Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 46


__ADS_3


"Allesya akhirnya aku menemukanmu, kemana saja kau Allesya..?" direngkuhnya kedua bahu sang Adik diikuti mimik muka cemas Arthur.


"Apa kau tau, kami semua kelimpungan mencarimu," sela Jeffrey yang ternyata datang bersama Arthur.


Mendengar kabar tentang Nenek Fanne serta keberadaan Allesya yang seharian tidak diketahui tak urung membuat Jenny bertenang hati. Dan meminta Jeffrey membantu Arthur untuk mencari Allesya.


"Maaf," ucap lemah Allesya dengan pandangan tergiring ke bawah. Ia seolah masih enggan mengatakan yang sebenarnya perihal Reymundo membawanya paksa.


Namun tiba-tiba ingatan akan Fanne membuatnya mengangkat kembali pandangan ke arah muka Arthur. "Kak.. Allesya ingin bertemu Nenek. Terus itu..," ia sedikit memutar tubuhnya ke belakang disusul tangan menunjuk ke arah police line yang terpasang. "Kenapa ada garis polisi di sana? Aku ingin masuk rumah, ingin bertemu Nenek," ucapnya.


DEG!


Suasana berubah hening. Tidak ada satupun dari Arthur dan Jeffrey yang berani membuka mulut untuk bersuara.


"Kak.., Nenek pasti di dalam kan?"


Suara Arthur seolah tercekat di tenggorokan. Menatap nanar netra Allesya yang tampak sayu di bawah pendar rembulan. Terasa berat baginya akan pertanyaan Allesya yang mengharapkan jawaban dengan segera.


"Nenek tidak ada di dalam Allesya," ucap Arthur ragu.


"Nenek di mana Kak...? Terus kenapa ada garis polisi di sana?" ia kembali bertanya.


Suara Arthur kembali tercekat, kali ini ia tak berani membalas tatapan Allesya yang penuh akan tuntutan.


Jeffrey yang memang sudah mengerti akan suasana yang meliputi mencoba membantu Arthur keluar dari kebimbangannya. "Besok kami akan mengantarmu menemui Nenek. Sebaiknya kita beristirahat dulu. Ini sudah hampir subuh."


"Tapi Kak, aku ingin bertemu Nenek sekarang..," eyel Allesya. Bagaimana dia bisa tahan untuk tidak segera bertemu Fanne, sedangkan dia masih ingat betul keadaan Fanne yang terluka sebelum Reymundo menyeret ia pergi.


"All, benar yang dikatakan Jeffrey, sebaiknya kau beristirahat dulu. Nanti aku akan mengantarmu untuk menemui Nenek," tutur Arthur meyakinkan sang Adik. Sungguh, ingin rasanya ia melepas air mata yang di pendam dalam-dalam di depan Allesya. Perih.


"Tapi Nenek baik-baik saja kan Kak?"


"Iya dia sudah baik-baik saja sekarang. Tidak lagi merasakan sakit," jawabnya tersirat akan keambiguan. Sayangnya Allesya seperti salah menilainya.


"Syukurlah kalau Nenek baik-baik saja, Allesya merasa lega," hati Arthur seolah menjerit mendengar ucapan polos Allesya. Apakah dia sanggup melihat reaksi Allesya besok ketika tahu jika raga sang Nenek sudah terlelap untuk selamanya di peristirahatan terkahir.


"Baiklah, kalau begitu biar Allesya menginap di tempatku kali ini karena jaraknya tidak butuh waktu 5 menit dari sini. Di sana juga ada Jenny yang akan menemaninya," Saran Jeffrey yang sebenarnya dia merasa ada yang janggal dengan penampilan Allesya yang terlihat berantakan.

__ADS_1


Ditambah lagi gadis itu seharian menghilang dan kembali pada dini hari semakin menambah keheranannya. Tanpa Jeffrey ketahui bahwa kejanggalan yang ia rasakan itu berhubungan dengan sahabat dekatnya sendiri, Sean.


°°°


Keesokan harinya.


Angin berhembus ramah menggoyangkan daun-daun yang menggelayut di rantai pohon. Sayup suara alam mewarnai lingkungan sepi di mana para raga tak bernyawa dirumahkan.


Jauh di sana, tampak empat orang anak manusia tengah berdiri mengelilingi makam yang masih basah berhias bunga gladiol segar. Hanya ada rona duka yang menghiasi muka mereka namun tidak bagi seorang gadis bersurai coklat, yaitu Allesya.


Di saat Arthur, Jeffrey dan Jenny, tampak bersedih, Allesya justru tampak membisu tak berekpresi. Tiada bulir-bulir kesedihan membasahi mukanya yang pasi, tiada pula suara isak tangis yang menyayat hati.


Namun terlihat jelas kedua tangannya tengah mengepal erat seolah meyakinkan diri bahwa semua di depan mata tidaklah nyata. Semua ini hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir ketika ia membuka mata.


Hingga akhirnya garis bibir itu melengkung ke atas mengulas senyuman getir. "Kalian pasti bercanda kan?" lirihnya dengan tatapan tak lepas dari pusara yang terukir nama Fanne Migrey di sana.


"Kak Arthur bukankah kau bilang kalau Nenek sudah baik-baik saja dan tidak merasakan sakit? Jadi apa maksud semua ini?" digiringnya manik hazelnya ke arah muka Arthur yang tengah menatapnya sendu.


"Allesya.., iya Nenek sudah baik-baik saja.. di surga dan tidak merasakan sakit lagi. Kau harus bisa mengihklasnya," suara Arthur bergetar menahan rasa pedih di hati.


"Tidak! Ini tidak mungkin! Nenek sudah berjanji kalau dia akan selalu bersamaku. Menyaksikan kebahagiaanku berjalan di atas altar pernikahan. Bermain bersama cicit-cicit yang aku lahirkan," Allesya masih keukuh mungkir dari apa yang sebenarnya memang sudah terjadi.


"Allesya kau harus kuat untuk menerima kenyataan ini," tutur Arthur yang mencoba merengkuh tubuh Allesya namun penolakan yang ia terima.


"Nenek tidak mungkin meninggalkanku secepat ini Kak. Aku akan pergi mencari Nenek sekarang. Ia pasti masih berada di rumah," ia lirik penunjuk waktu yang melingkari pergelangan tangannya. "Jam segini biasanya Nenek akan membuatkan sarapan untukku," racaunya.


"Allesya kau mau kemana?" teriak Arthur di kala Allesya mengambil langkah pergi dari depan pusara Fanne.


"Biarkan dia pergi. Dia pasti membutuhkan waktu sendiri untuk menenangkan pikirannya," sela Jenny, menghentikan Arthur yang hendak mengejar Allesya yang sudah berada jauh.


°°°


Tertatih-tatih kakinya melangkah membawa segala rasa yang menghimpit rongga dada. Memangkas ruang asa yang membawanya terjun ke dalam jurang tak bermasa.


Apa-apaan ini? Apakah jalan hidup setiap insan bernyawa memang sepahit ini? Tidak! Bukan seperti ini yang ia mau. Ini pasti mimpi. Ia harus segera keluar dari dunia semu tak berperasaan ini.


Berkali-kali Allesya menghadiahi tangannya dengan cubitan kecil hingga tercetak bekas kuku yang memerah. Berharap bisa segera bebas dari permainan takdir yang begitu kelam tak berarah.


Otak terus ia paksa untuk menangkis realita hidup yang sedang menindasnya. Akan tetapi hati yang selalu melibatkan perasaan itu seolah pasrah dan menuntutnya untuk menerima dengan lapang dada. Bahwa inilah kenyataannya, tak bisa dipungkuri meski kaki dibawa berlari sampai ke ujung dunia sekalipun.

__ADS_1


"Ya Tuhan... Apakah semua ini wujud dari kasih sayangmu untukku? Bolehkan aku mengajukan protes?" batinnya menjerit.


Belum lama, Allesya dibuat syok karena mengetahui kebenaran tentang kedua orangtua yang selalu diharapkan kasih sayangnya meski hal itu hanyalah angan-angan semu. Karena nyatanya mereka adalah dua manusia berhati iblis yang telah menjauhkan bayi Allesya dari kedua orangtua aslinya.


Dan baru kemarin perasaan dibuat hancur berkeping-keping karena pria yang selalu bertahta di hatinya merenggut kesucianya atas dasar kebencian yang tak seharusnya ia terima. Kalian pasti sudah tahu bukan, posisinya di dalam cerita ini adalah korban utama. Tokoh yang paling di rugikan dan yang tersakiti. Lantas masih pantaskah ia dibenci?


Dan apa lagi ini? Sekali lagi Tuhan menguji Allesya dengan mengambil satu-satunya sosok wanita yang selalu memberi belaian kasih sayang tak terhingga. Sosok wanita pengganti orangtua yang selalu dijadikan tempat bersandar di saat raga begitu lelah menopang beban hidup.


"Nenek..., bolehkan Allesya ikut bersamamu saja?"


Seolah tiada tenaga untuk melangkah lagi, sebuah pohon peneduh yang berdiri kokoh di dekat gerbang makam dijadikan tempat untuk bersandar. Tangan yang masih menggenggam bunga gladiol bewarna putih dibuat memukul dada, menghempas rasa sesak yang menyakitkan. Hingga tumpah sudah air mata penuh duka yang mendalam. Diredam isak tangis dengan satu tangan yang lain membekap kuat mulutnya. Meski nyatanya jeritan tangisan masih saja terdengar menyayat hati bagi yang mendengarkan.


Kedukaannya kian membuncah ketika ia tidak bisa melihat muka sang Nenek untuk terakhir kalinya. Andai kemarin ia segera pulang, pasti ia masih sempat memberi pelukan dan ucapan terakhir untuk Fanne. Dan Andai Sean tidak menyeret paksa ia ke apartemen mungkin di bisa melihat muka damai Fanne sebelum dikebumikan.


Ia terus berandai-andai yang memacu tingkat kebencian dan kecewa terhadap Sean.


*Bunga gladiol biasa digunakan sebagai simbol duka cita.


"Allesya..? Kau kenapa?" suara kecemasan seseorang membuatnya menggiring lemah muka ke arah si Pemilik suara lembut tersebut.


"Kak Vera..?" lirihnya di sela isak tangis.


"Allesya kau kenapa? Kenapa kau menangis?" terlihat jelas bahwa Vera sedang mengkhawatirkannya saat ini.


"Hiks! Hiks! Kak Vera..." begitu sulit lidah untuk berucap lebih. Namun mata sayu itu masih sempat melihat ke arah kedua orang paruh baya yang berdiri di belakang Vera dan tengah menatapnya sendu.


"Siapa kedua orang itu? Kenapa hatiku bergetar ketika menatap muka mereka?" batin Allesya sebelum denyutan di kepala kembali menyerang. Pandangan mulai menggelap. Kaki tak lagi mampu menyangga raga.


"Dad, Mom! Tolong bantu Vera membawanya ke Rumah Sakit," sayup-sayup suara Vera masih sempat terdengar hingga kesadaran hilang sepenuhnya.


😭


😭


😭


Bersambung~~


Siapakah kedua orang paruh baya yang mampu membuat hati Allesya bergetar?😊

__ADS_1


Terimakasih untuk para Readers kesayangan yang masih setia nyimak cerita recehku ini. Semoga bahagia selalu ya🤗🤗


__ADS_2