Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 77


__ADS_3


Di sebuah ball room mewah hotel berbintang. Ruangan luas yang sudah disulap sedemikian cantiknya, dengan menerapkan nuansa serba putih berpadu emas. Pilar-pilar kecil berhias bunga mawar putih tampak berjajar rapi di dua sisi ruas jalan dari pintu masuk menuju pondium. Lampu bola-bola kristal terhampar memenuhi langit gedung, kian melengkapi keindahan wedding decoration yang terkesan elegan dan romantis.


Di sinilah sebuah prosesi pernikahan akan segera digelar. Sebuah acara sakral yang akan mengikat dua hati ke dalam satu ikrar dan janji suci sehidup semati.


Beberapa para undangan telah terlihat mengisi ruangan, menempati kursi dan meja tamu yang telah disediakan. Mengingat bahwa kedua orangtua mempelai wanita berasal dari kalangan terpandang, jadi tak khayal tamu kehormatan seperti Wali kota bahkan para pejabat parlemen serta deretan tamu penting dari rekan kerajaan bisnis Damirich juga tampak hadir untuk memeriahkan acara pesta pernikahan mewah putri bungsunya.


Semua mata tertuju ke arah pintu masuk gedung ketika sepasang pengantin yang sudah sangat dinantikan kehadirannya mulai memasuki ruangan. Pandangan kagum seluruh penghuni ruangan turut mengiring langkah kaki yang memijaki permadani merah bertabur kelopak mawar menuju singgasana yang sudah menunggu pemiliknya untuk ditempati.


Sungguh pasangan yang tengah berjalan beriringan itu terlihat sangat serasi. Kedua mempelai bak raja dan ratu dari Negeri Dongeng. Setelan baju pengantin yang membalut sempurna pada tubuh keduanya kian menambah kerupawaan mereka. Jadi tak heran keduanya menuai banyak pujian dari para tamu.


Sepasang pengantin sudah berdiri di atas altar tepatnya di depan mimbar untuk melakukan prosesi pemberkatan pernikahan yang dipimpin langsung oleh seorang pendeta.


"Maka tibalah saatnya untuk meresmikan perkawinan kalian. Saya persilakan kalian masing-masing menjawab pertanyaan saya," sang Pendeta memulai sesi ucap janji.


"Sean Willson, maukah anda menikah dengan Seanie Allesya Damirich yang hadir di sini dan mencintainya dengan setia seumur hidup, baik dalam suka maupun dalam duka?"


"Iya, saya mau," membawa raut muka tenang, Sean menjawab penuh keyakinan. Sama sekali tidak ada keraguan yang terdengar. Walaupun si Jantung rasanya ingin meloncat dari peraduannya.


Gugup. Itu sudah pasti. Di sana tempat ia berpijak, bersama Allesya di depan mimbar yang sama, disaksikan oleh banyak mata yang tengah menantikan pengesahan sang Pendeta atas ucap sumpah janji pernikahan mereka.


Haah.. Semua ini terjadi tanpa ia duga dan terlalu tiba-tiba.


Dan sekarang dia hanya tinggal menunggu detik-detik yang di mana sang pendeta akan meresmikan status baru yang akan ia sandang, yaitu sebagai suami dari seorang Seanie Allesya Damirich. Wanita yang sangat ia cintai.


Bahagia dan bangga, kata-kata itu seolah tak mampu mengungkapkan apa yang tengah bermuara di hatinya. Yang jelas, ia masih belum percaya sepenuhnya bahwa harapan yang semula dikira tak lebih dari sebuah angan semu belaka, terwujud di depan mata.


Namun, haruskah ia bersyukur dengan pernikahan ini di saat tiada keiklasan dari hati Allesya dan juga ada hati Erlan yang dirundung kepedihan?


Dia bagaikan berdiri di antara kedua kekasih yang tak henti-hentinya mengusap air mata kesedihan karena takdir tak berpihak pada mereka untuk bersatu.


Kini sang Pendeta menggiring mata berbingkai kaca matanya ke arah Allesya yang terlihat lebih banyak tertunduk. Sumpah demi apapun, ketegangan tengah menyerangnya. Berbagai perasaan bergulung-gulung di dalam pikirannya.


Dia bahkan masih menyangka bahwa kali ini hanya mimpi. Tidak percaya bahwa akhirnya Sean lah yang bersanding dengannya di atas altar pernikahan. Bukan Erlan.


Dan di saat itu pula, bayangan Erlan kembali membayangi pikirannya. "Erlan, aku akan kembali menjengukmu setelah ini," suara hati kecilnya.


"Seanie Allesya Damirich, maukah anda menikah dengan Sean Willson yang hadir di sini dan mencintainya dengan setia seumur hidup, baik dalam suka maupun dalam duka?"


Allesya seketika terkesima, pertanyaan sang Pendeta membangunkannya dari lamunan. Lidahnya seolah ragu untuk sekedar menjawab 'Iya' yang di mana akan merubah status lajangnya menjadi seorang istri dari Sean Willson pads saat itu juga.


GREP!


Sebuah cengkeraman tangan Sean pada jari jemari lentiknya kembali menyentak kebimbangan yang mengukung. Dibalasnya pandangan Sean yang seolah mengisyaratkan agar tidak membuat sang Pendeta dan para tamu undangan menunggu jawaban darinya terlalu lama.


"Seanie Allesya Damirich, maukah anda menikah dengan Sean Willson yang hadir di sini dan mencintainya dengan setia seumur hidup, baik dalam suka maupun dalam duka?" sang Pendeta mengulang kembali pertanyaannya.


Ia menarik napas dalam-dalam hingga rongga paru-parunya terisi penuh oleh asupan oksigen, kemudian perlahan menghembuskan udara lewat mulut. Memantapkan hati dan menggerakkan lidah untuk menjawab 'iya' kendati ia belum bisa sepenuhnya menerima pernikahan ini.


Kenapa? Jangan bertanya lagi, karena segala luka hatinya dari perbuatan Sean di malam yang panas itu masih terpatri kuat. Sekeras apapun dia mencoba berdamai dengan masa lalu, luka yang sudah menganga lebar akan sangat sulit untuk ditutup kembali. Sekalipun tertutup masih tetap meninggalkan bekas.


"Iya, saya mau," Allesya menjawab pasrah.

__ADS_1


Dia sudah terlanjur berdiri di sana. Tiada ruang gerak untuk melangkah mundur. Berserah diri pada alur cerita yang telah ditulis cantik oleh author berotak mesum di novel ini.


Selain itu, ada nama baik keluarga yang juga harus dijaga. Sudah cukup sekali ia membuat malu Raffaresh dan Raffaela perihal kasus kegugurannya di kampus waktu itu. Dan dia tidak ingin mengulanginya kembali.


Jawaban Allesya mengundang kelegaan di hati Sean.


Hingga prosesi pemberkatan mengucap janji pernikahan dan penyematan cincin pada jari manis tangan kanan dari masing-masing mempelai berjalan dengan khidmat, terdengar suara beberapa tamu undangan bersorak agar mereka saling berciuman.


Sean yang bisa menangkap jelas akan mimik muka Allesya yang seolah mengisyaratkan sebuah penolakan akan seruan para tamu undangan akhirnya memilih mendaratkan sebuah kecupan di jari-jari lentik yang terbungkus sarung tangan pengantin tersebut.


Cukup dalam ciuman di tangan itu berlangsung. Seakan si Pengantin Pria dadakan itu tengah mencurahkan segala ketulusan akan rasa cintanya. "Meski pernikahan ini tidak kau inginkan, namun aku berharap bahwa sepasang tanganmu inilah yang akan merawat anak-anak kita kelak, sepasang tangan inilah yang akan ku genggam hingga di penghujung usiaku," harapan hati kecil Sean.


Acara sakral dilanjutkan dengan prosesi sungkeman terhadap kedua orangtua mempelai. Terlihat jelas, suasana haru sempat menyelimuti hati para orangtua dari Sean dan Allesya. Ada kebahagiaan terlukis di muka mereka, kendati juga tak menampik keibaan akan hati Erlan yang tengah terluka.


Prosesi sungkeman diakhiri oleh lantunan doa berkat serta nyanyian penutup. Setelah itu, dilanjutkan dengan acara resepsi yang diselenggarakan di gedung yang sama.


"Kak Arthur.., Allesya sangat merindukanmu," rona suram yang sedari tadi menghiasi muka Allesya seketika bercahaya karena senang bercampur haru ketika pria yang selalu dianggap sebagai kakak itu menghampirinya di atas pondium untuk mengucapkan selamat atas pernikahannya.


Kedua tangannya dibawa melingkari tubuh tinggi di hadapannya. Tak menghiraukan tatapan tidak suka dari Sean. Meskipun mereka bersikap layaknya kakak beradik, namun tidak ada hubungan darah di antara mereka. Apa lagi Sean tahu, bahwa Arthur pernah memiliki rasa berbeda kepada wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya tersebut.


"Allesya sayang, Kakak juga sangat merindukanmu," membalas pelukkan sang Adik dengan sayang. "Selamat ya atas pernikahanmu," bibirnya kembali berucap.


"Sampai kapan kalian ingin berpelukan seperti ini?" Allesya dan Arthur menyudahi kegiatan pelampiasan rindu mereka ketika suara seseorang menyela. Orang itu tak lain dan tak bukan adalah Vera.


"Seanie, bisakah kau membujuk Kakakmu ini agar mau menerimaku sebagai kekasihnya? Aku sudah sangat lelah selama ini menunggunya," gerutu Vera.


Allesya menanggapi gerutuan frontal Vera dengan kekehan kecil. Sementara Arthur tampak menggelengkan kepala seraya mendes*h jengah.


Vera lanjut mengarahkan atensi ke arah Sean yang berdiri di sebelah Allesya. "Aku hanya ingin mengingatkanmu kembali, jika kau menyakiti adikku, aku lah yang akan berdiri paling depan untuk memenggal kepala burungmu itu," ultimatum sadis meluncur bebas dari bibir merah merekah Vera.


"Aku pegang ucapanmu."


"Sean aku tahu pernikahan kalian ini bukanlah sesuatu yang direncanakan sebelumnya, tapi aku sangat yakin bahwa sudah sejak lama kau merencanakan banyak hal untuk kebahagiaan Allesya," kini ganti Arthur yang berkata.


"Akan kubuktikan bahwa apa yang kau yakini bukan hanya sekedar ucapan," balas Sean.


Selang tidak lama, Arthur dan Vera menuruni pondium. Memberi kesempatan pada yang lainnya yang juga ingin mengucapkan selamat kepada mempelai.


Sekali lagi, binar bahagia kembali menghiasi muka Allesya karena kehadiran sepasang suami istri yaitu Jenny dan Jeffrey berserta putra kecil mereka, Jeaven.


"Kak Jenny..," ia memeluk tubuh Jenny dan langsung bersambut balasan.


"Selamat ya atas pernikahan kalian," ucap Jenny masih dalam mode memeluk.


"Kak Jen..," lirih Allesya terdengar resah.


Jenny seolah mengerti gejolak batin yang tengah mendera Allesya. "Yakinlah, Tuhan telah menyiapkan segudang kebahagiaan untukmu," tuturnya. Allesya tersenyum simpul.


Sementara itu, Jeffrey yang masih menggendong Jeaven juga terdengar mengatakan sesuatu ke Sean. "Sepertinya kau tidak butuh ucapan selamat dariku."


Sean berdecak. "Setidaknya sedikit berbasa basilah."


"Jujur, aku masih ingin melihat kau sedikit lama menderita karena menyesal. Menggila dan menjadi gelandangan dan.. Aw!" ucapan Jeffrey terputus ketika sebuah cubitan mendarat di pinggangnya. "Sakit sayang..," protesnya.

__ADS_1


"Berhentilah mengatakan hal yang tak berguna," sengit Jenny. Jeffrey seketika membungkam. Sedingin dan segalak apapun si Beruang Kutub, dia akan mati kutu jika sudah berhadapan dengan pawangnya.


Allesya terkekeh geli melihat interaksi suami istri yang selalu terlihat romantis di matanya. Sementara Sean menyeringai puas.


"Oya kak Jeff, kenapa sedari tadi aku tidak melihat Kak Sammy dan Kak Alvin?" tanya Allesya kepada Jeffrey. Pasalnya dia juga sempat mengirim undangan pernikahan kepada mereka.


"Mereka terpaksa tidak bisa datang karena ada kepentingan yang mendesak. Mereka juga memintaku untuk menyampaikan kata maaf kepadamu," terang Jeffrey.


Hari hampir bertemu sore. Namun acara masih terus berlangsung, bahkan para tamu undangan masih tampak memenuhi ruangan.


Rasa pegal di kaki sebagai tanda bahwa lelah mulai menghinggap. Sean menyarankan kepada Allesya untuk meninggalkan pesta lebih awal karena menyadari wanita yang telah resmi menjadi istrinya itu terlihat menahan sakit di kakinya. Terlalu lama berdiri menggunakan high heels memang sangat menyiksa.


Sepanjang kaki menyusuri koridor hotel menuju kamar Presidential Suite yang telah disediakan khusus untuk sepasang pengantin, Sean sama sekali tak melepas perhatiannya kepada Allesya yang tampak kesulitan berjalan.


"Apa kau masih kuat berjalan?" tanya Sean di sela langkah kaki mengimbangi langkah kecil kaki Allesya. Sebagai wujud perhatiannya.


"Seperti yang kau lihat," jawab Allesya dingin.


"Biar aku membantumu," membawa tangan melingkari pundak terlanj*ng Allesya.


"Tidak perlu, terima kasih," tolaknya, seraya menjauhkan tubuhnya dari tangan besar Sean.


Sean pun tampak pasrah akan respon tidak ramah Allesya, dan akhirnya memilih menghindari perdebatan sembari memantau gerak jalan Allesya yang tertatih-tatih.


Akan tetapi hal itu berlangsung beberapa saat. Sungguh, ia sudah tidak tahan melihat Allesya berjalan seraya menahan sakit di kakinya. Tidak tega dan tak ingin membiarkan wanitanya kesakitan teralu lama.


"Aahhhk! Apa yang kau lakukan Sean?!" pekik Allesya yang tiba-tiba mendapati kakinya sudah tidak menapaki lantai. Dalam sekejap, tubuh mungil berbalut baju pengantin itu sudah berada di dalam gendongan penuh kedua tangan kekar Sean.


"Tenanglah Allesya, aku akan membawamu ke kamar."


"Turunkan aku Sean, aku bisa berjalan sendiri," terus meronta namun pergerakan tubuhnya seolah tak berarti apa-apa bagi Sean yang notabene memiliki tubuh gagah, tegap, dan berotot.


"Akan aku menurunkanmu di atas ranjang."



💛


💚


Bersambung~~


Pasti tebakan para Reader pada bener semuanya kan?🤭Emang ini cerita dasar alurnya mudah sekali ditebak sih🙄


Akhirnya Sean lah yang bersanding dengan Allesya di atas altar pernikahan😊


Di mana Erlan sekarang kira-kira? Jawabannya di bab selanjutnya ya. Tapi Nofi yakin para Reader juga sudah bisa menebaknya juga kali ini. Karena Reader2 di sini pada pinter2🤣


Terima kasih masih setia nyimak karya ini. Meski kemarin gk up tp masih ada yang bersedia nyumbangi vote dan gifnya.. Nofi doain rejekinya lancar sehat selalu. Yang udah punya pasangan tetep langgeng dan yang masih jomblo cepet dapat jodoh cakep, gede berotot, gagah, berurat dan tentunya baik ahklaknya juga..amin..


Ya sudah, ini dah hampir jam 1 nih. Author yang paling folos dan tidak nacal ini mau bobok dulu.


Mau berburu anu.. di negeri kapuk. Doain ya.. moga dapat buruan gede anunya🤣

__ADS_1


Nah loh! pasti ngeres pada otaknya✌✌


Peace love and gaul, emuahh..😘🤣


__ADS_2