Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 95


__ADS_3


Awasss! Ada peringatan keras! Bocil dilarang baca.🤨


"Jika tadi aku datang padamu, aku tidak yakin bisa menepati janjiku untuk tidak menjajahmu," ucap Sean.


"Tidak apa-apa."


"Apa kau mengijinkannya?"


Kendati tak membalas tatapan Sean, namun sebuah anggukan kecil terlihat jauh dari kata ragu yang berarti Allesya telah membuka gerbang hati dengan lebar selebar-lebarnya. Memberi wewenang utuh kepada Sean untuk memiliki segala aset pada dirinya tanpa terkecuali.


"Kemarilah," mengulur tangannya dan langsung disambut Allesya. Menuntun tubuh ramping itu untuk singgah di atas pangkuannya.


"Beri aku waktu lima menit, pekerjaanku akan segera selesai."


Allesya mengangguk, diikuti tangan melingkari leher kekar dan meletakkan kepalanya pada ceruk leher Sean. Menghirup aroma maskulin yang menguar dari sana. Nyaman sekali, itulah salah satu bentuk ekspresi perasaannya.


Waktu lima menit yang diminta sudah berakhir ditandai dengan layar laptop yang sudah padam dan terlipat rapi. Sean menepati perkataannya, menyelesaikan sisa pekerjaannya dalam kurung waktu yang diminta.


Sebuah kecupan di pundak, membuat Allesya menarik kambali tubuhnya dalam posisi tegap. Memandang muka tampan yang juga melabuh pandang kepadanya.


"Apa aku membuatmu menunggu terlalu lama?"


"Iya, lima menit berasa lama kali ini bagiku."


Sean mengulas senyum yang begitu manis, menambah itensitas ketampanan bawaan lahirnya. "Maaf."


Sesaat suasana mendadak hening. Memperdalam tautan mata untuk saling menyampaikan isyarat hati. Hanyut dalam getaran dada yang beradu.


CUP!


Mengecup singkat bibir ranum Allesya sebelum lidah mulai berkata, mengurai keheningan. "Boleh?" tanya Sean dengan tatapan penuh syarat akan hasrat.


Mencari sebelah tangan kokoh yang melingkari perutnya, Allesya menuntunnya untuk merangkum salah satu buah peach miliknya. Lanjut kembali membalas tatapan intens manik biru Sean. Seolah bahasa tubuh yang baru saja diberikan sebagai jawaban dari pertanyaan Sean.


"Kau harus tahu, aku tidak akan bisa mengehentikannya nanti," Sean memberi peringatan, tidak ingin Allesya menyesal kemudian akan keputusannya.


"Iya."


Yakin sudah mendapatkan ijin resmi dari si pemilik, Sean mulai bergerak. Masih nyaman dengan posisi Allesya yang masih duduk di atas pangkuannya, tangan diajak melepas satu persatu kancing kemeja Allesya.


"Kau tidak mengenakan BH?" tanyanya berbisik, menatap kagum pemandangan gunung kembar yang sudah tak terhalang kain di depannya.


"Memamg sudah jadi kebiasaanku tidur tanpa mengenakan BH."


"Dan karena itu, setiap malam aku tersiksa," mer*mas-r*mas lembut benda kenyal di depannya.


"Sstt... Maaf. Itu tidak akan terulang lagi," jawabnya diiringi desisan karena sentuhan nakal Sean.


"Jika kurang nyaman bilang saja."


"Stt.. Ahh, Kak Sean..," des*h Allesya saat sesuatu yang hangat dan basah bermain-main di atas biji buah peachnya.


"Aku sangat menyukai milikmu ini," racau Sean di sela aksinya mencetak pola seni kupu-kupu merah yang tampak seolah berterbangan di lereng gunung Allesya.


Dorongan kecil di dadanya, menghentikan kegiatan Sean. "Kenapa Allesya?" tanyanya, menahan sabar karena harus menjeda kesenangannya.


"Bukankah Kak Sean dulu pernah bilang dadaku rata?" cebiknya mengundang gelak lirih Sean.

__ADS_1


"Aku tidak bersungguh-sungguh mengatakannya waktu itu," terangnya, menurunkan tangan Allesya yang masih menopang dadanya. Menyentuh ujung hidung Allesya menggunakan ujung hidungnya yang diakhiri sebuah usapan gemas.


"Yang benar saja, dulu aku sampai berinisiatif menyumpal dadaku dengan kaos kaki, tapi aku malah terlihat sangat buruk. Aku seperti menyimpan dua buah melon di dadaku," papar dengan sorot mata menerawang.


Kali ini gelak tawa Sean terdengar lebih keras. Allesya yang polos dan apa adanya. Sean sangat menyukainya. Tidak hanya itu, semua yang dimiliki Allesya lahir dan batin, sungguh menyandukan bagi pria tampan yang selalu menjadi idaman para kaum hawa tersebut.


"Aahkk..! Kak Sean, ada yang bergerak di bawah pantatku," pekik Allesya sedikit terkejut. "Aaahkk! Kak bergerak lagi," celetuknya lagi.


Terkekeh geli, Sean semakin gemas dibuatnya. Tingkah Allesya kian meningkatkan hasratnya untuk melahap secepatnya.


"Itu peliharaanku. Apa kau ingin melihatnya?" goda Sean, tersenyum nakal.


Allesya kembali mengalungkan tangannya ke leher Sean dan menenggelamkan muka pada ceruk leher yang masih masih menguar aroma maskulin yang menyenangkan baginya. "Kau membuatku malu," rupanya wanita itu tengah menyembunyikan mukanya yang memerah.


"Sepertinya malam panjang kita kali ini akan terasa panas."


Tanpa menurunkan Allesya, tubuh diajak beranjak dari kursi, menggendong tubuh kecil itu menuju kamar.


"Jangan halangi aku untuk melihatnya, Allesya," protes Sean, karena istri kecilnya yang sudah dalam keadaan polos sempurna, mengapit rapat kedua pahanya, menghalau pandangan Sean yang ingin melihatnya.


"Aku masih sangat malu, Kak Sean," cicitnya, seraya memalingkan muka merona dan tangan bertugas menutup organ kewanitaannya.


"Setiap inci tubuhmu sudah pernah aku lihat, kenapa masih malu?"


"Tapi -kan situasinya berbeda. Lagian apa ini? Kau menelanjangiku sedangkan Kak Sean masih berpakaian lengkap," kini ganti Allesya yang mengajukan protes.


"Rupanya kau sudah tidak sabar, baiklah," melucuti semua kain yang melekat.


SREK!


"Kyaakk..!" menjerit disusul gerakan spontan kedua tangan menutup mukanya. "Kak Sean..! kenapa kau membukanya terlalu tiba-tiba?"


Menindih tubuh Allesya dengan satu siku menopang tubuhnya, menurunkan tangan yang menyembunyikan muka cantik Allesya. "Apa aku mengejutkanmu?" tanya Sean, menatap intens mutiara hazel nan cantik itu.


"Aku hanya belum terbiasa."


"Setelah ini kau akan terbiasa."


Sean mulai melakukan *foreplay, memagut bibir ranum di bawahnya dan ternyata langsung menerima sambutan ramah dari si Empunya. Allesya memberi ruang bebas kepada Sean untuk menjajah rongga mulutnya. Lumtan lembut dan melenakan, menuntun permainan bibir yang kian basah.


Dari bibir ranum, Sean membawa bibirnya turun ke tulang rahang, lanjut menyusuri garis leher Allesya. Berlabuh sesaat pada tulang selangka dan berakhir pada buah peach kembar yang sudah menegang, menuntut jamahan tangan suaminya.


"Hmm... Kak..." tubuh Allesya melengkung ke atas ketika Sean menarik biji buah dadanya dengan mulutnya, seolah meminta lebih.


Sean tak membiarkan tangannya menganggur begitu saja. Tangannya diajak menjelajahi setiap lekuk tubuh Allesya, menyelinap ke dalam rumput rawa dan bermain dengan sebuah biji di sana. Membuat Allesya merasakan panas dingin di sekujur tubuhnya.


"Milikmu sudah sangat basah, sayang. Kau sepertinya sudah siap," mengecup kembali bibir Allesya, sebelum tangan menuntun batang keperkasaannya untuk menembus gerbang kenikmatan milik Allesya.


Sesaat lupa bagaimana caranya bernapas, Allesya merasa tegang saat melihat benda besar sudah menyentuh bibir kewanitaannya dan siap menyusup ke dalam. "Kak, apakah akan sakit seperti waktu itu?" meski raga sudah terselubung n*fsu, namun kecemasan akan bayang-bayang di masa lalunya sempat terlintas.


"Maaf jika waktu itu aku melakukannya dengan kasar. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, kali ini aku akan melakukannya dengan lembut," suara yang sudah terdengar parau karena gairah itu mencoba menenangkan wanita di bawah kungkungannya.


"Lakukanlah. Aku mempercayaimu dan biarkan aku melakukan kewajibanku sebagai istri," ucapnya sangat lembut.


Memeluk naluri hasrat yang sudah berkobar. Sean akhirnya menuntun miliknya masuk kedalam liang nikmat milik Allesya dengan lembut.


JLEB!


"Hmmp.. Ahh!"

__ADS_1


"Apakah sakit?"


Menggeleng pasrah. "Enak. Teruskan."


Ucapan Allesya seolah bagaikan komando. Sean mulai menggerakkan tubuhnya. Menggiring Allesya merasakan sensasi penyatuan. Menyusuri jalan setapak menuju ke alam cinta kasih yang menggelora.


Merengkuh posesif tubuh seksi itu dan mendaratkan banyak kecupan nakal di sana. Mengundang jiwa Allesya untuk meneguk cawan-cawan kenikmatan, menyesap manisnya bercinta. Kedua anak manusia itu kian tersulut oleh api asmara yang memabukkan, membawa terbang ke nirwana dunia.


Allesya begitu menikmati setiap perlakuan manis Sean seperti pelukan mesrah, ciuman panas dan sentuhan liar. Bahkan setiap rayuan dan pujian yang keluar dari bibir Sean untuknya terdengar sangat menggoda.


Sensualnya suara des*han dan lenguhan gairah yang saling bersautan, seolah mengisyaratkan kedua sudah membentang lebar layar kapal dan siap mengarungi luasnya samudra biru yang syarat akan cinta.


"Kak Sean.. ahh.. ahh..!"


"Iya Sayang, ahh.. tubuhmu benar-benar nikmat," racaunya, terus menggerakkan tubuh, mel*mat bibir ranum dan mer*mas buah peach Allesya.


"Kak Sean... sstt..! Aku ingin pipis."


"Keluarkan saja sayang," bujuknya.


"Aku nggak mau pipis di atas ranjang."


"Keluarlan saja sayang, itu bukan pipis tapi puncak kenikmatan, percayalah," bisiknya, terus menghujam tubuh Allesya yang masih sangat sempit.


Desakan gairah kian melambung, mendorong raga untuk berpadu liar, menuntut penyatuan untuk menyelam lebih dalam. Cakaran dan gigitan turut menghiasi kegiatan panas dan basah di malam yang panjang.


"Ayo keluarkan saja sayang, aku juga ingin keluar. Ahh..!"


"Kak Ahh.. ahh..!"


Hingga des*han dan eluhan panjang meraung ke dalam telinga bersamaan lilitan kuat kaki Allesya pada tubuh kekar Sean, menandakan ia sudah terlebih dahulu meneguk puncak kenikmatan. Menggelayut manja pada leher kokoh sebagai tempat berpegang karena energi telah banyak terkuras.


Sean merayu istri kecilnya dengan kecupan-kecupan mesrah pada kening dan mata terpejam terbingkai bulu lentik yang mempesona. Ia semakin terbuai akan nikmat cengkeraman seksi milik Allesya di bawahnya. Hanyut ke dalam tubuh mungil selembut sutra.


Selang tidak lama, Sean menyusl Allesya untuk mencapai puncak. Kepala mendesak ke dalam ceruk leher indah Allesya membungkam erangan karena hasrat yang membuncah, menumpahkan benih-benih kehidupan ke dalam rahim tempat calon-calon Sean junior berkembang.


Hembusan nafas dan rintihan keduanya terurai seiring tetesan keringat yang membasahi. Memintal puncak gairah berlandasan cinta di bawah ikatan suci pernikahan. Merajut indahnya hidup berdampingan dengan sang Kekasih.


Sean kembali menciumi Allesya bertubi-tubi. "Terima kasih Allesya, aku mencintaimu."


"Aku juga."


"Juga apa?"


"Juga mencintaimu."


"Terima kasih."


Allesya tidak menyangka, Sean memeperlakukannya dengan sangat lembut dan hangat, menciptakan sebuah kelegaan yang mampu menghempas traumanya untuk bercinta.


Bahagia, itu yang dirasakan Sean saat ini. Mendapatkan raga dan hati Allesya seutuhnya memberi kebanggaan tersendiri baginya.





Bersambung~~

__ADS_1


Sudah ya, gemeter ni tangan author foloz gara2 ngetik bab uhu🤣


__ADS_2