Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 63


__ADS_3


Suara ketukan langkah sepatu membelah lorong kampus. Melewati para mata yang menyoroti penuh kekaguman. Membawa tubuh gagah itu untuk kian mendekat ke arah Allesya yang terpekur dengan pikirannya.


Diambilkan satu persatu buku-buku yang masih berserakan di atas ubin marmer lalu mengulurkannya kepada si Pemilik. Membuat Allesya seketika tersadar dari lamunannya seiring mata menangkap penampakan Sean yang tidak dia ketahui sejak kapan datangnya.


"Kau, sedang apa di sini?" pertanyaan reflek keluar begitu saja dari bibir ranumnya dan gegas meraup cepat buku-buku yang sedari tadi tersodor di depannya.


"Kenapa kau tidak melawan mereka?" tak menghiraukan pertanyaan yang ditujukan untuknya, Sean justru balik bertanya.


"Itu bukan urusanmu," jawabnya ketus lanjut memutar tumit berniat melenggang pergi namun jemari jenjang yang mecengkeram pergelangan tangannya menghentikan pergerakan kaki berbalut sneakers shoes itu.


"Allesya..," keukeuh menuntut jawaban dari bibir manis itu. Ketidak sengajaannya ketika mendengar kalimat hinaan yang dialamatkan ke Allesya dari mulut dua mahasiswi tadi, sukses mengundang rasa ingin tahunya lebih jauh. 'Aib apa yang dimaksud? Apakah ada hal buruk yang telah menimpanya selama pindah di Paris? Apakah hal itu berhubungan denganku?' Deretan pertanyaan mulai bertumpang tindih di dalam otak.


Allesya melempar mimik muka jengah. Jujur ia sangat malas menjawab pertanyaan Sean yang terkesan terlalu ikut campur. Hingga suara yang hampir keluar dari bibir yang setengah terbuka harus kembali teredam di kala menyadari keberadaan Sean tengah menjadi pusat perhatian para penghuni kampus yang kebetulan sedang berlalu lalang.


Banyak pasang netra cantik wanita melihatnya penuh damba. Mata genit yang tak sungkan diajak menjelajah semuanya yang melekat pada diri Sean Willson yang memang terlihat terlampau sempurna. Beda dengan Sean yang dipandang layaknya bintang kampus. Allesya jutsru menerima sorot mata dan mimik muka mencemooh seolah dia adalah sampah kampus.


Terdengar samar tapi jelas, bisikan bibir-bibir licin yang bagaikan berpelumas mesin itu terus melontar kalimat yang membuat telinga panas.


"Siapa pria itu? Dia sungguh tampan. Apa dia kekasih baru wanita jal*ng itu?"


"Padahal baru kemarin aku melihatnya diantar oleh pria tampan yang berbeda. Sekarang sudah ganti lagi. Dasar murahan."


"Ah.. Sangat disayangkan kalau itu memang benar. Aku malah kasihan dengan pria tampan itu yang bakal jadi korban berikutnya."


"Wanita itu pasti berniat untuk pamer. Apa dia ingin membuat kampus malu lagi?"


"Pria itu terlihat sangat seksi. Tubuhnya pasti dipenuhi otot-otot keras. Pasti wanita jal*ng itu sering mengajaknya untuk bermain di atas ranjang. Secara dia kan wanita nakal."

__ADS_1


Sekumpulan mahasiswi yang tengah asyik menggunjing Allesya seketika membungkam di kala Sean menghunus tatapan tajam ke arah mereka. Sungguh, telinganya sudah teramat gatal akan bisikan yang terdengar seperti dengungan lalat kotoran yang suka menebar penyakit itu.


Sementara Allesya yang sudah tak tahan berada di dalam posisi yang terkesan memojokkannya, menarik kasar tangan Sean dan mengajaknya keluar dari bangunan kampus. Membebaskan diri dari tatapan merendahkan. Membersihkan telinga dari kasak kusuk isu yang merusak pendengaran.


Langkah kaki kedua anak manusia itu berhenti di salah satu sudut halaman belakang fakultas. Berlindung dari terik matahari di bawah pohon maple merah. Gegas dilepasnya jemari yang masih saling berpagut.


"Keberadaanmu semakin menyusahkanku Sean, jadi aku mohon dengan sangat, jangan temui aku lagi di kampus," ucapnya ketus.


"Tapi Allesya tolong jelaskan apa yang terjadi?"


Menghelas napas kasar disusul lemparan muka jengah ke arah Sean. "Apa itu sangat penting?"


"Tentu saja."


Allesya berdecak malas kendati akhirnya mulut tetap menjawab. "Itu karena mereka iri kepadaku," mengganti pose tubuh dengan melipat kedua tangan di depan dada yang kian memberi efek lebih menonjol pada gunung kembar di balik bajunya. "Aku cantik dan badanku juga seksi. Banyak pria yang tergila-gila kepadaku. Dan para wanita itu selalu mengira kalau aku menggoda pria mereka. Itu sebabnya mereka berkata seperti itu. Apa kau sudah puas? Kalau begitu sebaiknya kau pergi sekarang," terangnya gamblang.


Alih-alih segera mengindahkan kalimat usiran Allesya, Sean malah mengulum bibirnya, menampilkan senyuman penuh arti. Di dalam hati ia sangat membenarkan semua lontaran kalimat yang melesat dari mulut Allesya.


"Kau memang cantik dan tubuhmu juga seksi. Jangankan para kadal hijau itu, aku saja juga sangat tergila-gila kepadamu Allesya," batinnya penuh damba akan sosok wanita yang masih setia memasang muka jutek di depannya saat ini.


Bagaikan mengandung magnet tak kasat mata, bibir kenyal dan ranum serta dua benda sintal yang kian menonjol sukses menarik manik biru Sean agar meliriknya. Meski beberapa kali pria itu mati-matian berusaha mengalihkan pandangannya ke benda lain untuk dijadikan objek namun kenyataannya pemandangan itu terlalu menggoda. Membuatnya tak dapat menolak keinginan untuk melihat.


"Ahk! Hentikan! Kau menyakitiku Allesya," Sean tiba-tiba terhenyak dari pikirannya diikuti sebuah erangan kesakitan karena Allesya beberapa kali memukulnya dengan buku tebal yang masih dipegang.


"Dasar pria mesum! Apa yang kau lihat barusan hah?! Ternyata sedari dulu kau tidak berubah!" Allesya berang dan masih dalam mode menyerang. Sebelumnya ia tak sengaja memergok tatapan Sean yang mengarah pada buah dadanya.


"Aku tidak bermaksud Allesya. Aw! Arrgg!" masih terus menangkis serangan hingga tubuhnya terbungkuk lemah seraya mengaduh karena salah satu pukulan mendarat pada bahu yang memang masih dalam masa penyembuhan akibat insiden pemukulan oleh para berandalan kemarin.


"Ah, maaf. Apa aku terlalu menyakitimu?" Allesya seketika menghentikan aksi brutalnya ketika menyadari raut muka Sean yang terlihat sangat kesakitan tanpa dibuat-buat. "Maaf aku lupa kalau kau masih terluka," ucapnya penuh sesal diiringi gerakan dibawah alam sadarnya yang sesekali menggigit bibir ranumnya sabagai bentuk rasa bersalahnya.

__ADS_1


GLEK!


Sean tampak kesulitan menelan cairan saliva yang tersangkut di tenggorokan. Rasa sakitnya seolah menguap begitu saja. "Berhentilah menggigit bibirmu Allesya. Kau bisa melukainya," jujur tindakan Allesya justru memancing hasrat Sean untuk mensesap bibir manisnya. "Kau sungguh menyiksaku Allesya.." batinnya menjerit. "Aku mohon berhentilah menggigit bibirmu. Apa kau sedang ingin menghukumku?" kian frustrasi.


Aksi menggigit bibir reflek terhenti bertepatan dengan mimik muka polos tanda tak mengerti menghiasi muka Allesya. "Apa maksudmu? Yang aku gigit bibirku kenapa malah kau yang merasa terhukumi?"


"Hah..! Sudahlah. Lebih baik aku pergi saja," tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama karena tak kuasa menahan n"fsu jika bersama Allesya, ia gegas mengambil satu langkah putar ke belakang dan langsung mengambil langkah seribu meninggalkan sosok yang masih berdiri dengan tampang kelewat polosnya.


"Sebenarnya dia kenapa?" Tapi syukurlah kalau dia memilih untuk pergi. Setidaknya aku bisa bernapas lega," melihat ke arah pergelangan tangannya. "Hiisshh! Gara-gara dia aku jadi telat masuk kelas kuliah. Hah Sungguh merepotkan. Aku nggak yakin bisa mengikuti jam kelas, tapi tidak ada salahnya jika aku mencobanya terlebih dahulu," Allesya pergi meninggalkan tempat diikuti mulut yang terus menggerutu.


°°°


"Permisi Kak, apa aku boleh berbicara sebentar?" sapaan seseorang yang dibarengi sebuah tepukan ringan di pundak belakangnya sukses membuat Sean mengurungkan niatnya untuk memasuki mobil.


Tubuh yang masih memunggungi pemilik sumber suara dibawa berputar ke belakang untuk melihat siapa sosok yang baru saja menyapanya. Ekspresi dingin tak bersahabat seketika menyelimuti muka tampannya di kala melihat keberadaan seseorang yang tak diinginkan.





Bersambung~~


Waah.. nggak kerasa dah hari senin lagi nih.. Bolehlah sumbangkan vote gratis mingguannya untuk Sean dan Seanie🤭🤭


Terimakasih..🙏


Saranghaeyo❤😘

__ADS_1


__ADS_2