Cintamu Menjadi Canduku

Cintamu Menjadi Canduku
Bab 32


__ADS_3


Matahari merangkak perlahan mendekati ke ufuk barat. Wajah langit London pun kian teduh dan redup. Panasnya udara berangsur-angsur menghangat. Langkah gontai si Gadis menyapu halaman mansion menuju gerbang.


Binar parasnya yang cerah di kala menyambut mentari pagi kini berganti suram di penghujung sore.


"Apa Kak Sean sangat sibuk sehingga dia tidak sempat membuka pesan dariku?" kesahnya hingga tak terasa langkah kaki hampir melewati bingkai gerbang. "Selamat sore paman Baul..," ia masih menyempatkan diri untuk menyapa si Security meski muka tak secerah biasanya.


"Selamat sore juga Alle, hati-hati di jalan," sahutnya. Baul bahkan bisa menangkap rona muka Allesya yang tak seterang biasanya.


"Iya Paman," balasnya lemas tak bertenaga seperti sebuah robot kekurangan asupan batrai.


"Allesya,"


Ayunan kaki sontak berhenti. Mendongakkan kepala dari posisi menunduk. Mencari sumber suara tegas yang memanggilnya.


"Tuan?" lirihnya setengah terkejut bercampur heran. Ada apa gerangan, pria berstatus ayah biologis dari Sean Willson tersebut menyapanya?


"Apa kita bisa berbicara sebentar?" pintanya. Tegas tapi sopan.


Mengangguk ragu, sebagai jawaban permintaan Erick.


"Masuklah," pria paruh baya tersebut membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Allesya masuk.


°°°


Di sebuah kafe yang terletak di jantung kota London. Allesya dan Erick menempati salah satu meja kosong bersebelahan dengan dinding kaca.


"Namaku Erick," perkenalan diri sebagai pembuka pembicaraan kali ini. Tidak lupa senyuman ramah tersemat rapi di mukanya.


Allesya tersenyum tipis. "Iya Tuan, saya sudah mengetahui namamu. Tuan adalah Ayah dari Kak Sean," timpalnya.


"Syukurlah kalau kau sudah tahu, jadi aku tidak perlu bercerita banyak," ucapnya lalu mensesap minuman kopi hitam favoritnya.

__ADS_1


"Tuan ingin membicarakan perihal apa hingga mengajak saya kesini?" tidak ingin terlalu banyak basa-basi namun masih dalam mode sopan, Allesya langsung menanyakan sesuatu yang sudah mengganjal pikirannya sedari tadi.


"Bagaimana keadaan Sarah," tanyanya. Gurat-gurat perhatian, cinta, dan penyesalan seketika terbias bersamaan di muka Erick ketika menyebut nama sang Mantan Istri. Hingga saat ini, butiran-butiran cinta untuk Sarah memang masih tersimpan di ruang hatinya.


Seutas senyuman kembali menghiasi muka Allesya. "Tante Sarah hari ini lebih banyak tersenyum dan makan dengan baik. Dia bahkan membantu merapikan rambutku dengan sisir," ceritanya dengan antusias.


"Sepertinya benar yang dikatakan Papa, bahwa keberadaan gadis ini membawa peran yang luar biasa bagi kesembuhan jiwa Sarah," dalam hati Erick membenarkan ucapan Henry beberapa hari yang lalu. Hatinya pun kali ini juga tidak bisa menampik rasa kagum kepada gadis cantik di hadapannya.


"Syukurlah," jawabnya penuh kelegaan.


Jujur menanyakan keadaan Sarah bukanlah satu-satunya tujuan ia menemui Allesya. Setelah pertemuan pertamanya, Erick terus terusik oleh rasa penasaran akan tentang latar belakang Allesya.


"Apa kau tinggal bersama kedua orangtuamu?" Erick mulai mengorek informasi.


DEG!


Upayanya yang sedari tadi agar terlihat tenang sepertinya sedikit goyah. Sebuah lontaran pertanyaan yang mencelos bebas dari mulut Erick membuat Allesya sedikit gugup bercampur rasa bersalah. Bayang-bayang ancaman Inggrid seketika menari-nari di otaknya. Dia masih ingat betul bagaimana macam kegilaan Inggrid jika perintahnya tidak diindahkan.


"Aku tinggal bersama Nenek Tuan," jawabnya setenang mungkin.


Sebenarnya apa yang sedang ingin Erick korek dari Allesya?


"Ayah saya telah lama meninggal, Ibu saya tinggal bersama suami barunya," meski jawabannya jauh dari kedustaan tapi tetap saja kecemasan meliputi hatinya.


Erick memanggut-manggut lalu meluncurkan kembali bibir cangkir kopi ke mulutnya untuk dinikmati.


"Boleh aku tahu siapa nama kedua orangtuamu Allesya?" tanya pria yang memiliki muka sebelas dua belas dengan Sean. Masih sangat tampan dan gagah di usia matangnya.


"Maaf," ucap Erick ketika menyadari kediaman Allesya yang seolah enggan untuk menjawab pertanyaannya.


"Maaf Tuan," sama halnya dengan Erick, perasaan tidak enak membuatnya memilih mengucapkan kata maaf.


Mungkin bagi gadis lain, pertanyaan Erick sesuatu yang sangat mudah dijawab, namun tidak untuk Allesya.

__ADS_1


Pria matang berlensa biru tersebut tersenyum simpul. "Aku hanya merasa parasmu sangat mirip dengan seseorang yang aku kenal," terangnya.


Senyuman merekah ia jadikan pengikis kegugupannya. Mengembali mode ceria yang selalu tersematkan di dalam diri. "Benarkah Tuan? Mungkin karena mukaku ini terlampau pasaran jadi banyak orang memiliki muka mirip denganku," kelakarnya.


Suara kekehan terdengar lirih dari mulut Erick. Sungguh gadis yang manis, begitulah pujinya di dalam hati.


Senyuman samar masih menghiasi muka tampannya "Coba kau lihat foto ini, aku yakin kau akan memiliki pemikiran yang sama denganku," Erick menyodorkan sebuah foto yang terpampang jelas pada layar ponselnya.


Sepasang mata bulat Allesya sedikit membola diikuti jari-jari lentik yang menutupi mulut ternganganya. Ia seolah melihat dirinya sendiri di usia lebih matang. Paras seorang wanita paruh baya itu sungguh mirip dengannya. Dari warna lensa mata, bentuk hidung, muka, alis, warna rambut, hingga tahi lalat kecil di pipi.


Allesya bahkan sampai menggiring mukanya ke arah dinding kaca di sebelahnya, menelisik paras yang terpantul di sana. Meyakinkan diri dari rasa tak percaya. Mungkin kali ini dia harus mengakui kebenaran tentang mitos bahwa manusia memiliki kembar 7 di dunia memang benar adanya.


"Tuan.., dia siapa?" rasa penasaran akhirnya memaksa Allesya untuk bertanya.


"Dia adalah sahabatku, tapi sekarang tinggal di Paris. Tapi biasanya, tiap tahun akan datang ke Inggris bersama suami untuk mengunjungi makam kedua orangtuanya," terang Erick.


Gadis bersurai coklat itu ber-o ria sebagai respon dari penerangan Erick.


"17 belas tahun yang lalu, dia kehilangan bayi perempuannya."





Bersambung~~


...Ayo biasakan tinggalkan jejak like dan comment pada setiap bab setelah membacanya ya para readers. Biar ini cerita nggak sepi kayak kuburan🤣 Sumbangkan vote dan gift juga kalau berkenan🤭...


...Intinya, dukungan para Readers adalah penyemangat berharga bagiku untuk terus menulis🥰...


...Terima kasih.. Lop Lop you superrr...

__ADS_1


...💜💙💚💛🧡❤...


__ADS_2