Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 54


__ADS_3


Ruang masa masih mengitari kisah kehidupan. Gelita langit bersambut sang Dewi Malam bergilir kilauan sinar sang Dewa Siang yang bertahta di singgasana langit. Hingga tidak terasa satu tahun penuh, bumi mengitari bintang pusat tata surya.


"Apa kalian tidak bisa bekerja dengan benar?!"


Beberapa anggota staff internal yang mengelilingi meja rapat tampak tertunduk pasrah ketika sang Penguasa Kerajaan Bisnis tempat mereka mengais rejeki meluapkan ketidakpuasannya akan hasil kinerja.


"Grafik pendapatan menurun 2,5 persen dari tahun sebelumnya. Ini membuktikan kinerja kalian sangat buruk. Ingat, perusahaan ini tidak akan mentolelir karyawan yang hanya ingin memakan gaji buta," sebuah ultimatum mematikan sontak membuat semua kepala yang tertunduk tercekat karena posisi mereka terancam didepak dari Willson Corp.


Satu pijakan tegas kaki membawa tubuh gagah itu beranjak dari duduknya dan berlalu meninggalkan ruangan rapat. Menyematkan aura tak bersahabat sebagai gambar suasana hati yang memang tidak pernah baik-baik saja selama satu tahun terkahir. Tepatnya semenjak ia dibuat kelimpungan seperti cacing kepanasan mencari keberadaan Allesya yang belum juga ditemukan.


Arthur yang diyakini satu-satunya sumber informasi akan keberadaan Allesya juga sulit ditemui seolah ikut menghilang di telan Bumi. Membuat Sean semakin kesulitan dan frustrasi.


Sikap ramah dan hangat yang selalu tersemat pada dirinya juga seketika sirna tergantikan oleh pribadi dingin, sedingin suhu ekstrim pada puncak gunung Denali. Hilangnya senyuman Allesya dari pandangan mutiara birunya seolah merenggut segala makna kehidupannya.


Memforsir tubuhnya untuk bekerja dan bekerja adalah salah satu bentuk pelampiasan hati yang tengah berselimut awan hitam begitu kelam dan suram. Tidak peduli akan kesehatan tubuh yang sudah berada di ambang keletihan.


Insomnia adalah teman setianya di atas ranjang setiap malam. Sehingga menelan butiran pahit obat tidur sudah menjadi kewajiban sebagai pengantar tidur yang tak lebih dari tiga jam. Sungguh, Pria tampan yang dulu selalu bermanjakan belaian tangan wanita kini menggila hanya karena satu makhluk bernama Allesya.


Kemolekan tubuh seksi, rayuan manis menggoda hasrat, serta sentuhan lembut pembangkit gairah dari para makhluk yang tercipta dari tulang rusuk pria yang datang silih berganti untuk menggait hatinya, ditolak mentah-mentah. Tak membiarkan tangan-tangan berjari lentik menjamah apalagi memberi ruang hati untuk mereka. Aku hanya ingin Allesya. Dipahatnya dalam dan tegas nama Allesya di hatinya.


"David, apa lagi schedule kita hari ini?" bertanya di sela ayunan langkahnya menyusuri koridor kantor menuju ruangan pribadinya.


"Schedule kerja sedang kosong Tuan, tapi anda mendapat undangan pesta perayaan ulang tahun putri dari Tuan Thomson untuk nanti malam," lapornya lugas.


Tak ada respon apapun dari Sean Willson terkait undangan pesta tersebut hingga tubuhnya tenggelam di balik pintu ruangan kantor pribadinya. Meninggalkan David yang membatu di luar pintu yang baru saja mengeluarkan suara keras bantingan.


Helaan napas panjang meluncur begitu saja dari mulut sang Asisten. Sebisa mungkin berlapang dada dan menimbun segudang pengertian karena perubahan sikap sang Majikan yang begitu signifikan.


°°°


Di ballroom hotel bintang lima. Sebuah pesta mewah perayaan ulang tahun tengah diselenggarakan. Beberapa isian acara telah bergilir lancar mengikuti panduan Master Of Ceremony. Hingga sampai di penghujung acara, tampak semua pasang mata para tamu undangan terpusat penuh pada dua anak manusia yang berdiri tepat di tengah-tengah ruangan. Mereka adalah Sean dan si Ratu utama dalam pesta, Cheryn.


"Sean aku telah mempersiapkan hati di jauh-jauh hari sebelum acara pesta ulang tahunku yang ke 25 ini dirayakan," berusaha mati-matian menyembunyikan kegugupan dengan menampilkan mimik muka setenang mungkin.


Memancarkan senyuman semanis mungkin meski ekspresi muka dingin masih melekat kuat di muka tampan Sean. Memantapkan hati untuk terus menerjang kerasnya sifat tak acuh Sean yang selama ini ia terima.


"Jangan kau teruskan Cheryn jika tidak ingin dipermalukan," sebuah peringatan meluncur tegas dari bibir Sean yang sudah bisa membaca tujuan pembicaraan wanita cantik di depannya.


Namun nyatanya, tingkat kepercayaan diri Cheryn terlampau tinggi. "Aku.. sudah lama menyukaimu. Maukah kau menerimaku sebagai kekasihmu? Aku yakin kau juga pasti memiliki ketertarikan kepadaku."


Mutiara biru itu mengedar jengah ke sembarang arah diikuti dengusan kasar sebagai tanda ia sangat tidak suka dengan tindakan nekat Cheryn. Tiada balasan untaian kata maupun senyuman yang menyenangkan dari bibir Sean untuk menyambut ungkapan cinta Cheryn. Ia justru memilih memutar tumit dan dengan segera membawanya keluar dari acara pesta. Meninggalkan Cheryn yang masih membatu karena serangan syok bercampur kecewa dari penolakan terang-terangan Sean.


Sungguh, kalau bukan mengingat akan eksistensi Tuan Thomson ayah dari Cheryn yang telah berkontribusi banyak dalam proses pelebaran sayap kerajaan bisnisnya, mungkin dia tidak mau menghadiri pesta tersebut.


Sesampainya di parkiran mobil, sebuah tepukan di bahu memaksanya memutar leher ke belakang.

__ADS_1


"Apa kau mau menemaniku minum?" tanya Erick yang ternyata ikut keluar dari acara pesta untuk menyusulnya.


Dilemparnya kunci mobil ke arah Erick. "Kau yang menyetir," melenggang masuk ke mobil tanpa menunggu persetujuan dari Erick.


"Dasar anak kurang ajar," gerutunya dan menyusul masuk mobil.


°°°


Di kediaman keluarga Damirich. Allesya terus saja mengomeli lawan bicaranya yang berada di seberang telepon. Raffaela yang melihat tingkah sang Putri hanya bisa menggelengkan kepala. Melihat Allesya mengomel tiada henti ia seperti melihat dirinya sendiri, membuatnya mendengus geli.


"Kenapa kau tidak bilang kepadaku kalau kau pergi ke London? Kau itu sedang tidak sehat."


(...)


"Kau selalu membuatku cemas."


(...)


"Apa obatnya sudah kau minum?"


(...)


"Cepatlah kembali karena aku sudah sangat merindukanmu."


(...)


"Baiklah, jaga diri ya di sana. Aku akan menunggumu pulang."


(...)


Tut! Panggilan berakhir.


°°°


Duduk di depan barstool, kedua pria ayah dan putra tampak enggan memulai obrolan. Membiarkan alunan musik jazz mengisi kebisuan di antara mereka. Beberapa kali membasahi tenggorokan dengan meneguk cairan keemasan dari gelas kristalnya.


Hubungan keduanya memang sedikit ada perkembangan. Semenjak kepergian Allesya, Sean jadi mengerti betapa tersiksanya Erick hidup bertudung penyesalan selama ini karena dia juga merasakan hal yang sama. Hingga akhirnya naluri untuk berdamai dengan masa lalu menyentuh hatinya. Memberikan kesempatan pada Erick memperbaiki segalanya yang sempat hancur.


"Bagaimana caranya kau menjalaninya?" akhirnya Sean membuka percakapan setelah cukup lama terpekur dengan pikirannya sendiri.


Erick menggiring muka bertanya-tanya ke arah Sean yang masih setia menjadikan gelas bir di tangannya sebagai objek pandang. "Maksudnya?"


"Sepuluh tahun lebih kau hidup dengan penyesalan karena telah membuangku dan Mama. Bagaimana caramu menjalani hari-harimu?"


Senyuman getir mengulas di muka Erick. Mengingat akan kesalahan fatal yang dulu ia perbuat merangsang lidah untuk mengutuki dirinya sendiri. "Entahlah, aku hanya menjalani hidup yang telah digariskan meski aku menggila. Namun selama itu aku tidak pernah berhenti untuk berharap. Sedalam apapun kita terjebak ke dalam jurang keterpurukan jadikanlah sebuah harapan sebagai pijakan kaki untuk kembali ke permukaan," tuturnya kepada Sean.


Sedikit ada rasa haru di hati pria berstatus Ayah tersebut. Karena setelah sekian lama, ini adalah nesehat pertama untuk sang Putra.

__ADS_1


Sean kembali terdiam. Membiarkan otaknya berkelut dengan pikiran. "Satu tahun hidup berteman penyesalan sudah membuatku gila, apalagi sampai sepuluh tahun lebih? Pasti aku sudah bunuh diri. Allesya.. kau di mana kelinci kecilku," ucapnya yang hanya bisa di dengar oleh dirinya sendiri.


"Sebenarnya masalah apa yang tengah kau hadapi putraku? Berceritalah, mungkin aku bisa membantu mencari solusinya," pertanyaan beserta tawaran keluar dari bibir Erick memecah kebisuan Sean.


Terus terang, selama ini Erick memang tidak tahu menahu akan permasalahan yang menggeluti sang Putra. Hubungan mereka memang mulai terjalin ke jenjang yang lebih harmonis namun bukan berarti Sean bisa langsung lebih terbuka kepada Erick tentang perasaannya.


"Meski aku cerita kau tidak akan bisa membantuku," sahutnya meremehkan.


Diteguknya bir yang tinggal seperempat gelas itu hingga tandas. "Aku juga tidak akan memaksamu untuk bercerita."


Sean gegas menghentikan Erick yang hendak memesan minuman lagi. "Bagaimana kau akan melindungi Mama jika kebiasaan minummu tidak berubah? Kurangi minummu itu atau aku tidak membiarkanmu bertemu dengannya lagi," ancaman tegas Sean yang sukses mengundang gelak tawa Erick.


Sungguh menyenangkan melihat sikap sang Putra yang mulai menunjukkan kepedulian terhadapnya meski dengan cara sedikit tidak sopan tapi hal itu sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Baiklah, aku akan berhenti minum setelah ini, demi orang-orang yang aku sayangi."


"Kau harus serius memperbaiki kesalahanmu. Jangan sakiti Mama lagi. Atau kau akan berhadapan denganku langsung."


"Jangan kau tanyakan lagi tentang keseriusanku karena aku dan Sarah akan menikah dalam minggu ini," ucapnya sukses membuat Sean tertegun tak percaya bahwa Erick sudah bertindak cepat.


"Aku sebaiknya pulang," berdiri dari kursi berkaki panjangnya. Dipandang Erick yang masih setia dalam posisi duduk. "Kau ingin pulang sekarang atau nanti?"


"Iya kau pulanglah dulu, aku masih ingin bertemu dengan seseorang."


"Baiklah."


Sean memutar tubuhnya dan melenggang pergi. Langkah kaki yang semula berjalan mulus, tiba-tiba harus terhenti di ambang pintu keluar karena seorang pemuda yang diduga pelanggan bar datang dari arah berlawanan kurang berhati-hati ketika berjalan dan menabraknya.


BRUK!


"Ah, maaf Tuan, aku tadi sedang mengangkat telepon jadi kurang memperhatikan jalan. Apa anda terluka?"


"Tidak apa-apa," jawabnya singkat dan melanjutkan ayunan kakinya tanpa menghiraukan perasaan tidak enak si Pemuda.


Menatap punggung Sean hingga mengecil dan menghilang, si Pemuda kembali memutar tubuhnya menuju ke dalam bar. Diedarnya pandangan ke seluruh ruangan, mencari keberadaan seseorang yang diyakini sudah menunggunya.


"Paman Erick? Apa kau sudah lama menunggu?" sapanya seraya menyeret kursi kosong untuk diduduki.


"Erlan? Akhirnya kita bisa bertemu kembali," balas Erick tampak senang.





Bersambung~~

__ADS_1


Bodoh sekali kau Sean.. Kalau aja kau mau cerita semuanya ke Erick, yakin deh kau bisa langsung bertemu dengan Allesya.


Para pembaca pasti sudah tahu kan alasannya?🤭


__ADS_2