Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 112


__ADS_3


"Kak Sean..!" panggil Allesya yang sudah dibawa tepat di ambang atap gedung, meminta pertolongan agar ia bisa beranjak dari posisi tak amannya. Sedikit saja ia bertidak gegabah, maka diyakini tubuhnya terancam terjun bebas dari atas, meremukkan setiap persendian tulangnya.


"Allesya..!" teriak Sean di ambang kecemasannya, frustasi karena ruang geraknya terenggut oleh dua pasang tangan bodyguard Thomson yang mencengkeram kuat tubuhnya.


"Kyaaak!" Allesya memekik, saat tubuhnya yang terikat sedikit disorong dan hampir terhuyun ke luar batas tepi atap gedung sebagai gertakan.


"Bajingan kau Thomson! Lepaskan dia sekarang juga!" umpat Sean, mata merah menunjukkan keberangan disertai ketakutan akan nyawa Allesya yang terancam.


Thomson menyeringai tajam, senang karena reaksi ketakutan Sean layaknya hiburan baginya. "Permainan akan sangat membosankan jika aku melepasnya sekarang," mencengkeram kuat rahang Sean dengan satu tangannya, melayang tatapan sinis. "Aku ingin kau melihatnya mati dengan mata kepalamu sendiri."


Menghempas kasar muka Sean hingga menoleh ke samping. "Gara-gara kau, masa depan kedua putriku harus hancur. Kau menjebloskan Rebecca ke dalam penjara, padahal dia masih sangat muda."


Akhirnya Sean mengetahui salah satu alasan Thomson bertindak nekat seperti saat ini. Ia tidak mengira bahwa pria yang dulu dipandang selalu bersikap bijaksana dan berwibawa bisa kehilangan akal sehatnya.


"Dia memang pantas mendapat hukuman dipenjara meski sebenarnya itu tidak setimpal dengan nyawa calon bayiku yang direnggut oleh putrimu itu," tukas Sean. Sesaat kesedihan sempat terlintas di hatinya karena mengingat calon bayinya yang telah meninggal.


"Aku tetap tidak bisa menerimanya! Dan satu lagi, gara-gara kau juga putri pertamaku Cheryn harus kehilangan kedua kakinya."


Muka penuh tanya Sean seketika tercipta. "Apa hubungannya denganku?!"


"Tentu saja ada hubungannya denganmu. Andai saja kau tidak mempermalukannya di pesta ulang tahunnya waktu itu, kecelakaan tidak mungkin terjadi. Asal kau tahu, setelah kau menolak mentah-mentah perasaan cintanya di depan para tamu undangan, dia membututimu yang meninggalkan pesta. Aku melihat kau sama sekali tak menghentikan laju mobilmu meski Cheryn berlari mengejarmu, hingga tubuhnya tertabrak truk dan membuat kedua kakinya harus diamputasi," Thomson membeber alasan kemarahannya.


Sean berdecih diikuti seringaian sinisnya. Menertawai cara pikir kekanak-kanakan Thomson, seharunya hal itu tak melekat di usia yang sekarang. "Ck! Jadi kau menyalahkanku karena kecerobohan putrimu sendiri? Di mana letak otakmu?!"


"Diam kau!"


BUG!


Sean kembali menerima satu pukulan di perutnya, membuat tubuhnya terbungkuk.


"Kak Sean! Jangan sakiti dia dasar kau penjahat!" sarkas Allesya tampak meronta, kekhawatiran yang menyelinap mendorong bulir-bulir kristal yang sudah menggenang di pelupuk mata. Tak tega melihat sang Pujaan hati dilukai.


"Sudah aku bilang, tujuanku adalah membuat kalian menderita," mengayun kaki, mendekati Allesya yang tampak tak berkutik. Menghunus tatapan penuh aura kebencian.


"Sepertinya sudah saatnya aku mengambil andil tugas malaikat pencabut nyawa," Thomson mengambil senjata api pistol berjenis revolvel dari dalam saku jasnya. "Buka matamu lebar-lebar Sean Willson. Dan lihat bagaimana istrimu ini meregang nyawa," mengarahkan ujung pintol ke arah Allesya hanya berjarak tiga meter.


"Kau berurusan denganku jadi jangan seret dia ke dalam dendammu, Thomson!" Sean berteriak. Menghalau niat buruk musuhnya itu, memberontak agar terlepas dari cekalan tangan kedua bodyguard Thomson.


Thomson menyeringai iblis, tak mengindahkan teriakan Sean yang dianggap tak lebih dari dengungan lalat belaka. Tanpa keraguan ditarik pelatuk pistolnya dengan tenang seolah tanpa beban di pundaknya. Sunggingan bibir terus mengiringi kegilaannya.

__ADS_1


Sementara Sean kian meronta, gelegar kefrustrasian terus menghantam rongga dadanya. Merutuki diri sendiri karena tak mampu lepas dari belenggu ketidak berdayaan. Mata memerah mulai berkabut, takut Allesya terluka dan takut Allesya pergi untuk selamanya. "Allesya ... kau pasti baik-baik saja. Jikapun harus ada yang terluka dan mati, biar aku saja yang menerima posisi itu," jerit suara hati Sean.


Ketegangan luar biasa tengah dirasa Allesya. Mutiara hazelnya melabuhkan tatapan nanar ke arah Sean. Mengirim berbagai isyarat perasaan dari sorot mata basahnya. "Kak Sean ... aku tidak ingin berpisah denganmu," batinnya berbisik sendu.


Detik-detik ujung revolver yang siap memuntahkan timah panas di penghujung kematian yang dinanti Thomson kian terkikis. Rayuan setan seolah tak membiarkan pria itu menghalau niat buruknya. Mimik muka berselubung aura kejahatan serta seringaian kebencian sebagai tanda sudah waktunya menarik trigger pistol.


BRAK!


DORR...!


Suara satu tembakan menguar rata pada setiap sudut rooftop, desingan peluru terdengar melesat menembus angin.


"Allesya....!" teriak Sean terkejut luar biasa.


"Aahhk!" teriak Allesya seiring dengan pelupuk mata mengerjap reflek.


"Arrgg! Brengs*k!" umpat Thomson kesakitan saat tembakannya meleset karena hantaman keras sebuah kayu balok mendarat ke tangannya.


"Alvin cepat selamatkan Allesya," Jeffrey yang ternyata pelaku pelemparan kayu balok tadi memberi instruksi kepada Alvin dan langsung mendapat anggukan.


Sean dan Allesya sedikit lega karena menyadari kedatangan Jeffrey dan Alvin di waktu yang tepat.


Pantang untuk takut, Jeffrey langsung menghajar beberapa bodyguard berbadan besar itu dengan brutal. Sedangkan Sean langsung memanfaatkan kelengahan kedua bodyguard yang sedari tadi mencekal tangannya dengan menyerang mereka hingga terkapar.


Sedangkan Thomson tampak berang bak singa yang kehilangan santapannya di kala rencana jahatnya terancam gagal. Ia mencoba menemukan satu cela kelengahan musuh, mata dibawa menyapu lantai mencari senjatanya yang sempat terlempar ke salah satu sudut rooftop. Seringaian terbit di mukanya ketika benda yang dicari sudah ketemu.


DORR!


"Segera angkat tangan kalian!" satu letupan peluru yang ditembakkan ke arah langit disusul sebuah intruksi tegas salah satu petugas berseragam polisi sontak menghentikan segala aksi pergulatan.


Keberingasan para penjahat seketika menguap. Muka garang mendadak pias bak tikus empang yang siap menjadi santapan kucing. Kedatangan petugas penegak hukum lengkap dengan senjata laras pendek membuat mereka tak berkutik.


Pergerakan Thomson juga langsung terhenti. Senjata yang sudah berada di depan mata urung diambil. Keterkejutan memaksanya untuk segera mencerna suasana. Sesaat kepasrahan memaku pergerakan saat dua orang polisi mencoba membekuknya.


"Allesya, apa kau terluka?" semburat kekhawatiran mengulas jelas di muka Sean. Menyusuri setiap inci bagian tubuh wanitanya dari ujung kaki hingga ke ujung rambut. Memastikan tidak ada goresan satupun di sana.


"Aku baik-baik saja Kak. Tapi kau terluka," Allesya menatap nanar muka tampan suaminya yang berhias beberapa luka memar. "Kau pasti kesakitan," imbuhnya lagi.


"Aku akan merasakan sakit jika kau yang terluka Allesya," Sean menghadiahi banyak kecupan di muka Allesya sebagai bentuk kelegaan bahwa wanita kesayangannya baik-baik saja. "Sebaiknya kita segera pergi dari sini," tutur Sean. Allesya mengangguk patuh.


"Berhenti kau bajingan! Urusan kita belum selesai Sean Willson!" Sean dan Allesya yang hampir mengambil langkah langsung terurung bersamaan saat hardikan Thomson menggema.

__ADS_1


Pria yang masih menyimpan dendam yang belum terbalaskan itu memberontak dari cekalan petugas berseragam tersebut.


"Aku tidak akan tenang di dalam penjara jika belum melihat kau menderita karena kehilangan orang yang paling kau cintai!" seperti tujuannya yang tertunda, Thomson memang ingin membuat Sean menderita dan menggila karena kematian Allesya.


Berontakan yang terus terjadi, meloloskan pria tengah baya itu dari cekalan polisi. Bergerak secepat kilat, tangan menyabet pistol dari holster yang melekat pada tubuh petugas di dekatnya.


Holster: sarung pistol


Diacungkan moncong senjata api itu ke arah Allesya yang memang dijadikan target utamanya.


DOR!


Dentaman ledakan pistol seiring dengan sebuah peluru phinisi yang melesat cepat ke arah sasaran.


"Aahkk!" Allesya memekik.


Tidak merasakan sesuatu yang janggal di tubuhnya, mata yang semula terpejam erat kembali dibukanya secara hati-hati, hingga sebuah punggung lebar Sean lah yang pertama ia lihat di depannya. "Kak Sean?" lirihnya.


Pria bermutiara biru itu memutar tubuhnya menghadap Allesya, memperlihatkan senyuman menenangkan untuk wanitanya di sela mimik muka yang seolah tengah menahan sesuatu. "Allesya apa kau baik-baik saja?" sebelah tangan ditarik ke atas, membelai pipi halus milik istri kecilnya.


Dilanda kecemasan tak terkira, sepasang netra beriris hanzel seketika membulat sempurna saat cairan kental berwarna merah merembes dari balik baju Sean bagian dada sebelah kiri, tempat jantung bersemayam.


"Kak Sean!" pekik Allesya. Tangan bergetar dijadikan alat untuk menghentikan pendarahan di depannya. Kedua bola mata yang bergoyang menatap nanar pada luka dan muka Sean secara bergantian. "Aku mohon kau harus bertahan Kak!" genangan buliran kristal yang sudah terbendung akhirnya jebol juga. Tak kuasa menampik kenyataan bahwa saat ini ia sangat ketakutan.


"Aku mohon jangan menangis, Allesya. Aku sangat tidak suka melihatnya," Sean masih sempat menenangkan istrinya di sela kesakitannya yang kian menjalar di dalam dadanya.


BRUK!


Kesadaran yang juga kian melemah tak sanggup menopang tubuh lebih lama, akhirnya Sean ambruk ke tubuh Allesya. "Kak Sean! Hiks! Aku mohon bertahanlah!"


"Lepaskan aku!" Teriak Thomson yang masih dalam mode kesetanan. "Lebih baik aku membawa kalian mati bersamaku daripada aku harus membusuk sendiri di penjara!"


Ternyata kepuasan belum dirasakan, Thomson yang kembali berhasil melepaskan diri langsung berlari ke arah Allesya dan Sean dan membawa mereka terjun bersamanya dari atap gedung.


"Sean! Allesya!" Jeffrey dan Alvin terkejut bersamaan saat melihat dengan mata kepala mereka sendiri, kedua temannya terjatuh dari atap gedung.




__ADS_1


Bersambung~~


Insha Allah kurang tiga bab lagi tamat😔


__ADS_2