
PERINGATAN KERAS! MENGANDUNG ADEGAN PANAS +21. HARAP BACA DENGAN BIJAK🙏
Allesya terus berusaha menyeimbangi langkah lebar Sean yang membuatnya beberapa kali hampir terjatuh.
"Masuk!" tubuh yang masih terasa lemah itu terjingkat karena suara bentakan. Membuatnya pasrah dan menuruti titah Sean untuk masuk ke dalam mobil.
BRAK!
Sekali lagi Allesya terlonjak kaget karena suara bantingan pintu mobil di sebelahnya. Sepasang mutiara hazelnya mengikuti pergerakan Sean yang memutari badan mobil dan menyusulnya masuk ke dalam.
CETEK!
Allesya sedikit terkesiap ketika Sean menekan tombol c**entral door lock yang terletak pada pintu mobil di samping kemudi seolah tak membiarkannya untuk kabur.
"Kak.., kau akan membawaku kemana? Kak Allesya mohon antar aku pulang sekarang. Nenek sedang membutuhkanku sekarang," pintanya sepenuh hati.
Sungguh, kecemasan akan keselamatan Fanne sedang merundungi hatinya saat ini. Bagaimana keadaan Nenek? Apa dia baik-baik saja? Nenek pasti kesakitan. Ya Tuhan, Allesya mohon lindungi Nenek. Ia terus saja berkelut dengan pikirannya yang sedang kacau seraya menguntai kalimat doa kepada Tuhan.
"Kak Sean.. Allesya mohon.."
"Diamlah!" sentak Sean, melirik tajam ke arah Allesya dan kembali fokus pada pekatnya jalanan kota London.
Jatuh sudah bulir-bulir kristal dari telaga bening cantiknya. Sikap Sean kali ini membuat hatinya semakin teriris. Luka lama belumlah mengering namun harus kembali basah karena sayatan benda tajam.
Perhatian Allesya langsung teralih pada deringan benda pipih yang berada di dalam tasnya. Sedangkan Sean kian memasang mimik muka geram karena terusik akan jeritan panggilan telepon.
Di usap kasar cairan bening yang membuatnya terlihat lemah. Tangan lemahnya gegas merogoh ponsel dan berniat menerima panggilan yang ternyata dari Arthur.
"Halo Kak Arthur," baru sepatah kata yang baru terucap lagi-lagi Sean bertindak kasar.
GREP!
BAK!
"Aahhk!" Allesya tekejut karena Sean merampas kasar ponsel dari tangannya dan melempar ke bangku mobil belakang.
"Kak..! Apa yang telah kau lakukan?!" sentaknya yang mulai terpancing amarah.
"Diamlah!"
"Tidak! Aku ingin turun sekarang!"
"Jangan harap!"
"Turunkan aku!" Allesya berupaya membuka pintu mobil namun usahanya berakhir sia-sia karena pintu terkunci.
°°°
Arthur membawa kendaraan roda empatnya dengan perasaan kacau. Begitu berat yang dia panggul. Meski keputusan untuk membeber semua kejahatan Reymundo dan Inggrid adalah sesuatu yang paling tepat dan benar, namun tak menyurutkan rasa bersalahnya sebagai putra.
Hingga kaki menginjak rem mobil tepat di depan sebuah pelataran rumah sederhana, ia menghalau pergolakan otaknya. Seperti biasa, kali ini hanya Fanne dan Allesya lah yang bisa menampung segala keluh kesahnya. Di tambah lagi hangatnya pelukan sang Nenek yang tersirat akan kasih sayang memang selalu sukses menjadi obat pelipur laranya.
Sepasang kaki jenjang yang masih berbalut celana kerja dibuatnya melangkah antusias menuju pintu rumah. Berharap, sebuah rengkuhan tangan dan senyuman hangat sang Nenek langsung menyambutnya di saat pintu terbuka.
__ADS_1
Ting tong..! Ting tong..!
Cukup lama Arthur menunggu terbukanya pintu setelah menekan tombol bel pintu.
Ting tong..! Ting tong..!
Masih seperti sebelumnya, jeritan suara bel pintu tak juga bersambut dari dalam. Mungkin Nenek sedang tidur sehingga tidak mendengarnya. Pikirnya tanpa melibatkan bayangan negatif lainnya.
Ceklek!
"Ternyata pintunya tidak dikunci," gumamnya disusul tangan mendorong daun pintu.
Seketika keterkejutan menghantam jiwanya. Menyaksikan sebuah pemandangan yang begitu menyedihkan.
"Nenek...!" teriaknya seraya berhamburan mendekati Fanne yang terkulai di atas lantai.
Tubuh dingin dikelilingi genangan darah di lantai membuat Arthur panik tak terkira. Gegas ia perikasa napas dan denyut nadi Fanne namun tiada tanda-tanda kehidupan. Diguncangnya tubuh Fanne yang sudah terbujur kaku berharap sang Nenek kembali membuka mata meski mustahil.
Pupus sudah impiannya hari ini untuk merasakan pelukan hangat sang Nenek. Tidak akan ada lagi belaian kasih sayang tulus dari tangannya kelak. "Nenek...!"
Hancurlah sudah hati seorang cucu disusul sebuah rasa kehilangan, membuatnya tak kuasa menahan isak tangis yang seketika pecah.
Selang beberapa waktu, rumah Fanne sudah dikelilingi police line. Beberapa petugas kepolisian tampak melakukan beberapa prosedur proses penyidikan yang berkaitan dengan kematian Fanne.
Sementara itu, Arthur ikut mengantar jenazah Fanne ke pihak instalasi kedokteran fosensik untuk mengumpulkan bukti medis penyebab kematian hingga mempermudah polisi mengevaluasi informasi dari investigasi.
Masih berselimutkan duka, Arthur berkali-kali mencoba menghubungi Allesya namun sekalinya tersambung tiba-tiba panggilan terputus begitu saja. Membuat kegusaran semakin melanda.
"Allesya.. sebenarnya kau di mana?" hatinya begitu resah. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana terpukulnya Allesya jika mengetahui Nenek kesayangannya meninggal dengan cara mengenaskan.
°°°
"Kyaakk! Turunkan aku!" Allesya memberontak sekuat tenaga ketika Sean memanggul tubuhnya seperti karung beras menuju ke sebuah kotak lift khusus pelanggan VIP apartemen. Iya, Sean memang sengaja membawa gadis itu ke apartemen pribadinya.
"Aaahhhk!" sensasi denyutan di kepala semakin terasa mencekam ketika Sean melempar tubuhnya ke atas ranjang berukuran besar.
"Kak.., kau mau apa?" dengan bersusah payah dibawanya tubuh lemah itu beringsut mundur hingga membentur headboard ranjang. Sungguh ia sangat panik saat ini. Di tambah lagi dengan kondisi kesehatan yang sedang tak bersahabat, membuatnya kian ketakutan.
"Kau harus membayar atas semua perbuatan kedua orangtuamu Allesya," nadanya terdengar dingin, sedingin hembusan angin malam di musim salju.
Sorot mata memangsa tak dibiarkan lepas dari Allesya yang terlihat seperti kelinci kecil memohon untuk dibebaskan. Seolah membuat Reymundo dan Inggrid membusuk di dalam penjara belum cukup memuaskannya. Kali ini ia juga ingin melampiaskan kemarahannya kepada putri mereka. Tanpa ia ketahui status hubungan Darah Allesya yang sebenarnya.
Rasa sayang yang terlalu besar kepada sang Mama, membuatnya tidak ada akan tinggal diam jika ada tangan-tangan usil yang menyakiti. Siapapun itu dan apapun bentuk rupanya.
Gadis itu semakin panik ketika Sean menanggalkan satu persatu kancing kemeja kerjanya kemudian lanjut melepas ikat pinggang yang melingkari tubuhnya. Ia melangkah lebar mendekati Allesya yang tengah meringkuk di atas ranjang.
"Aakkkhh! Kak Sean jangan!" pekik gadis itu dan berusaha menjauh ketika tangan besar Sean mencoba meraih kancing blouse yang membungkus tubuhnya. Namun upaya kerasnya itu nyata sia-sia.
KREEKK...!
Sean menarik kasar kain blouse itu hingga semua kancing melompat dari peraduan. Sorot matanya mulai berkabut *****. Dua buah gundukan sintal di balik bra begitu menggoda.
"Aahhhk.. Jangan Kak!" tubuh yang bergetar dibawanya melompat dari ranjang.
BRUK!
__ADS_1
Namun tubuhnya tiba-tiba ambruk dengan sendirinya di atas lantai. Niat hati ingin malarikan diri namun kedua kaki sudah terlampau lemah meski hanya sekedar menopang tubuh kecilnya. Hati kecil Allesya berkali-kali merutuki dirinya sendiri karena kepayahan datang di saat yang tidak tepat.
"Jangan coba untuk kabur Allesya," diangkatnya tubuh kecil Allesya dari lantai dan dilempar ke atas ranjang.
"Aahhk! Kak jangan..! Aku tidak mau!"
SREK...!
Tak mengindahkan teriakannya, Sean melucuti satu persatu kain yang membungkusi tubuh Allesya hingga terpampang sudah tubuh polosnya di depan mata. Sean lanjut mengungkungnya dengan posesif dengan satu tangan mengunci kedua tangan Allesya ke atas.
"Tidak! Kak Sean tak boleh melakukan itu!" ditutupi sebisanya kedua aset gunung kembarnya dengan tangan menyilang di dada.
Alih-alih mendengarkan atau merasa iba dengan wajah melas Allesya, Sean yang sudah terbakar amarah kebencian bercampur gairah yang memanas ******* kasar bibir ranum menyandukan baginya.
"Hmmp! Hmmp!"
Dengan kekuatan yang tersisa tubuh dibuat menggeliat dan meronta, diikuti kaki yang bergerak-gerak di bawah tubuh kekar Sean, namun perlawanannya sungguh tak berarti apa-apa bagi pria yang sudah silap mata itu.
"Aahhkk! Allesya mohon jangan lakukankan itu Kak!" pintanya mengiba di kala Sean melepas pagutannya.
Sean masih tak menghiraukan rintihan Allesya. Dia justru semakin menggila. Memainkan bibir dan lidah di lehernya, mencetak banyak tanda kissmark di sana hingga bibirnya terus turun dan bermuara di atas buah dada yang terlihat menegang seolah mendambakan permainan lidah.
"Aahhkk! Kak hentikankan!" Allesya kian pasrah akan cumbuan kasar Sean. Dia sudah kehabisan tenaga untuk kembali meronta. Rasa pusing di kepala kian berdenyut hebat.
JLEB!
"Aahhhhkkk! Kak sakitt!" tubuh Allesya tersentak hebat ketika Sean memasukinya dengan sekali hentakan.
Tes..
Bulir-bulir kristal seketika terjun indah dari telaga beningnya. Menangisi mahkota kesucian yang selama ini ia jaga baik-baik direnggut dengan cara yang begitu rendah.
Sedangkan Sean, ia sempat tertegun karena menyadari bahwa ini adalah pengalaman pertama bagi Allesya, yang berarti dia adalah pria beruntung karena mendapatkan kesuciannya.
Tak menghiraukan Allesya yang tengah kesakitan, Sean terus menghujam milik Allesya yang terasa begitu sempit dan menjepit. Entah mengapa, permainan panasnya bersama Allesya memberikan rasa yang berbeda. Tidak pernah ia temui rasa yang begitu memabukkan ketika ia menjajah tubuh wanita lain.
"Tubuhmu memang berbeda Allesya," racau Sean dengan suara yang terdengar berat karena gairah sudah sampai ke ubun-ubun.
"Hiks! Hiks! Kak sakit..!" Allesya terus merintih ketika sesuatu keluar masuk di bawah sana.
"Aahhh! Aahhh..!" des*han demi des*han terdengar sebagai tanda Sean begitu menikmati kegiatannya.
"Hiks! Hiks!"
"Aaaahh..! Aaaaaaahh..!" Sean semakin mempercepat ritme pergerakan hingga pistolnya menembakkan cairan benih-benih kehidupan di dalam rahim Allesya sebagai tanda puncak kenikmatan yang telah lama tidak ia rasakan.
😔
😔
😔
Bersambung~~
Poor Allesya..😔 Kira-kira apa yang akan terjadi dengan mereka selanjutnya ya? Terus pantau ya🥰 Terima kasih😘😘
__ADS_1