Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 53


__ADS_3


"Maaf Nona, apakah anjingku telah mengganggumu?" ia bertanya di sela usaha mengatur napasnya.


Menuruti ke mana arah sumber suara itu berasal, Allesya menggiring mukanya. Sekilas rasa kagum melintas di hatinya ketika muka rupawan serta mata teduh itu menatapnya. Hingga sebuah lengkungan tipis pada bibir ranumnya terulas manis diiringi sebuah gelengan samar. "Anjingmu justru bertingkah sangat manis, bagaimana bisa aku menganggapnya sebagai pengganggu," balasnya.


Pria bernetra teduh itu tersenyum lega, menampilkan deretan gigi putihnya. Gurat-gurat keramahan begitu kentara di muka tampannya. "Syukurlah."


Guk!


Si Anjing Pudel kembali menggogong ke arah Allesya diikuti kibasan ekor serta lidah yang menjulur keluar seolah belum ingin mengakhiri permainan lempar tulangnya.


Allesya kembali terkikik karena tingkah menggemaskan si Anjing. "Sepertinya kau masih ingin bermain ya anjing kecil."


Guk!


"Baiklah-baiklah. Bersiaplah..." sebuah aba-aba dari Allesya langsung direspon antusias oleh si Anjing ditandai dengan empat kakinya yang sudah memasang ancang-ancang. Hingga ia mulai berlari mengejar tulang mainan yang baru saja di lempar Allesya.


"Apa kau menyukainya?" tanya si Pria sembari menduduki tempat kosong di sebelah Allesya. Seolah tiada kecanggungan meski baru kali pertama bertemu.


"Tentu saja," jawabnya seraya tersenyum tipis tanpa ada rasa risih sedikitpun akan keberadaan pria itu.


"Apa kamu pendatang baru atau seorang wisatawan yang sedang berlibur?" tanyanya terucap dari bibir si Pria. Ditatapnya muka cantik yang langsung membuatnya terpesona sejak detik pertama memandang.


"Aku pendatang baru," jawabnya kembali.


Si Pria ber-o ria menanggapi jawaban tanpa basa-basi dari lawan bicaranya tersebut.


"Namaku Erlan," diulurnya tangan untuk berjabat tangan.


Tak ada prasangka buruk sama sekali, uluran tangan tersebut pun bersambut.


"Aku Seanie."


"Dan anjingku bernama Bear."


Muka tertegun seketika terbias jelas di muka Allesya. Dikulum sepasang bibirnya yang hampir tertawa pecah. Bagaimana bisa anjing bertubuh mungil itu diberi nama bear yang berarti hewan buas yang memiliki ukuran tubuh 50x lipat lebih besar dari anjing berjenis pudel, begitulah batinnya. Dan reaksinya itu tentu saja langsung tertangkap mata teduh Erlan.


"Jangan ditahan. Tertawalah jika kau ingin tertawa," Erlan masih menatap kagum muka Allesya dari samping. "Sangat cantik," batinnya terus memuji.


"Ups! Maaf aku tidak bermaksud," ia masih kekeuh menahan tawa karena takut si Pemilik anjing tersinggung.


"Ketawa saja Seanie, jangan ditahan dari pada tumbuh bisul di ujung jempolan kakimu," dan benar saja banyolan Erlan sukses meruntuhkan pertahanan Allesya agar tidak tertawa lepas.


"Pffft! Maaf.. maaf, aku tidak bisa menahannya. Lagian apa hubunganya menahan tawa dengan tumbuh bisul di ujung jempol kaki?" suara gelak tawanya terdengar renyah meski tangan sudah berusaha menutupi.

__ADS_1


"Itu bukanlah masalah Seanie," seperti terkena penyakit latah, ia pun ikut tergelak. "Apa kau suka membaca buku?" di sela sisa tawanya Erlan kembali bertanya.


"Hanya buku-buku tertentu saja yang suka ku baca."


"Buku seperti apa?" masih menatap lekat muka lawan bicaranya.


Digiring mukanya ke samping hingga tak sengaja netranya bertemu dengan netra Erlan yang memang sedari tak melepas tautan pandangannya ke arah muka Allesya. "Buku yang terdapat banyak gambar," jawaban polos apa adanya meluncur indah dari bibirnya.


"Kau pasti ingin menertawaiku ya, karena aku seperti anak kecil?" sambungnya kembali karena menyadari Erlan terus menatapnya dengan senyuman yang terus menghiasi mukanya.


Bagi Allesya, Erlan terkesan mengejeknya melalui mimik muka. Padahal sumpah demi Dewa Neptunus, Erlan tengah mengagumi ciptaan Tuhan yang tersaji di depannya.


Erlan menggeleng. "Tidak, aku tidak ada niat seperti itu. Kalau kau mau, aku bisa memberimu banyak buku bergambar," disodornya sebuah kartu yang berisi nama dan nomor telepon.


"Benarkah?" ia menerima kartu tersebut dengan muka berseri.


"Tentu saja. Coba kau lihat bangunan di sana?" Erlan menunjuk sebuah bangunan besar yang terletak tidak jauh dari seberang sungai Seine. "Itu adalah toko buku terbesar di kota ini dan kau bisa temui aku di sana," ucapnya antusias.


"Apa kau bekerja di sana?" lagi-lagi muka polosnya menggiringi pertanyaannya.


Sekilas Erlan sempat terdiam sebelum akhirnya kembali bersuara. "Iya, tentu aku bekerja di sana."


"Erlan? Sejak kapan kau berada di sini bersama putriku?" sapa Raffaela yang baru saja datang membawa sebuah botol minuman di setiap masing-masing tangannya.


"Terima kasih Mom," sebuah senyuman menyambut pemberian sang Mommy.


Pria si Mata teduh itu seketika terkesima di kala menyadari bahwa wanita yang sukses membuat terpesona hanya dalam hitungan detik itu adalah putri dari Nyonya Damirich, Raffaela. Seseorang yang sangat ia kenal. "Jadi dia adalah putri Tante?" masih dalam mode tampang tak percaya.


"Iya, dia adalah putriku yang telah lama aku cari, akhirnya Tuhan mempertemukan kami kembali," terangnya seraya mengusap penuh syukur kepala Allesya. Senyuman hangat jua turut ikut menggambarkan suasana hatinya yang tengah berbahagia.


"Aku turut bahagia mendengarnya Tante," ucapnya tulus seraya beberap kali melirik ke arah Allesya.


"Erlan, ngomong-ngomong, kenapa Bear belum kelihatan juga?" tanya Allesya yang ternyata sedari tadi menunggu si Anjing kecil yang tak kunjung kembali.


Des*han pelan keluar dari mulutnya ketika menyadari bahwa peliharaannya yang terlampau aktif itu kembali menghilang. "Lagi-lagi anak nakal itu menghilang," gerutunya sambil menepuk jidat.


"Sepertinya dengan berat hati aku harus pergi sekarang. Seanie, aku akan menunggu kedatanganmu di tempatku, dan akan sangat menyenangkan jika bisa berbincang kembali denganmu," Erlan lanjut menggiring muka ke arah Raffaela. "Tante, aku pergi dulu ya," pamitnya diikuti lambaian tangan sebelum meninggalkan kedua wanita sedarah tersebut.


Setelah kepergian Erlan, Raffaela melempar tatapan menyelidik ke arah Allesya. "Sayang...," panggilnya meminta kejelasan. "Kenapa dia sampai memintamu untuk datang ke tempatnya?"


Allesya seketika tersenyum kikuk. "Katanya dia akan memberiku banyak buku jika aku mendatangi tempat itu, tempat ia bekerja Mom," jelasnya seraya menunjuk sebuah bangunan megah toko buku yang berada di seberang sungai.


Kedua pangkal alis Raffaela hampir bertautan. "Jadi dia bilang bekerja di sana?"


Allesya mengangguk sebagai jawabannya yang sotak membuat wanita paruh baya itu tertawa. "Asal kau tahu, dia itu pemilik bangunan itu sayang," bebernya.

__ADS_1


°°°


Kembali di salah satu sudut kota London. Pria blonde berkali-kali meremas kain di dadanya. Menghalau rasa pilu yang nyatanya tak berujung. Semakin gencar ibu jarinya bermain di atas layar benda pipih itu semakin hatinya berkelut penyesalan.


Dikoreknya semua isi dalam ponsel Allesya. Membaca satu persatu pesan singkat untuknya yang tak terbalas. Dan riwayat permintaan panggilan telepon yang tak terjawab berurutan rapi. Namun waktu itu tiada kesah yang terucap dari bibir manisnya. Tiada pula sebuah protes sebagai wujud kecewanya kepada segala penolakan dari pria yang bertahta di hatinya selama ini. Ia bentang kesabaran hati seluas samudera. Menabur aura positif sebanyak bintang berlian di antariksa tak berbatas tepi.


Akan tetapi itu dulu sebelum ia merenggut kesucian dan mematahkan hati kecil yang penuh akan ketulusan cinta. Dan nyatanya dia sekarang sangat merindukan segala hal yang berkaitan Allesya.


Senyum bibir merekah, suara lumba-lumba, tingkah bar-bar, sikap pantang menyerah, perhatian, serta ungkapan cinta setiap kali bertatap muka. Sumpah demi Tuhan, ia ingin merasakan semuanya itu kembali.


"Aku baru merasakan sebuah kekosongan setelah ia menjauh. Sepertinya cintanya menjadi candu untukku," lirihnya terasa pilu. Mengakui sesuatu yang selama ini ia ingkari.


Sejurus dengan rintihan hati yang terus berlanjut, digiringnya manik birunya ke arah kotak kado yang dibiarkan menjadi pajangan di atas meja. Sebuah benda terbungkus kertas bewarna biru laut yang sudah terlihat lusuh.


Beberapa saat yang lalu setelah kembali ke mansion, ia tak sengaja menemukan benda itu berada di antara lebatnya tumbuhan bunga mawar. Mengingat jelas, bahwa itu adalah kado terakhir dari Allesya yang dibuat melempari punggungnya sebagai luapan kekecewaan.


Perlahan ia membuka kado tersebut dengan harapan sebuah obat rindu kan dia temukan di dalam sana. Namun, sepertinya Tuhan kembali menghukumnya.


Diusap penuh damba sebuah dasi kerja yang diyakini hadiah pilihan Allesya untuknya. Namun sedetik kemudian, tatapan nanar terpaut pada sebuah kalung yang sangat ia kenal. Dan di saat itu pula hatinya kembali meremang.


"Sepertinya waktu itu Allesya berniat memberitahuku bahwa dia adalah Esya teman masa kecilku dengan menunjukkan kalung ini. Kenapa? Kenapa aku begitu bodoh?! Apa yang telah aku lakukan kepadanya?" rutuknya.


Ingatan akan sebuah bekas luka di punggung Allesya yang dia lihat setelah kegiatan ranjang di malam panas berselimut rintihan serta deraian air mata itu tiba-tiba muncul menerjang otaknya. Disusul kalimat terkahir sebelum Allesya keluar dari apartemennya.


"Dulu kau pernah berjanji untuk menjadi pria dewasa yang akan selalu melindungiku dan tidak akan membiarkan orang lain membuatku sedih bahkan menyakitiku.Tapi.. kau mengingkari janjimu. Nyatanya kau lah orang yang merusakku. Kau lah orang yang paling menyakitiku. Dan juga kau lah orang yang paling membuatku bersedih."


"Aarrggg! Kenapa waktu itu aku tidak menyadarinya?! Kenapa aku begitu bodoh?!" Teriakan frustrasi menggiring air mata penyesalan membasahi muka kelamnya.


"Ya Tuhan, aku mohon, ijinkan aku memperbaiki semuanya. Biarkan aku menepati semua janjiku kepadanya. Menjadi pelindung untuknya, membunuh kesedihan di hatinya, dan menciptakan senyuman bahagia di muka cantiknya."





VISUAL ERLAN



Bersambung~~


Sabar ya... insha Allah dua bab lagi Sean dan Seanie(Allesya) kembali bertemu kok. Kita lihat, seberapa besar perjuangan Sean mengambil kembali cinta Allesya. Si wanita yang sudah menjadi candu untuknya🤭


Terima kasih sudah nyimak tulisan acak adulku ini ya.. lop yu superrr😘😘

__ADS_1


__ADS_2