Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 47


__ADS_3


Di salah satu fasilitas ruang rawat inap St. Thomas' Hospital. Raffaela duduk di sebelah ranjang tempat Allesya terbaring. Ditatapnya muka pucat yang tengah terlelap tersebut. Mencoba mengartikan ritme getaran di dada yang sedang melanda. Dari pertama kali pertemuannya dengan Allesya di makam, di saat itu pula sebuah rasa yang tak biasa berkecambah. Seolah ada seutas benang tak kasat mata yang berkesinambungan antara hatinya dan hati si Gadis.


Kriukk..! Kriukk..! Kriuk..!


Raffaela terpaksa menghentikan lamunannya di kala suara berisik menyeruak ke dalam indera pendengarannya. Diputar lehernya ke arah sumber suara dengan mimik muka setengah kesal karena suasana yang semula mellow harus ambyar seketika.


"Vera, apa mulutmu sama sekali tidak lelah dibuat menggiling makanan terus? Apa kau ingin mukamu berubah seperti babi?"


"Hishh! Kenapa setiap bertemu, Mommy selalu menyumpahiku. Tenang saja badanku tidak akan gemuk seperti babi," celetuknya yang masih gencar mengunyah cihky rasa keju kesukaannya.


Raffaela menggelengkan kepala seraya berdecak. "Apa putri Mommy ini sudah lupa, satu bulan yang lalu jauh-jauh datang ke paris hanya untuk mengadu sembari menangis pilu di depan Mommy gara-gara berat badanmu bertambah 100 gram?" cibirnya lalu kembali memutar tubuhnya ke arah Allesya. Mengamati kembali muka pucat Allesya yang masih terlelap.


Ceklek!


Daun pintu ruangan terbuka disusul sesosok pria menyembul dari luar. Raffaela gegas memutar kembali tubuhnya ke arah belakang. "Raffaresh, kau sudah kembali?"


"Daddy, apa kau membawa makanan?" mulut yang hampir menyahut mendadak kembali mengatup karena Vera menyela.


Raffaresh tampak menyapu pemandangan di depannya. Beberapa bungkus chiky serta junk food sudah berserakan di atas meja tapi bisa-bisanya Vera masih menanyakan makanan. "Stop lakukan itu Vera, Daddy tidak ingin putri cantik Daddy ini berubah seperti anak bebek yang obesitas," kelakar Aresh.


"Ck! Ternyata Daddy dan Mommy sebelas dua belas, hobi sekali menyumpahi putrinya sendiri. Oke..oke.. Vera berhenti makan," sungut Vera tersinggung dengan meletakkan bungkus chiky di atas meja.


"Kau berhenti makan karena sudah tidak ada lagi yang bisa kau makan Vera," Aresh terkekeh begitu juga dengan sang Istri.


Setelah merasa puas menggoda sang Putri, Aresh beralih memandang teduh muka Allesya. "Bagaimana keadaannya?" tanyanya ke Raffaela.


"Keadaannya sudah mendingan. Suhu badannya juga sudah menurun. Dia tadi sempat tersadar hingga akhirnya kembali tertidur karena efek suntikan obat yang diberikan dokter," terangnya.


"Syukurlah."


"Untung saja tadi kita datang di waktu yang tepat. Coba saja kalau kita tidak jadi mengunjungi makam Nenek dan Kakek hari ini, pasti dia sudah tiduran di atas tanah kawasan pemakaman," sela Vera di sambut respon senyuman simpul oleh Raffaresh dan Raffaela.


"Oya Aresh, bagaimana? Bukankah kau dan Erick tadi pergi untuk mencari tahu asal usul gadis ini? Dan kemana Erick sekarang? Kenapa ia tidak kembali bersamamu?" pertanyaan beruntun langsung tertuju kepada sang Suami.


Aresh pria berdarah Perancis itu mengulas senyuman tipis dengan tatapan teduh namun menyimpan begitu banyak pikiran. "Apa kau ingat dengan Reymundo dan Inggrid?"


Kedua pangkal alis itu mengerut hampir menyatu. "Tentu saja aku ingat, Reymundo adalah mantan direktur keuangan yang telah kau pecat secara tidak hormat karena terlibat kasus penggelapan uang perusahaan, sedangkan Inggrid adalah istrinya namun berosebsi tinggi untuk menggantikan posisiku sebagai istrimu," ungkap Raffaela.


"Dari informasi yang aku dapat. 17 belas tahun yang lalu, Reymundo dan Inggrid membawa pulang gadis ini. Dan sangat disayangkan ternyata gadis ini selalu mendapat perlakuan buruk dari mereka," beber Rafaresh memandang iba Allesya.


"Apa? 17 belas tahun yang lalu bukankah bertepatan dengan peristiwa kecelakaan yang merenggut nyawa Papa dan Mama serta hilangnya bayi kecil kita? Mungkinkah semuanya didalangi oleh Reymundo dan Inggrid? Mereka menculik bayi kita sebagai alibi untuk balas dendam," Raffaela tak mampu menutupi keterkejutannya diselingi asum-asumsi yang saling berkaitan. Ditatapnya kembali muka Allesya. "Aresh, apakah mungkin dia benar-benar putri kita?"


"Dua hari yang lalu Erick telah mengambil sempel darah Vera dan gadis ini untuk dicocokkan DNAnya, jadi kita tunggu kepastiannya hingga hasil tesnya keluar," Aresh menjeda penjelasannya, memberi kesempatan pada dirinya untuk menghela napas. "Dan untuk perihal Reymundo dan Inggrid, aku akan segera menemui mereka untuk meminta kejelasan lebih lanjut," terangnya kembali.


"Di mana mereka sekarang?"


"Mereka sekarang sedang menjalani hukuman di penjara Wakefield atas tuduhan kasus penyabotasean kendaraan milik anggota keluarga Willson yang menyebabkan kecelakaan. Selain itu Reymundo juga terjerat kasus pembunuhan di mana korban adalah mantan mertuanya yang tak lain orang yang merawat gadis ini."


Raffaela terkejut mendengar kabar yang disampaikan Aresh. Pasalnya dia sangat mengenal anggota keluarga Willson. Aresh sang Suami bahkan salah satu penanam saham terbesar di perusahaan Willson Corp. "Ya Tuhan... siapa yang menjadi korbannya?"

__ADS_1


"Sarah, sahabat kita. Dia juga sedang dirawat di Rumah Sakit yang sama."


°°°


Jenny masih setia melayangkan tatapan menuntut ke muka Allesya yang tampak menimbang-nimbang sesuatu.


"Di ruangan ini tinggal ke berdua saja, jadi berceritalah. Kakak yakin kau tengah menyembunyikan sesuatu," cerca Jenny yang memang sejak semalam ketika Jeffrey membawa pulang Allesya sudah merasa curiga akan penampilannya yang sangat memprihatinkan.


Rambut kusut, wajah lesu, kancing blouse yang lepas semua serta cara jalan Allesya yang terlihat berbeda. Ditambah lagi asumsi Jeffrey akan kejanggalan yang ia lihat kian meyakinkan Jenny bahwa sesuatu yang buruk telah dialami Allesya.


"Siapa yang melakukannya Allesya?"


Gadis yang masih berstatus sebagai pasien Rumah Sakit tersebut sontak mengangkat muka yang sempat ia sembunyikan. "Kak Jenny..." lirihnya, lidah terasa berat untuk bercerita.


"Alle, siapa yang melakukannya? Aku bisa melihat ada yang janggal pada dirimu. Kau berkali-berkali meringis kesakitan ketika berjalan. Dan aku juga bisa melihat ini semua semalam," Jenny membuka paksa beberapa kancing kemeja yang dikenakan Allesya. Mengabsen satu persatu tanda-tanda merah yang bertebaran di buah dada yang diyakini bekas ciuman seseorang.


"Hiks! Hiks! Alle bukan wanita murahan Kak? Alle..,"


"Siapa yang memperk*samu?" tukas Jenny. Dia sangat tahu Allesya adalah gadis yang selalu menjaga kesuciannya selama ini.


Meski di negara yang menganut sistem liberal seperti Inggris bahwa free s*x adalah sesuatu yang biasa. Namun ada juga sebagian dari warganya tetap berpegang teguh dalam suatu opini bahwa wanita wajib menjaga kesuciannya hingga menikah.


"Apakah Sean orangnya?" sepertinya tebakan Jenny tepat sasaran ditandai tangis Allesya yang mulai pecah.


Dipeluknya tubuh lemah yang berguncang hebat tersebut. Mencoba menenangkan Allesya yang masih terkungkung oleh kesedihan. Jenny sungguh tak percaya, bahwa Sean yang selalu ia pandang sebagai pria baik bisa melakukan tindakan pelecehan s*ksual kepada Allesya.


GREP!


Tanpa mereka sadari, sepasang tangan tengah mengepal erat di balik pintu ruangan. Hatinya memanas, terbakar oleh amarah yang hampir meledak karena tidak terima akan perlakuan yang didapatkan Allesya.


°°°


Di tempat parkiran Rumah Sakit. Sean seolah enggan turun dari mobil mewahnya. Kepala dia bawa untuk bertopang di atas benda bulat di depannya. Membiarkan otaknya berkutat pada pikiran yang terus berkecamuk tak karuan.


Kalimat terakhir Allesya sungguh mengusik ketenangannya. Dulu kau pernah berjanji untuk menjadi pria dewasa yang akan selalu melindungiku dan tidak akan membiarkan orang lain membuatku sedih bahkan menyakitiku.Tapi kau mengingkari janjimu. Nyatanya kau lah orang yang merusakku. Kau lah orang yang paling menyakitiku. Dan juga kau lah orang yang paling membuatku bersedih.


Berkali-kali ia paksa otak untuk bekerja keras dalam mengingat kapan dan di mana ia pernah berjanji seperti itu. Akan tetapi tetap tidak menemukan jawaban. Dia merasa tidak pernah berucap janji seperti itu kepada Allesya.


Dok! Dok! Dok!


Dok! Dok! Dok!


Sean sontak memutar lehernya ke samping mencari tahu siapa sosok yang baru saja menggedor kaca jendelanya dengan kasar. Ekspresi jengah seketika mewarnai muka tampannya di kala menyadari Arthur lah yang berada di luar kaca jendela mobil saat ini.


"Mau apa dia?" gerutunya seraya tangan mendorong pintu mobil dan membawa tubuhnya keluar.


BUG!


Sean yang belum ada persiapan sebelumnya mau tidak mau harus merasakan sakit di ikuti tubuh yang terhuyun ke samping karena satu pukulan dadakan mendarat tanpa sopan di mukanya.


Punggung tangan dibuatnya mengusap ujung bibir yang berdarah. Diarahkannya tatapan tajam yang siap melubangi muka Arthur yang ternyata sudah terlihat merah padam. "Beraninya kau memukulku?!

__ADS_1


BUG!


Satu pukulan keras melesat telak di muka Arthur sebagai balasan tak terimanya. Namun tiada ringisan kesakitan yang harusnya terlukis di muka orang yang baru saja terkena pukulan umumnya, seolah rasa sakit di hatinya karena bayang-bayang tangisan Allesya karena perbuatan mantan Kakak tirinya tersebut lebih menghujam dadanya.


Dengan mimik muka berselimut amarah yang kian meledak, dicengkramnya kerah kemeja Sean.


"Dasar kau bajingan! Berani-beraninya kau menyentuh tubuh Allesya! Harusnya kau pergi saja ke neraka!" berang Arthur menyisihkan sifat ramah dan lembut yang selama ini menjadi ciri khas karakternya.


BUG! BUG! BUG!


BUG! BUG! BUG!


"Mati saja kau!" teriaknya di sela aksinya melempari kepalan panas di muka Sean secara membabi buta.


BRUAKK!


"Aaargg..!" aksi naik pitam Arthur harus terhenti karena sebuah tendangan keras pada perutnya membawa tubuhnya terjerembab di atas tanah.


BUG! BUG! BUG!


Sean menduduki tubuh Arthur dan balik menyerangnya dengan tinjuan keras. "Kenapa?! Kau tidak terima hah?! Aku hanya memberi sedikit pelajaran kepadanya untuk membayar perbuatan kedua orangtuamu yang hampir membunuh Ibuku!"


BUG! BUG! BUG!


Arthur tampak berusaha keras menangkis serangan Sean yang berada di atasnya. "Kau harusnya berurusan denganku bukan dengan Allesya. Dia tidak ada sangkut pautnya dengan kedua orangtuaku! Kenapa kau malah menyakitinya yang sudah banyak menderita?!" hardiknya tak terima. Sungguh mengingat air mata sang Adik membuat hatinya pilu.


Sean sontak menghentikan serangannya dan gegas beranjak dari tubuh Arthur. "Apa kau ingin tahu apa kesalahan Allesya? Kesalahanya adalah karena dia anak dari manusia bangs*t penghancur kebahagiaan keluargaku!" ucapnya penuh penekanan.


Dengan susah payah Arthur mengajak tubuhnya berdiri tegap. "Asal kau tahu kalau Allesya itu sebenarnya,"


"Apa yang telah kalian lakukan?!" teriakan seseorang menghentikan perseteruan di antara kedua lelaki tersebut. Memutus kalimat Arthur yang belum sempat terucap semua.


"Apa kalian itu masih anak kecil?! Berkelahi di tempat umum!" hardik orang tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah Vera. Dipandangnya wajah Arthur yang sudah dihiasi luka lebam. "Kau sedang dicari, kembalilah ke dalam," ucap Vera.


Dengan berat hati karena belum puas menghajar Sean, Arthur pun memilih pergi. Membawa segala kedongkolan dan emosi yang belum sepenuhnya terluapkan.


PLAK!


"Kenapa kau menamparku?!" hardik Sean tidak terima karena tiada angin tiada hujan Vera tiba-tiba melayangkan sebuah tamparan panas di pipinya yang sudah penuh luka karena ulah Arthur.


"Itu sebagai bentuk balasan karena kau telah menyakiti Allesya."


"Ck! Sebenarnya apa yang telah dilakukan gadis itu, sehingga semua orang membelanya."





Bersambung~~

__ADS_1


Udah dulu ya, ni kepala migrainnya kumat. Sebenernya dah gk kuat liat layar ponsel tapi Nofi paksa.


Makasih dah mampir baca karya kentangku ini. Lop Lop superrr😘😘


__ADS_2