Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 64


__ADS_3


Muka rupawan beraut dingin masih setia dengan bibir terkatup rapat. Kejengahan mengundang rasa enggan untuk sekedar membalas sapa karena keberadaan sosok yang dia ketahui telah bersikap buruk kepada Allesya.


Bukannya tidak pernah berkaca diri. Mengingat bahwa dia sendiri juga pernah bersikap buruk kepada Allesya. Namun ketika mata melihat orang lain menyakitinya, perasaan tidak terima datang begitu saja. Seolah membentang bendera sekutu yang menyatakan musuh Allesya musuhnya juga.


"Apakah kau kekasihnya Allesya?" sosok wanita yang bertanya tampak gugup karena aura dingin memancar kuat di balik muka tampan Sean. Namun dia sudah terlanjur berdiri dan berhadapan langsung, jadi tidak akan melangkah mundur dan menyerah begitu saja. Baginya, semua yang dimiliki Allesya harus berpindah ke tangannya.


Penasaran dengan apa yang akan dikatakan wanita itu selanjutnya, Sean menutup kembali daun pintu mobil yang sempat terbuka. Membawa badan untuk berdiri gagah diikuti kedua tangan menyelinap ke dalam saku celananya. "Siapa kamu dan apa urusamu?"


"Sial! Dia sangat dingin. Untung tampan," rutuk si wanita yang tak lain dan tak bukan bernama Rebecca. Namun gegas dikuasainya kembali situasi. Secepat angin mengubah mimik mukanya ke dalam mode sedih. "Aku adalah sahabatnya Allesya. Tujuanku menemuimu karena aku sangat peduli dengannya. Aku mohon kepadamu untuk tidak menyakitinya. Meski kelak kau mengetahui masa lalunya yang kelam kau akan tetap menerima dia apa adanya," ia mulai menunjukkan kemahiran dalam berakting.


"Ck! Wanita licik, padahal aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa dia telah membuli Allesya dengan lidahnya," batin Sean berdecak namun masih membiarkan Becca melanjutkan aksinya. Ia ingin melihat sejauh mana kebusukkan wanita di depannya. "Langsunglah bicara pada intinya."


Tiba-tiba Becca meneteskan air mata seiring suara isakan tangis. "Aku sungguh sangat kasihan dengan Allesya. Seringkali aku mengingatkannya untuk merubah gaya hidupnya yang liar dan sering berganti-ganti pasangan. Sayangnya dia tidak pernah mendengarkan nasehatku," Becca tersedu-sedu. Sesekali ia mengusap ingus dengan tisu kusut di tangannya.


"Allesya bukanlah wanita seperti itu, aku sangat paham bagaimana polosnya dia," kata hati Sean yang tak terima akan ucapan Becca yang terkesan ingin menjatuhkan Allesya di balik sikap sok pedulinya. "Hanya itu saja yang ingin kau sampaikan? Sebelumnya terima kasih karena kau sudah sangat peduli dengan Allesya. Dan aku tidak masalah dengan segala masa lalu kelamnya," tandas Sean lalu memutar tubuhnya ke arah mobil, namun tangan yang sudah memegang handle pintu urung membukanya karena ucapan Becca.


"Apa kau akan tetap bisa menerimanya jika ia pernah hamil dan dengan sengaja menggugurkan kandungannya?" sela Becca dengan cepat sebelum Sean sempat masuk ke dalam mobil.


Dan nyatanya yang diungkap Becca kali ini sukses mengundang rasa tidak nyaman di hati Sean. 'Benarkah Allesya hamil? Apakah itu karena perbuatanku waktu itu? Sekalipun itu benar, Allesya bukanlah wanita kejam yang akan tega membunuh sesuatu yang bernyawa di dalam perutnya karena aku tahu betapa lembut hati dan perasaannya.' Serentetan kalimat tanya dan asumsi tengah berjajar rapi di kepalanya. Membuatnya kembali menggila karena memikirkan segala kemungkinan yang tentu akan semakin membawanya tenggelam ke dalam lubang penyesalan.


"Dia.. pernah hamil?" tanyanya gamang.


Sekilas terlihat seringaian puas di muka Becca. Melihat perubahan air muka Sean, ia sangat yakin mangsa incarannya sudah mulai terpancing oleh ucapan lidahnya yang licin. "Sepertinya aku akan menyambut kemenangan," batinnya yang sudah berada di awang-awang. Dan melanjutkan akting dengan memperderas aliran air mata buayanya.


"Iya dia pernah hamil. Waktu itu aku menemukannya pingsan di dalam kamar mandi kampus dengan alat tes kehamilan di tangannya dan obat penggugur kandungan yang terjatuh di sebelahnya. Hiks! Hiks! Sungguh Allesya yang malang. Waktu itu aku sampai ketakutan karena begitu banyak darah yang keluar di antara betisnya. Dia pasti sangat putus asa karena tidak mengetahui siapa ayah dari kandungannya secara sudah banyak pria yang dia ajak tidur. Andai dia mau mendengar nasehatku hal itu pasti tidak akan terjadi," Becca terus menggencarkan lidahnya untuk mencuci otak Sean. Tangisan buayanya pun kian menjadi.


Di saat Becca masih fokus mendalami aktingnya, Sean justru sibuk mengorek sesuatu yang mulai mengganjal pikirannya. "Kapan hal itu terjadi?" sebuah pertanyaan kembali meluncur dari bibir Sean.

__ADS_1


Sejenak isakan Becca berhenti. Matanya merotasi mencoba mengingat-ingat kapan waktu kejadian itu terakhir kali. "Kalau tidak salah kejadiannya sepuluh bulan yang lalu, di awal tahun ajaran baru," terangnya dan kembali tersedu-sedu.


Dan benar saja. Keterangan Becca semakin menguatkan praduga Sean yang terus bertebangan di atas kepalanya. "Berarti peristiwa itu terjadi dua bulan setelah aku menggagahinya di malam itu. Tapi apakah benar yang dikatakan orang ini? Tidak, aku harus menanyakannya langsung ke Allesya,"


"Dan itulah sebabnya Allesya selalu menjadi gunjingan para mahasiswa karena dianggap sebagai pembawa aib yang merusak nama baik kampus. Namun sayang, bukannya merubah sikap buruknya dia malah semakin gencar menggoda para pria yang berada di dalam kampus maupun luar kampus. Aku sangat sedih akan hal itu," sambungnya lagi sambil mengusap ujung matanya yang basah.


"Sudah cukup kau terus beromong kosong Becca!" Becca seketika tercekat di kala Allesya tiba-tiba datang dengan raut muka berang.


"Allesya..," lirih Sean. Ia justru merasa lega akan kedatangan Allesya. Pasalnya sebuah tanda tanya besar sudah meminta jawaban dengan segera yang diyakini bahwa hanya Allesyalah yang mampu menjelaskannya.


Sedangkan Becca yang merasa tertangkap basah dalam aksinya untuk menghasut Sean tak urung membuatnya berhenti menjalankan peran palsunya sebagai tokoh prontagonis agar tetap terlihat baik di depan pria incarannya. Tentu saja dia juga tidak akan membiarkan dirinya dipermalukan di depan Sean. "Allesya sejak kapan kau berada di sini? Aku harap kau jangan salah paham ya. Aku lakukan ini karena sangat peduli denganmu."


"Ck! Yang benar saja," suara decakan terdengar bukan dari mulut Allesya melainkan Sean. Dia sangat tahu tujuan Becca menemuinya bukan karena peduli melainkan karena ingin menjatuhkan Allesya dengan menciptakan image buruk di depannya.


"Lagi-lagi kau menyebarkan berita yang tidak sesuai Becca. Apa mulutmu ingin ditampar dengan pantat panci yang baru saja diangkat dari tungku bara api?" kini ganti Alleysa yang bersuara. Menyerukan sebuah gertakan tegas.


Becca berlagak tidak mengerti apa-apa seolah ia tidak melakukan kesalahan apapun. "Kenapa kau tega sekali menuduhku seperti itu Allesya. Bukan aku yang menyebarnya. Semua orang mengetahuinya dengan sendirinya tentang kasus kau menggugurkan kandunganmu di toilet kampus," kilah Becca dan memberi penekanan di kalimat terakhir agar Sean mendengar dan berpikiran buruk tentang Allesya. Tanpa ia sadari, usahanya itu sudah gagal sejak awal permainan di mulai.


"Bagaimana mungkin aku melakukan itu kepadamu Allesya. Sedangkan kau adalah temanku," masih gigih berkilah.


"Aku tidak pernah menganggapmu teman. Bagiku kau adalah si Mulut Besar penyebar gosip yang harus dimusnahkan dari muka bumi. Kau juga si tukang iri dan selalu tidak suka melihat orang lain berada di atasmu. Hish! Sungguh busuk sekali kau Becca. Membuatku ingin muntah karena tubuhmu sangat bau," meluap sudah segala emosi yang selama ini dia pendam. Padahal dia sangat tahu, Becca bukanlah tipe orang yang hanya berdiam diri jika dihina. Terlahir dari keluarga kaya, membuatnya tinggi hati dan berlaku semena-mena.


Becca mulai berang karena terpancing oleh perkataan Allesya. Seketika ia melupakan peran palsunya sebagai tokoh protagonis untuk menggait perhatian Sean. "Kau! Berani-beraninya menghinaku Allesya!" diangkatnya tangan kanan dan langsung melesat cepat ke arah muka Allesya. Namun sebuah cengkeraman kuat pada pergelangan tangannya menghentikan serangannya. "Aahk! Sakit sekali!" rintihnya.


"Kau yang terlalu berani mengusiknya di depanku Nona," menghempas kasar tangan Becca. "Pergilah sebelum aku benar-benar mematahkan tanganmu," gertak Sean dengan rahang mengerat kuat. Membuat nyali Becca menciut karena ketakutan.


Akhirnya Becca memilih pergi dengan sedikit berlari. Membawa perasaan dongkol bercampur rasa malu karena harga dirinya yang selangit jatuh menghantam bumi.


Setelah kepergian wanita bermulut besar itu Sean menggiring tubuhnya untuk berhadapan dengan Allesya. Kedua tangan diajaknya mendarat di masing-masing pundak wanita yang masih dalak mode jengkel itu. Menatap lekat manik biru yang ternyata sudah mengembun.

__ADS_1


"Allesya.. Tolong jelaskan semuanya kepadaku? Apa benar kau sempat hamil dan keguguran? Apa itu anakku?" tanya Sean sudah tak kuasa menahan diri untuk segera mencari jawaban.


"Allesya cepat jawab," desak Sean kembali karena Allesya masih membisu.


Rasa sesak yang mendera teramat menyiksa. Bagaikan dua bongkahan batu menghimpit dadanya. Membuatnya kesulitan untuk bernapas. Bayangan masa lalu di saat dia diketahui hamil kembali berputar-putar di pikirannya. Ditambah ingatan di kala ia tidak bisa menjaga janin yang dikandung membuatnya kembali dirundung rasa bersalah yang begitu dalam. Bersamaan dengan itu, titik-titik air mata bergulir membasahi muka yang masih berkabut kesedihan.


"Allesya jadi semua itu benar?" mengguncang tubuh Allesya agar ia tersadar dari lamunannya.


"Pergi! Aku tidak ingin berbicara denganmu!" bukannya segera memberi jawaban akan tuntutan pertanyaan Sean, Allesya justru mendorong kuat tubuhnya agar menjauh.


"Jangan pergi Allesya. Kau harus menjelaskan semuanya kepadaku," Sean menarik tangan Allesya yang berniat pergi.


Allesya kian terisak. "Lepaskan tanganku Sean. Aku sedang ingin sendiri sekarang," pintanya seraya berupaya melepaskan tangannya dari lilitan jemari Sean.


"Baiklah kau tidak perlu bercerita sekarang. Tapi biarkan aku mengantarmu."


Allesya menggeleng sebagai tanda bahwa ia menolaknya dan masih berusaha melepaskan diri.


"Aku tetap memaksa untuk mengantarmu," bagaimanapun juga Sean tidak akan rela membiarkan Allesya pergi dengan membawa mukanya yang masih terus dibasahi air mata.


Hingga aksi paksa Sean yang enggan melepaskan tangan Allesya seketika terhenti karena sebuah tangan besar mencengkeram lengannya.


"Lepaskan dia sekarang! Tindakanmu bisa menyakitinya."


💚


💚


💚

__ADS_1


Bersambung~~


__ADS_2