Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 65


__ADS_3


Di sebuah ruang pemeriksaan dokter spesialis nefrologi. Wanita muda berbalut jas putih tengah menjelaskan hasil pemeriksaan medis kepada seorang pemuda yang tengah duduk di depan meja kerjanya.


"Fungsi ginjalmu sudah menurun 80-95 persen Erlan jadi kau harus menjalani prosedur hemodialisis atau cuci darah 2-3 kali dalam seminggu agar terhindar dari beragam komplikasi yang membahayakan. Dan tentunya kau akan tetap bisa menjalani hidup lebih berkualitas dengan cara ini," terangnya tanpa memutuskan tautan mata dari mata Erlan yang merupakan pesien pribadi sekaligus sahabatnya.


Pria yang tengah mengidap penyakit kanker ginjal stadium lanjut itu tampak mends*h pasrah. "Berapa lama aku harus menjalani prosedur cuci darah?"


"Menjalani prosedur cuci darah merupakan sebagai pengobatan sementara hingga kau mendapatkan donor ginjal. Setelah mendapatkan donor ginjal, kau akan menjalani operasi transplantasi atau cangkok ginjal dan tidak perlu untuk menjalani prosedur cuci darah kembali. Jadi kita harus banyak-banyak berdoa agar pihak Rumah Sakit bisa mendapatkan ginjal yang cocok untukmu," jelas sang Dokter yang bernama Emily.


Erlan tersenyum getir diikuti kecemasan yang mulai merembah di hatinya. "Emily kau tahu sendiri, aku ini yatim piatu. Aku juga tidak memiliki sanak keluarga, dari mana aku bisa mendapatkan donor ginjal?"


"Memang akan jauh lebih baik jika pendonor ginjal memiliki ikatan keluarga atau sedarah. Akan tetapi pendonor ginjal bisa juga berasal dari orang lain seperti sahabat atau kerabat dekat yang memiliki hubungan emosional dengan penerima donor. Sumber donor seperti ini biasanya dikenal dengan istilah emotionally related donor," Emily terus memberi kejelasan akan peluang-peluang usaha untuk kesembuhan Erlan.


Beberapa minggu yang lalu, tanpa sepengetahuan Erlan, Emily juga sempat melakukan serangkaian pemeriksaan kesehatan pada dirinya, berharap salah satu ginjalnya bisa ia sumbangkan. Namun nyatanya hasil lab kembali memupuskan harapannya yang dimana ginjalnya tidak sesuai dengan yang dibutuhkan Erlan.


"Tapi sangat sulit mencari ginjal yang cocok dari pendonor tanpa ada hubungan darah Emily," Erlan tertunduk lesu seolah tiada semangat yang tersisa untuk menjalani hidup. "Sepertinya umurku tidak akan berlangsung lama," keluhnya kian putus asa. Sepintas, bayangan senyuman manis Allesya berputar di dalam pikirannya. rasa-rasanya dia tidak akan rela jika harus meninggalkan senyuman yang menyejukkan hati itu.


"Kau harus yakin untuk sembuh Erlan. Tanamkan sugesti positif di hidupmu. Bukankah ada seseorang yang ingin kau bahagiakan?" tutur Emily memberi dukungan moril kendati hati merasa sesak karena himpitan rasa cinta yang bertepuk sebelah tangan.


"Lagian ada aku juga yang akan selalu berdiri di sampingmu. Apa kau ingat, dulu waktu kita masih hidup di panti asuhan? Kita telah membuat janji untuk selalu bersama, saling membantu dan saling dukung di saat suka maupun duka," sambungnya lagi. Memberi kekuatan kepada Erlan yang masih memaku.


Dibawanya tubuh mencari posisi baru dengan beranjak dari kursi kerjanya. Membawa kaki menuju jendela kaca yang memperlihatkan pemandangan kota yang tengah ramai oleh hiruk pikuk kendaraan bermesin. Tanpa Erlan ketahui wanita yang berprofesi sebagai dokter muda itu tengan menyembunyikan bingkai netra yang mulai mengembun.


"Jika kau tidak bisa menghargai kecemasanku kepadamu sebagai sahabat, setidaknya hargailah kecemasan Seanie akan kesehatanmu. Posisikan dia sebagai pembakar semangatmu Erlan. Berhentilah berkata bahwa kau akan mati. Pikirkan perasaan orang-orang yang menyayangimu," tutur Emily tulus dari dalam hati layaknya seorang saudara namun tak sedarah. Meski nyatanya hingga saat ini Emily memandang Erlan sebagai pria bukan saudara.


"Maafkan aku Emily, bukan maksudku seperti itu. Ak..," kalimat Sean terputus diikuti perhatian yang teralih pada ponsel yang bergetar di dalam saku bajunya.


Senyuman terbit bersamaan binar hangat di muka tampannya setelah membaca satu pesan yang masuk. Gegas ia selipkan kembali ponsel ke dalam saku dan mengalihkan perhatiannya lagi kepada Emily yang ternyata sedang mengamatinya dengan tubuh bersandar pada bingkai jendela. "Emily terima kasih untuk hari ini. Aku akan pergi sekarang untuk menemui Seanie."


Tanpa bergeser dari posisinya, Emily kembali mengingatkan. "Kau jangan terlalu sering melakukan kerjaan yang menguras tenagamu Erlan. Ingat kau tidak boleh sampai kelelahan."


"Baiklah. Sampai jumpa," pamitnya dan dengan semangat melangkah meninggalkan ruangan.


Tidak butuh waktu lama, mobil yang ditunggangi Erlan sudah terparkir di halaman luas universitas tempat sang Kekasih mengenyam ilmu. Belum sempat kaki diajaknya menuruni mobil, sepasang netra terlebih dahulu menangkap kedua sosok yang terlihat sedang bersitegang.


Kedua alisnya mengerut diikuti rahang yang mengeras ketika melihat salah satu dari sosok itu tengah menangis. "Seanie..," gumamnya.


Gegas ia menuruni mobil dan membuat langkah lebar untuk menghentikan tindakan Sean yang terkesan bersikap memaksa kepada Allesya. "Lepaskan dia sekarang! Tindakkanmu bisa menyakitinya!" titahnya penuh penekanan dan bersamaan tangan mencengkeram kuat lengan berotot Sean.

__ADS_1


"Erlan..," lirih Allesya yang langsung berhamburan ke arah pria yang masih menyandang status sebagai kekasihnya.


NYUT..!


Melihat sikap Allesya yang seolah menganggap Erlan sebagai kestaria pelindungnya mengundang sebuah denyutan dalam yang menghujam dada Sean. Membuatnya menanggung kembali keperihan yang mungkin tiada obat. "Sial! Situasi saat ini membuatku terkesan sebagai pria mesum yang hendak melakukan tindakan asusila kepada seorang wanita," rutuknya di dalam hati. Sungguh dia sangat tidak menyukai posisinya saat ini.


"Seanie sebaiknya kau tunggu dulu di dalam mobil. Aku akan berbicara sebentar dengannya," tutur Erlan kepada Allesya yang tampak ragu meski akhirnya ia memilih untuk menuruti ucapannya.


"Erlan berhati-hatilah dengannya," pintanya tampak cemas.


Dan apa ini? Lagi-lagi Sean merasa tertohok. Sebuah kalimat terdengar sebagai wujud perhatian tulus untuk Erlan namun menjorok Sean ke dalam posisi seolah ia adalah seorang pelaku kriminal yang tak segan-segan mematikan korban. "Seburuk itukah aku di matanya saat ini?"


Setelah kepergian Allesya, Erlan mengajak Sean ke di sudut lain yang tak terjangkau oleh mata Allesya.


BUG!


Satu kepalan tangan melesat cepat ke tulang rahang Sean hingga mukanya terpental ke samping.


BUG!


Sekali lagi, Erlan kembali melayangkan tinjuannya ke sasaran lain yang sukses membuat bibir Sean robek dan mengeluarkan darah segar.


BUG!


Hingga keletihan yang mendera tubuh ditandai napas tersengal-sengal serta keringat yang bercucuran menghentikan aksi pukul Erlan. Ia lalu mencari tempat terdekat untuk dijadikan tempat beristirahat. Menata kembali kinerja paru-paru dalam meraup oksigen.


"Sejujurnya dari awal ketika mengetahui kaulah orang yang telah menghancurkan dan merusak Seanie, aku ingin sekali menghajarmu hingga mati," beber Erlan yang masih terlihat kesulitan mengatur napasnya.


"Lalu kenapa tidak kau lakukan saja?" sahut Sean yang sudah mengambil duduk di sebelah Erlan. Mengabaikan rasa sakit karena hadiah pukulan Erlan.


"Itu karena aku lemah. Kau bisa lihat sekarang bukan. Aku hanya memberimu 3 pukulan kepadamu dan sudah membuatku sangat keletihan. Saat ini bahkan aku tengah menahan diri agar tidak pingsan," perkataan Erlan membuat Sean menggiring mukanya ke arah lawan bicaranya seiring sebuah mimik bertanya-tanya.


"Apa kau sedang bercanda? Bagaimana kau bisa melindungi kekasihmu jika kau sangat lemah? Atau biarkan aku saja yang melindunginya," sembur Sean terang-terangan akan keinginannya untuk memiliki kekasih Erlan, Allesya.


Erlan tersenyum getir. Ia membenarkan ucapan Sean. Tiba-tiba saja rasa percaya dirinya untuk tetap bersanding di samping Allesya merosot pergi.


"Bolehkah aku bertanya?" Sean bersuara. Memecahkan keheningan yang sempat mampir sejenak.


"Apa?"

__ADS_1


Menghela napas kasar ke udara. Membuang keresahan serta keraguan untuk bertanya. Namun nyatanya rasa ingin tahu lebih merajai hati. "Apa benar Allesya pernah hamil dan keguguran?"


"Jawaban apa yang kau inginkan?"


"Entahlah, aku hanya berharap Allesya tidak mengalami hal buruk lagi setelah aku menyakitinya."


"Tapi kenyataannya hal buruk yang ada di pikiranmu saat ini memang benar adanya. Seanie mengalaminya."


"Jadi.. benar kalau.."


"Iya, dia sempat mengandung anakmu tapi keguguran karena pingsan saat berada di toilet. Waktu itu dia bahkan belum tahu kalau sedang hamil," pungkas cepat Erlan. Menekan kepedihan ketika ingatan akan Allesya yang hampir meregang nyawa di waktu itu berputar di dalam otaknya


Tubuh sean mendadak lemas sektika setelah mengetahui kebenaran dari Erlan. Kian menyeret jiwanya ke dalam lumpur hidup yang menenggelamkannya bersama rasa penyesalan yang entah sampai kapan akan berhenti menyiksanya. Ia mengerang frustrasi diikuti tangan meremas kasar rambut lebatnya.


"Allesya.. Maafkan aku," tidak terasa kedua matanya sudah dibasahi oleh air mata penyesalan.


Sementara Erlan justru tampak mati-matian menahan rasa tidak nyaman yang tiba-tiba kian menggerayangi tubuhnya. Mukanya berubah pasi, matanya memerah, suhu tubuhnya meningkat, dan keringat dingin terus menerobos pori-pori kulitnya. Dengan kepayahan, kaki diajak memijak untuk beranjak dari duduknya. Ingin segera meminum obat pereda sakit, itulah yang dipikirnya saat ini. Namun belum sempat kaki dibawa melangkah dunia berangsur-angsur menggelap. Tubuhnya seketika lemas bagaikan tak bertulang. Hingga akhirnya..


BRUK!


"Hei! Kau kenapa? Sadarlah!"





Bersambung~~


Kira-kira bagaimana keadaan Erlan selanjutnya ya..??🥰


Terima kasih masih setia menyimak karya Nofi. Dan terima kasih atas segala dukungan kalian yang berupa like, komen, hadiah, dan vote🥰


Tapi terus terang Nofi agak merasa sedih. Karena banyak yang masih enggan meninggalkan like.



Jumlah pembacanya setiap hari emang gk sebanyak di karya author femes sih. Tapi heran aja..Viewer segitu tp yang ngelike nggak ada 400 setiap babnya. Apakah karena tulisanku ini memang tidak pantas mendapatkan apresiasi lebih?

__ADS_1


Nofi doain aja deh, semoga hati para silent reader bisa tergerak untuk meninggalkan like😌


Amiinnn... yang kenceng. Lainnya juga ikut ngaminin rame-rame ya..😆


__ADS_2