Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 98


__ADS_3


Tangan kekar itu melingkari perut ramping berbalut apron, menumpukan dagu pada pundak kecilnya, bersamaan perhatian yang sejurus ke arah masakan di atas wajan teflon.


"Apa yang kau masak?" tanya Sean kepada Allesya yang tampak sibuk dengan alat tempurnya berupa spatula dan wajan.


Sekilas sedikit memutar leher ke samping, mata menjangkau muka Sean yang bertengger di pundaknya. "Aku sedang menggoreng bacon dan tomat. Kak Sean duduk saja dulu, tak lama lagi sarapannya sudah siap."


"Aku ingin membantumu. Katakan aku harus melakukan apa?" menghirup dalam aroma vanilla yang melekat pada ceruk leher Allesya.


"Kak Sean, cukup duduk tenang di depan meja makan dan itu sudah sangat membantuku."


"Aku tidak ingin jauh darimu sebelum aku berangkat kerja."


Menghentikan sesaat kegiatannya, tubuh yang semula membelakangi dibawanya berputar 180 derajad hingga menghadap ke arah Sean, melayang tatapan protes. "Kak Sean?"


"Iya.. iya.. baiklah," mengalah pasrah, lalu mendaratkan tubuhnya pada bangku kursi meja makan. Sebelah tangan menopang dagu, mengarah pandangan kepada Allesya yang sudah membelakanginya kembali.


"Kau seharusnya tak melarangku untuk menggunakan jasa asisten rumah tangga, Allesya. Aku tidak ingin kau kerepotan dan sampai kelelahan karena harus mengerjakan pekerjaan rumah," imbuh Sean lagi.


"Melayanimu di atas ranjang jauh lebih melelahkan dari pada melakukan pekerjaan rumah. Bagaimana menurutmu dengan itu?" sindir Allesya tanpa mengalihkan fokusnya pada bacon yang sudah terlihat kecoklatan.


Seringaian nakal tercetak di muka Sean. "Tapi kau menyukainya. Jika kau mau kita bisa melakukannya lagi sekarang?"


Meletakkan dua porsi full breakfast di atas meja. Isinya terdiri dari telur mata sapi, bacon, sosis, roti panggang, baked beans, dan tomat goreng. Tidak lupa dua gelas jus yogurt mix stroberi tersaji di depan mata dan siap untuk dieksekusi.


"Hish! Kak Sean harus bekerja, mengumpulkan banyak uang untuk menghidupiku," timpal Allesya.


"Apa kau takut aku jatuh miskin?"


"Aku hanya takut mati kelaparan," sahutnya asal, seraya mengamati Sean yang memakan menu sarapannya dengan lahap. "Hmm, bagaimana dengan rasa masakanku?"


"Enak."


"Benarkah?"


"Semua yang kau masak enak bagiku."


"Aku saja ragu dengan rasa masakanku," lirihnya, sembari menelisik makanan di atas piringnya.


"Jika kau ragu, sarapanmu untuk aku saja. Nanti kau bisa beli sarapan di luar."


"Tidak, aku akan tetap memakannya."


"Kau yakin?"


"Kau bertanya seperti itu sepertinya memang ada yang salah dengan masakanku. Apakah rasanya sangat buruk?"


"Sama sekali tidak buruk."

__ADS_1


Allesya mulai menyendok makanan dan menyuapkannya ke dalam mulut. "Hueek..!" sensasi menyengat yang dirasa, memaksa lidah untuk memuntahkan makanannya kembali.


"Rasanya sangat aneh..! Kak Sean sudah, jangan kau makan lagi," terlambat, piring Sean ternyata sudah terlebih dahulu tandas sebelum Allesay mencegahnya, tak ada sedikitpun makanan yang tersisa.


"Allesya, apa kau baik-baik saja?"


Rasa bersalah mengulas kemuraman pada muka Allesya. "Seharusnya aku yang bertanya seperti itu kepadamu," ucapnya.


"Aku sangat baik, Allesya. Kau kenapa?" Sean menyadari perubahan mimik muka Allesya yang tak secerah beberapa detik yang lalu.


"Kak Sean..., lagi-lagi kau memaksa lidahmu untuk memakannya? Padahal rasanya sangat buruk," tertunduk, menyimpan mata yang mulai mengembun.


Ulasan kehangatan tersemat manis pada senyuman pria beriris biru itu. Meraih tangan kecil Allesya yang duduk di sampingnya. "Sudah aku katakan, rasanya sama sekali tidak buruk. Lagian aku tidak ingin menyia-nyiakan semua hasil karya yang dibuat langsung oleh tangan istriku ini," mengecup buku-buku jari lentik Allesya.


"Dari dulu aku memang tidak pandai dalam memasak. Bukankah itu berarti aku seorang istri yang tak becus?"


Dengan mudah, Sean mengangkat tubuh ramping itu untuk berpindah ke pangkuan kokohnya. Mencurahkan segenap perasaan cinta melalui tatapan teduhnya. "Aku menjadikanmu istri untuk aku ajak hidup bahagia bersama, saling bergandeng tangan hingga di penghujung usia, bukan untuk menjadikanmu sebagai tukang masak."


"Tapi aku ingin menyenangkanmu."


"Sudah banyak hal yang kau lakukan untuk menyenangkanku, Allesya."


Ucapan Sean tampaknya belum mampu mengubah suasana buruk hati Allesya, terlihat dari gurat masam di mukanya.


"Tersenyum kepadaku, bermanja di dadaku, bersandar di pundakku, semua itu sangat menyenangkan bagiku, Allesya, dan..," mendekatkan bibirnya ke telinga istri kecilnya. "...termasuk melayaniku di atas ranjang, itu juga sangat menyenangkan," bisikkan menggodanya sukses menciptakan semburat merah di muka Allesya


°°°


Suara langkah berhentak-hentak, menyusuri koridor dalam rumah menuju salah satu ruang kamar. Dengusan kesal turut mengiringi langkah tapak kakinya. Hingga dorongan keras pada daun pintu disusul pekikan ikan lumba-lumba sontak mengagetkan si Pemilik ruangan.


"Kak Sammy....! Itu pasti kau yang melakukannya," tuding Lilly memberengut jengkel kepada sang Kakak.


"Dasar bocah ingusan! Apa kau tidak bisa membuka pintunya dengan pelan?!" hardik Sammy karena terkejut luar biasa, tangan mengelus dadanya dengan sayang.


Tak mengindahkan protesan Sammy, Lilly melanjutkan tudingannya sebagai tersangka utama. "Kenapa kau menghapus semua film kesayanganku dan menggantikannya dengan film kartun Shiva dan Masha And The Bear?!"


BUG!


"Aww! Kak Sammy!" pekiknya lagi ketika sebuah bantal guling melayang dan mendarat tepat di muka bulatnya.


"Dasar bocah! Siapa yang mengajarimu menonton film setan seperti itu?!"


"Aku belajar dari kau!"


Sammy seketika terbungkam, namun gegas ia kembali menguasai diri. "Kau itu masih terlalu kecil untuk melihat film-film seperti itu."


“Usiaku sudah dewasa Kak, ayo kembalikan semua.”


"Tidak akan!"

__ADS_1


"Kak Sam!" mendelik tajam.


"Apa?! Aku tidak akan mengijinkanmu melihat film seperti itu."


"Baik, kalau begitu aku akan memberi tahu Kak Daisy kalau kau mempunyai banyak koleksi pilem porno," ancam Lilly.


Muka Sammy berubah pias. Sesaat ia membayangkan muka Daisy yang terlihat angker karena marah, membuatnya bergidik samar.


"Jangan lakukan itu."


"Baik tapi ada syaratnya."


"Apa memangnya?"


Menyeringai puas, seolah kemenangan sudah ada di depan mata. "Tambah uang sakuku lima kali lipat."


"Rupanya adikku ini punya bakat menjadi perampok profesional."


°°°


Perasaan gundah yang melanda, memacu eratan tangan pada benda bulat di depannya. Otak terus berupaya menampik segala pikiran buruk yang belum tentu itu benar. Hatipun tak hentinya berharap untuk sesuatu yang baik dan melegakan.


Sepasang mata terus mengintai dari jauh sesosok pria yang baru saja keluar dari mobil yang diparkirkan di dalam pekarangan rumah minimalis arsitektur modern.


"Daddy..." terlihat seorang anak kecil sekitaran berusia tiga tahun, berhamburan ke pelukan si Pria dengan girang. Terlihat juga seorang wanita muda dengan perut buncitnya turut menyambut senang kedatangan pria tersebut.


Lingkaran matanya melebar seiring titik-titik cairan bening yang mengembun beriringan dengan debaran jantung yang bergemuruh dahsyat. Rasa sesak merangkak ke dalam dada hingga sulit baginya untuk bernapas dengan benar.


"Apa? Kenapa anak kecil itu memanggilnya seperti itu? Dan siapa wanita itu? Ada hubungan apa mereka?" Vera terus mendesak pikirannya dengan setumpuk pertanyaan yang belum jua menemukan titik temunya.


"Arthur.. apa dia telah membohongiku?" cairan bening yang sudah menggenang di pelupuk mata akhirnya tak mampu lagi terbendung lebih lama.


"Kenapa? Kenapa dia membohongiku?" terisak tangis, menekan sayatan perih di dada.





Bersambung~~


Terima kasih masih setia nyimak kisah Sean dan Allesya..


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya..


Vote dan Gift bolehlah disumbangkan juga😆


wo ai nimen😘😘

__ADS_1


__ADS_2