Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 66


__ADS_3


Sepasang kaki ramping berbalut sneakers shoes tengah berdiri di depan mobil sedan berwarna biru metalix, tak ada niat untuk masuk ke dalam kendaraan tersebut. Sesekali alat penompang tubuh itu diajak mondar-mandir seiring mata mengedar ke arah jalan masuk menuju tempat ia berpijak. Berharap sosok Erlan segera muncul dari sana dalam keadaan baik-baik saja.


Berkali-kali ia halau keresahan yang membuatnya tak nyaman meski sulit. Perasaan yang terus mengusiknya itu bukanlah tak beralasan. Mengingat beberapa saat yang lalu, ia bisa merasakan suhu tubuh Erlan yang kembali meninggi serta rona pucat di mukanya membuat Allesya khawatir.


"Semoga saja Sean tidak bertindak kasar kepadanya," gumamnya terus berharap.


Hingga akhirnya keresahannya terjawab sudah di kala mata menangkap tubuh gagah Sean tengah melangkah cepat seraya membawa Erlan di punggungnya.


"Erlan?!" panggil Allesya sedikit berteriak sembari kaki mendekati Sean yang masih menggendongnya. "Kenapa bisa begini?"


"Kita antar dia ke Rumah Sakit terlebih dahulu," jawabnya seraya membuka pintu mobil miliknya yang kebetulan terparkir bersebelahan dengan mobil Erlan.


"Kau masuklah duluan Allesya," titahnya yang langsung dipatuhi Allesya dengan kecemasan yang luar biasa.


Dengan cekatan Sean meletakkan tubuh lemah itu ke bangku penumpang belakang dan langsung disambut Allesya dengan memangku kepala Erlan di pahanya. Tanpa Sean sadari, luka lebam di tulang pipi dan luka robek pada bibir Sean sempat menarik atensi Allesya. Mengundang sebuah praduga yang berkaitan dengan penyebab pingsannya Erlan.


°°°


Di sebuah ruang kamar rawat inap Rumah Sakit. Emily selaku dokter yang menangani segala keluhan penyakit Erlan tampak menghela napas setelah memberikan serangkaian pemeriksaan medis terhadap Erlan yang masih memejamkan mata di atas ranjang karena efek suntikan obat.


"Bagaimana keadaannya Dokter Emily?" tanya Allesya.


"Ini disebabkan karena ia kelelahan. Ditambah lagi daya tahan tubuhnya kian menurun, sehingga membuatnya mudah sekali merasakan letih yang berlebihan dan demam yang tiba-tiba menyerang. Sebentar lagi dia pasti akan sadar. Biarkan dia dirawat di Rumah Sakit hingga demamnya reda setelah itu dia bisa dibawa pulang," paparnya kepada Allesya.


"Hah.. Syukurlah. Dia sungguh membuatku ketakutan."


"Seanie aku sarankan kepadamu untuk tidak bosan-bosannya mengingatkan dia agar selalu menjaga kesehatannya," tutur Emily yang mempercayai Allesya. Pasalnya hanya tutur kata wanita yang sedang berada di depannya saat inilah yang selalu dipatuhi Erlan.


"Tentu Saja Dok."


"Padahal baru beberapa jam yang lalu dia datang untuk berkonsultasi perihal penyakitnya dan sekarang dia datang lagi dengan keadaan seperti ini."


Ucapan Emily sukses menarik perhatian lebih Allesya. Hingga akhirnya serangkaian kalimat pertanyaan yang berhubungan dengan penyakit Erlan terulur kepada Emily yang beruntungnya langsung disambut oleh jawaban-jawaban yang tak bercela. Lagian apapun tentang kesehatan Erlan bukanlah sebuah rahasia lagi bagi Allesya.


Hingga dirasa tidak ada lagi yang perlu dijelaskan Emily pun keluar dari ruangan bernuasa serba putih tersebut. Meninggalkan Allesya yang terpekur namun mata tak henti menelisik muka pucat Erlan yang masih terlelap. Sesekali ia kecup buku-buku jari yang tersemat jarum infus dengan hangat seolah mentrasfer kekuatan pada tubuh ringkih Erlan agar lebih bersemangat untuk sembuh di kala mata terbuka nanti.

__ADS_1


Sementara itu, Seorang pria tampak memaku di depan pintu ruangan tempat Erlan dirawat. Tak khayal dan telinga juga tak ingin menyangkal bahwa segala percakapan di dalam ruanganpun terdengar. "Separah itukah sakitnya? Dia pria baik, sangat disayangkan jika harus mati muda," lirihnya. Tanpa disadari, sebuah pengakuan kecil akan sosok Erlan membisiki hatinya.


Ia tak ingin mengingkari bahwa sedikit rasa iba juga terselip di hatinya kendati rasa sakit dan cemburu bergumul jadi satu di kala mata menyaksikan sendiri segala perlakuan hangat dan lembut Allesya untuk Erlan saat ini.


Mungkinkah dia harus berbahagia karena satu pagar kawat duri penghalang untuk menggapai Allesya roboh karena usia yang tak lagi panjang? Namun nyatanya, suara hati kecilnya tak mematutkan diri untuk berucap syukur akan musibah yang menimpa rivalnya. Ada suatu tilikan hati yang begitu sulit ia jabarkan.


Entah demi apa, sisi kemanusiaanya tergerak untuk melihat Erlan lebih dekat. Berbalut ragu sebelah tangan dibawa menarik handle pintu dan mendorongnya. Mengajak tubuhnya berbaur ke dalam satu ruangan tempat Allesya dan Erlan berada.


Belum sempat kaki dibuat mengayun mendekati ranjang tempat Erlan terbaring, Allesya sudah beranjak duluan dari duduknya dan kini tengah berdiri tepat di depan Sean dengan raut muka tak bersahabat.


"Mau apalagi kamu datang kemari? Kau belum puas menyakitinya?" itulah sambutan Allesya ketika melihat kehadiran Sean. Ucapannya terdengar sangat dingin.


"Apa maksudmu Allesya? Aku tidak ada niat untuk menyakitinya."


"Apa ini yang kau maksud tidak ada niat untuk menyakitinya? Membuat ia terbaring di atas ranjang Rumah Sakit," pungkasnya secepat kilat seraya menunjuk tegas ke arah Erlan seolah tak membiarkan bibir Sean berbicara.


Sean memilih diam tak menyerukan suara. Hanya sorot mata dan mimik muka yang dia gunakan untuk menggambarkan perasaannya. Membiarkan Allesya memuaskan lidahnya untuk melontarkan tuduhan yang tak mendasar. Akan sangat percuma jika ia keukuh membela diri di depan orang yang tengah berkabut amarah.


Mendapati perlakuan Allesya kali ini, justru mengingatkannya pada kejadian di masa lalu. Di saat Sean menuduhnya dengan sangat tak berperasaan dan juga tak memberi kesempatan padanya untuk menjelaskan yang sebenarnya. "Ternyata seperti ini rasanya. Sakit sekali," batinnya mengeluh.


"Kau sepertinya sangat peduli dengannya," itulah kalimat yang mencelos dari bibir Sean setelah beberapa saat membisu.


"Apa kau sangat bahagia dengannya?"


"Iya tentu."


"Apa kau sangat mencintainya?"


"Aku tak perlu menjawab."


Sean menatap sendu muka Allesya. "Allesya.. Tidak adakah setitik saja sisa cintamu untukku?"


DEG!


Entah demi apa, dada Allesya berdenyut ketika melihat Sean yang bertanya dengan mimik muka berselimut harapan akan sisa serpihan rasa cinta darinya. Akankah denyutan itu sebagai tanda bahwa rasa itu memang masih ada ataukah hanya sekedar wujud rasa iba karena Sean terlihat sangat menyedihkan saat ini baginya.


Kedua pasang lensa beda warna itu saling terpaut lekat. Melepaskan keheningan untuk bernaung di antara mereka. Mendalami arti dari sorot yang mematri pada jendela hati.

__ADS_1


Tak ingin terperangkap oleh tatapan Sean yang melenakan, Allesya gegas memutus tautan netranya. "Apa kau berpikir dulu sebelum bertanya? Sangat tidak pantas pertanyaan itu kau tujukan ke aku yang sudah mencintai pria lain," ucapnya tanpa melihat ke arah Sean.


Sean tersenyum masam. "Akhirnya kau menjawabnya juga," lirihnya tampak kecewa. "Pasti saat ini aku terlihat sangat menyedihkan di matamu," ucapnya sebelum memutar tubuhnya, tak membiarkan Allesya melihat muka yang seolah meminta untuk dikasihani olehnya.


Sepasang kaki jenjangnya mulai berayun keluar ruangan, meninggalkan Allesya yang masih memaku.


"Seanie.." Allesya terkesiap ketika mendengar seseorang memanggilnya. Gegas ia putar leher ke arah sumber suara.


"Erlan ternyata kau sudah bangun?" bergerak mendekati dan dengan cekatan membatu Erlan yang tampak berusaha bangun untuk bersandar di headboard ranjang.


"Aku sudah bangun sedari tadi?"


Allesya tertegun. "Apa kau mendengar semuanya tadi? Maaf, kau pasti terbangun karena merasa terusik oleh suara berisik kami," merasa tidak enak dan merutuki diri sendiri. Bisa-bisa ia lupa kalau saat ini masih berada di kamar perawatan dan malah membuat kebisingan.


Erlan mencangkup kedua tangan Allesya dengan satu tangannya yang dua kali lipat lebih besar. "Seanie, kau salah telah menuduh Sean seperti tadi?"


Kerutan di dahi seketika bermunculan diikuti raut muka bertanya-tanya. "Bukankah kau seperti ini karena bertengkar dengannya? Aku bahkan melihat mukanya yang terluka."


Erlan menggeleng lemah. "Kau salah menduga Seanie. Aku memang memukulnya hingga mukanya terluka, tapi dia sedikitpun tak membalas meski kekuatannya jauh lebih besar dariku. Aku pingsan karena ulahku sendiri yang terlalu memeras tenaga untuk mengahajarnya sehingga membuatku kelelahan dan berakhir di tempat ini. Beruntung dia pria baik yang bersedia menggendongku untuk mencari pertolongan. Padahal kau tahu sendiri bukan bahwa ia masih memiliki cidera di bahunya. Aku yakin dia sampai rela mengabaikan rasa sakitnya demi menolongku," penjelasan Erlan sukses menegur Allesya yang telah asal menuduh tanpa berpikir jauh terlebih dahulu.


"Kenapa aku tidak menyadarinya dari sana. Aku memang bodoh!" batinnya sangat menyesal.


"Temui dia dan meminta maaf Seanie," tutur Erlan.


"Apakah kau tidak apa-apa?"


"Aku malah akan merasa bersalah jika kau tidak menemuinya sekarang. Bagaimanapun juga kau menuduhnya karena aku."





Bersambung~~


Terima kasih masih setia memantau kisah Sean dan Allesya🙏 Terima kasih juga atas segala dukungan kalian..🥰

__ADS_1


Wo ai nimen. Hen... Ai. Mu mu muaah... lop lop superr hot😘


__ADS_2