil posisi duduk yang benar, seraya menautkan kesepuluh jarinya dan diletakkan di perut. "Seperti yang sudah kau ketahui Damaresh, dua tahun terkahir aku mulai merintis sebuah badan yayasan amal bernama ASD Foundation."
Pembicaraan seputar pengembangan yayasan amal pun mengalir begitu saja, tanpa ada reaksi kontra dari kedua belah pihak. Pengajuan proposal kerja sama dari Willson Corp langsung mendapat tanda tangan dan cap stempel milik perusahaan Pramudya Corp yang berarti Damaresh sang CEO membentang kedua tangan untuk menyambut kontrak kerja sama itu.
"Asal kau tahu, Damaresh, aku datang ke Jakarta bukan untuk sekedar membahas kerja sama di antara kita, melainkan aku ingin menepati janjiku kepadamu waktu itu. Aku yakin kau mengingatnya," ucap Sean setelah pembahasan seputar kerja sama berakhir.
"Iya aku mengingatnya."
Sean menarik kedua sudut bibirnya hingga senyuman mengembang tertera di muka tampannya. "Dia sudah menjadi istriku sekarang dan aku akan memperkenalkannya kepadamu."
"Aku akan mengundangmu untuk makan malam di istanaku, aku harap kau bersedia datang dengannya," tutur Damaresh dengan muka super datarnya. Percayalah, saat ini pria berparas tampan ini sudah memberikan segala keramahan dari dirinya meski terkesan sangat kaku.
"Tentu saja."
°°°
Setelah kembalinya dari Pramudya Corp, Sean kembali menemui Allesya dan membawanya ke suatu tempat.
Berdiri tepat di depan sebuah gedung megah, mata itu menelisik pada setiap sudut bangunan berpagar besi nan kokoh itu. "Kak Sean, ini tempat apa?" tanya Allesya kepada Sean.
"Kita masuk dulu, nanti aku kasih tahu," ajak Sean, menarik tangan kecil itu menuju ke dalam bangunan tersebut.
❣
❣
❣
Bersambung~~
Kenapa ya, novel yang mendekati tamat, para pembcanya kian sepi?
Masih misteri🤔
Tapi terima kasih ya bagi yang masih nyimak..🥰
__ADS_1
Mau ngingetin lagi nih, no novel udah mendekati tamat loh.. 🥺