Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 51


__ADS_3


Tubuh Sean bergerak limbung mendekati tubuh Sammy yang berada tepat di depannya. Kedua tangan dibawa melingkari leher Sammy disusul sebuah seringaian tercetak pada mukanya yang memerah karena efek dari wiski.


"Jeff, Vin, bisakah kalian membantuku menyingkirkan manusia tengik ini?" sammy memasang muka wanti-wanti. Sungguh muka Sean saat ini terlihat seperti bajingan mesum yang siap memangsa betina incarannya.


Sean terkekeh di sela cegukan yang terus saja datang untuk absen. "Allesya..Hik! Aku tahu kau tidak akan pergi meninggalkanku.. Hik!"


TUK!


Ditempelkan keningnya ke kening Sammy yang tampak pasrah. Sean seolah sedang meresapi sesuatu dimana hanya dia yang tahu.


"Pfftt! Kenapa mereka malah terlihat romantis?" celetuk Alvin menahan tawa yang hampir saja pecah.


"Di mataku mereka terlihat menjijikkan," Jeffrey bergidik.


Sedetik kemudian Sean sedikit menjauhkan mukanya. Menatap lekat muka Sammy yang mendadak menjelma menjadi Allesya di matanya. "Kau sangat cantik Allesya... Hik!" ucapnya penuh damba diiringi cegukan yang datang bergilir.


"Hei, apa matamu buta? Bukan cantik tapi tampan, aku ini SANGAT TAMPAN!" protes Sammy penuh penekanan kepada Sean karena tak terima dibilang cantik.


Sepertinya kesadaran Sean sudah berada di ambang kehaluan akut. Ditariknya kedua sudut bibirnya ke atas sehingga membentuk bulan sabit. Senyuman manis terbit di muka mabuknya. Meski sepasang kelopak matanya tak tersibak sempurna. "Kau cantik jika sedang ngambek," ucapnya seraya tangan menyapit kedua pipi Sammy sehingga terbentuklah sepasang bibir yang mencurut seperti pantat ayam yang akan bertelur seolah minta dikecup.


"Gila kau Sean! Singkirkan tanganmu!" berontak Sammy. Baginya tindakan Sean saat ini jauh lebih mengerikan dari pada bertemu hantu khas nusantara seperti pocong, kuntilanak, suster ngesot dan antek-anteknya.


"Sepertinya Allesya sukses membuat Sean kehilangan kewarasannya," celetuk Alvin masih menyaksikan adegan romantis tak biasa antara Sean dan Sammy.


"Kali ini aku setuju dengan saran Sammy sebelumnya. Menenggelamkannya ke sungai Thames," imbuh Jeffrey.


"Tapi dia sangat tampan. Pasti setan penunggu sungai akan menolongnya karena terpesona."


"Kalau gitu tutup mukanya dengan topeng monyet."


"Tidak semudah itu mengelabuhi setan."


PLAK!


"Hish! Ini kepala Jeff bukan pantat istrimu," dengus Alvin seraya mengusap kepala yang baru saja menjadi korban tempelangan tangan Jeffrey.

__ADS_1


"Kita tinggal melemparnya ke sungai kenapa harus banyak drama?" sembur Jeffrey kesal.


"Apa kita benar-benar akan melemparnya ke sungai Thames?" tiba-tiba Alvin mendadak tolol dan sukses membuat Jeffrey memasang muka datar hampir tak berekspresi.


"Tidak, karena jadi kau yang ingin aku lempar ke sungai sekarang," ketusnya.


"Tapi aku sangat pandai berenang, jadi bukan masalah sekalipun kau melemparku ke laut mati," Alvin menyeringai puas karena baru kali ini dia bisa menang berdebat melawan Jeffrey.


Jeffrey dan Alvin terus tenggelam dalam obrolannya mereka sendiri, tak menghiraukan Sammy yang tengah mati-mati melepaskan diri dari kegilaan Sean.


CUP!


"Kyaaakk! Aku bukan Allesya! menyingkirlah!" tiba-tiba perhatian Jeffrey dan Alvin teralih ke Sammy yang terus memekik jijik ala-ala makhluk berpedang bengkok.


"Gila kau Sean! Hueek..! Huueek..!" didorongnya tubuh gontai Sean hingga menubruk Alvin.


Sammy berkali-kali mengusap bibirnya, mencoba menghilangkan bekas kecupan Sean.


Alvin tergelak renyah melihat reaksi histeris Sammy yang menggelikan. Sementara Jeffrey tampak menghela napas panjang. Terus terang, terbesit rasa iba kepada sahabatnya tersebut. Andai dia tahu kemana Allesya pergi, sudah pasti dia akan menolongnya. Sayangnya, dia dan bahkan Jenny tidak tahu menahu akan keberadaan Allesya saat ini.


"Cepat kalian bawa dia pulang sebelum dia menggila," saran Jeffrey kepada Sammy dan Alvin.


"Apa yang kau takutkan?!" sentak Jeffrey geram.


"Aku takut dia memperk*saku seperti Allesya," sahut Sammy asal, sontak membuat Jeffrey dan Alvin tercengang. Rasa-rasanya ingin sekali mereka menggaruk meja bar di depannya saat itu juga.


"Bodoh! Kau dan Allesya itu berbeda Sammy!!" sembur Jeffrey frustrasi. "Lagian kau juga ditemani Alvin."


"Vin, janji kau harus ikut menemaniku. Kau harus memastikan kalau aku pulang masih dalam keadaan Virgin," ucapnya memasang muka semelas mungkin.


"Ck! Yang kau punya itu belalai yang sukanya menyembur seperti ular King Cobra bukan selaput dara wanita. Hissh..! Aku heran kau itu sebenarnya berasal dari mahkluk spesies apa," rutuk Alvin.


"Aku spesies yang berkembangbiak dengan membelah diri," celetuk Sammy asal kena.


"Sebaiknya kalian bawa pulang ia ke apartemen pribadinya saja karena jarak lebih dekat dari pada ke mansionnya," saran Jeffrey yang terlihat sudah bersiap untuk pergi meninggalkan para anggota squad sebelum Jenny marah karena pulang larut malam dan ujung-ujung harus tidur di kamar tamu. Tidak! Membayangkan jika semalaman dia tidak bisa merengkuh tubuh sang Istri sudah membuatnya tersiksa.


Tak ingin terlalu banyak berdebat apa lagi membiarkan Sean semakin tak sadarkan diri di bar, Sammy dan Alvin pun gegas menyeret pulang Sean yang masih terus meracau tak jelas.

__ADS_1


Sementara itu, masih di ruangan yang sama tapi pada sudut yang berbeda. Sepasang pelanggan bar yang memang sudah berada di sana sedari tadi tampak menikmati racikan minuman bartender seraya mengamati gerak-gerik ke empat sahabat tersebut.


"Kenapa kau menghalangiku? Rasanya aku belum puas menghajarnya waktu itu. Dia telah merusak dan menyakiti Allesya," Arthur tampak berang dengan mata yang sudah memerah karena luapan emosi.


"Biarkan rasa penyesalan yang menyiksanya," sahut Vera lanjut meneguk minumannya.


"Tapi itu tidak akan cukup Vera."


"Apa kau tidak lihat barusan? Baru sehari di serang rasa penyesalan, dia sudah terlihat memprihatinkan apalagi sampai berbulan-bulan? Jadi tenangkan dirimu dan jangan buat keributan di sini."


Suara des*han kasar keluar dari bibir Arthur. Menandakan ia tengah berupaya menyapu amarahnya dan membenarkan perkataan teman minumnya itu.


Hening sejenak. Hanya suara musik DJ yang mengiringi suasana di antara Arthur dan Vera. Vera masih asyik menikmati cidernya. Sementara Arthur masih setia mengamati muka Vera tanpa menyentuh sedikitpun minuman beralkhohol di depannya karena dia memang tidak bisa minum.


"Apa kau akan menceritakannya semuanya ke pria itu?" tanya Arthur yang langsung bisa ditangkap Vera.


"Tidak, aku tidak akan bercerita tentang status hubunganku dengan Allesya. Biar waktu yang akan memberitahunya sendiri," Vera kembali meneguk minumannya. "Sebenarnya sangat disayangkan, mereka saling mencintai tapi hanya karena sebuah kebencian yang salah alamat kisah mereka berakhir menyedihkan."


Seutas senyuman mencebik tampak menghiasi muka Arthur yang terlihat tampan di bawah temaram sorot lampu bar. "Padahal kisah cintamu sendiri juga berakhir menyedihkan."


Bukannya marah, Vera malah mengulas senyum. "Benarkah? Kalau begitu aku butuh kehadiran seseorang agar tidak terlihat meyedihkan," ia tatap muka Arthur berselimut makna.


"Jangan kau memintaku untuk menjadi kekasihmu jika hanya tempat pelarian yang kau butuhkan Vera."


"Aku tidak berniat menjadikanmu sebagai tempat pelarian Arthur. Jadi bisakah kita menjadi sepasang kekasih mulai malam ini?"


Arthur tersenyum simpul. "Bukankah sangat lucu jika kau menjalin kasih dengan anak dari pembunuh kedua kakek nenekmu serta penculik adikmu?"





Bersambung~~


Sementara biarkan Allesya dan Sean terpisah oleh jarak ya. Insa Allah bab selanjutnya Allesya kembali muncul.🥰

__ADS_1


Kira-kira Vera dan Arthur harus dicomblangin nggak nih?🤭


Terima kasih ya masih setia mantengin cerita receh Nofi🥰 Maaf jika Nofi nggak bisa balas komen satu-satu karena kesibukan di RL bener-bener menguras waktu🙏 Tapi percayalah, Nofi membaca komen kalian dengan perasaan senang🥰


__ADS_2