Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 58


__ADS_3


Tubuh gagah itu terhuyun pasrah membentur dinding di kala tangan kurus Allesya mendorongnya dengan kasar.


"Jauhkan tanganmu dari tubuhku!" serunya sedikit tertahan. Tidak ingin amarahnya memancing sebuah kericuhan.


Sean menatap nanar muka Allesya yang terlihat jauh dari kata bersahabat. Rona ceria, keramahan, dan penuh cinta yang dulu setia terpatri untuknya seolah sirna ditelan rasa sakit akan hati yang patah.


"Allesya, tolong dengarkan aku dulu..,"


"Buat apa kau menemuiku? Bukankah kau sendiri yang memintaku agar aku tak menampilkan mukaku lagi di depanmu setelah kejadian malam itu?" pungkasnya menggebu-gebu, membuat lidah Sean terasa kelu. "Ck! lagi-lagi kau sendiri yang mengingkarinya," decihnya kesal.


Sean mencoba meraih tangan itu. Sepasang tangan yang dulu pernah membelainya dengan segala itensitas cinta tak terbatas yang ditorehkan hanya untuknya seorang, namun tampikkan kasar sekali lagi ia terima memberikan sayatan perih di hatinya.


Sayatan kian melebar di kala Allesya menangkup kedua tangannya tepat di depan muka sambil menegaskan sebuah permohonan berliput kebencian yang nyatanya masih ada hingga sekarang. "Aku mohon sekali kepadamu Tuan Sean Willson. Jangan temui aku lagi. Aku tidak ingin kau datang kembali di kehidupanku."


DEG!


Bagaimana mungkin ia mampu menuruti permintaan Allesya yang baru saja tertutur jelas dan tegas itu? Bukankah itu sama halnya ia menjatuhkan dirinya kembali ke dalam palung derita dan menggila karena siksaan dari rasa sesal yang menggerogoti jiwa dan raganya selama ini?


Tidak! Itu tidak akan terjadi lagi. Mungkin Dulu Allesya yang selalu mengejar cintanya dan kini biarlah dia yang balik mengejar, menggantikan peran Allesya. Tekatnya tertancap mantap.


"Maafkan aku Allesya. Aku sungguh menyesal. Biarkan aku memperbaiki semuanya," memelas belas kasih serta kemurahan hati Allesya, melupakan kewibawaannya sebagai pemimpin tertinggi di kerajaan bisnis Willson Corp yang selalu dijunjung tinggi oleh para bawahannya. Menyisihkan harga diri sebagai seorang pria idaman incaran para kaum hawa berwajah cantik bak barbie, berjari lentik bak penari dan bertubuh seksi bak gitar spanyol.


Baginya, semua itu tidak lebih penting selain mendapatkan kembali hati Allesya. Hati seorang wanita yang membuatnya kecanduan. Dan hanya wanita pemilik mutiara hazel itu yang mampu menjadi obat untuknya.

__ADS_1


"Aku bukanlah manusia berhati Ibu Peri Tuan. Begitu mudah memaafkan dengan sekali membuka mulut. Jadi jangan paksa aku untuk melakukan sesuatu yang begitu sulit aku lakukan," tandasnya dengan tatapan tajam berselimut kebencian.


"Sungguh, ini bukanlah Allesya yang dulu. Dimana binar mata hangat dan penuh cinta itu? Aku seperti tidak mengenalinya," kesah suara hati Sean.


"Baiklah aku tidak akan memaksamu untuk memaafkanku, tapi jangan suruh aku pergi dari kehidupanmu karena aku tidak akan mampu."


"Kalau begitu biar aku yang pergi dan kau cukup berdiri pada posisimu," tangan mendorong tubuh besar yang menghadang akses jalannya. Mengambil langkah cekatan, menyegerakan keinginan untuk pergi menjauh.


"Ahk! Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!" ayunan kaki yang baru terlaksana tak lebih dari tiga langkah terpaksa harus terhenti karena sepasang tangan membelenggu posesif tubuhnya dari belakang membuat ia tak berkutik.


"Jika kau pergi maka aku akan terus mengejarmu, tidak peduli meski kau mengancam akan membunuhku sekalipun, aku tidak akan berhenti," semakin mengeratkan lilitan tangannya, tak menghiraukan wanita yang direngkuhnya tengah meronta minta dilepas. Sean malah menenggelamkan mukanya pada ceruk leher Allesya. "Allesya, ku akui kesalahanku padamu sudah terlampau fatal dan selama ini aku sangat tersiksa karena dihukum oleh penyesalan yang tak ada habisnya," suaranya bergetar karena dorongan rasa yang rancu di dalam dada.


Pengakuan dosa Sean seolah tak mampu mencairkan hati yang telah membeku. Allesya masih diam tak bersuara. Tubuhnya justru tercekat diiikuti mata yang mengerjap dalam karena sensasi hangat napas Sean menyapu lembut kulit lehernya. Dia bahkan bisa merasakan getaran dada Sean yang menempel di punggungnya.


Dilerai lilitan tangan yang sedari tadi membelenggu tubuh kecil si Wanita. Tangan memutar tubuhnya hingga tersuguhkan muka cantik yang sudah tersapu deraian air mata.


NYUT..!


Linangan yang terus menganak sungai di muka cantik Allesya turut mengundang kepedihan bagi Sean. Hati tergerak untuk menghempas jauh-jauh cairan bening yang tiada sopan meninggalkan jejak.


PLAK!


Tampikkan kasar pada tangan Sean kembali terulang. Sebagai wujud dari tindakan peringatan bahwa Allesya bersungguh-sungguh akan perkataan tegasnya, jauhkan tanganmu dari tubuhku.


"Kau selalu bertindak sesuka hatimu. Menyakitiku ketika kau ingin. Mengusirku setelah merasa puas. Dan sekarang kau datang dengan membawa segala keegoisanmu tanpa memikirkan perasaanku," cercanya di sela serentetan kekecewaan yang kian membumbung ke ubun-ubun. Disusul tangan yang mengusap bingkai netra basahnya. "Aku tidak ingin kau usik, jadi aku mohon sekali lagi dengan sangat, jangan temui aku," tandasnya dengan sangat gamblang. Bahkan anak sekolah dasarpun bisa memahami makna kalimat sederhana tersebut.

__ADS_1


Sean menyugar kasar rambut blondenya, begitu frutrasi akan kekerasan hati Allesya yang baru kali pertama ia lihat selama mengenalnya. Wajah tampan yang kian tirus karena kelelahan dan kurang tidur itu sungguh terlihat menyedihkan. "Sudah aku katakan Allesya... Jangan paksa aku untuk menjauhimu. Sekali saja, beri aku kesempatan untuk memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki. Mengobati apa yang terluka, dan mengembalikan apa yang telah ku hilangkan."


Tersenyum getir karena ucapan Sean terdengar sangat konyol. "Berhentilah berkata yang jelas-jelas akan berujung pada sebuah bualan semata."


"Allesya...," lirihnya pasrah karena lidah sudah tak sanggup harus berkata apa lagi yang mampu meluluhkan hati Allesya.


Allesya memutar tumit hingga membelakangi Sean, benar-benar berniat menghilang dari sana hingga akhirnya ia dibuat terperanjat karena kedatangan seseorang yang terlihat tak bersahabat. Dia adalah si Pencopet yang aksinya sempat digagalkan oleh Allesya. "Akhirnya aku menemukanmu wanita j*lang," menyeringai iblis. "Kawan-kawan cepat kemarilah. Mangsa kita berada di sini," teriaknya memberi sinyal pada yang lain agar segera berkumpul.


Sedangkan Sean yang tak kalah terkejut gegas menarik dan menyembunyikan tubuh Allesya di balik punggung lebarnya ketika susulan segerombolan berandal datang dengan senjata di tangan mereka. "Mau apa kalian?!"


"Aku ingin memberi pelajaran pada wanita itu. Karena gara-gara dia, kami jadi gagal berpesta malam ini," terangnya seraya menyeringai.


❀


πŸ’›


πŸ’š


Bersambung~~


Maaf bab kali ini sedikit pendek. Kerena mata sudah tidak bisa ajak kompromi. Dari tadi ngetik hpnya jatuh melulu karena Nofi terus-terusan ketiduran.


Terima kasih karena selalu mendukung ceritaku. Teruslah bermurah hati, maka para Author akan senangπŸ₯°πŸ₯°


Lop you super...😘😘

__ADS_1


__ADS_2