
Dari : Sean
S 1912 RFS. Jeff, hubungi David sekarang.
Jeff gegas memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana setelah membaca kiriman pesan singkat dari Sean, diyakini berupa nomor plat mobil yang sedang membawanya.
"Gawat, aku harus bergegas mencari bantuan," monolognya, sekilas ia melirik ke arah kedua sahabatnya yang sudah pergi terlebih dahulu dengan menumpangi kendaraan roda tiga yang menurutnya berbentuk aneh.
Jeffrey sampai menggeleng kepala karena menyaksikan tindakan konyol Sammy dan Alvin. "Padahal masih ada taksi yang lebih baik," gerutunya, sedetik kemudian masuk ke dalam taksi yang sudah berhenti di depannya. Berniat mencari bantuan terlebih dahulu dengan menemui David.
Sementara itu, di dalam sebuah kendaraan mesin beroda tiga, biasanya warga Jakarta menyebutnya bajaj. Alat transportasi Ibukota Jakarta yang cukup legendaris.
Tak sabar, Sammy mendekatkan mukanya ke supir bajaj. "Tambah kecepatannya. Bahkan siput lebih cepat dari ini," perintahnya dengan setengah berteriak, melawan suara bising angin ribut knalpot yang melebihi musik dugem di sebuah klub malam.
"Ini sudah paling cepat Bang," jawab si Supir, terlihat santai seraya mengisap gulungan tembakau yang dibakar ujungnya. Sesekali menggaruk ketiaknya yang terasa gatal dan menampilkan muka keenakan karena sensasi garukannya.
Sama halnya dengan Sammy, Alvin juga berada di ambang maksimal kesabaran. "Tambah kecepatannya," titahnya mulai kesal.
"Tambah kecepatan berarti harus tambah ongkosnya Tuan," dengan tampang menyebalkannya si Supir mulai bernegoisasi.
Tidak ingin banyak berdebat, Sammy merogoh dompetnya dan mengeluarkan tiga lembar uang bergambar pahlawan proklamasi Indonesia, Soekarno-Hatta. "Ini ambillah."
Melirik ke arah sodoran uang di sebelah mukanya. Melengos santai, si Supir seolah tidak puas dengan tawaran yang diterima. "Itu masih kurang Tuan."
Geram, Sammy dan Alvin dibuat gondok berjamaah oleh si Supir bajaj. Sadar bahwa mereka tengah menjadi korban pemerasan. Bodoh sekali. Dasar duo bule.
"Baiklah, ini ambil semuanya," tidak punya pilihan, adik dan istri sahabatnya harus segera diselamatkan, begitu pikirnya. Sammy mengeluarkan semua isi dompetnya tak terkecuali nota-nota belanja dengan perasaan kesal.
(Yaelah, kirain cuma Othornya aja yang suka ngoleksi nota belanja, ternyata abang bule juga punya hobi yang sama. Ahay..)
Dan benar saja, muka si Supir seketika bercahaya terang, uang yang tersodor cukup menyilaukan mata. Gegas diraupnya kertas-kertas bernominal Rp 100.000,- itu dan dijejal paksa ke dalam tas pinggang lusuhnya. Sebagai tanda tawaran diterima.
"Asal kalian tahu Tuan, saya adalah pecinta film Pas Tu Porus," ucapnya.
"Maksudmu film Fast To Furious?" Alvin mengoreksi.
"Iya iya itu maksud saya, Pas Tu Porus, -kan sama saja," sanggahnya, lalu memakai kaca mata hitam. "Baiklah! Berpegangan yang kuat Tuan!" si Supir memberi instruksi dan mulai menarik mentok gas Bajaj dekilnya.
Ban depan diajak ngetrill sebelum lanjut melaju dengan kecepatan super maksimal. Salip kanan salip kiri, melipir di antara mobil-mobil yang memadati jalanan kota. Lubang dan polisi tidur dilindas habis tanpa belas kasihan. Tikungan tajam dikuasainya dengan mudah. Menerobos gesit ke dalam pasar, hingga beberapa pedagang dan pembeli yang panik harus lari terpontang-panting karena takut tertabrak.
Sammy dan Alvin dicekik oleh ketegangan super dahsyat, tubuh keduanya terhantam ke kanan dan ke kiri saling bertubrukan. Bibir terus berkomat-kamit, mendadak teringat akan Tuhannya, berdoa agar diberi keselamatan.
CKITTT.....!
Si Supir memutar bajaj hingga 180 derajad setelah Sammy meminta berhenti di sebuah kawasan yang diperkirakan tidak jauh dari tempat tujuan Sean dibawa yang juga diyakini tempat Allesya dan Lilly disekap.
Bajaj kembali berjalan setelah penumpang bulenya diyakini sudah turun dan tidak ada yang ketinggalan.
"Hmp! Hmp! Huekk...!" Sammy seketika memuntahkan semua isi perutnya karena mendapat goncangan tak ramah selama di dalam bajaj yang ditumpanginya tadi. "Huh! Huh! Aku bersumpah tidak akan menaiki kendaraan itu lagi meski dikasih pilihan antara hidup dan mati," gerutunya.
Sementara Alvin terlihat tak mampu bergerak dengan seimbang karena getaran di dalam bajaj. Beberapa kali ia terlihat meringis karena merasa sakit di beberapa bagian tubuhnya. "Sepertinya aku akan mengalami iritasi permanen pada pantat dan selangkanganku," keluhnya.
Sammy mencoba menetralisir kepayahannya, berdiri tegak lalu merogoh ponselnya. Mengamati aplikasi GPS yang tersemat di ponselnya. "Lilly dan Allesya sepertinya berada di sana," Sammy menunjuk ke arah bangunan gedung bertingkat yang terlihat sudah tak berfungsi.
"Kita ke sana sekarang," sahut Alvin.
Sementara itu, di dalam sebuah bangunan terbengkalai, terletak di pinggiran kota dan sepi manusia berlalu lalang. Sepasang kelopak mata yang terkatup perlahan terbuka. Memastikan para penculik sudah keluar dan meninggalkan ruangan.
Allesya sebenarnya sudah sadar sedari tadi namun demi keamanan ia melanjutkan sandiwara pingsannya. Dan tidak beda jauh dengannya, ternyata Lilly juga melakukan hal serupa.
"Hmp! Hmmp! Hmmp!" mulut yang masih terbungkam kain itu terus mencoba melakukan interaksi kepada Lilly yang juga dalam posisi yang sama, yaitu terikat di atas kursi.
__ADS_1
"Hmp! Hmmp!" Lilly menyahut meski berakhir sia-sia karena Allesya tak memahami perkataannya. Posisi keduanya memang masih dalam mulut terbungkam. Namun, ia mulai menangkap sinyal dari sorot mata temannya itu seolah mengisyaratkan agar lebih medekat.
Lilly semakin paham saat Allesya membawa kursinya dalam posisi membelakanginya, dan dia pun ikut mengambil posisi yang sama yaitu membelakangi Allesya hingga tangan mereka yang terikat ke belakang saling bertemu. Di dalam minimnya ruang gerak, upaya pelepasan ikatan tali terus dikerahkan dengan sisa tenaga yang ada.
Sementara di luar ruangan tempat Allesya dan Lilly disekap. Dua orang pria berperawakan sangar sedang berjaga di depan pintu.
"Aku pergi sebentar, mau kencing," ucap salah satu penjaga.
"Cepat kembali," balas temannya.
"Yaelah, belum juga pergi sudah disuruh kembali."
"Ya udah pergi sana."
Selang beberapa detik setelah salah satu penjaga menghilang dari balik dinding, suara gaduh dari dalam ruangan menarik perhatian si Penjaga yang masih tinggal. Didorong rasa curiga, gegas ia membuka pintu dan memasuk ke dalam ruangan.
Betapa terkejutnya dia ketika melihat hanya ada satu sandra yang masih terikat, sedang sandra yang lainnya tidak berada ditempat.
BRAK!
AARRGG...!
Allesya yang sebelumnya sudah bersembunyi di balik pintu langsung beraksi. Menghantam tubuh besar yang masih memunggunginya dengan kursi hingga tersungkur di lantai.
"Bangs*t kau bajingan!" hardik si Penjahat itu berusaha kembali bangkit melawan sakit di punggungnya.
"Rasakan ini!"
BRAK!
Sekali lagi, satu hantaman kursi kembali mendarat, kali ini kapasitas kekuatan yang dikerahkan tiga kali lipat lebih keras hingga si Penjahat harus kehilangan kesadarannya.
"Waow! Ternyata kau mengerikan," celetuk Lilly takjub seraya melepaskan diri dari lilitan tali yang memang sudah tak terikat dengan benar.
Kembali di luar gedung, Sammy dan Alvin mengendap-ngedap was-was mendekati bangunan besar yang terlihat terabaikan itu.
"Vin, coba kau lihat di sana, gerbang depan ada penjaganya. Satu, dua, tiga, empat, ada empat orang di sana. Bagaimana menurutmu? Apa kita lawan saja mereka secara langsung?" Sammy celingukan di balik pohon beringin. Mata dibuat berjaga, mengawasi lingkungan sekitar, berharap keberadaannya tidak diketahui.
"Vi, bagaimana? Kenapa kau diam saja?" tanyanya kembali tanpa menoleh ke arah Alvin
Suara jelas gemercikan air sontak menarik atensi Sammy. "Astaga Vin ...! Kau mengagetkanku, aku kira ular pohon!" serunya, saat melihat kepala ular milik Alvin yang sedang menyemburkan air seni.
"Aku sudah tak tahan, Sam," sahutnya sembari mengibas-ngibaskan ujung sosisnya, membersihkan sisa cairan pembuangan yang masih menggelayut di ujung.
"Apa kau tidak takut didemo jin penunggu pohon karena rumahnya kau kencingi?" decak Sammy.
"Terus aku harus kencing di mana? Di kepalamu?"
"Enak saja kau bilang!"
"Ya sudah, kita harus cepat bergerak sekarang," tukas Alvin.
"Terus, apa yang harus kita lakukan agar bisa membebaskan Allesya dan Lilly sedangkan di depan gerbang masuk ada beberapa penjaga?"
"Cari jalan pintas lain. Coba kau lihat, sepertinya gedung itu memiliki gerbang masuk di sisi lain."
"Gerbang belakang. Mungkinkah gedung itu memilikinya?" Sammy mencoba mencari tahu dengan bertanya ke Alvin yang sejatinya ia juga tak tahu. Sama saja bohong. Dasar bodoh.
"Kau tidak tahu, tapi sebaiknya kita gegas menacari tahu."
"Baiklah."
Kedua pria itu kembali mengendap-ngendap, loncat dari pohon satu ke pohon yang lain. Hingga sampailah mereka di depan gerbang belakang.
__ADS_1
"Vin, gerbangnya tertutup. Sebaiknya kita panjat saja," usul Sammy.
"Kau panjat lebih dulu," ucap Alvin.
"Baiklah," Sammy mulai memanjati gerbang besi beton tersebut. Setibanya di atas Sammy dibuat terkejut karena tiba-tiba tubuhnya bergerak bersamaan pintu gerbang yang terbuka.
"Sam, ternyata gerbangnya tidak terkunci," ucap Alvin dengan tampang tak berdosanya.
"Sialan kau Vin! Ngerti gitu aku tidak akan bersusah payah manjat-manjat seperti maling kompleks," gerutu Sammy setelah turun dari gerbang.
Sedangkan di dalam gedung. Ketegangan terus mengantar Allesya dan Lilly di sela usahanya untuk melarikan diri. Keringat mengucur deras, membasahi sekujur tubuh. Lelah mulai mendera karena sedari tadi tak menemukan jalan keluar.
"Al, gedungnya sangat luas, sepertinya kita tersesat. Bagaimana ini? Hiks! Aku takut," Lilly mulai menangis.
"Semakin kau menangis semakin kau tidak dapat menemukan jalan keluar, Lilly. Tenangkan dirimu," tutur Allesya.
"Apa kita loncat saja dari atas?" Lilly memberi usul gila.
"Kau saja yang lompat, aku tidak ingin mati."
"Tega sekali kau Allesya."
TAP!
TAP!
TAP!
Kedua wanita muda itu terperanjat ketika mendengar suara langkah kaki orang. Gegas mereka bergearak gesit bersembunyi di balik dinding.
"All, apa kita hajar mereka?" saran Lilly. Sesekali mengintai dari persembunyian untuk mencari tahu jumlah orang yang diyakini si Penjahat tengah mencari keberadaan mereka.
"Kau berani?" Allesya meyakinkan.
Mengangguk mantap. "Tentu saja aku berani."
"Padahal baru beberapa saat yang lalu kau menangis karena takut," cebiknya.
"Lupakan itu. Sekarang kau lihat di sana?" Lilly menunjuk ke arah kedua pria yang masih dalam posisi memunggunginya. "Kita bagi rata, aku satu, kau juga satu."
"Baiklah, siapa takut. Lagian sudah lama aku tidak menggunakan teknik bantinganku," ucap Allesya sembari menggerak-gerakkan tangan untuk pemanasan.
"Aku hitung sampai tiga, lalu kita serang mereka."
"Oke."
"Satu ... Dua ... Tiga ...!"
HIYAAAT.....!
❣
❣
❣
Bersambung~~
Terima kasih ya bagi yang masih setia menyimak.. Kurang beberapa episide lagi tamat nih.. Nofi bahagia banget masih ditemeni oleh kalian🥰
Jangan bosan ya..🙏 Dan jangan lupa beri dukungan Nofi dengan meninggalakn jejak like dan komen ya.. Vote dan hadiah juga boleh.. Nofi tunggu ya..🥰
WO AI NIMEN❣❣
__ADS_1