
Pandangan mata Arthur dan Vera mengantar kepergian Sean dan Allesya setelah melakukan perbincangan singkat sebagai bentuk tegur sapa. Hingga siluet sepasang kekasih itu menghilang dari pengelihatan, Arthur gegas mengalihkan seluruh atensinya ke arah Vera yang semalaman tak diketahui keberadaannya, membuat ia kelimpungan mencarinya.
Yakin ada yang salah dengan sikap wanitanya, dibawa tubuh jenjangnya bersimpuh di depan Vera yang masih dalam posisi duduk. Melabuhkan tatapan penuh perhatian serta tanda tanya besar. "Vera, kemana saja kau semalaman? Tidak seperti biasanya kau pergi tanpa kabar. Kau membuatku bingung mencarimu," tanya Arthur sekaligus mengungkapkan kecemasan yang dirasa.
Tiada kemarahan ataupun kekecewaan yang tersirat pada sorot kedua mata teduhnya kendati Vera pergi semalaman tanpa ijin. Hanya kepedulian, ketulusan, dan cinta yang benar murni adanya, menyelubung segala bahasa tubuhnya.
"Vera ... katakan ada apa?" sungguh, Arthur tak tahan menghadapi kebisuan istrinya. "Apa aku telah menyakitimu?" kerisauannya kian melejit saat netra almond Vera mulai mengembun. Membuat Arthur semakin yakin bahwa sesuatu yang buruk tengah merundung hati kekasihnya tersebut.
"Arthur, apa kau bersungguh-sungguh mencintaiku?" itulah ungkapan hati yang pertama kali terlontar dari bibir Vera. Suaranya terdengar bergetar, karena menahan gejolak rasa yang siap ditumpahkan.
Tatapan lekat dilabuhkan ke arah Vera. "Tentu saja aku mencintaimu, Vera. Itulah sebabnya aku menikahimu, meski terkesan mendadak tapi sungguh aku sangat mencintaimu," terang Arthur apa adanya.
Netra almond itu, mencoba menggali secercah kebohongan pada netra teduh sang Suami, namun hanya ketulusan yang ia dapati. Ia pun mencoba menyingkap hati, meluapkan segala sesak di dada yang bagaikan terbelenggu kawat besi.
"Kemarin ... aku melihatmu menemui seorang anak kecil dan wanita hamil," suaranya tercekat, didera ketakutan akan kemungkinan jawaban dari Arthur yang bakal sulit ia terima. "Sebenarnya apa yang telah kau lakukan di belakangku selama ini? Jujur aku takut kau membohongiku," imbuhnya kembali bersamaan bulir-bulir kristal yang mengurai ke pipi.
DEG!
Jantung berdnenyut karena terkejut, Arthur tidak menyangka bahwa Vera bisa tahu secepat itu sebelum ia menjelaskannya terlebih dahulu. Meski tampaknya, ketahuan Vera belum sampai menyangkup semuanya.
Mengangkat tangan besarnya guna merangkum muka kecil Vera, sejurus tatapan dalam meyakinkan. "Maafkan aku, Vera. Aku harap kau mau mendengarkan ceritaku dulu."
"Kenapa kau meminta maaf? Apa kau memang sudah melakukan kesalahan?" Sela Vera di dalam isakkan tangisnya. "Arthur ... jangan bilang kalau prasangkaku ini benar, bahwa kau," ucapan Vera terpotong karena selaan Arthur.
"Vera ... Vera ... dengarkan aku dulu, aku mohon," menjeda perkataan sesaat, menyiapkan serangkaian kata yang sekiranya pantas dan bisa langsung dipahami oleh Vera yang tengah bersendu. "Aku terpaksa membawa mereka masuk ke dalam bagian hidupku, karena aku telah melakukan sebuah kesalahan fatal," terangnya.
Ekspresi penuh tanya terpasang jelas di muka Vera. 'Kesalahan apa yang telah diperbuat sang Suami sehingga harus menjadikan kedua anak dan istri menjadi bagian hidupnya?' itulah pertanyaan besar yang bersemayam di otaknya saat ini.
"Maksudmu apa Arthur?"
"Sebenarnya ... ," sepasang bibir yang sudah terbuka terpaksa harus kembali terkatup karena ponsel yang berdering nyaring.
"Marry," lirih Arthur setelah membaca tulisan yang tertera di layar ponselnya dan gegas menerima panggilan.
"Halo?"
( ... )
"Kau kenapa?"
( ... )
"Apa?!"
__ADS_1
( ... )
"Baiklah, aku segera ke sana sekarang."
Cepat-cepat Arthur tutup panggilan telepon tersebut, menyisakan reaksi kecemasan. Lanjut melihat ke arah Vera yang sudah memasang muka keheranan sedari tadi.
"Sebaiknya kau ikutlah denganku sekarang, Vera."
°°°
Raut muka masam Allesya terus mengiringi sepanjang perjalanan mobil yang dikemudi Sean. Menarik minat Sean untuk sesekali melirik ke arah sosok yang terus melempar perhatiannya ke pemandangan luar jendela.
"Allesya ... sampai kapan kau akan menekuk mukamu seperti itu?" tanya Sean tanpa mengurangi itensitas kefokusannya dalam mengemudi.
"Aku akan tetap seperti ini hingga Kak Sean mengingat hari ini hari apa," sungut Allesya.
"Aku sudah ingat."
Mimik muka berseri seketika terpancar. "Benarkah? Katakan sekarang hari apa?"
"Sekarang hari sabtu, benarkan?" sebuah jawaban sekaligus pertanyaan terangkum jadi satu dengan mengaitkan muka serius akan jawabannya.
Menguap begitu saja, muka berseri Allesya kembali bertekuk hingga kusut seperti popok bayi yang baru saja dibuat mainan anjing. Jawaban Sean tak memuaskan hatinya. Kesal yang dirasa semakin merayap. "Kau ternyata benar-benar tak mengingatnya," lirihnya.
"Sudah lupakan, karena aku juga mendadak lupa," dengus Allesya kesal.
Heran karena baru menyadari bahwa mobil yang membawa mereka tidak berada di jalur menuju ke kediaman. "Kak Sean, kita mau kemana?"
"Ke suatu tempat. Ada hal penting yang harus aku lakukan terlebih dahulu."
"Sangat pentingkah?"
"Hm."
"Dia bahkan melupakan hari pentingku," gumam Allesya di dalam hati.
Roda kuda besinya terus menjajah pekatnya jalan kota London. Hingga mereka berhenti di sebuah heliport yaitu sebuah bandara kecil yang hanya cocok digunakan transportasi udara helikopter.
"Kak Sean, kenapa kita berada di sini?"
"Kau ikuti saja, Allesya," meraih tangan mungil si Wanita dan menuntunnya naik ke dalam helikopter.
Terlihat Sean membantu Allesya memasang seatbelt dengan benar. "Kau harus memakai ini juga," ucap Sean kembali membantu wanitanya mengenakan headphone yang dilengkapi dengan microphone untuk berkomukasi di saat penerbangan serta untuk menghindari kerusakan alat pendengaran karena suara baling-baling helikopter yang tentu akan memekakkan telinga.
Ada rasa kagum dan terpesona di kala mata cantik itu menyaksikan keindahan sebuah daratan pulau kecil yang dilihat dari atas ketinggian 2.500 m. Sebuah pulau yang terlihat berumput hijau, bertepi pantai berpasir putih serta birunya air laut yang mengelilingi. Sungguh pemandangan alam yang eksotis.
__ADS_1
"Kak coba kau lihat pulau itu, jika dilihat dari sini bentuknya seperti selembar kain yang mengambang, unik sekali," gurau Allesya.
"Pulau itu adalah tujuan perjalanan kita, Allesya," sahut Sean, merangkul hangat pundak kecil sang Istri. Sesekali mengecup sayang pucuk kepala yang menguarkan aroma vanilla tersebut.
Sekali lagi, binar mata Allesya kembali terkagum saat sebuah bangunan vila bergaya elegan, dikelilingi halaman rumput hijau serta taman bunga yang cantik seolah menyambut kedatangannya.
"Ayo kita masuk dulu," ucap Sean menggiring tubuh kecil yang sempat memaku.
"Selamat datang Tuan dan Nona," sambut ramah seorang pria tua namun berpenampilan sangat rapi. Ia bertugas mengurus bangunan vila.
Sean mengangguk kecil. Sementara Allesya tampak mengulas senyum sebagai balas sambutan.
"Apa kalian sudah menyiapkan semuanya?" tanya Sean kepada pria tua tersebut.
"Semuanya sudah kami siapkan sesuai dengan perintah Tuan," lapornya.
"Bagus."
"Kalau begitu, saya antar Tuan dan Nona sekarang."
"Baiklah."
"Mari Tuan."
"Kak Sean sebenarnya kita untuk apa datang kemari?" tanya Allesya di sela langkah mengikuti pria tua tersebut.
"Sebentar lagi kau akan segera tahu, Allesya. Jadi diamlah, jangan banyak tanya."
"Hish! Kau seharian sangat sangat sangat menyebalkan." cebik Allesya.
❣
❣
❣
Bersambung~~
Terima kasih ya masih sstia nyimak cerita Sean dan Allesya🥰
Jangan lupa, bejed-bejed itu tombol like setelah/sebelum membaca ya. Tinggalkan komen agar Nofi tahu eksistensi kalian😆
Nggak kerasa ya udah senin lagi... aku intip-intip 1 vote mingguan kayak melambai-lambai minta dihibahkan ke Sean dan Allesya😆
wo ai nimen😘
__ADS_1