Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 28


__ADS_3


Keterkejutan menyerbu diri Allesya ketika melihat kehadiran sesosok wanita paruh baya yang sudah sangat ia rindu selama ini, Inggrid. Kalau saja Inggrid tidak langsung melempar sorot mata yang seolah menuntut Allesya agar tetap bungkam, mungkin ia sudah berhamburan ke dalam pelukan wanita berstatus ibu itu. Namun kenyataannya, ia kembali harus memendam hasrat rindu kepada sang Ibu yang tak pernah mangakui keberadaannya. Memaksa ia untuk tetap berdiri pada perannya seolah mereka tidak saling kenal.


Sama halnya dengan Allesya, dalam hati, Inggrid pun sangat terkejut ketika menyadari keberadaan Allesya di kediaman Willson. Pertemuan keduanya sungguh tak diduga.


"Kau?! Kau wanita jahat! Jahat..!" teriak histeris Sarah seketika menguar di kala menyadari keberadaan Inggrid yang sukses merangsang kembali kegejolakan jiwa dan perasaan Sarah yang sudah bertumpang tindih di dalam dada.


"Aahhkk! Sakit! Lepaskan tanganmu," pekik Inggrid ketika Sarah menarik kasar rambut sebahunya.


"Kau wanita jahat! Kembalikan suamiku! Kembalikan janinku!" Sarah terus meracau di bawah naungan emosi yang kian tak terkendali.


"Aahhkk! lepaskan!" Inggrid berkali-kali menjerit kesakitan karena sensasi tarikan kuat tangan Sarah pada rambutnya yang mungkin akan tercabut dari pori-pori kepala jika andai saja Erick tidak segera berusaha memisahkan mereka.


"Sarah.. aku mohon tenanglah," Erick mendekap erat tubuh Sarah. Menenggelamkan muka wanita itu di dalam dada bidangnya. Berharap tindakannya dapat menyurutkan gejolak jiwa yang terus terguncang.


"Dia wanita jahat! Hiks! Hiks! Jahat!"


"Erick, sebaiknya kau bawa wanita ini pergi dari sini," saran Henry kepada Erick agar segera membawa Inggrid pergi.


"Tapi Pa," Erick tampak tak rela meninggalkan Sarah dalam keadaan terguncang seperti itu.


"Keberadaan wanitamu itu semakin memperkeruh suasana Erick. Bawa dia pergi sekarang," pinta Henry dan akhirnya Erick pun menurutinya.


Erick menarik tangan Inggrid dan membawanya keluar dari mansion dengan langkah lebar. Terlihat Jelas langkah Inggrid sedikit terseot-seot karena sang Suami menyeretnya dengan kasar.


Sementara itu, Allesya masih setia pada mode membatunya. Pikirannya sibuk mencerna situasi yang sedang terjadi. Sedikit yang bisa dia petik dari peristiwa tersebut, yaitu Inggrid ada sangkut pautnya dalam penyebab penderitaan Sarah.


"Allesya, kenapa kamu malah melamun?" teguran Henry sukses menarik paksa pikiran Allesya dari lamunannya dan mulai menguasai situasi.


"Tante... Allesya mohon tenanglah, semua akan baik-baik saja. Berhentilah seperti ini. Kau membuatnya semuanya sedih," bujuk Allesya seraya memeluk tubuh Sarah yang masih bergetar akibat rasa marah, sedih, dan kecewa mengaduk-ngaduk jiwanya.


"Hiks! Hiks! Dia jahat! Suamiku, janinku, pergi karena dia!" Sarah terus meracau diikuti respon psikis yang ternyata berangsur-angsur tenang.


Henry menatap sendu Sarah yang sudah terlelap dalam tidurnya setelah diberi obat penenang. Namun ia juga merasa lega karena keberadaan Allesya cukup bisa membantunya dalam menangani Sarah.


Tidak seperti sebelumnya, dimana dia akan memaksa Sean untuk segera pulang ke rumah jika Sarah kembali kambuh karena hanya Sean yang mampu menenangkan Sarah.


"Allesya maaf ya, mau tidak mau kau harus menyaksikan peristiwa yang memalukan seperti tadi," ucap Henry menatap ke arah Allesya yang sedang duduk di bibir ranjang tempat Sarah terlelap.

__ADS_1


Tersenyum simpul sembari melempar tatapan teduh. "Itu bukan masalah Kek," jeda Allesya lalu kembali melanjutkan kalimatnya. "Hmm, Kek, apakah wanita tadi..," ia tampak ragu melanjutkan kalimatnya.


"Wanita tadi adalah istri Erick yang sekarang. Tepatnya perebut kebahagiaan Sarah. Namanya Inggrid," sahut Henry yang seolah bisa membaca pikiran Allesya saat ini.


"Sarah juga harus kehilangan janinnya setelah bertengkar dengan Inggrid di kala itu. Sehingga membuatnya sangat terpukul. Sungguh putriku yang malang," lanjutnya.


Dua ujung alis Allesya tertaut, mewakili keterkejutannya. Sungguh, hatinya juga ikut terpukul mendengar kisah masa lalu Sarah yang begitu kelam.


"Bagaimana dengan Kak Sean Kek?"


"Tentu saja Sean juga tak kalah terpukul akibat badai masalah yang menerpa rumah tangga orang tuanya. Itulah sebabnya, hingga saat ini, Sean memendam kecewa teramat dalam kepada ayahnya, Erick. Dan dia juga sangat membenci wanita yang bernama Inggrid, tak terkecuali semua orang yang berhubungan dengannya termasuk adik tirinya, Arthur," beber Henry.


°°°


Sementara itu di sudut kota London yang lain.


"Apa kau sadar dengan perbuatanmu tadi Inggrid? Keberadaanmu di sana semakin membuat jiwa Sarah tersakiti. Sebenarnya apa tujuanmu datang menemui Sarah?" cerca Erick bernada tinggi.


"Tujuanku hanya ingin meminta maaf, bagaimanapun aku juga sama sepertimu. Aku juga menyesal Erick," jari-jari lentik bercat kuku merah itu menyapu sudut matanya yang basah. Kedua bahunya terguncang karena menangis.


Helaan napas kasar lolos dari mulut Erick. Mendengar ungkapan penyesalan Inggrid, membuatnya tak kuasa melanjutkan luapan segala emosi yang akhirnya memilih tertahan di dalam dada.


"Maaf karena tadi sudah membentakmu," Erick kembali luluh melihat Inggrid berkata sembari terisak.


"Tidak apa-apa, memang akulah yang salah," Inggrid berhamburan ke pelukan Erick.


"Apa kau tadi melihat gadis muda yang berada di sana tadi?" tiba-tiba Erick teringat akan Allesya.


Perasaan gugup yang tiba-tiba mengusik membuat Inggrid melerai pelukannya. "Gadis yang mana? Sepertinya aku tidak menyadari keberadaannya," kilahnya menutupi kegugupannya.


"Allesya, namanya Allesya. Wajahnya mengingatkanku pada seseorang."


DEG!


°°°


Senja membias indah di ufuk barat cakrawala. Mengantar hari yang terang menuju gelapnya malam. Gadis cantik bersurai coklat tampak menduduki bangku kosong sisi trotoar. Ia tengah sibuk dengan kekalutan pikirannya.


Allesya tidak menyangka, bahwa sosok yang berperan besar dalam menoreh luka sehingga membuat jiwa seorang Sarah tergoncang luar biasa adalah ibunya sendiri yang berarti juga telah menyabet paksa kebahagiaan pria yang dia cintai, Sean.

__ADS_1


Apakah mungkin Sean juga akan membenci dirinya jika tahu bahwa dia adalah anak dari wanita yang telah menjadi duri tajam di dalam kebahagiaan keluarganya? Apakah Sean akan memasang tembok besar sebagai penghalang cintanya. Apakah kenyataan yang baru ia ketahui itu akan menjadi tanjakan terjal menuju hati sang pujaan? Ketermenungan Allesya menutupi kecemasan hati yang tengah sibuk akan serentetan praduga tentang apa yang akan terjadi jika Sean mengetahui yang sebenarnya.


"Aahhk!" Allesya terlonjak karena sebuah sapuan hangat di pipinya. Menarik kembali pikiran yang sempat melayang.


"Kak Arthur..! Kau mengagetkanku!" Serunya seraya menyabet paper cup berisi minuman hangat yang tertodong di depan mukanya.


Arthur terkekeh lalu mengambil tempat di sebelah Allesya. "Sedang apa kau di sini?"


Alih-alih segera menjawab, gadis itu malah celingukan ke kanan dan ke kiri lalu balik bertanya. "Harusnya aku yang bertanya, kenapa Kak Arthur berada di sini?"


"Tadi aku tidak sengaja melihatmu sedang melamum di pinggir jalan. Apa kau sedang ada masalah?"


Allesya menatap mata teduh Arthur lalu menjawab. "Kak, tadi aku bertemu ibu," terangnya.


"Benarkah?" sahut Arthur terdengar biasa-biasa saja.


"Aku bertemu dengannya di kediaman Willson,"


"Apa?!" berbeda dari respon sebelumnya, kali ini Arthur sedikit terkejut. "Kenapa kau bisa bertemu dengan Ibu di sana?" lanjutnya.


"Karena aku bekerja di sana Kak," terang Allesya.


"Aku kasih saran, sebaiknya kau segera mencari pekerjaan yang lain. Atau kau tidak perlu kerja, biar aku yang menghidupimu."


Allesya menggelengkan kepalanya. "Tidak Kak, lagian kenapa aku harus keluar dari sana?"


"Karena Ibu..,"


"Kakak tidak perlu bercerita karena aku sudah mengetahuinya," tukas Allesya.





Bersambung~~


Para readers kesayangan.. Di mohon tekan gambar like setelah membaca setiap babnya ya.. Hukumnya wajib. Maaf kalau Nofi maksa🤣

__ADS_1


__ADS_2