
Cuaca langit London sedang sangat cerah. Di tandai gumpalan awan membentuk gulali kapas putih berarak cantik menghiasi birunya cakrawala. Angin berhembus lembut. Memberi kesejukan pada setiap insan kalbu.
Di rooftop gedung Willson Corp. Sebuah tangan penuh kasih menuntun tubuh kurus menuju pembatas pagar. Menyaksikan keindahan yang tersaji di depan mata.
Jika di lihat dari atas gedung 40 lantai, kota London terlihat seperti dipenuhi hamparan miniatur yang menggemaskan. Bangunan yang berdiri kokoh, kendaraan yang berlalu lalang, manusia yang berativitas, serta pepohonan yang tertancap rapi di setiap pinggiran jalan raya tampak kecil dipandang mata.
"Ma, apa kau menyukainya?" tanya Sean lembut penuh perhatian kepada Sarah. Memecah keheningan di antara mereka.
Tanpa menanggalkan senyuman hangat dan sorot mata takjub, Sarah mengangguk pelan. "Iya, Mama suka," jawabnya lirih.
Beberapa jam yang lalu, Sarah terus saja merengek ingin bertemu Allesya. Bahkan keberadaan Vera seolah tak mampu menggantikannya. Sehingga keputusan membawa Sarah ke tempat ia bekerja adalah pilihan yang dia gunakan untuk mengalihkan pikiran sang Mama tentang Allesya, gadis yang sangat ingin ia jauhi.
Gadis itu pintar sekali mencuci otak Mama, itulah kalimat tuduhan negatif yang sempat terslebat di benaknya di kala kefrustrasian menyerang. Ia Selolah membekap hati kecil yang berkata, menulikan telinga, membutakan mata, dan melumpuhkan akal berlogika akan kebenaran bahwa Allesya membawa segala aura positif terhadap Sarah.
Dia makhluk yang harus ku benci, bisikan itu terus ia tanamkan di dalam relung hati.
"Ma, ini sudah hampir waktunya makan siang dan minum obat, sebaiknya Sean antar Mama pulang sekarang ya," tutur Sean kepada Sarah.
Ia rengkuh pundak sang Mama dan menuntunnya kembali masuk ke dalam gedung. David si Asisten yang kebetulan juga berada bersama mereka lantas mengekori.
"Wanita yang bersama Tuan Sean siapa ya?" bisik salah satu karyawan wanita dengan tingkat rasa ingin tahu terlampau tinggi.
"Iya, siapa dia? Aku baru kali ini melihat Tuan membawanya ke kantor? Dia terlihat tidak sehat," timpal karyawan lainnya masih dalam mode setengah berbisik seraya celingukan melihat Sean yang tengah menuntun Sarah dari jauh.
"Apa kalian belum tahu? Dia itu Nyonya Sarah, Ibunya Tuan Sean. Aku kalau jadi dia pasti tak sudi membawa orang sakit mental ke kantor karena hal itu sangat memalukan," balas seorang karyawan yang lebih senior.
Kasak kusuk yang memanaskan telinga ternyata sempat tertangkap jelas oleh indera pendengaran Sean ketika melewati satu ruang devisi.
"David, tolong kau perintahkan pihak HRD untuk membuat surat pemecatan untuk ketua devisi pemasaran bagian promosi saat ini juga. Dan beri surat peringatan 1 pada kedua karyawan lainnya," titah Sean tak segan-segan.
"Baik Tuan," jawab David.
°°°
Sementara itu di tempat lain. Seorang pria bertopi, berkaca mata hitam, bersarung tangan, serta bermasker penutup wajah tampak bergelagat mencurigakan. Setelah berhasil mengecoh para penjaga gerbang masuk, ia menyelinap menuju ke basement VIP perusahaan.
__ADS_1
Mata di buat menyelidik sekeliling memastikan tidak ada orang lain yang melihat keberadaannya. Bersembunyi dari tangkapan kamera CCTV, kaki di ajaknya mengendap dan menyelinap dari balik tubuh mobil satu berpindah ke tubuh mobil yang lain.
Tampak beberapa mobil mewah terparkir rapi. Tidak ingin mengulur waktu terlalu lama yang bisa saja menjadi bomerang baginya, ia gegas beraksi. Ia mengeja satu persatu plat nomor yang tersemat angkuh di setiap badan mobil.
Sebuah seringaian licik tercetak di balik kain masker di kala sebuah mobil incarannya bisa temukan dengan sangat mudah. Sekali lagi, mata ia buat berjaga, memastikan keadaan benar-benar aman.
Keahlian dirinya dalam menyabotase mobil memang sudah tidak diragukan lagi. Tidak ada kerasnya deguban jantung maupun tangan yang bergetar karena gugup. Bahkan hanya dalam kurung waktu tidak lebih dari 5 menit aksi mengotak-atik komponen mesin beres tak bercela.
"Bersiap-siaplah menjadi salah satu penghuni neraka," ia kembali menyeringai puas. Dari nada desisannya terdengar jelas sebuah penggambaran kepercayaan diri yang terlampau tinggi akan sebuah kemenangan.
Di rasa tujuan rencana sudah terlaksana, ia gegas membawa kakinya berayun keluar dari kawasan gedung Willson Corp setenang dan seaman mungkin sebelum keberadaan tubuhnya tercium.
Drrttt..! Drrttt..!
Tiba-tiba pria itu yang tak lain dan bukan adalah Reymundo merasakan getaran di saku jaket hitamnya. Menyadari ada panggilan masuk di ponsel ia lalu menekan tanda terima.
"Kenapa kau cerewet sekali Inggrid?"
(...)
"Tenang saja, aku yakin 100 persen kalau rencana kita ini akan berhasil. Anak tiri bodohmu itu bakal segera menemui ajalnya. Kau duduk santai saja sambil menunggu kabar gembira."
(...)
Tut!
Telinga sudah sangat gatal mendengar ocehan Inggrid yang seperti dengungan lebah, Rey mengakhiri panggilan secara sepihak lalu melanjutkan kembali langkahnya menuju mobil yang ia parkirkan sedikit jauh dari kawasan Willson Corp.
Seringai kepuasan lagi-lagi kembali terbit di kala mata menangkap sebuah mobil yang baru saja ia sabotase melaju melewatinya dari arah jalur yang sama.
"Seharusnya malaikat maut memberiku reward karena telah meringankan beban pekerjaannya kali ini."
°°°
"Apa kau yakin kalau tidak ada orang yang tahu dengan rencana kita?" Inggrid meragu diikuti mata yang terus dibuat berjaga. Memastikan tidak ada orang yang melihat pertemuannya dengan Reymundo.
"Kau masih saja meragukan kemampuanku Inggrid. Ingatlah 17 belas tahun yang lalu aku juga melakukan kriminal yang sama dan nyatanya tidak ada orang yang tahu hingga sekarang," timpalnya dan kembali menyesap dalam gulungan tembakau lalu membebaskan asap putih penjemput kematian dari mulutnya.
__ADS_1
Inggrid terlihat sedikit lega, di tandai dari helaan napas panjangnya. "Jika Sean Willson mati, otomatis Erick tidak memiliki ahli waris lagi. Dan dia tidak akan memiliki pilihan lain selain menjadikan Arthur sebagai pengganti putra kandungnya."
"Aku yakin mobil yang dia tumpangi sekarang sudah hancur dan nyawanya sudah di ambang kematian karena aku memutus kabel remnya."
"Bagus."
Menjatuhkan puntung rokok lalu menggilasnya dengan kaki yang terbungkus sepatu.
"Serahkan uangnya sekarang, aku masih ada urusan lain."
"Padahal aku berharap kau melupakannya," gerutunya disusul tangan merogoh isi tas dan mengeluarkan selembar cek yang sudah tertulis beberapa nilai nominal menyilaukan mata.
Dengan cekatan, Rey menyabet lembaran cek dari tangan Inggrid. Tidak ingin tindak tanduknya dicurigai mereka gegas memisah diri.
Sementara itu di sisi sudut yang tidak jauh namun tak terjangkau oleh tangkapan mata Rey dan Inggrid, Arthur diam-diam menyaksikan dan mendengar interaksi kejahatan mereka.
Di sandarkan tubuhnya ke dinding yang mendadak lemas tak bertenaga seolah baru saja menerima shock therapy. Mata memanas dan tangan bergetar ketika melihat hasil rekaman video di dalam ponselnya. Dia tidak menyangka kedua orangtua kandungnya nekat bermain dengan nyawa orang lain. Tampak jelas saat ini ia sedang mendilema akan kegamangan hati.
Mana yang harus dia pilih? Menyematkan diri sebuah gelar anak durhaka tapi demi keadilan atau gelar anak berbakti dengan menyembunyikan fakta kebenaran dan bersikap seolah tidak tahu menahu.
°°°
Di kediaman keluarga Willson.
Helaan napas kasar tak henti-hentinya terdengar dari mulut Henry. Entah mengapa ia merasa tidak tenang sedari tadi. Hati kecilnya seolah berbisik bahwa akan ada suatu hal buruk terjadi. Tapi apa? Dia sungguh tidak tahu. Perasaan yang tidak jelas darimana datang terus saja mengusik.
Kembali ia mengambil napas dalam disusul mendudukan tubuh rentanya di atas sofa. Tak lama kemudian ia meraih telepon genggam yang sedari tadi tergeletak di atas meja. Ia memutuskan untuk mencari tahu penyebab perasaan tidak enaknya dengan menghubungi Sean. Namun belum sempat ia memilih nomor kontak di layar, sebuah permintaan sambungan panggilan masuk ke dalam telepon pintarnya tersebut. Tanpa berpikir panjang, segera ia menekan tanda terima.
"Halo dengan si..... apa?! Rumah Sakit?! Kecelakaan?!
😱
😱
😱
Bersambung~~
__ADS_1
Yuhuu.. Makasih ya karena masih rela matanya sakit karena membaca ketikan tak jelas ini. Yang sabar ya para Kakak Readers kesayangan. Orang sabar rejeki lancar😘😘😘