
"Aahh!" Allesya memekik samar ketika Sean menurunkan tubuhnya di atas ranjang.
Gegas ia mengambil posisi duduk dan merapikan rambut panjangnya yang berantakan. Seraya mendengus kesal karena setelah turun dari mobil, Sean masih melanjutkan aksinya, menggendong paksa tubuhnya, menuju kamar hotel.
"Hissh! Kau membuatku malu Sean, semua orang melihat kita tadi," bibir yang mengerucut melayangkan protes.
"Kau sepertinya sedang memancing hasratku agar menciummu," di usap bibir manyun Allesya yang berpoles lipgloss bewarna merah jambu.
Allesya langsung bergerak mundur untuk menghindari sentuhan tangan Sean. "Aku sedang tidak memancingmu, kaunya saja yang selalu berpikiran kotor," sanggahnya.
Sean mendengus geli. Tepatnya ia tengah menertawai dirinya sendiri. Membenarkan ucapan Allesya akan pikiran kotor yang selalu tersemat di otaknya. Namun hal itu masih di dalam naungan tanda kutib besar, yaitu hanya jika sedang bersama Allesya, wanita yang kini sudah menjadi kekasih halalnya.
Hasrat untuk mencicipi segalanya yang ada pada diri Allesya selalu menguar begitu saja. Bahkan istri kecilnya itu tidak perlu bersusah payah jika ingin membuat Sean bergairah. Cukup melihat bibirnya yang sedang berbicara, libidonya sudah terangsang dan terbakar.
"Sebaiknya mulai saat ini, kau harus menutup mukamu dengan masker jika berada di luar rumah," Sean melontarkan sebuah gagasan yang mengundang ketercengangan Allesya.
"Untuk apa?"
"Untuk melindungi bibirmu dari mata para pria bajingan," Sean menjawab dengan santai, seraya melepas arloji yang melingkari pergelangan tangannya.
"Termasuk kamu."
Meletakkan jam tangan di atas meja lampu tidur sebelum kembali menatap Allesya. "Terkecuali aku."
Senyuman sinis tercetak samar. "Bukankah kau juga bajingan?"
"Aku suamimu."
"Baru 10 jam kau menjadi suamiku, tapi sudah membuatku kesal."
Meraup lebih banyak kesabaran di dalam sebuah helaan napas ringan. Menjejal satu persatu segala rasa yang membingkai dalam satu sikap untuk memahami.
Allesya memang masih sangat muda, jadi tak urung hatinya masih gemar menebar keegoan. Di usianya yang belum genap menginjak angka 20 dia sudah harus terikat dalam satu ikrar janji pernikahan bersama Sean yang notabene pria dewasa terpaut usia tujuh tahun lebih tua dari Allesya.
Jadi, kesabaran adalah kunci utama yang harus dipegang Sean saat ini. Layaknya seorang kakak lelaki yang mengemban tugas dalam mengasuh sang Adik perempuannya.
"Sekarang beristirahatlah, bukankah kakimu sedang sakit?" sebuah titah dan terselip unsur kalimat tanya keluar dari sepasang bibit Sean. "Aku akan mandi dulu."
"Bukankah kau sudah mandi?" tanyanya, dengan tangan terlihat sibuk melepas satu persatu kancing cardigan rajutnya, sehingga menyisakan pakaian berupa dress dengan pengait tipis seperti ukuran spaghetti di pundaknya.
Memang tidak begitu vulgar, namun bagian bahu dan punggung yang terekspose cukup membuat Sean kesulitan menelan cairan saliva. Sinar kulit putih dan mulusnya seolah meminta sebuah belaian tangan pria yang sudah dipenuhi oleh fantasi sensual panas tersebut.
__ADS_1
"Panas, hari ini aku sangat gerah karena kepanasan. Makanya aku mau mandi lagi," jawabnya, mangalihkan sesuatu yang mulai menggeliat di bawa sana, lalu melangkah cepat menuju ke kamar mandi. Ingin mendinginkan hawa panas karena ***** yang kembali terpancing.
Akan tetapi, artian kata 'panas' yang dimaksud Sean ditangkap berbeda oleh Allesya.
Malam kian larut. Keheningan menyelimuti ruang kamar meski dua insan masih terjaga. Allesya sudah menenggelamkan tubuhnya ke dalam selimut tebal namun perhatiannya terus tertuju ke arah Sean yang sedang duduk bersandar headboard ranjang di sebelahnya.
Pria itu terlihat berkutat dengan iPad kerjanya. Ada beberapa file yang memang harus diperiksa. Sesekali ia terlihat menelpon seseorang, membahas perihal yang berkaitan dengan perusahaannya.
"Tidurlah Allesya, ini sudah malam," pinta sekaligus titah dari Sean tanpa mengalihkan fokusnya pada iPadnya.
Wanita itu enggan menjawab, namun sorot matanya seolah menggambarkan suatu perasaan tidak nyaman dan was-was merangkumnya jadi satu.
"Aku tahu kalau aku itu sangat tampan."
Allesya terkesima seolah Sean menangkap basah dirinya yang sedari tadi mencuri pandang ke arahnya.
Tapi nyatanya dia sedang tidak mencuri pandang. Atensi yang ditujukan ke Sean memang sengaja di perlihatkan secara terang-terangan. Tujuannya, agar pria di sebelahnya menyadari ketidak nyamanannya saat ini.
Ditambah Sean yang tampak sengaja bertelanjang dada, memamerkan keindahan otot pada lengan dan perutnya. Siap membuktikan keperkasaan kejantanannya. Tak khayal jika julukan 'pria seksi' sangat pantas disematkan pada dirinya.
"Ck! Ku akui kau memang tampan Sean, sayangnya kau bajingan," cibirnya.
"Tapi bajingan ini sudah menjadi suamimu sekarang," lisan tertuju ke Allesya namun netra masih menatap lurus ke layar iPadnya. Jari-jari besarnya tampak menggeser naik turun, dan sesekali mengetik sesuatu di sana.
"Malam ini? Terus bagaimana dengan malam-malam berikutnya?"
"Tergantung."
"Maksudnya?"
"Tergantung dirimu. Jika kau belum mengijinkannya aku tidak akan melakukannya, tapi..," meletakkan benda pipih ke ranjang sebelah disusul putaran leher yang membawa padangan ke arah Allesya yang tampak mengernyit karena penasaran akan kelanjutan kalimat terjeda Sean. "Tapi sekali kau memberiku ijin, bersiaplah kau akan lumpuh di atas ranjang karena aku tidak akan bisa menghentikan hasrat untuk menikmati tubuhmu."
BLUSH...!
Muka Allesya seketika memerah, semerah buah ceri di musim panas. Malu dan bergidik, dua rasa itu bergulung jadi satu. Bayangan aksi panas Sean terhadapnya di atas ranjang di malam itu kembali berkelebatan tanpa ucapan permisi.
Sungguh, bukan sebuah ransangan untuk bercinta yang dirasakan saat ini, melainkan ingatan rasa sakit ketika keperkasaan Sean menghujam tubuhnya berkali-kali.
Allesya tidak bisa melupakan akan aksi brutal Sean yang tak membiarkan dirinya beristirahat hingga pagi. Menggagahinya hingga membuatnya hampir pingsan. Sepertinya kali ini ia perlu mempercayai ucapan Sean barusan.
"Apa kau tidak malu mengatakan itu di depanku?! Allesya berseru.
"Sama sekali tidak, karena kau istriku."
__ADS_1
Mendengus kesal, tubuh yang semula berada di bawah selimut diajak berpindah ke posisi duduk. Meraih bantal dan guling lalu meletakkannya melintang pas di tengah ranjang sebagai pembatas.
Sebuah sunggingan di bibirpun terbit diselingi gelengan kepala sebagai bentuk respon tak percaya Sean akan tingkah istri kecilnya tersebut.
"Aku akan tidur dan kau tetap di posisimu, tidak boleh melewati pembatas ini," ia memberi peringatan tegas sebelum akhirnya memutuskan kembali menelusup ke bawah selimut. Berbaring memunggungi Sean.
Detak jarum jam masih terdengar, menandakan waktu terus berputar. Sepasang lensa biru melirik ke arah jam yang sudah menunjuk angka satu.
Kepenatan yang mulai melanda seolah mendesaknya untuk menyudahi pekerjaanya. Dimatikannya layar pipih yang sedari tadi menyala terang menemani kegiatannya, lalu diletakkan di atas meja lampu tidur.
"Hmm... xktykxv..aaqwukdm..."
Pusat perhatiannya sontak tertuju ke arah Allesya yang baru saja menggumam tak jelas bersamaan posisi tidur berpindah menghadap ke arahnya.
Senyuman hangat seketika terbit di kala mata menangkap muka damai Allesya yang telah lena ke dalam lelapnya. "Apa dia baru saja mengigau? Sungguh menggemaskan," monolognya.
Bergerak perlahan, memindahkan bantal dan guling yang sempat dijadikan pembatas oleh Allesya. Tubuh yang sudah lelah dibawa berbaring miring menghadap ke arah istri kecilnya.
Lensa biru itu menelisik setiap sudut keindahan yang terlukis di muka Allesya. "Sangat cantik," pujinya penuh damba. "Sepertinya Tuhan telah mendengar doaku. Muka cantik inilah yang akan aku lihat setiap awal pagiku mulai besok," gumamnya.
"Hmmm..."
Sean terhenyak, ketika Allesya yang masih terlelap tiba-tiba memeluknya. Menenggelamkan muka ke dalam dada Sean. Memangkas habis jarak diantara tubuhnya dan tubuh Sean. Dan di saat itu juga, sesuatu yang panas mulai menjalar ke dalam tubuhnya.
"Ahhh...," sepertinya, kesabaran Sean kembali diuji ketika kaki Allesya tampak beberapa kali menggesek-gesek batang kejantanannya yang seketika mengeras.
GREP...!
Dan lagi, Sean mendadak lupa untuk bernapas karena Allesya kian mengeratkan lilitan tangannya pada tubuh Sean.
"Ahh.. Sh*it! Dadanya begitu menggoda," desah*n n*fsu sekaligus umpatan mencelos dari bibirnya ketika dua benda kenyal menghimpit dadanya.
❣
❣
❣
Bersambung~~
Part ini akan dilanjutkan besok ya...🥰
Untuk saat ini Nofi buat sedikit melow ceritanya. Nanti ke depannya, konflik2 kencil kembali mewarnai rumah tangga mereka.🥰
Terima kasih masih setia menyimak karyaku ini..
__ADS_1
Seperti biasa, jangan lupa tinggal tombol like dan berkomentarlah agar Nofi tau keberadaan kalian.
Love you yang panjang....😘😘😘