
"12 tahun yang lalu, kira-kira aku masih berusia 6 tahun. Dalam perjalanan pulang menuju rumah, aku tidak sengaja bertemu dengan seorang anak lelaki yang sedang berusaha lari dari kejaran anjing," Allesya mulai mengumpulkan kepingan-kepingan kenangan memori di masa lalunya.
Flashback
Guk! Guk! Guk!
Errggg...!
Guk! Guk! Guk!
"Hush! Woi anjing gila pergi! Hush! Hush! Dasar kau anjing!" dari atas pohon Sean berusaha mengusir seekor anjing yang tidak henti-hentinya menggonggong agresif karena ketenangannya sempat terusik.
"Dasar kau Anjing!"
Hewan berbulu berkaki empat itu kian menyalak ketika Sean berkali-kali mengumpat. Seolah tidak terima jika namanya dijadikan bahan umpatan.
Sean bahkan terlihat sudah bertelanjang kaki karena sepatu yang ia kenakan digunakan untuk menimpuk anjing agar segera pergi dari bawah pohon oak yang dipanjatinya.
Akan tetapi lemparan sepatunya selalu tidak tepat sasaran dan membuat usahanya itu berakhir sia-sia dan malah membuat si Anjing semakin menggila.
Guk! Guk! Guk!
Errrggg...!
Syuuut..! Tak!
Kaing..! Kaing..! Kaing..!
Sean terkejut bercampur lega ketika akhirnya si Anjing pergi seraya mengaing-ngaing kesakitan setelah sebuah batu berukuran sedang mendarat keras tepat di kepalanya.
"Kakak, apa kau baik-baik saja? Anjingnya sudah pergi," tanya seorang gadis kecil yang baru saja menolong Sean dengan melempari batu ke anjing galak tersebut.
Gadis kecil itu, Allesya, menengadahkan mukanya ke arah Sean yang masih tersangkut di dahan pohon oak. Sebelah tangannya juga terlihat masih menggenggam sebuah batu.
Setelah memastikan situasinya benar-benar aman, Sean gegas menuruni pohon besar itu dengan hati-hati.
"Apa ini sepatumu?" Allesya membantu memungut sepatu yang berserakan dan memberikannya kepada pemiliknya.
"Terima kasih gadis kecil," ucap Sean lalu menerima uluran sepatu dari Allesya dan segera berjongkok untuk memakainya karena kakinya sudah terasa membeku disebabkan suhu udara memang sedang rendah.
Sean berdiri dari posisi berjongkok dan menatap muka gadis kecil yang sedari tadi masih memperhatikannya. Sekilas ia sempat tertegun ketika menyadari ada beberapa luka lebam pada muka gadis di depannya tersebut. Meski luka itu terlihat samar-samar namun cukup menarik perhatian Sean.
"Mukamu..," Sean reflek bertanya meski akhirnya ragu.
"Ini karena aku terjatuh, makanya mukaku terluka," terang Allesya yang langsung bisa menangkap maksud dari kalimat Sean yang terkesan menggantung.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Sean sedikit kikuk karena gadis yang telah menolongnya itu terus menatapnya.
"Itu karena muka Kakak tampan, tapi sayangnya takut sama anjing," jawab Allesya dengan sangat polos dan apa adanya. Layaknya selembar kertas putih yang tak bertinta.
"Ehem!" Sean berusaha memulihkan setiuasi sebelum kembali bersuara. "Aku tidak takut, aku bahkan sudah melawannya tadi. Tapi..,"
"Tapi akhirnya Kakak tetap saja takut," sela Allesya yang sudah terkikik sambil menutup mulutnya dengan tangan kecilnya.
Sean menggaruk tengkuk lehernya yang sama tidak gatal. "Namaku Sean," Sean berusaha mengalihkan rasa malunya dengan memperkenalkan dirinya.
"Namamu siapa gadis kecil?" Sean tampak heran karena gadis kecil di depannya tidak balik memberi tahu namanya sebagaimana etika dalam berkenalan.
Seutas senyuman polos terlukis indah di bibir Allesya. "Namaku Esya. Orang-orang memanggilku seperti itu," jawabnya.
Setelah pertemuan pertama itu, Sean dan Allesya memang sering bertemu. Mengingat Sean berada di kota Liverpool hanya untuk menghabiskan waktu liburan musim panasnya bersama kedua orangtuanya, dia selalu menggunakan kesempatannya untuk bermain bersama Allesya sebelum akhirnya dia akan kembali lagi ke London.
Waktu terus bergulir, hubungan pertemanan Sean dan Allesya semakin dekat. Bagi Sean, Allesya adalah gadis kecil yang menyenangkan begitu juga sebaliknya bagi Allesya.
__ADS_1
Suatu hari, seperti biasanya Sean dan Allesya berjanji bertemu di kawasan sungai Mersey.
1 jam.. 2 jam.. Sean yang kebetulan sudah duluan berada di tempat itu mulai terlihat jenuh karena Allesya tak kunjung datang. Hingga akhirnya, untuk mengobati rasa kecewanya karena Allesya tidak datang ia memilih menyusuri pinggiran sungai yang ditumbuhi rerumputan hijau serta rindangnya pepohonan Ek.
"Hiks! Hiks! Hiks!"
Ayunan kaki Sean tiba-tiba terhenti ketika suara lirih tangisan seseorang menerobos ke dalam indera pendengarannya. Suasana sedang sepi membuat suara rintihan tersebut semakin terdengar jelas.
Sean tampak celingukan, menyapu ruang sekitarnya, mencari tahu darimana sumber suara itu berasal, namun tidak jua ia temukan.
"Ada suara tapi tidak ada wujud, apakah itu suara hantu penunggu sungai?" bulu kuduk Sean seketika meremang.
"Hih! Sebaiknya aku segera pergi dari sini," Sean semakin bergidik dan gegas kembali mengayunkan kakinya untuk meningalkan tempat.
"Hiks! Hiks! Hiks!" semakin ia melangkah suara rintihan itu malah semakin terdengar jelas.
Tubuh Sean tercekat ketika tanpa sengaja menangkap sosok yang sedang bersembunyi di balik pohon Ek. Sesosok yang diyakini pemilik suara rintihan yang sedari tadi membuatnya bergidik.
"Apakah itu hantu? Tapi kenapa hantunya menangis? Haruskah aku menghiburnya? Tidak tidak tidak! Apa aku sudah gila? Sebaiknya aku pergi saja," monolog Sean hingga ia memutuskan untuk pergi.
Baru 3 langkah, lagi-lagi Sean kembali menghentikan gerak kakinya. Sepertinya rasa penasaran lebih mendominasi dirinya daripada rasa takut.
Akhirnya dengan sedikit ragu bercampur penasaran, Sean mendekati sosok tersebut. Hingga akhirnya ia dibuat terkejut karena mengetahui sosok yang sedang menangis di balik pohon ek adalah Allesya, teman kecilnya.
Allesya sedang duduk meringkuk bersandar batang pohon. Kedua tangannya membekap erat mulutnya. Berharap suara tangisannya dapat teredam agar orang lain tidak mendengarnya.
Akan tetapi, usahanya itu tampak sia-sia, karena kenyataannya Sean bisa mendengar suara isak tangisnya yang terdengar pilu dan menyayat hati.
Sean gegas menghampiri Allesya lalu mengambil posisi berjongkok di depannya.
"Esya.., ada apa? Kenapa kau menangis?" tanya Sean cemas.
Allesya terkesiap karena kedatangan Sean yang secara tiba-tiba. "Kakak...," lirihnya yang masih sesenggukan.
Sedetik kemudian Allesya langsung menunduk berusaha menyembunyikan mukanya yang sudah basah dan terlihat menyedihkan dari Sean.
"Esya, apa yang terjadi denganmu?" Alih-alih segera menjawab pertanyaan Sean, Allesya malah semakin menunduk dalam diikuti tangisnya yang kian pecah.
"Kak Sean..., hiks! hiks!, Kak..," semakin ia ingin bersuara, tangisnya malah kian mendera, hingga membuatnya kesulitan untuk berucap.
Entah mengapa, hati Sean terasa perih melihat Allesya menangis sesenggukan. Rasa ingin melindungi si Gadis Kecil tiba-tiba muncul begitu saja, membuat hatinya tergerak untuk memeluk tubuh Allesya.
"Ssstt! Sudah jangan berkata apapun lagi, kau harus tenang dulu," tutur Sean.
Setelah Allesya dirasa mulai tenang, Sean mengurai pelukannya. Sekali lagi, ia kembali menyelidik luka-luka pada tubuh Allesya yang terlihat jelas oleh mata.
"Tunggu, kau jangan pergi kemana-mana. Tetaplah di sini sampai aku kembali. Aku tidak akan lama," pinta Sean yang langsung mendapat anggukkan dari Allesya sebagai bentuk patuh.
Selang tidak lama, Sean kembali dengan membawa 1 kantong penuh akan obat-obatan.
"Aku akan mengobatimu dulu," ucap Sean.
Dengan berhati-hati, anak lelaki berusia 13 tahun itu mengoles obat pada bagian tubuh Allesya yang terluka.
"Aahhk! Sakit..," Allesya mengaduh kesakitan. Bukan karena Sean yang terlalu kasar saat mengobatinya, melainkan karena punggungnya tanpa sengaja membentur badan pohon di belakangnya.
"Sepertinya punggungmu juga terluka? Coba aku periksa ya," ucap Sean yang kembali cemas.
Allesya menggeleng cepat. "Tidak usah Kak."
"Aku harus memeriksanya, takutnya lukanya parah," desak Sean.
"Jangan Kak, aku malu," tukas Allesya seraya menahan tangan Sean yang berusaha menyibak baju atasan yang ia kenakan.
"Buat apa kau malu? Aku hanya ingin memeriksa dan mengobatinya."
__ADS_1
"Kata nenek, aku tidak boleh membuka bajuku di depan anak laki-laki. Nenekku juga berkata, hanya lelaki yang menikahiku kelak yang boleh melihat tubuhku," ucap Allesya dengan polosnya. Tidak ada maksud atau pikiran lain, selain mematuhi nasehat sang Nenek karena sejatinya gadis kecil itupun belum tahu betul maksud dari sederatan kalimat nasehat yang ditujukan kepadanya.
Sean menghela napas dengan kasar karena ucapan polos gadis kecil di depannya. Dia yang memang jauh lebih tua dari Allesya dapat mengerti maksud dan tujuan dari ucapan Allesya.
"Baiklah, kelak kalau sudah dewasa aku akan menikahimu. Jadi sekarang biarkan aku membuka sedikit bajumu untuk mengobati lukamu," ucap Sean tanpa berpikir panjang.
"Benarkah? Kakak janji kelak bakal menikah denganku?"
"Iya aku janji," balas Sean kemudian mulai menyibak baju Allesya yang ternyata sudah tidak ada lagi penolakan.
Sean lumayan terkejut ketika menemukan beberapa luka yang menyerupai luka bakar di punggung Allesya. Dia tidak menyangka, teman kecilnya yang selalu tampil ceria dan banyak senyum itu memiliki banyak luka di tubuhnya.
Sungguh miris.
"Esya, bisakah kau bercerita kenapa kau tadi menangis?" tanya Sean setelah selesai mengobati semua luka Allesya.
"Kedua orangtuaku akan bercerai dan mereka tidak menginginkanku, aku sangat sedih," terang Allesya diikuti netra hazelnya yang kembali mengembun.
"Lalu kau akan tinggal bersama siapa jika kedua orangtuamu tak menginginkanmu?" tanya Sean dengan wajah terlihat sendu. Sungguh, rasa iba kepada Allesya membuat ia ikut sedih.
"Aku akan tinggal besama nenekku."
"Syukurlah," Sean merasa lega.
"Terus, bagaimana ceritanya kau bisa mendapatkan banyak luka di tubuhmu?" Sean terus mencoba mengorek jawaban dari rasa penasarannya.
Allesya tampak bimbang untuk menjawab pertanyaan Sean. Kebimbangannya terlihat jelas pada mukanya serta gerakan tangannya yang tak henti-hentinya memilin ujung bajunya semakin menegaskan kalau ia seakan berat untuk bercerita meski akhirnya ia tetap bercerita.
"Ayah kalau marah selalu memukulku," terang Allesya dengan suara semutnya.
"APA?!" Sean terkejut tidak percaya dengan apa yang baru saja dia ketahui tentang ayah Allesya. Bagaimana bisa seorang ayah berlaku kejam kepada anaknya, begitulah yang ada dibenak pikiran Sean saat itu.
Hari terus berganti begitupun dengan waktu yang terus berputar. Hari ini Sean akan kembali ke London dan terpaksa harus berpisah dengan teman kecilnya, Allesya.
"Esya, kelak jika suatu saat nanti kau bertemu denganku dan ternyata aku tidak mengenalmu, maka kau harus menegurku agar aku kembali mengingatmu ya," pinta Sean.
"Hmm, apa Kak Sean akan melupakanku?" Allesya memberungut.
"Aku tidak akan melupakanmu, hanya mungkin aku tidak bisa langsung mengenalimu karena aku yakin kelak kau sudah berubah menjadi wanita dewasa yang cantik."
"Baiklah Kak."
"Aku berjanji, kelak di saat kita kembali bertemu, aku akan menjadi pria dewasa pelindungmu. Tidak akan ada lagi orang yang akan memukul dan membuatmu bersedih."
Muka Allesya tampak bersinar ketika mendengar sebuah janji yang terucap dari mulut Sean.
"Aku akan menagih janjimu Kak."
Flashback off
"Kak Jen, kenapa kau malah menangis? Apa ceritaku telah membuatmu tersinggung?" tanya Allesya yang tampak kebingungan.
Jenny menggeleng pelan lalu menyeka air mata yang membasahi ujung netranya. "mendengar ceritamu membuat aku senang bercampur sedih. Aku sangat berharap Sean bisa menepati janjinya untuk melindungimu. Kau itu gadis yang baik Allesya, kau harusnya hidup bahagia."
❣
❣
❣
Bersambung~~
...Ayo biasakan tinggalkan jejak like dan comment pada setiap bab setelah membacanya ya para readers. Biar ini cerita nggak sepi kayak kuburan🤣 Sumbangkan vote dan gift juga kalau berkenan🤭...
...Intinya, dukungan para Readers adalah penyemangat berharga bagiku untuk terus menulis🥰...
__ADS_1
...Terima kasih.. Lop Lop you superrr...
...💜💙💚💛🧡❤...